Orang Jawa kuno benar-benar menyukai sastra, bahkan untuk menyatakan bilangan-bilangan mereka menggunakan bahasa (kata) yang indah-indah sebagai pengganti angka.
Tetapi sebelum aku sedikit bercerita (sebatas pengetahuanku) tentang hubungan antara sastra dan matematika perkenanlah aku sedikit memberikan perkenalan tentang perbedaan antara angka dan bilangan (lagi-lagi sebatas pengetahuanku).
Banyak orang yang mungkin menganggap kalau angka dan bilangan adalah hal yang sama padahal sebenarnya angka dan bilangan adalah hal yang berbeda. Angka tidak lain adalah simbol yang digunakan untuk melambangkan suatu bilangan sedangkan bilangan itu sendiri merupakan suatu obyek yang abstrak. Kata orang-orang sih memang obyek matematika adalah abstrak sedangkan apa yang nampak (seperti angka, bilangan, kubus dll) hanyalah merupakan upaya untuk melambangkan hal-hal yang abstrak. Terus terang aku tidak punya ilmu untuk membahas maupun mendebat hal tersebut (antara abstrak dan konkret).
Kembali ke masalah angka dan bilangan…
Untuk lebih jelasnya aku berikan contoh:
12——-> mana angka dan mana bilangan pada “12″?
Pada “12″ terdapat dua angka, yaitu angka 1 dan angka 2 sedangkan 12 itu sendiri merupakan bilangan yang melambangkan suatu kuantitas (panjang, berat, umur dll). Jadi “1″ dan “2″ tersebut merupakan angka-angka yang digunakan untuk melambangkan bilangan “12″, tentu saja angka-angka 1 dan 2 juga dapat digunakan untuk melambangkan bilangan-bilangan yang lain tergantung dari banyaknya angka “1″ dan “2″ yang digunakan dan juga tergantung posisi peletakan angka-angka tersebut.
Kesimpulannya adalah terdapat 10 angka, yaitu mulai dari 0, 1, 2, … sampai 9. Oh ya 10 angka yang aku maksudkan tersebut adalah pada sistem penulisan latin, tentu saja masih banyak sistem penulisan yang lain (seperti Arab, Jawa, Cina, Romawi, Babilonia dll).
Semoga contoh tersebut dapat menjelaskan perbedaan angka dan bilangan.
Sekarang kembali ke masalah sastra (Jawa) dan matematika ya…
Dulu aku pernah menulis tentang apa manfaat belajar matematika . Ada beberapa komentar yang menyebutkan kalau sastra murni tidak membutuhkan matematika, nah di sini aku ingin mencoba ngéyél (maaf bahasa Indonesia untuk ngéyél apa ya? Kalau pakai membangkang sepertinya tidak tepat ya?) dengan memberikan contoh (walaupun mungkin contoh ini tidak tepat).
Sekali lagi sekarang aku akan ngéyél mengaitkan sastra (Jawa) dengan matematika, berhubung mau ngéyél maka contoh yang aku tulis nanti terkesan dipaksakan
(kata Sora9n….. “deKing garing”
).
Dulu aku sudah pernah menjawab asal-asalan tentang penggunaan matematika di sastra Jawa, yaitu rumus gatra pada tembang Macapat (jawaban yang sangat ngawur dan dipaksakan). Sekarang sekali lagi aku akan memberikan contoh NGAWUR lain tentang matematika dalam sastra Jawa…
Sebelumnya aku persempit dulu definisi matematika di sini, matematika kan salah satunya terkenal dengan dunia simbol (termasuk angka-angka) nah matematika di sini hanyalah sekedar tentang angka dan bilangan (sengaja dipaksakan
).
Dulu waktu SMP aku belajar Bahasa Jawa, seingatku dulu mata pelajaran Bahasa Jawa bukan sekedar muatan lokal tetapi memang wajib (untuk wilayah Jawa Tengah). Berhubung jaman SMP tentu saja aku hanya ingat secuil tentang sastra Jawa (padahal dulu juga tidak bisa
). Salah satu yang sangat membuatku terkesan adalah kalimat SIRNA ILANG KERTANING BUMI yang kalau tidak salah kalimat tersebut melambangkan tahun runtuhnya kerajaan Majapahit, yaitu tahun 1400. Kok bisa SIRNA ILANG KERTANING BUMI melambangkan bilangan tahun 1400?
Di sastra Jawa dikenal yang namanya SENGKALA yaitu melambangkan angka dengan kata-kata tetapi sepertinya penggunaan sengkala sebatas pada pelambangan TAHUN, tidak tahu penggunaan sengkala untuk menyatakan kuantitas yang lain. Ada dua macam sengkala, yaitu CANDRA SENGKALA untuk menyatakan tahun Jawa dan Surya Sengkala untuk menyatakan tahun Masehi. Seperti halnya angka dan bilangan, banyak orang yang menganggap kalau candra sengkala sama dengan surya sengkala (mungkin karena mereka hanya fokus pada kata sengkala).
SIRNA ILANG KERTANING BUMI ——–> ada 4 kata.
1400 ———- > ada 4 angka.
Ya setiap kata memang melambangkan suatu angka.
Apakah berarti sirna melambangkan angka 1; ilang melambangkan angka 4 dst?
Sebelum kita cari tahu makna dari masing-masing kata, marilah kita amati bilangan tahun 1400. Pada bilangan 1400 terdapat dua angka yang kembar yaitu angka “0″, jadi tentu saja pada sengkala tersebut seharusnya terdapat dua kata yang sama. Kita tahu bahwa arti kata “sirna” melambangkan ketidakadaan (sirna, lenyap, hilang dll) begitu juga kata “ilang” atau hilang, jadi kata sirna dan ilang melambangkan hal yang sama atau dengan kata lain kata sirna dan hilang adalah sama. Nah dari situ bisa kita tebak kalau kata sirna dan ilang melambangkan ketidakadaan alias “nol”.
Sudah menemukan clue yang lain?
SIRNA ILANG KERTANING BUMI
(0) (0) (?) (?)
Melambangkan apakah kata kerta (kata dasar dari kertaning) dan bumi?
Sepertinya lebih mudah kalau kita membahas kata bumi lebih dulu karena kita sama-sama tahu kalau bumi itu hanya ada satu (fakta sementara), jadi berarti kata bumi melambangkan 1 dan tentu saja kesimpulan akhirnya kata kerta melambangkan 4.
SIRNA ILANG KERTANING BUMI
(0) (0) (4) (1)
Jadi pembacaan sengkala arahnya dibalik.
Berikut kata-kata yang digunakan dalam sengkala untuk melambangkan suatu bilangan (maaf seadanya ya karena jujur saja sudah banyak yang lupa):
1 : Bumi, buana, surya, candra, tunggal, ika, eka, (p)raja, manunggal, negara dll.
2 : dwi, tangan, sikil, kuping, mata, netra, panembah, bekti, dll
3 : tri, krida, gebyar, dll
4 : catur, kerta, dll
5 : panca, astra, tumata, dll
6: rasa, sad, bremana, anggata, dll
7 : sapta, sinangga, sapi dll
8 : asta, naga, salira, manggala, dll
9 : nawa, hanggatra, bunga, dll
0 : ilang, sirna, sonya, dll
Contoh sengkala-sengkala yang lain :
- Lambang kraton Yogya –> “DWI NAGA RASA TUNGGAL” melambangkan tahun 1682.
- Kabupaten Banyumas –> “BEKTINING MANGGALA TUMATANING PRAJA” melambangkan tahun 1582
- Kabupaten Sleman —> “RASA MANUNGGAL HANGGATRA NEGARA” melambangkan tahun 1916 (Masehi)
- Kabupaten Sleman —> “ANGGATA CATUR SALIRA TUNGGAL” melambangkan tahun 1846 (tahun Jawa)
- Kabupaten Pati —> “KRIDANING PANEMBAH GEBYARING BUMI” melambangkan tahun 1323
Semua sengkala-sengkala di atas melambangkan atau menunjukkan tahun berdirinya masing-masing daerah.
Bahkan ada surya sengkala baru yang cukup bagus untuk menandai peristiwa-peristiwa yang menimpa bangsa dan negara kita di tahun 2006, yaitu “RASA SONYA ILANGING PANEMBAH” yang dapat diartikan “HILANGNYA KESADARAN BERBAKTI”.
Tulisan di atas merupakan campuran antara sisa-sisa memori belajar Bahasa Jawa waktu SMP dengan ditambah beberapa kutipan dari sumber yang lain (maaf tidak sempat menuliskan semua, di antaranya adalah tentang Sleman, Yogyakarta, Banyumas, dll)
PERHATIAN:
- Sebenarnya tulisan di atas BUKAN tentang penggunaan Matematika dalam Sastra Jawa (saya tadi hanya mencari alasan saja kok biar tulisannya agak panjang:D). Karena bisa dikatakan penggunaan matematika dalam sastra Jawa tersebut hanya sebatas angka dan bilangan.
- Inti dari tulisan di atas sebenarnya adalah sekedar ungkapan rasa cinta dan rasa rindu pada budaya Jawa-ku tercinta.
I LOVE MY LOVELY JAVA ….
I LOVE MY LOVELY INDONESIA(and INDONESIAN???)…
I LOVE MY LOVELY BAPAK and EMAK …
Sekedar informasi:
- Ide menulis tentang ini muncul mendadak ketika aku sedikit membaca tentang Babylonian Mathematics dan terus terang tiba-tiba aku jadi tertarik untuk mempelajari (lagi) budaya Jawa, khususnya tentang tulisan Jawa.
- Terus terang dulu aku hanya belajar tentang huruf dan angka-angka Jawa kuno, kalau ada rekan-rekan yang punya artikel tentang angka-angka Jawa kuno sudilah kiranya berbagi karena siapa tahu kalau ternyata ada (operasi) Matematika dalam sejarah Jawa Kuno.


buset, pak guru aktip banget men..
anto lagi mandul tuh blognya..hehehe
aku juga ding..ada banyak kesibukan nih
kok kowe malah produktip, nganggur2 aje ye di apartemen??
hehe
Saya lahir 1982. Berarti,
1982 = DWI ASTA NAWA BUMI = TANGAN NAGA HANGGATRA BUANA =…
Benar ga?
Pemilihannya bagaimana?
Than you infonya.
mungkin itu……dari budiyansya
Thank you maksudku.
Dalem…
…Tapi, tahu dari mana kalau kombinasi itu yang dipakai buat “2006″? Kan buat setiap angka ada beberapa kata yang terkait?
Apa ada subset khususnya yah dari pengelompokan angka — kata tersebut??
(o_0)”\ — garuk2 kepala (lagi)
(nha, itu baru agak matematika dikit…
)
@Anung:
Mumpung sepi “”order”
@Mathematicse:
Kok sama saya juga dulu memakai dwi asta nawa bumi.
Eh di Jawa Barat ada pelajaran tentang sengkala juga ya?
@Sora9an:
Benar, kalau ada banyak sekali kombinasi yang bisa dibuat
Sebenarnya pemilihan sengkala itu bebas, tetapi kembali ke masalah sastra…sastra kan identik dengan estetika sehingga sengkala yang dipakai adalah yang estetikanya paling bagus.
Jadi bebas saja, misal saya pakai:
RASA ILANG SIRNA BEKTI ———-> 2006
RASA ILANG SIRNA BUMI ———–> 2006
voila…
kok ya isih apal…. ???
hebat men rek!
@Ryu:
Mung kelingan sithik kok mas
(Sorry pakai bahasa Jawa)
#anung
*jitakin anung*
[...] Jawa. Beberapa waktu yang lalu saya sudah pernah sedikit bercerita tentang budaya Jawa, yaitu penggunaan kata-kata untuk melambangkan bilangan: Candra dan Surya Sengkala. Sekarang saya masih akan bercerita tentang budaya Jawa yang masih ada [...]
hehehe…sudah bertahun2 aku mencari…
seminggu yang lalu akhirnya ku dapatkan…
oh..sengkalan…
klo dari estetika bahasa gimana dengan sengkalan ini:
kencana swargo luhuring dwi…—-> 2007
@Sora9n
…Tapi, tahu dari mana kalau kombinasi itu yang dipakai buat “2006″? Kan buat setiap angka ada beberapa kata yang terkait?
ng, kalo ga salah, kata2 yang bisa dipakai untuk mewakilkan masing2 angka itu bisa dipilih untuk menggambarkan peristiwa di tahun yang bersangkutan (mirip2 “tahun gajah” gitu, cuma kalo tahun gajah emang ga ada korelasinya ama angka).
betul begitu ga, Mas Deking?
hihi, jadi inget, jaman SMP, mulok bahasa Jawa bikin nilai EBTA jadi jeblok.
bro… arti honocoroko di kepeng semar ini apa yaa.. hehhe ada di situs saya
http://hergunfish.awardspace.com/semar.htm
thanks
hergun
salam kenal…
tulisan anda sangat mbantu lho….
thanks infonya…
sep,.. kakang.. aku lagi nyari tahun kelahiranku
dilambangno opo ya…
??
hmm…klo mau belajar jawa dan mau tau arti jawa yg sebenarnya silahkan ke prof.yuzack
biasane mas kuwi dinggo tahun saka/tahun hindu
sirna ilang kertaning bumi itu jaman majapahit runtuh tahun 1400 saka.
mitos iki bisa di hubungke karo bencana ndhek sidoarjo/lumpur.
sirna dan ilang berarti musnah/hancur sedang kertaning bumi bisa diarteke kridhane/kerja bumi /singkkate bencana lah.
masalahe mojopahit,jenggala/kedhiri sak komplek juga ambek daerah kono.
kesimpulane, amarga bencana/lumpur/geologi, trus perekonomian jelas ancur ditambah regenerasi hayam wuruk-gajah mada ora ana peneruse iso dipesthekne majapahit mundur. iki mung ngarang
perkara perang kambek ndemak iku mbuh piye, demak mungkin manfaatke kesempatan kemunduran majapahit, hubungane sirna ilang kertaning bumi ndak ada.
pancen bener nek candra sengkala kuwi nggambarke majapahit mundur ananging penyebabe ra cetha, mesthi wae kapisah saka perang paregreg ambek ndemak.
tolong surat ini di balas. tolong isinya di copypaste ke e-mail Merah_putihku12@yahoo.com.plis mas
Wah ternyata sangkala jawa tu maksudnya pelambangan bilangan dengan kata kata jawa ya. Baru taudeh..
ternyata cantik juga ya
Lalu bagaimana pemilihan kata katanya untuk melambangkan bilangan tertentu ?Apakah ada tata caranya ?
Salam kenal sebelumnya…..^_^
matur thank you sanget, kadose pun jarang menawi tiang nom jaman semanten pun ke londo2an termasuk sy…….
terimakasih tidak sengaja saya temukan ini.tolong dilengkapi lagi mas ,saya ingin mendalami budaya .filsafat dan semua yang berbau jawa .mator suwon
Sebagai orang Bali, saya ingin tambahkan ……
Sirna = 0, ilang = 0, kerta = jaman = yuga (dalam kosmologi Hindu ada 4 jaman, sekarang jaman akhir, jaman Kali = Kali Yuga), bumi = 1. Arti kalimat sirna ilang kertaning bumi : hilangnya kesejahteraan bumi ( dunia, negara). Kalimat itu juga mengandung penegasan : sirna ilang ( terasa ada yang disesali dalam makna kalimat). Contoh lain : ketika Majapahit mulai digerogoti luar dalam disebut dalam candrasengkala Raja Naga Anahut Surya : Raja Naga Memakan Matahari. Raja = 1, naga = 8, anahut = makan = 3, surya = matahari = 1. dibaca 1381 Caka (+78 tahun = 1459 Masehi). Kondisi tersebut berpuncak pada tahun 1400 Caka = 1478 Masehi yaitu runtuhnya kerajaan Majapahit. Karena itu lah leluhur kami mulai menyeberang ke Bali, menjaga budaya Majapahit di tanah Bali. Salam damai.
bagus sekali, bung…. memperkaya wawasan.
nuwun.
naga dari china, apa ada hubungannya dengan china juga kemunduran majapahit
dalam budaya jawa memang kurang banyak hal yang matematis, saya kira ini kesalahan dalam mengadopsi wayang, karena dalam wayang india, harjuna adalah ahli matematik terbesar di jamannya. keterangan ini ada di buku-buku matematik. kok di kita ahli manah thok?
weeeeeee….. jawa lebih hebat dari yunani
siapa yang tahu membaca tulisan jawa kuno
sila email saya
diyanaa83@yahoo.com
Apa ga da aturan baku dalam menulis candra sengkala ataupun surya sengkala, Mas???
Ini pantas di lanjutkan untuk ngleluri ADILUHUNGING BUDAYA kalawan pakarti kang HAMBEG ing KAWICAKSANAN lan ADIL PARAMARTO, yaitu sifat yang harus dibawa oleh orang yang mengaku JAWA. Karena makna Jawa sendir adalah HAMBA ALLAH yang bersifat mampu MEMAHAMI APA, SIAPA dan UNTUK APA diri AKUnya tersebut ADA atau diADAkan
(diCIPTA-KAN) oleh SANG CHALIQ…ALLAHU AKBAR….
pakde, sebelumnya perkenalkan saya. apakah pakde bisa kirim ke aku penjelasan lengkapnya mengenai makna jawa yang panjenengan sebutkan itu. sumber dari mana? nuwun
sampun ngantos namung boso Java ingkang kondang sak jagad kangge pemrograman komputer, nanging ugi boso Jowo saged lestari
Sirna ilang kertaning bumi (1400 saka) artinya tidak adanya bakti anak pada orang tua ( R. Patah) pada Prabu brawijaya pamungkas. istilahnya modernnya ya perebutan kekuasaan. karena perebutan kekuasaan itu tentu tidak ada lagi rasa hormat. sehingga peristiwa suksesi Majapahit tersebut ditandai dengan bahasa sirna ilang kertaning bumi. setiap penulisan sengkalan itu tersembunyi ungkapan yang estetik, bahasanya tidak vulgar seperti sekarang, misalnya; copot, turunkan, pecat dsbnya. kata ilang kertaning itu sudah mendalam sekali ” ilanging tatakrama, unggah-ungguh, subasita”. Contoh lain wong Jawa ilang jawane. Atau Pakubuwana IX ” keh wong ngreti ring basane liyan, kapiran basane dhewe”. tanda-tanda hilangnya bahasa Jawa yang ditengarai dari orang Jawa sendiri, yang sudah tidak mempedulikan lagi bahasa ibunya. Gitu lho!
jenengan alumni satra jawa pundi? kula sangking Swagotra. Nuwun!!!!
mana ya blog yg membahas sastra jawa secara berurutan?
na……. giti donggggg…….. dados tiyang jawi!!!!!!! ojo sampek ilang jawane !
ciamik coy…Gothak gathuk ben dadi mathuk….
Oalaä, aku orangerti, pie iki re.
MBOK AQ DI kirim i filsafat2 jawa po’o mas… please!!!
Candrasangka memang dibaca terbalik jika diterjemahkan dalam huruf Latin. Candrasangkala Saka 1400 yaitu Sirna Ilang Krtaning Bhumi dibaca terbalik. Krta bernilai 4 karena merupakan salah satu dari empat zaman menurut Weda, yaitu Krta, Treta, Dwapara dan Kali. Bhumi diambangkan 1 karena sebagai prthiwi, atau ibu, atau permulaan, namun kadang purusa atau akasa/langit juga dilambangkan dengan 1 karena melambangkan ayah. Di sisi lain, akasa bisa dilambangkan dengan 0 karena terkait dengan sunya/kehampaan.
Ini contoh candrasangkala tahun 1930 Saka: Sunyagni Durga Sankara. Sunya=0, agni=3 (ada tiga jenis api utama: ahavaniya atau api pencernaan, garhapatya atau api saksi dalam upacara di rumah tangga, dan daksina atau api kremasi), Durga=9 (ada sembilan perwujudan Durga), sankara=1 (neptu Sankara menurut Dewata nawasangga adalah 1, bertempat di barat laut).
Kadang para penyair Jawa Kuno membuat candrasangkala berdasarkan kejadian penting pada tahun itu, contohnya di buku Nagarakrtagama. (lihat di buku Tafsir Sejarah Negarakrtagama oleh Prof. Slamet Mulyono, terbitan LKiS Yogyakarta, 2006).
Sengkala dibuat dalam sebuah kalimat ato sesanti indah yang dihubingkan dengan kondisi ato peristiwa yang terjadi. Pilihan angka ato sifat angka yg digunakan dipilih yg selaras. Sirna Ilang Kertaning Bhumi secara bahasa diartikan sirna dan hilangnya Kerta (peradaban/kesejahteraan) di Bumi. DImana arti dari masing2 kata seprti dibahas diatas 1400
Ingat SMA saya punya sengkala : Paksi Manjing Gapuraning Tyas ato 1982
Tolong dong aku ingin bertanya Candra Sengkala dan Surya Sengkala arti kata ini :
“DINAMAR SAPTA KUSUMA NIGRUM”
Tolong teman-teman yang tahu artinya ya….!
cuL,,,
the jowo’s secret
ndhih ana basa kang akeh katane nek???yo gur basa jawi
saya suka Candrasangkala
menurut ahli geology dan juga ahli fisika nuklir brasil Prof arsio santos , negara atlantis yg letaknya di indonesaia hancur 11600 tahun yg lalu, Candrasangkala nya
“sirna hilang saduning raja buwana”
kehancuran itu di sebabkan oleh raja yg sombong di identikan dgn kehilangan kearifan / lalu alam marah dan meletuslah gunung krakatao dgn kekuatan = 30.000 bom nuklir hirosima dan manusia merasakan
“sirna hilang rasa manunggaling buwana”
setelah terpisah tercerai berai sekarang mereka,tak saling kenal sebagai satu keturunan sama2 dari atlantis maka
“sirna hilang rasa bumi tunggal”
tak ada lagi ( se_warga= satu warga )
krn ta smua su_warga ( su=baik )
itu crita pulao surga
pembacaan sengkala arahnya dibalik.
candra sengkala di tulis unik agar kejadiaannya mudah di ingat, ia super unik, disamping membahas mengenai sinonim angka 1-0, lebih dari itu pnulis ingin mengungkap kejadian apa yg terjadi pada tahun itu, angka ( materi) harus mampu menyirat kan makna apa “Ruh”(n’jowo ) sehingga kaweruh, kala itu yang selalu berputar ber ulang dalam putaran Yuga ( kerta,dwapara,…sampai….,kali) siang/terang,…. sdikitglap/pagi, ……senja dan …..petang dedet, silahkan anda melatih kata kata angka di bawah:
gajah maguna bhuta tunggal, 1538
catur magina bhuta bhumi, 1534
guna resi sara wani, 1573.
catur resi kala bhumi, 1574
bhuta maguna tunggal, 135.
tawang brahmana manca bhumi, 1579.
tawang tunggal bhuta nabhi, 1519
ula naga bhuta bhumi, 1577.
retu anjala sasih, 146.
bhuta retu anjala wong, 1465.
kuda retu anjala sasih, 1467.
gni retu anjala nabhi, 1463.
ilang brahmana catur bhumi, 1480.
nora gseng amanca bhumi, 1500
brahmana pakarenga bhuta wani,1568
catur magina bhuta bhumi, 1534.
brahmana magina bhuta tunggal, 1538.
kaya parwata sanjataning wong, 1573.
brahmana sunya rasa tunggal, 1608
sunya sanga manca bhumi,1590
brahmana sanga wuta wani, 1598.
gunung wani gana rupa, 1617
asa tunggal gana rupa, 1616.
gunung wani gana rupa, 1617
ilang manon rasa rupa, 1620
angapit karna kumbang wong, 1622.
karangsang bhuta kumbang wong, 1656
arupa wani pandita tunggal, 1714.
welut mati pinanganging surya, 1303.
rasa naga ngemban ulan, 1276.
kaya singa katon ring bumi, 1293.
sagara asat kayu ulan, 1304.
sanga gagana kaya nabi, 1309.
mega katon kaya buda, 1320
paksa kaya geni murub, 1332
kaya buta aningali surya, 1253.
lebu awiku amawa tunggal, 1271.
jaraning brahmana katon ring puja, 1287.
pandita angalih rasa tunggal, 1627.
siki guna karange awani, 1651
durga marga aput lemah, 1295
rupa rasa guna jala, 1361
catur bhuja gunaning wong, 1324.
naga nawut rupa tunggal, 1138.
naga nawut rupa tunggal, 1138.
resi gana kawahan wani, 1437.
resi winaya segara wong, 1467.
rasa guna banyuning wong 1536.
rupa rasa guna janma, 1361.
catur bhuja warna ning wong, 1444.
atlantis, Nusantara, trutama jawa harta karunnya
tidak hanya emas, berlian saja, tapi budaya atlantis
luar biasa yg blum di gali, dan sedihnya orang jawa ikut melupakannya
i love java
Kalo “DINAMAR SAPTA KUSUMA NIGRUM” artinya apa ya mas trudo?
waduh saya ga tahu itu dapat dari mana
kalo tahun jawa mungkin sdikit tahu
mungkin artinya
dina= hari
mar= maret
sapta =7
kusuma= bunga= lima ( untuk kembang jepaun)
ning rum = 0, ( hening nan harum) hihhii
klo di gabung artinya
ia ada tersamar di dalam 7 cakra, yg utama cakra trasa semerbak bunga hening indah luar biasa
itu terjemahan bebas saya pasti salah
love java
Kata itu dari bapakku, kata2 itu dari mimpi beliau.
Makanya beliau ingin tahu arti dari kata itu, dan apabila itu memiliki arti tahun tahun berapa itu ya mas?
Secara Surya Sengkala maupun Candra Sengkala.
Mohon petunjuknya ….! Dan makasih sebelumnya…!
mungkin tahun 1570
asumsi saya lima /kusuma kembang jepun
rum =1
kusumaning=5
sapta=7
dinamar= tersamar = maya = 0
Ningrum = Rum ( Negari rum ) = negari = 1
Kusumaning = kusuma = kembang = 9
Sapta = 7
Dinamar = samar = 0
dados menawi mboten lepat meniko 1970
Wah, makasih banget atas pencerahannya ya mas…!
Jika ada arti kata lain boleh juga kok..!
Ceritanya bapakku ini penasaran aja, kenapa dia mendapatkan kata2 itu dari mimpinya…
terus dari temanku mengataan bahwa itu mungkin bermakna Surya Sengkala atau candra sengkala, terus aku ketemu web ini. makasih banget ya mas….
Kukira dimanar itu berarti lampu ( Damar jw.) atau memberi sinar
Makasih….!
Mari bersama-sama kita jaga dan lestarikan budaya jawa jangan sampai hilang karena budaya asing
kebudayaan jawa banyak yang di tinggalkan,akan tetapi kalau kita tidak yang nguri-nguri budaya jawa mau siapa lagi,teruskan…om
kalau “Dharmottama satya praja” artinya tahun berapa ya?
memang ilmu matematik dalam khasanah budaya jawa masih perlu dikaji lebih dalam. banyak hal dalam kehidupan jawa yang terkait dengan matematik belum terpecahkan (kalo ada, kasih tau saya), contoh: pembangunan rumah, candi dan bangunan teknis lainnya. ataukah ada penjelasan lain soal ini?
KANG… PERNAH DENGAR TEMBANG RO RO JI (LORO LORO SIJI)
hebat
[...] Jawa. Beberapa waktu yang lalu saya sudah pernah sedikit bercerita tentang budaya Jawa, yaitu penggunaan kata-kata untuk melambangkan bilangan: Candra dan Surya Sengkala. Sekarang saya masih akan bercerita tentang budaya Jawa yang masih ada [...]
sekarang saya tinggal di kalimantan tengah, karena ingin ikut melestarikan budaya, saya mohon izin mengutip artikel ini untuk saya posting ulang dengan bebrapa perubahan, sesuai kemampuan saya
kalo saya pernah mendengar kata kata ” windhu kasampar hanerak bumi” apakah itu termasuk candra sengkala ? kalo iya artinya angka berapa? terima kasih
untuk penulis wacana diatas, saya tertarik mengulang untuk pelajari, mohon advice dan supportnya dan masukkan informasinya. Sangat terimakasih seklai kalau bisa sharing, hal Jawakarena menurut saya lebih ke hal “pedalaman diri”, banyak serat yang tersirat tiap kandungan rangkaian kalimahnya.
Terimakasih.
Jos. . .. tp kurang komplit . .. biyen ak duwe catetan kui tp mbuh nak ndi. .. . yen ak d kirimi komplit ora nolak kok
pinuwun ingkang tanpa upami dene jeneng kita taksih kaparingan wekdal saha krenteg ngauri-uri kabudayan.
Awignam astu namassidem… mugi Pangeran tansah paring lembah manah dhumateng kita sesami.
nuwun.
Tiyo, Semarang.
yang berhak nulis sengkala itu siapa ya kawan?
semangat penulis!!
Meniko wonten link-ipun.
http://pancamukti.blogspot.com/2009/06/sengkolo-sengkala-sengkalan.html
pira sankalaning titah ?
Ada beberapa candra sengkala yang saya ingat betul waktu saya SMP yaitu :
- sirna ilang kertaning bumi ( tahun 1400 )
- naga muluk tinitihan jalma ( tahun
- nir wuk tanpa jalu
ka ba re..
dulur-dulurku kabeh sing isih rumangsa dadi wong jawa, ayo bebarengan nguri-uri budaya jawa aja nganti ilang jawane
bahasa jawa kuno bukan asli bahasa orang jawa, tapi lebih banyak dipengaruhi bahasa sanskerta yang dibawa orang India atau orang arya dravida, bahasa sanskerta adalah bahasa resmi orang arya yang merupakan akar bahasa eropa…
sebelumnya ada bahasa asli orang jawa yang telah punah barangkali sekarang hanya tertinggal dan menjadi bahasa orang jepang sekarang ini,,,
kelemahan orang Indonesia sejak dulu
- mudah tertarik sesuatu
- kurang bisa merawat, lemah dalam perawatan
akibat dari segi bahasa, bahasa orang Indonesia mudah sekali berubah sangat cepat, bahasa Indonesia tahun 1940 an dan sekarang saja sudah sangat berubah…
begitu juga bahasa jawa, sudah ada tiga bahasa jawa yang berubah, kuno, menengah dan modern…
bandingkan dengan jepang yang bahasanya selama ratusan tahun bahkan bisa jadi ribuan tahun tidak mengalami perubahan dahsyat….
bandingkan dengan inggeris yang bahasanya tidak banyak berubah…
bandingkan dengan bahasa lain semisal arab dll…yang sama sejak awal abad masehi…
ttd : hak cipta dilindungi undang2…
itulah kelebihannya kita ..adaptif dengan perkembangan jaman heheheeee
tergantung bagaimana mandangnya …. yg tetap berpegang pd yg lama di sering disebut kuno, tradisional nah lho …
ngéyél sama dengan ngebantah.. hehehe mungkin..
dear Hoaahhh
penutur aktif bahasa Sansekrta di India pd th 1921 tinggal sekitar 356 org di seluruh India, Pakistan dan Bangladesh (sekarang), dan pada sensus tahun 1951 hanya ada 555 orang penutur Sansekreta dari 362 juta penduduk India.
di indonesia disebut sansekerta tapi di india sebut sanskrit, dan India tdk punya Bahasa resmi, Indonesia punya sumpah pemuda
Bukti paling telak adalah bahwa belum diketemukan satupun naskah kuno berbahasa Sansekrta dengan aksara Deva Nagari di India sebelum tahun 500 Masehi!
sedang di indonesia,Bahasa Jawa, Sunda, Bali justru mengandung sekitar 50% kosa kata Sansekrta. bahasa Jawa, Sunda dan Bali itu banyak mengandung kosa-kata Kawi, sedang hampir 80% kosa kata bahasa Melayu asli punya akar kata Kawi, menurut Wojowasito atau Zoed Mulder
coba anda masuk ke
http://sejarah-nusantara.blogspot.com/2009/04/bahasa-nusantara-induk-dari-bahasa.html
coba baca Buku “Rahasia Otak Manusia Jawa” oleh dr Arman Yudistira saleh MS,Sps. seorang ahli saraf , dimana bliao melakukan pengobatan stroke justru dgn budaya jawa dan tulisan jawa yg hebat sekali dan di india tidak ada
silahkan diskusikan
Starting a website kind of like this one forced me to do some research and I found your post to be quite helpful. My content is centered around the idea of knowledge, fun and sharing. I wish you fine luck with your web site in the future and you can be sure I’ll be following it.
We e e e e ………….. JEGEG bener Gan …. Jegeg / hebat bahasa PONOROGO nya gitu.. mau nanya nih kan ada candra sengkala dan surya sengkala… lha PEMBEDA nya APA ya gan ya…. bgm biar tahu wo… ini candra sengkala… lha yang itu surya sengkala… gitu gan tolong nih… thanks… berat
Wahahaha, BLOG-E APIK TENAN MAS…..
Buat belajar….
Salam dari sesama pecinta budaya JAWA.
Btw mas, bahasa indonesia untuk ngeyel ki “BERSIKERAS”….
[...] kerajaan tersebut di Pulau Jawa. Angka tahun pendirian pada prasasti tersebut termuat dalam sebuah Candrasengkala yang berbunyi “Sruti Indriya Rasa” (Sruti = 4, Indriya = 5, Rasa = 6) yang menyatakan [...]
Pinter2x arek2x yo. He3x + he 3x
mas tulung arti kan kelahiran ku ( 1986 )
saya sngat suka bahasa jawa
sampai ” pengen kuliah Bahasa Jawa
tapi belunm ada kesempatan dan Dana Mas
jadi tlong ya siapa Saja
artikan yang diatas supaya saya tidak penasaran
1986
candra sengkalanya
rasa maguna marga nabi
atao
bremana salira hanggara negara
kawruh apik … ki ; sumonggo di pun uri uri … mumpung wonten Email..
melu kopi paste… sing penting penting..
arep nggolekni day predektion and time prediktion.
ada yang punya rumus candro sengkolo kapan melu angko siji apa sing angko nol … yen ra salah ana rumusan maton e…
zaman sma pernah nglotok – kanggo sanepan tanda ~ ayat ~
its uniq combinatioan 4 digit . can use probability : permutation : binary logic.
dari pengalaman pribadi … 99% tepat .. nganti ra wani ngetung./nyandro … terus wedi dewe…
kok saiki wis rodo wani coba coba nyandra maneh .. he he he
suwun
cah solo ;
saya juga suka mempelajari ilmu dan budaya jawa,banyak hal2 menarik disana bro
angesthi makarya trus manunggal. sun angabdi siwi sunar pramana, maksudnya apa ya? nuwun
“DINAMAR SAPTA KUSUMA NIGRUM” wong kang lair ing sasi maret dino kapitu, diarep-arep iso ngisi kosonging jagad. (bisa berguna bagi nusa dan bangsa, keluarga sanak saudara serta agama selama hidup didunia). terima kasih infonya.Kawulo ngaturaken gunging pangaksami mbok bilih wonten klethunipun. [semoga benar
]
bajingan angka kuno 100 nganti 1000 ra enek
cap jikia ko metune opo.,.,.,.?
muslim bagus dewe sak solo city.,.,.,.