Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret 10th, 2007

Pilih yang mana?

Manakah yang lebih tepat antara “TIDAK BISA KARENA TIDAK BIASA” atau “TIDAK BIASA KARENA TIDAK BISA” ?

Upppss…mungkin yang di atas terlalu bernuansa negatif ya? Katanya kita sebaiknya berpikiran positif so kalau begitu bagaimana dengan yang ini…

Manakah yang lebih tepat antara “MENJADI BISA KARENA BIASA” atau ” MENJADI BIASA KARENA BISA” ?

Ada yang mau membantuku menjawab?

Iklan

Read Full Post »

      Orang Jawa kuno benar-benar menyukai sastra, bahkan untuk menyatakan bilangan-bilangan mereka menggunakan  bahasa (kata) yang indah-indah sebagai pengganti angka.

      Tetapi sebelum aku sedikit bercerita (sebatas pengetahuanku) tentang hubungan antara sastra dan matematika perkenanlah aku sedikit memberikan perkenalan tentang perbedaan antara angka dan bilangan (lagi-lagi sebatas pengetahuanku).

      Banyak orang yang mungkin menganggap kalau angka dan bilangan adalah hal yang sama padahal sebenarnya angka dan bilangan adalah hal yang berbeda. Angka tidak lain adalah simbol yang digunakan untuk melambangkan suatu bilangan sedangkan bilangan itu sendiri merupakan suatu obyek yang abstrak. Kata orang-orang sih memang obyek matematika adalah abstrak sedangkan apa yang nampak (seperti angka, bilangan, kubus dll) hanyalah merupakan upaya untuk melambangkan hal-hal yang abstrak. Terus terang aku tidak punya ilmu untuk membahas maupun mendebat hal tersebut (antara abstrak dan konkret).

      Kembali ke masalah angka dan bilangan…

      Untuk lebih jelasnya aku berikan contoh:

     12——-> mana angka dan mana bilangan pada “12”?

      Pada “12” terdapat dua angka, yaitu angka 1 dan angka 2 sedangkan 12 itu sendiri merupakan bilangan yang melambangkan suatu kuantitas (panjang, berat, umur dll). Jadi “1” dan “2” tersebut merupakan angka-angka yang digunakan untuk melambangkan bilangan “12”, tentu saja angka-angka 1 dan 2 juga dapat digunakan untuk melambangkan bilangan-bilangan yang lain tergantung dari banyaknya angka “1” dan “2” yang digunakan dan juga tergantung posisi peletakan angka-angka tersebut.

       Kesimpulannya adalah terdapat 10 angka, yaitu mulai dari 0, 1, 2, … sampai 9. Oh ya 10 angka yang aku maksudkan tersebut adalah pada sistem penulisan latin, tentu saja masih banyak sistem penulisan yang lain (seperti Arab, Jawa, Cina, Romawi, Babilonia dll).

       Semoga contoh tersebut dapat menjelaskan perbedaan angka dan bilangan.

      Sekarang kembali ke masalah sastra (Jawa) dan matematika ya…

      Dulu aku pernah menulis tentang apa manfaat belajar matematika . Ada beberapa komentar yang menyebutkan kalau sastra murni tidak membutuhkan matematika, nah di sini aku ingin mencoba ngéyél (maaf bahasa Indonesia untuk ngéyél apa ya? Kalau pakai membangkang sepertinya tidak tepat ya?) dengan memberikan contoh (walaupun mungkin contoh ini tidak tepat).

Sekali lagi sekarang aku akan ngéyél mengaitkan sastra (Jawa) dengan matematika, berhubung mau ngéyél maka contoh yang aku tulis nanti terkesan dipaksakan 😀 (kata Sora9n….. “deKing garing” 😀 ).

      Dulu aku sudah pernah menjawab asal-asalan tentang penggunaan matematika di sastra Jawa, yaitu rumus gatra pada tembang Macapat (jawaban yang sangat ngawur dan dipaksakan). Sekarang sekali lagi aku akan memberikan contoh NGAWUR lain tentang matematika dalam sastra Jawa…

  (lebih…)

Read Full Post »