Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2007

Mohon jangan dianggap serius tulisan saya ini. Apalagi bagi Anda yang mengharamkan kalau suatu bilangan itu memiliki makna “istimewa” (misal bilangan 13 yang melambangkan kesialan, bilangan 4 yang melambangkan kematian dll). Tulisan ini semata-mata saya tujukan untuk bermain-main dengan matematika saja. Dan … tulisan saya ini benar-benar tulisan ringan. Serius lho 😉

Saya masih ingat ketika saya masih tinggal di “kost” lama saya yang memiliki tradisi main poker (dengan taruhan sejumlah uang) tiap akhir pekan, yang kata teman saya permainan tsb ditujukan untuk menambah keakraban sesama penghuni “kost”. Waktu itu saya benar-benar diselamatkan dari kebangkrutan (karena judi) oleh tuntunan dalam agama saya. Ya waktu itu saya benar-benar bersyukur judi diharamkan dalam agama yang saya anut.
Kali ini saya akan kembali membual tentang judi. Tetapi judi yang saya maksud dalam tulisan ini adalah (hanyalah?) judi dengan menggunakan kartu remi, seperangkat kartu yang memiliki empat macam bentuk (\heartsuit , \diamondsuit , \spadesuit , \clubsuit ). Seperti saya sebutkan di atas kalau tuntunan agama saya mengharamkan yang namanya judi. Tetapi, saya ternyata agak kaget ketika mengetahui dan menyadari kalau ternyata matematika juga ikut-ikutan mengharamkan judi. Lalu bagaimana matematika bisa mengharamkan judi tsb?

apa iya?

Read Full Post »

Perubahan … mungkin itu adalah kata yang senantiasa melekat pada diri manusia karena manusia adalah sosok yang senantiasa berubah dan berkembang, entah dilandasi oleh keinginan ataupun kebutuhan. Hal itulah yang menyebabkan piramida Maslow mengalami perubahan puncaknya dari self actualitation menjadi self transcendence. Terjadinya perubahan (kebutuhan) tersebut sebenarnya merupakan suatu akibat dari terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan manusia pada suatu level.

mari ber-transformasi

Read Full Post »

Masih bukan matematika! Setelah kemarin sedikit menyinggung tentang Descartes maka sekarang saya ingin menuliskan sedikit kisah Socrates…
Tulisan saya kali ini hanyalah realisasi obsesi lama saya untuk memperkenalkan budaya daerah saya. Setelah dulu saya mengenalkan bagaimana wajah cantik tempat saya dilahirkan, yaitu disini dan disini, maka sekarang ijinkan saya untuk mengenalkan bahasa yang dulu saya pakai untuk komunikasi sehari-hari dengan teman sebaya saya. Kenapa saya pertebal “dengan teman sebaya”? Karena saya menggunakan “kasta” yang berbeda-beda dalam berkomunikasi, saya menggunakan bahasa Jawa kromo untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang lebih tua dari saya sedangkan untuk teman sebaya saya menggunakan bahasa Jawa ngoko. Lalu kenapa kali ini saya memilih untuk menulis dengan bahasa Jawa ngoko yang tingkat kesopanan-nya kurang? Karena (menurut saya) perbedaan bahasa ngapak daerah saya dengan bahasa alus gaya wetan (Yogya-Solo dkk) terletak pada bahasa ngoko-nya. Pada tingkat kromo bisa dikatakan tidak ada perbedaan antara bahasa ngapak dengan bahasa alus gaya wetan. Selain itu tulisan dengan bahasa Jawa kromo sudah sering ditayangkan oleh Pak Dee sang pakar bahasa Jawa, contohnya di tulisan yang ini.
Tetapi supaya tidak terkesan kosong dan hampa, tulisan versi Jawa saya kali ini akan berkisah tentang Socrates sang bijaksana. Jangan khawatir bagi rekan-rekan yang tidak memahami bahasa Jawa karena saya juga menyediakan versi bahasa Indonesia dari tulisan saya ini . Bagi yang kurang berhasrat untuk mengetahui bahasa daerah saya maka saya persilakan untuk langsung membaca yang versi bahasa Indonesia

tidak usah memaksakan diri membaca yang versi bahasa Jawa ya 😉

Read Full Post »

Hasrat …

Sepertinya ini saat yang tidak tepat bagi saya sendiri untuk ber-matematika, jadi mari kita mengobrol santai 😉

 

Kali ini saya ingin sedikit berbicara tentang hasrat, tetapi saya akan mengawalinya dengan sedikit menyentuh passion. Sebenarnya saya bingung istilah yang tepat untuk passion (mungkin ada rekan-rekan yang tahu?), tetapi mbah Wiki di sini menyebutkan kalau sedikit-banyak passion bisa diekuivalenkan dengan emosi. Walaupun begitu, tetap ada perbedaan antara passion dan emosi yaitu passion lebih berkesan pasif (dari sudut pandang subyek) karena penyebab passion adalah pihak luar (eksternal) sedangkan emosi lebih bersifat aktif karena penyebab emosi ada di dalam diri subyek (internal). Descartes, di bukunya yang berjudul Passions of the Soul (Les passions de l’âme), menyebutkan bahwa ada enam passion dasar yang dimiliki manusia yaitu kekaguman, cinta, kebencian, hasrat, kebahagiaan dan kesedihan. Tetapi untuk kali ini perkenankan saya untuk hanya memilih hasrat sebagai topik membual.

hanya sekadar pennyaluran hasrat…

Read Full Post »

Salam semuanya …
Perkenankanlah saya untuk kembali menulis lagi dan sekarang saya ingin kembali membual tentang matematika dan kehidupan, yang sepertinya tulisan saya saat ini bisa saja dikaitkan dengan tulisan saya yang ini.

deKing is back!!!!

Read Full Post »