Feeds:
Pos
Komentar

Hasrat …

Sepertinya ini saat yang tidak tepat bagi saya sendiri untuk ber-matematika, jadi mari kita mengobrol santai 😉

 

Kali ini saya ingin sedikit berbicara tentang hasrat, tetapi saya akan mengawalinya dengan sedikit menyentuh passion. Sebenarnya saya bingung istilah yang tepat untuk passion (mungkin ada rekan-rekan yang tahu?), tetapi mbah Wiki di sini menyebutkan kalau sedikit-banyak passion bisa diekuivalenkan dengan emosi. Walaupun begitu, tetap ada perbedaan antara passion dan emosi yaitu passion lebih berkesan pasif (dari sudut pandang subyek) karena penyebab passion adalah pihak luar (eksternal) sedangkan emosi lebih bersifat aktif karena penyebab emosi ada di dalam diri subyek (internal). Descartes, di bukunya yang berjudul Passions of the Soul (Les passions de l’âme), menyebutkan bahwa ada enam passion dasar yang dimiliki manusia yaitu kekaguman, cinta, kebencian, hasrat, kebahagiaan dan kesedihan. Tetapi untuk kali ini perkenankan saya untuk hanya memilih hasrat sebagai topik membual.

hanya sekadar pennyaluran hasrat…

Iklan

Implikasi-biimplikasi kehidupan …

Salam semuanya …
Perkenankanlah saya untuk kembali menulis lagi dan sekarang saya ingin kembali membual tentang matematika dan kehidupan, yang sepertinya tulisan saya saat ini bisa saja dikaitkan dengan tulisan saya yang ini.

deKing is back!!!!

Bukan maksud saya untuk menyalahi pakem blog saya, lha saya memang tidak mempunyai pakem tertentu untuk blog saya ini kok 😛
Walaupun saya selama ini sering memakai matematika, itu sebenarnya hanyalah salah satu cara saya untuk menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan (*halah*). Untuk kali ini saya akan menulis tanpa pendekatan matematika. Anggap saja tulisan ini sebagai selingan sebelum tulisan matematika saya yang sudah nongkrong di draft keluar dari persembunyiannya 😈
Tulisan ini merupakan tulisan gado-gado yang memang saya tulis secara agak acak-acakan. Tetapi semoga penyajian yang kurang indah ini tetap menyisakan cita rasa (baca: pesan) yang masih bisa dinikmati.

 

********** Sepenggal kisah bubur**********

 

[?] Masak berapa takar hari ini mak?

[+] Sedikit dikurangi dari takaran kemarin?

[?] Kenapa mak?

[+] Karena kemarin tidak ada yang membeli bubur kita nak.

[-] oooo …..

Keesokan harinya …

[?] Apakah hari ini kita masak bubur dengan porsi yang lebih sedikit lagi mak?

[+] Iya anakku. Kenapa kamu bertanya begitu?

[?] Karena kemarin tetap masih belum ada pembeli juga mak. Benar kan mak?

[+] Engkau benar anakku. Mari bantu emakmu ini …

Keesokan harinya … lagi …

[?] Kenapa masih masak bubur mak? Bukankah kemarin juga masih belum ada yang membeli bubur kita?

[+] Itu kan kemarin nak. Kita belum tahu rejeki yang diberikan Alloh hari ini. Semoga saja hari ini kita dapat pembeli bubur …

[?] Tapi mak …

Sore harinya …

[+] Benar apa yang emak bilang tadi kan nak? Kita tidak akan pernah tahu rejeki yang akan Alloh berikan pada kita.

[?] iya mak … *tanpa berkata2 langsung memeluk emak*

 

Kenapa saya menuliskan dialog tsb? Silakan saja dinikmati dialog tsb, semoga ada pesan yang bisa diambil. Disimpan dulu ya pesannya …

serius … tulisan saya kali ini tidak jelas

Ya …saya manusia biasa yang benar-benar biasa ini (mulai) kembali lagi. Tetapi seperti biasa, tulisan ini hanyalah sekedar kebiasaan yang biasa dan memang biasa-biasa saja adanya. Jadi saya harap rekan-rekan untuk bisa membiasakan diri dengan bahasa-bahasa dan pesan-pesan saya yang selalu biasa-biasa saja ini … 😉

****************************************

Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.

Hayo…jangan-jangan sudah banyak yang lupa dengan kalimat di atas? Ayo ngaku! Yupzx…kalimat di atas merupakan bunyi pasal 28 UUD 1945 yang saya kopi pais secara utuh dari sini. Lho, memang ada hubungannya antara pasal 28 UUD 1945 tsb dengan matematika? Hohoho…tentu saja ada, walau dipaksakan dengan amat sangat (seperti biasanya) :mrgreen:

seperti biasa, hanya ingin memaksakan kehendak pribadi hehehe

Arti penting poligami bagi Matematika…

[Berdasarkan tambahan pengetahuan dari Saudara Grak, maka saya memperbaiki penggunaan istilah poligami dalam tulisan ini kecuali keterangan2 pada gambar tidak saya ubah karena hal tsb lumayan merepotkan. Terima kasih saya sampaikan kepada Saudara Grak atas tambahan pengetahuannya]

Tulisan ini tidak saya maksudkan untuk menyebarkan ajaran/aliran sesat deKing maupun membicarakan bagaimana memenuhi suatu kebutuhan dengan cara yang halal. Anggap saja tulisan saya ini hanya bercanda karena memang itulah maksud tulisan saya yang sesungguhnya. Ya…saya hanya sekadar meneruskan hobi dan tradisi saya untuk memaksakan unsur matematika dalam tulisan saya. Saya harap tidak akan ada anggapan bahwa saya memperolok tindakan poligami (yang diperbolehkan oleh agama saya…Islam) karena memang maksud tulisan saya hanya sekadar berbagi informasi informasi matematika dengan cara saya sendiri.

Apa itu polgami dalam matematika? Mari kita susuri bersama-sama…

poligami .. tidak…poligami…tidak…poligami

Eadem mutata resurgo…

Kemunculan saya kembali di dunia blogsphere ini bukanlah karena nafas buatan yang telah diberikan oleh dia…sang nafas (*ehm…ehm*). Bukan pula karena mantera jaelangkung yang dirapalkan oleh Oom Dana maupun ungkapan kangen dari Bos Sawali ( hehehe :mrgreen: ). Saya kembali hanya karena saya ingin kembali bertemu saudara-saudara semua dan sekaligus menyebarkan ajaran dari aliran deKing
Kalimat eadem mutata resurgo sengaja saya pilih sebagai kalimat yang menandakan kemunculan kembali deKing (walau secara perlahan)…

am i back?

Maaf …

Maaf …
Untuk kesekian kalinya saya mengucapkan (dan menuliskan) kata tersebut.
Kenapa?
Ya jelas … jelas sekali karena saya sering melakukan kesalahan.
Bahkan seringnya saya mengucapkan maaf sebenarnya kalah jauh banyaknya dari seringnya saya melakukan kesalahan
Ya…
Terlalu banyak kesalahan yang saya sembunyikan dan tidak saya mintakan maaf atasnya … sejujurnya
Untuk itulah perkenankan saya sekedar masuk blog sejenak untuk mengurangi timbunan sampah-sampah kesalahan yang sudah membusuk dan membau …
Untuk itu perkenankanlah saya untuk meminta maaf …

Alangkah payahnya saya ini yang memanfaatkan momen INI hanya untuk meminta maaf …
Biarkanlah … semoga masih ada sejumput tulus dalam maaf ini …

Sekali lagi … maaf

 

 

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

 

Dan tidak lupa pula perkenankan saya untuk mengucapkan

 

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI

 

Bagi rekan-rekan yang merayakan
Semoga semua amal ibadah kita tidaklah sia-sia

PS:
Maaf secara khusus saya sampaikan kepada seluruh khalayak penghuni blogsphere ini.
Mungkin (sangat mungkin) saya tidak bisa bersilaturahmi (satu per satu) ke blog rekan-rekan semua untuk mengucapkan maaf.
Ijinkanlah saya mengucapkan maaf ini secara massal hanya melalui blog saya sendiri.