Road to “Sangkan Paraning Dumadi”
Senin, Januari 7, 2008 oleh deking
Pertanyaan tsb bukanlah pertanyaan yang muncul dari dalam diri saya. Pertanyaan tsb adalah pertanyaan yang dilontarkan teman saya ketika kami berdua berjalan kaki menjelajahi pekat, senyap dan dinginnya malam hanya untuk menuntaskan ambisi menginjakkan kaki di puncak tertinggi (342 meter DPL) yang ada di negara tempat saya tinggal saat ini dan juga drielandenpunt alias perbatasan tiga negara.
Jujur saja saya “terpesona” dengan pertanyaan tsb karena selama ini sepertinya saya hanya terpaku pada pijar cahaya bintang di tengah pekatnya malam, tanpa pernah melintas dalam benak saya asal waktu cahaya bintang itu. Ya … cahaya bintang yang kita lihat pada suatu waktu bukanlah cahaya yang dipancarkan sang bintang pada saat kita memandangnya. Kalau dalam istilah penyiaran mungkin bisa kita katakan kalau cahaya bintang tsb hanyalah merupakan “siaran tunda”. Lalu seberapa lama selang waktu antara “penyiaran” dan “penerimaan” cahaya bintang tsb? Alpha Centauri, gugus bintang yang memiliki jarak 4,4 tahun cahaya dengan sistem tata surya kita merupakan gugus bintang yang paling dekat dengan bumi. Jadi cahaya yang dipancarkan oleh Alpha Centauri akan kita lihat dari bumi kita ini sekitar 4,4 tahun kemudian.
Maaf … penggunaan “sangkan paraning dumadi” tidak saya maksudkan untuk ke-suku-an. Mungkin rekan-rekan dari (suku) Jawa sudah akrab dengan istilah tsb. “Sangkan paraning dumadi” secara simpelnya adalah “(tempat) berasal dan kembalinya segala makhluk” alias “the origin and the destination of all creatures“. Ya…“sangkan paraning dumadi” merupakan rangkaian kata yang digunakan oleh sesepuh Jawa untuk merujuk pada sosok Tuhan sebagai pencipta (a.k.a asal) dan pemilik (a.k.a tujuan) segala makhluk-Nya. Maaf…dengan segala keterbatasan dan kelancangan saya, saya menganggap kalau “sangkan paraning dumadi” tsb sebenarnya memiliki konsep dan makna yang sama dengan “innalillahi wa inna ilaihi roji’un” dalam agama Islam (maaf saya juga tidak bermaksud untuk ke-agama-an). “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un” (juga) berarti sesungguhnya segala makhluk itu milik Alloh dan akan kembali kepada Alloh.
*****antara bintang dan sangkan paraning dumadi*****
Lalu apakah hubungan antara bintang di angkasa dengan “sangkan paraning dumadi”?
Begini…
Seperti di awal sudah saya sebutkan bahwa cahaya bintang yang kita lihat saat ini sebenarnya berasal dari masa lalu. Masa lalu … itu kuncinya
Jika kita merunut masa lalu maka pada ujungnya kita akan menuju suatu hulu yang bernama awal … suatu penciptaan. Jadi dalam hal ini bintang merupakan simbol dari “sangkan” alias awal… (maaf, bukan berarti saya menganggap Tuhan=bintang).
Lalu dimana posisi “paran”?
Ah terkesan agak memaksakan mungkin, tetapi bagi rekan-rekan yang sudah membaca tulisan saya yang ini maka mungkin bisa memahami apa arti langit bagi saya. Bagi saya (seperti tersirat di tulisan saya tersebut), langit menunjukkan suatu kondisi serba ideal yang ingin saya capai. Jadi bagi saya langit merupakan “paran” … langit merupakan tujuan yang ingin saya capai.
Sudah…itu saja ![]()
Pokoknya™ bagi saya bintang sebagai simbol “sangkan” yang berada di tengah luasnya langit sebagai suatu “paran” merupakan perpaduan yang menciptakan “jalan menuju Tuhan”.
************************
Tulisan ini lahir dengan susah payah … melawan segala rasa malas dan lemas
Tulisan ini lahir atas paksaan diri sendiri untuk kembali menulis
Jadi ya begini akibatnya … isi dan juga ending tulisan yang terasa menggantung, hambar dan samar …
Maaf ya


jadi kesimpulannya??
langit emang selalu sedap dipandang yak
Hooo… ternyata bintang ygqta liat itu siaran tunda ya…

Saya mo nonton yg live nya dunk…
“sangkan paraning dumadi”! Yah, filsafat jawa ini agaknya juga erat kaitannya dengan idiom “urip kuwi kaya cakra manggilingan” bagaikan roda yang terus berputar. suatu ketika, roda tuh juga akan berhenti total dari usmbu ato as-nya. makanya, ki suryo mentaram *halah sok tahu nih* pernah bilang, urip kuwi sing sakmadya, sakbutuhe, sakcukupe. ndak usah berlebihan. wah, kaitannya dengan bintang, agaknya analogi ini juga tidak salah pak deking. dengan menyaksikan taburan bintang di langit kita diingatkan betapa semesta raya ini memberikan simbol2 untuk ditafsirkan dan dimaknai oleh para penghuni bumi. sayangnya, kita juga sering lupa menafsirkan simbol2 itu, sehingga idiom “sangkan paraning dumadi” pun luput dari perhatian. *halah*
kesimpulan nya
bintang yang sedap dipandang.. ini kan ngomongin bintang
*maap.. ngga mudeng ama tulisan nya seh
senangnya menatap bintang.
eh, berarti bisa jadi guide light ya?
[Hoek mode ON]
Feluk mas deKing dolooo
kmana aja sih mas
[Hoek mode OFF]
*skarang baru baca*
OOT dikit. kemaren malem tumben-tumben di jakarta
nan panas dan berpolusibanyak bertaburan bintang-bintang yang sangat indah. tapi yang pasti melihat bintang itu bisa menghilangkan sejenak kepenatan hidup…jadi inget buku mistik kejawen yang belom terbeli 4th yg lalu.
langit memang tempat yang tak pernah bosan untuk dilihat,dibayangkan yang tak terjamah oleh tangan namun terjangkau oleh pikiran.
Semula saya pikir ’sangkan paran dumadi’ itu satu kesatuan yg gak mungkin bisa di pisah-pisah seperti halnya ‘memayu ayuning bawana’. Tapi ternyata bisa juga toh?
Hebat.. Hebat..
Yess…
tapi mungkin karena memang susah ya bos, menjelaskan konsep rasa itu…
memang bintang yang kita lihat skarang adalah sebuah siaran tunda. Bahkan mungkin bintang-bintang tersebut saat ini telah tidak ada
Sangkan paraning dumadi, pun seperti kebiasaan mas deKing dipaksakan
dan sudah taukah?? katanya ada peneliti nasa yang menemukan bahwa alam tercipta hanya sepersekian detik, tak ada satu kedipan mata
bentuk lain, dari pernyataan-Nya, Kun Fa Ya Kun
smoga….
“Jalan menuju Tuhan” saya suka itu
saya terpesona liat bintang justru karena memikirkan betapa jauh cahaya itu harus menempuh perjalanan untuk menjadi pesona bagi makhluk bumi seperti saya ini
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Ali Imran Ayat 190-191
Mudah2an .. kita menjadi orang yang selalu mendapat petunjuk dari Nya. Amin.
Hmmm, apa-kah ini juga ber-makna penyerahan sepenuh-nya ke-dalam kuasa-Nya bro?
Saya orang jawa tapi kok ga akrab dengan istilah ini ya
Dulu waktu kecil memang sering denger kalo nguping obrolan orang tua, tapi gede dikit sudah ganti dengan segala kosakata asing.
Tercercerabut dari akar nih kayaknya.
Curhat selesai. Sekarang, masih pantaskah kita meributkan the road to sangkan paraning dumadi? Masih pantaskah kita memaksakan jalan yang kita anggap sebagai palin afdol pada orang lain?
Kalau negara, aparat, kejaksaan, gerombolan ulama memaksakan sebuah road to paraning dumadi versi pemahaman tertentu, pantaskah kalau kita berdiam diri saja?
Eh, komen apa saya ini sebenernya
Ada yang ngerti?
oia turut berduka cita juga.
btw semuanya sudah diatur oleh yang di Atas dengan caraNya.
Kadang hal sekecil apapun bisa menjadi hikmah kita mengingatkan kita untuk tetap mengingat Dia dan bersyukur.
ada yang bilang 1 tahun di akhirat = 50000 tahun dunia
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun” (Al-Ma’arij: 4)
jadi mungkin ada benarnya kalau mau menangkap bayang-bayang itu harus dengan bayang-bayang yah paklek. sama seperti diskusi kita waktu dulu huhuhuhu
jadi kangen ih.
ntar jangan pegi jauh2 lagi yah…
deket2 aja huhuhuhuhu
kalo mau jauh2 kan masih bisa pake kendaraan yang tangkas. sekali kejap langsung nyampe. huhuhuhu
bayang2 mang kendaraan paling tangkas saat ini.
huhuhuhuhuhu
belom baca selesai tapi.. kayaknya berhubungan dengan “yang telah pergi”
halah…suda saia baca dengan seksama, ujung-ujungna malah nggantung. Tafi saia tertarik sangadh negh sama yang namana Sangkan Paraning DUmadi, walofun saia sendiri ndak ngerti…
karena itu tadi, saia fun fernah diajarkan konsef yang sama (munkin benul-benul sama, hanya saja “guru” saia ndak ngasi tau soal SPD) dan saia fikir ada benulna juga. Be te we, walofun tinggal di Belanda, masi inget soal jawa yak? wah, kangen sangadh negh?
mhuehuehuehuehueheu
Salam kenal mas Deking. Tulisan di atas mencerminkan kedalaman yang menulis. Subhanallah. Begitu juga metafor yang dipakai, benar-benar tulisan yang menggugah dan indah. Satu ayat dari Allah, yang sudah dikutip Erander cukup mewakili semua komentar saya untuk tulisan ini…
suatu pencerahan bagi saya yg ABG ini
, untuk mengetahui segala makna yang tersimbol dari alam . Dan menggali segala petuah maupun falsafah dari moyang .
Sangkan paraning dumadi,
apakah ini dalam rangka menyambut satu suro ?
sangkan paraning dumadi itu biasanya ikut populer saat pulau jawa lagi sibuk2nya menyelenggarakan hajatan mudik tahunan.
king, bisa ndak nulis “tsb” nya dipanjangin aja, jadi tersebut. soalnya, secara keseluruhan sebenernya kosakatanya dah konsisten, cuman di “tsb” aja
etapi kalo nulisnya dari HP maklum sih :p
*yayaya, saya juga nulis komennya disingkat2…maklum jarkoni. iso ngujar ora iso nglakoni :D*
komen dulu… bacanya besok pagi
*dah ngantuk om…
selalu terpesona melihat bintang..Tuhan emang keren yah?
kira2 bis postingan ini deKing mo ke bintang berapa lama lagi yah?
huhuhuhuhu
Insya Alloh komentar (baru) akan saya tanggapi sekitar 2-3 hari lagi karena ada hal2 yang harus saya selesaikan secepatnya.
@Bedh:
itu sudah saya jawab … mau ke bintang sekitar 2-3 hari (semoga tidak molor) hehehe
bintang film favorit saya adalah dian sastrowardoyo
bintang sinetron favorit saya adalah zaskia mecca
hore!!!
tulisan yang cerdas …. kirain cuman perkiraan saya aja…. :)) tapi yang bener yang mana ? Cahaya itu 4.4 Milyar tahun kemudian atau 4.4 Milyar tahun yang lalu ??
atasnya udah ngerti. tapi sampe bawah mulai hang lagi.
tapi, intinya memang kita semua ini bakalan pulang ya.
langit menunjukkan suatu kondisi serba ideal yang ingin dicapai? kok aku ga ngerti maksudnya?
bukankah bentuk langit suka berubah2? lalu idealnya dimana?
dan bukankah langit memang sangat sulit dicapai???
*hayah… bicara apa si Nilla ini?*
masa lalu apapun bentuknya patut disyukuri. Nga ada yg bisa menebak apa yg akan terjadi.
don’t be sad, pak de. Smile.
Bintang… bintang….
mungkin nggak ya cahaya bintang yg kita lihat itu dari masa depan?
*ngabsen*
duh.. males aja.. tulisannya bisa “dalem” gini king..

maar.. that’s a great question.. pertanyaan yang bisa bikin orang terdiam..
aaaahhhhh….. pencerahan…..
liat dong di blog roll saya ada jurusan sangkan paraning dumadi…
a circle?
wah, libur sekian lama, muncul dengan tulisan yang mencerahkan, he he.
langit itu besar dan luas. bintang itu terang.
Saya tidak bermaksud sok agamis atau al-quranis Sam Deking…
Kebetulan saja pernah ketemu dengan Surat al-an’am;97.
“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut….”
Kau gak salah ada di al Hijr juga “… dijadikan gugusan bintang di langit dan membuatnya indah bagi yang memandangnya”
Biasanya nelayan lebih paham tentang ini, karena mereka sering melaut dan memperhatikan bintang-bintang itu. Yup jauh sebelum tercipta kompas, mereka memanfaatkan bintang.
Bisa juga seperti kata sam deking sebagai tanda sangkan paraning dumadi itu sendiri. Sebagai tanda/arah/ kompas ciptaaNya untuk manusia sadar akan penciptaan dirinya olehNya dan akan kembali pada Pemilik sesungguhnya.
iya , saya tau tulisannya lahir dari susah payah..jangan sedih gitu dunk..semangat !!!
huhuhu,..
bro saya jarang keluar malam euy,..
Mas, di puncak tertinggi bisa ngambil bintang ga?
eh balik lagi, cuma mo nanya
8+3 itu 11 kan?
huhuhuhu
Cuma mau nanya juga, ini hari jumat bukan yak??
Janjinya hari jumat..
Huh..
*bakar ban bekas*
@Bedh dan Qzink:
Saya memakai patokan waktu sini, jadi saya belum terlambat hehehe
Caplang[dot]net:
Benar bro … kecuali langit Jakarta yang pekat dan kotor
Adit:
Kalau mau nonton live-nya ya sana pergi ke bintang hehehe
Atau cari bintang tujuh saja
Sawali:
“Urip nang donya mung mampir ngombe” ya Pak?
[Hidup di dunia hanya numpang minum]
Funkshit:
Bintang tujuh sedap dipandang nggak Funk?
itikkesil:
Cuma bisa menatap bintang kecil kok Mbak …
Goop:
Mmmmm … menyambut pelukannya Goop atau tidak ya? … bingung
cK:
Baca komentar saya untuk Caplang
Baliazura:
Memang untuk langit jangkauan pikiran kita lebih panjang dari jangkauan tangan kita … setuju ‘bli
Berarti intinya kita tetap perlu menggunakan pikiran kan?
qzink:
Menurut saya bisa dipisahkan … walau konsep itu merupakan suatu integrasi, tetapi masih bisa didefernsialkan kan? *matematika: mode ON*
Goop
Wow … informasi baru. Lalu bagaimana dengan firman Alloh di Surat Al A’raf ayat 54 ya? Dimana posisi enam masa itu … berarti satuan masa dalam hal tsb sangat pendek … berkebalikan dengan perkiraan awal kalau masa dalam proses penciptaan tsb mengacu waktu yang panjang
Kangguru:
Tapi berat sekali ya Kang …
tukangkopi:
Hehehe saya terlalu terlena oleh sinar bintang di tengah pekatnya malam
Erander:
Terima kasih atas informasi ayat-nya Bang …
Amien …. semoga kita mau dan mampu melihat dan menerima petunjuk-Nya
Guh:
Hehehe mengenai pemaksaan tsb. Bagaimana kalau kita memakai “ada banyak jalan menuju Roma”?
Tetapi bagi saya dan menurut saya … konsep sangkan paraning dumadi tsb sangat bersifat individual … bagaimana makhluk mau mendekatkan diri dan menyatu dengan sang Khalik
Arul:
Terima kasih Rul …
Iya … cuma banyak di antara manusia yang sepertinya terlalu dan selalu mengharapkan hal2 besar dari Tuhan
Bedh:
Hahahaha iya … bayang2 itu rumit bro
Almascatie:
Sebenarnya tidak kok bro … tulisan ini sudah ada sebelum saya mendapatkan kabar dari rumah atas ke-berpulangan Budhe saya
Hoek:
Lha saya ini terbentuk dari tempe mendoan dan soto Sokaraja … so ya tetap ingat Jawa hehehe
Agoy:
Terima kasih sekali Saudara Agoy …
Saya juga setuju dengan kutipan Bang Erander
Regsa:
Satu Suro? Ah bukan kok dab …
Kalau satu Suro kan menyembelih kerbau hahaha
Arya:
Hehehe tahu saja kalau saya menulisnya dengan memanfaatkan jasa HP
Dobelden:
Sudah tidak ngantuk bro?
Stey:
Benar … Tuhan memang keren
Bedh:
Sudah dijawab tuch sama deKing
deKing:
Heran … hobi banget hiatus sich bro?
Dekisugi:
Ngomong opo kowe dab?
Suprie:
Cahaya yang kita lihat adalah cahaya yang berpijar di masa lalu Mas
mataharicinta:
Yupzx … dan kita bahkan tidak tahu kapan jadwal kepulangan kita itu
Juminten:
Baca tulisan saya sebelumnya ya … ada link-nya kok di tulisan ini hehehe
Ina:
Yupe… dont worry … be happy
Joyo:
Who knows … kita belum tahu untuk saat ini karena sejauh pengetahuan manusia SAAT INI cahaya berasal dari masa lampau
Tapi Tuhan itu Maha Segala so mungkin saja kita yang belum tahu kalau cahaya itu berasal dari masa depan …
Qiqi:
Benar Kang … seringkali kita belajar dari hal-hal yang sepele
Brainstorm:
Thanx bro …
Sitijenang:
Iya bro hehehe
manusiasuper:
Lingkaran?
Mmmmm saya tidak tahu … tapi lingkaran adalah suatu hal yang tidak berujung, sedangkan hidup kita ini berujung … berujung pada sang Tuhan.
Atau saya yang kurang paham maksud lingkaran yang bro maksud?
Hanna:
Luas dan terang … itu perpaduannya ya Mbak. Sipzx
Perempuan:
Eh terima kasih lho Mbak … saya malahan senang mendapatkan pengetahuan baru. Terima kasih sekali atas share ilmunya
Andi Bagus:
Hehehe ini sudah se-semangat mungkin mas
Bayu:
Sekali2 keluar malam dunk bro … sama Bedh … berdua saja hehehe
Goes:
Bintang tujuh hehehe
Bedh dan Qzink:
Iya … iya … nagih mulu sich
duhhhhhh…pertanyaanku diposting:”>
Puzzle nya lom lengkap nih, anyway tulisan yg ini inspiring, boleh dijadikan salah satu referensi kan
[...] diri membuka blog nya mas deking, entah kenapa alasannya saya juga ga tau. Postingan tentang bintangnya mas deking mengingatkan saya pada beberapa tahun silam, tepatnya tahun 2001, saat itu saya tengah [...]
ijin copy paste komandan
buat nyebarin virus
salam
yah, selalu eling pada SPD dengan menjalankan “dharma ksatria”, bilamana kewajiban ini senantiasa dilakukan dengan baik “maka putusa sang hyang kalepasan”
(halah)
[...] diri membuka blog nya mas deking, entah kenapa alasannya saya juga ga tau. Postingan tentang bintangnya mas deking mengingatkan saya pada beberapa tahun silam, tepatnya tahun 2001, saat itu saya tengah [...]
ikutan nimbrung, mungkin komentar saya ini tidak berarti dihadapan rekan-rekan semua…….
Menurut pengertian saya tentang SANGKAN PARANING DUMADI adalah sebagai berikut :
SANGKAN : Merupakan titik awal kita diciptakan sebagai manusia oleh Tuhan.
PARANING = PARAN : Adalah keberadaan kita di dunia untuk menjalani kehidupan kita, untuk bekerja mengabdikan diri kita kepada Tuhan.
DUMADI : Adalah tempat kita kembali apabila telah sampai batas waktu kita dan telah tiba hari perjanjian sebelum kita dilahirkan untuk kembali kepada Tuhan.
Kalau boleh saya contohkangampangnya saja adalah sebagai berikut :
“Seperti halnya kita hidup didunia ini, kita memiliki sebuah rumah ( SANGKAN ) lalu kita pergi bermain, bekerja atau bertamu ketempat rekan kita ( PARAN ) kemudian kita harus tahu jalan untuk pulang kembali kerumah kita ( DUMADI )”
Namun bila kita tersesat dalam perjalanan pulang karena berbagai macam faktor dan godaan maka kita tidak akan bisa kembali pulang kerumah kita.
Jadi kesimpulannya agar kita dapat kembali kepada PENCIPTA kita, kita harus mengetahui jalan kita untuk kembali kepada TUHAN.
Demikian komentar saya apabila ada kekurangan itu adalah kesalahan saya sebagai manusia biasa yang terlalu sedikit memiliki ilmu pengetahuan, sedangkan kebenaran dan kepandaian adalah milik Tuhan semata, maka apabila adala seorang manusia yang mengaku pandai dan memiliki ilmu yang tinggi hal itu menunjukkan kebodohannya dihadapan Tuhan dan Manusia.