Mengungkap Makna Kehidupan di Balik Huruf Jawa
Kamis, April 5, 2007 oleh deking
Maaf bagi yang tidak mengetahui huruf Jawa tidak usah paranoid dulu ya karena inti tulisan ini bukan huruf Jawa itu sendiri, tetapi lebih ke masalah makna kehidupan. Anda tidak begitu membutuhkan kemampuan dan/atau pengetahuan tentang huruf Jawa kok, yang penting membacanya pelan dan jangan terpaku pada huruf Jawa-nya. Fokuslah pada penjelasannya.
(Informasi ini saya tambahkan untuk mengajak teman-teman yang tidak tahu huruf Jawa untuk tidak takut membaca )
Setelah mengetahui sedikit tentang sejarah huruf Jawa maka mari kita sedikit mengupas beberapa makna filosofis dari huruf Jawa tersebut. Ada begitu banyak makna secara filosofis dari huruf Jawa tersebut dan makna filososfis tsb bersifat cukup general alias tidak hanya untuk orang Jawa saja lho. Ada beberapa versi makna huruf Jawa tersebut, beberapa di antaranya adalah yang dikatakan Pakdhé Wikipedia di sini dan di sana, berhubung Pakdhé Wikipedia sudah bercerita dengan cukup jelas maka saya tidak akan menulis ulang pitutur Pakdhé tersebut.
Sekarang saya akan sedikit mengupas “tafsir” versi lain dari huruf Jawa tersebut. Ki Hadjar Dewantara tidak hanya mencetuskan konsep petuah tentang kepemimpinan yang sangat terkenal, beliau juga berhasil memberi penafsiran mengenai ajaran budi pekerti serta filosofi kehidupan yang sangat tinggi dan luhur yang terkandung dalam huruf Jawa .
Adapun makna yang dimaksud adalah sebagai berikut:
(1) HA NA CA RA KA:

Ha: Hurip = hidup
Na: Legeno = telanjang
Ca: Cipta = pemikiran, ide ataupun kreatifitas
Ra: Rasa = perasaan, qalbu, suara hati atau hati nurani
Ka: Karya = bekerja atau pekerjaan.
(2) DA TA SA WA LA
DA TA SA WA LA (versi pertama):
Da: Dodo = dada
Ta: Toto = atur
Sa: Saka = tiang penyangga
Wa: Weruh = melihat
La: lakuning Urip = (makna) kehidupan.
DA TA SA WA LA (versi kedua):
Da-Ta (digabung): dzat = dzat
Sa: Satunggal = satu, Esa
Wa: Wigati = baik
La: Ala = buruk
(3) PA DHA JA YA NYA:

PA DHA JA YA NYA =Sama kuatnya (tidak diartikan per huruf).
(4) MA GA BA THA NGA :

Ma: Sukma = sukma, ruh, nyawa
Ga: Raga = badan, jasmani
Ba-Tha: bathang = mayat
Nga: Lungo = pergi
Tetapi selanjutnya dengan sedikit ngawur saya pribadi akan berusaha menyelami dan menjabarkan tafsir huruf Jawa versi Ki Hadjar tersebut sesuai dengan kemampuan saya. Kalau banyak kesalahan ya mohon dimaklumi karena saya bukanlah seorang filusuf, saya hanya ingin mengenal lebih jauh huruf Jawa (walaupun secara ngawur dengan cara sendiri).
(1) HA NA CA RA KA:
Ha: Hurip = hidup
Na: Legeno = telanjang
Ca: Cipta = pemikiran, ide ataupun kreatifitas
Ra: Rasa = perasaan, qalbu, suara hati atau hati nurani
Ka: Karya = bekerja atau pekerjaan.
Dari arti secara harfiah tsb, saya berusaha menjabarkannya menjadi dua versi:
**) Ketelanjangan=kejujuran
Bukankah secara fisik manusia lahir dalam keadaan telanjang? Tapi sebenarnya ketelanjangan itu tidak hanya sekedar fisik saja. Bayi yang baru lahir juga memiliki jiwa yang “telanjang”, masih suci…polos lepas dari segala dosa. Seorang bayi juga “telanjang” karena dia masih jujur…lepas dari perbuatan bohong (kecuali bayi aneh
). Sedangkan CA-RA-KA mempunyai makna cipta-rasa-karya . Sehingga HA NA CA RA KA akan memiliki makna dalam mewujudkan dan mengembangkan cipta, rasa dan karya kita harus tetap menjunjung tinggi kejujuran. Marilah kita “telanjang” dalam bercipta, berrasa dan berkarya.
**)) Pengembangan potensi
Jadi HA NA CA RA KA bisa ditafsirkan bahwa manusia “dihidupkan” atau dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan “telanjang”. Telanjang di sini dalam artian tidak mempunyai apa-apa selain potensi. Oleh karena itulah manusia harus dapat mengembangkan potensi bawaan tersebut dengan cipta-rasa-karsa. Cipta-rasa-karsa merupakan suatu konsep segitiga (segitiga merupakan bentuk paling kuat dan seimbang) antara otak yang mengkreasi cipta, hati/kalbu yang melakukan fungsi kontrol atau pengawasan dan filter (dalam bentuk rasa) atas segala ide-pemikiran dan kreatifitas yang dicetuskan otak, serta terakhir adalah raga/tubuh/badan yang bertindak sebagai pelaksana semua kreatifitas tersebut (setelah dinyatakan lulus sensor oleh rasa sebagai badan sensor manusia).
Secara ideal memang semua perbuatan (karya) yang dilakukan oleh manusia tidak hanya semata hasil kerja otak tetapi juga “kelayakannya” sudah diuji oleh rasa. Rasa idealnya hanya meloloskan ide-kreatifitas yang sesuai dengan norma. Norma di sini memiliki arti yang cukup luas, yaitu meliputi norma internal (perasaan manusia itu sendiri atau istilah kerennya kata hati atau suara hati) atau bisa juga merupakan norma eksternal (dari Tuhan yang berupa agama dan aturannya atau juga norma dari masyarakat yang berupa aturan hukum dll).
(2) DA TA SA WA LA: (versi pertama)
Da: Dodo = dada
Ta: Toto = atur
Sa: Saka = tiang penyangga
Wa: Weruh = melihat
La: lakuning Urip = (makna) kehidupan.
DA TA SA WA LA berarti dadane ditoto men iso ngadeg jejeg (koyo soko) lan iso weruh (mangerteni) lakuning urip. Dengarkanlah suara hati (nurani) yang ada di dalam dada, agar kamu bisa berdiri tegak seperti halnya tiang penyangga dan kamu juga akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya.
Kata “atur” bisa berarti manage dan juga evaluate sedangkan dada sebenarnya melambangkan hati (yang terkandung di dalam dada). Jadi dadanya diatur mengandung arti bahwa kita harus senantiasa me-manage (menjaga-mengatur) hati kita untuk melakukan suatu langkah evaluatif dalam menjalani kehidupan supaya kita dapat senantiasa berdiri tegak dan tegar dalam memandang dan memaknai kehidupan. Kita harus senantiasa memiliki motivasi dan optimisme dalam berusaha tanpa melupakan kodrat kita sebagai makhluk Alloh yang dalam konsep Islam dikenal dengan ikhtiar-tawakal, ikhtiar adalah berusaha semaksimal mungkin sedangkan tawakal adalah memasrahkan segala hasil usaha tersebut kepada Alloh.
DA TA SA WA LA: (versi kedua)
Da-Ta (digabung): dzat = dzat
Sa: Satunggal = satu, Esa
Wa: Wigati = baik
La: Ala = buruk
DA TA SA WA LA bisa ditafsirkan bahwa hanya Dzat Yang Esa-lah (yaitu Tuhan) yang benar-benar mengerti akan baik dan buruk. Secara kasar dan ngawur saya mencoba menganggap bahwa kata “baik” di sini ekuivalen dengan kata “benar” sedangkan kata “buruk” ekuivalen dengan “salah”. Jadi alangkah baiknya kalau kita tidak dengan semena-mena menyalahkan orang (kelompok) lain dan menganggap bahwa kita (kelompok kita) sebagai pihak yang paling benar.
(3) PA DHA JA YA NYA:
PA DHA JA YA NYA = sama kuat
Pada dasarnya/awalnya semua manusia mempunyai dua potensi yang sama (kuat), yaitu potensi untuk melakukan kebaikan dan potensi untuk melakukan keburukan. Mungkin memang benar ungkapan bahwa manusia itu bisa menjadi sebaik malaikat tetapi bisa juga buruk seperti setan dan juga binatang. Mengingat adanya dua potensi yang sama kuat tersebut maka selanjutnya tugas manusialah untuk memilih potensi mana yang akan dikembangkan. Sangat manusiawi dan lumrah jika manusia melakukan kesalahan, tetapi apakah dia akan terus memelihara dan mengembangkan kesalahannya tersebut? Potensi keburukan dalam diri manusia adalah hawa nafsu, sehingga tidak salah ketika Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa musuh terbesar kita adalah hawa nafsu yang bersemayam dalam diri kita masing-masing.
(4) MA GA BA THA NGA:
Ma: Sukma = sukma, ruh, nyawa
Ga: Raga = badan, jasmani
Ba-Tha: bathang = mayat
Nga: Lungo = pergi
Secara singkat MA GA BA THA NGA saya artikan bahwa pada akhirnya manusia akan menjadi mayat ketika sukma atau ruh kita meninggalkan raga/jasmani kita. Sesungguhnya kita tidak akan hidup selamanya dan pada akhirnya akan kembali juga kepada Alloh. Oleh karena itu kita harus senantiasa mempersiapkan bekal untuk menghadap Alloh.
***********************************************************************************************
Demikian cerita ngawur saya tentang makna huruf Jawa, jika ada kesalahan dan ketidaktepatan mohon dimaklumi karena saya bukan filusuf dan kebetulan saat ini kepala sedang dipenuhi berbagai macam tugas.
*Sekedar alasan atas ketidakmampuan diri hehehe *
Semua hal yang saya diceritakan di atas merupakan keadaan yang ideal dan seharusnya, tetapi jika kenyatannya berkata lain maka itulah ANOMALI DALAM KEHIDUPAN.

PERTAMAXXX!!!
wah…bahasa Jawa. nggak ngerti aku ehehehehe…
DA TA SA WA LA (versi pertama): -> kalau mengurut sampai selesai, saya kok lebih sreg versi pertama ya….
Namun, Mas Deking, apakah versi ke dua adalah versi budaya yang menyebabkan atau selalu menempati sebab mengapa Jawa memiliki tradisi meleburkan segala sesuatu ke dalam satu wadah besar budaya. Terima segalanya, tapi juga pada saat yang sama tidak menerima segalanya……..
pak kalo PUR WA CA RA KA apa jadinya? untuk mencari maknanya tinggal nyari PUR nya aja ya
Tidak ngawur kok, malah saya juga ingin belajar kalau bapak berkenan mengajarkan saya yang kufu` ini…
ga bisa komen nih soalnya bener-bener ga faham
Amin. Hebat nih, sang pujangga mengungkap kehidupan
dalam kata ada makna
ada jiwa ada saudara
tapi kita kurang membiasa
dengan apa saja yang menjiwa
padahal jiwa mewakili Dia…………
ilmu baru nih mas matur kesuwun……
mau dong tulisan jawanya ditampilkan
@CK:

Kan inti dari tulisan ini bukan huruf Jawa-nya mbak
Inti dari tulisan ini adalah belajar tentang makna kehidupan
@Agor:
Mengingat monodualisme manusia (makhluk individu sekaligus makhluk sosial) maka saya berusaha menyikapi dua versi DATASAWALA sbb:
Kalau menurut saya versi pertama DATASAWALA lebih berkaitan dengan fungsi individual manusia (bersifat personal), yaitu bagaimana manusia menggapai “gegayuhan”.. suatu hasil…suatu keinginan
Sedangkan versi kedua menurut saya berkaitan dengan fungsi sosial manusia karena penilaian (tentang baik-buruk) yang dilakukan seorang individu atas individu lain tentu saja hanya bisa dilakukan jika individu tsb berada dalam sistem. Dan hal tsb juga merefleksikan suatu kehidupan majemuk manusia.
@xwoman:
Kalau purwacaraka sepertinya sich PURWA-nya digabung hehehe…
Karena PURWA berarti pertama. CA RA Ka tinggal ambil di CIPTA RASA KARSA hehehe…
Saya juga masih kufu kok mbak..kita belajar bareng yuk…
Kapan dan di mana? hehehe
BTW tumbén serius dan memanggil “BAPAK”? Bapakmu po?
@Cakmoki:
Hanya berusaha menyelami makna kehidupan saja kok Cak, lha mau nulis tentang kedokteran teramat sangat tidak mampu hehehe..
@Santribuntet:
Berarti kita harus selalu mengingat-Nya kan?
Bagaimana dengan konsep Syech Siti Jenar…”MANUNGGALING KAWULA LAN GUSTI“?
*Kapan2 nulis tentang ini ach hehehe *
@Juliach:
Sebenarnya huruf Jawa tsb sudah saya tampilkan di sini, tapi kalau ternyata banyak rekan-rekan yang tidak membuka posting tsb maka akhirnya saya tampilkan juga huruf2 Jawa tsb di [osting ini.
orang manggil `bapak`bukan hanya pada bapaknya saja toh! Itu termasuk dalam RA = Rasa. Rasa hormat, walaupun masih “muda” berarti dihargai.
Jadi PURWACARAKA itu gimana mengartikannya… pertamakali menciptakan rasa sehingga menjadi karya gitu?
Sebenarnya karya dengan karsa itu sama apa beda sih?
@xwoman:
hayo nesu (marah) wakakakakakak…
Gara2 pertanyaan mbak xwoman (ttg karsa dan karya), saya jadi melakukan pengecekan ulang terhadap tulisan saya di atas karena rasa2nya saya tidak nulis tentang karsa. Tetapi ternyata saya ada satu kesalahan ketik..seharusnya “karya” tetapi saya tulis “karsa” padahal pada penjelasan sebelumnya sdh saya nyatakan sebagai “karya” tetapi gak tahu bisa kepeleset jadi “karsa”
Menurut pendapat saya pribadi…
Karsa berkaitan dengan tekad-kehendak, sedangkan karya merupakan perbuatan beserta hasilnya.
Ternyata pertanyaan tentang PURWACARAKA serius to? Kirain hanya bercanda hehehe…
PURWA=pertama
CARAKA=duta, utusan (kalau tidak salah lho)
Jadi kira2 PURWACARAKA adalah utusan yang pertama…
Mungkin maksudnya adalah anak pertama tetapi penggunaan kata CARAKA menyiratkan bahwa sang anak tidak hanya sekedar datang/lahir tetapi sekaligus menyampaikan (salah satu tugas utusan)…atau secara gampangnya sang anak bisa menjadi utusan dalam hal menciptakan karya2 yang bisa disampaikan.
Info lebih lanjut hubungi Purwacaraka’s parent hehehe
ke sepuluh!
wakakakkak
lagi berfilosofis melulu nih si om…..
menunjukkan identitas ke
tuadewasaan nya kah?ha…. itu saya
Ingat sama bu Sulastri, apa kabar ibu? berkat anda saya bsedikit-sedikit bisa memahami postingan ini.
kalau judulnya dibalik gimana mengungkap huruf jawa dibalik kehidupan… lah setelah huruf jawa diungkap tuh kan pada hidup kita.. kekeek .. nambahin
Poya lesgi dab, lha wong aksoro jowo mung digawe kamus boso walikan je dab… satub dab
ngomong2 masalah huruf jawa, daku jadi inget pelajaran SD, pelajaran bahasa jawa = pelajaran nomor satu yang sangat dihindari….hehehe. btw, good posting, om!
Wuih… Mas Ceking ternyata memiliki banyak ilmunya Ko Hadjar Dewantara, bahkan dapat memberikan penafsiran yang cerdas. Angkat topi untuk Mas Ceking.
mas The King (aku kok lebih ngartiin ini drpd ceking.., makany aaku heran ini antara narsis pengen jadi raja dan manusia biasa… mana yg kuat? hahaha…), huruf jawa itu bukan berasal dari India ya? Soalnya kata bapakku nama-ku (tapi bukan Evy itu panggilan) aja berasal dari sansekerta. Eh baru tahu klo huruf jawa ada filosofi-nya, seperti keseimbangan gitu ya klo chinese bilang yinyang.. thanks ya atas artikelnya..
@Antobilang:


)
JAdi tua itu pasti, jadi dewasa itu pilihan…
Bukan basa-basi
@Helgeduelbek:
Iya Pak, tema kali ini tentang Bapak
@Peyek:
Bu Sulastri itu siapa to Cak? Bu Guru ya?
@Kurtubi:
Sepertinya ini hanya implikasi (jika-maka), bukan biimplikasi (jika dan hanya jika) jadi kalo dibalik kayaknya tidak pas
@Pakdhé:
Hanyné siba baca dhip…
pepepepepe… (sak ngguyuné diwalik
@Senja:
Kenapa harus dihindari Mbak? Saya malahan seneng banget pelajaran bahasa Jawa (sampai SMP masih dapat)…
@Kang Kombor:
Ini yang saya suka dari Kang Kombor…selalu memanggil saya “ceking”
Kebetulan saja saya suka Ki Hadjar kok Kang…
@Evy:
Mbok kayak Kang Kombor saja Bu…panggil ceking
Kalau Bu Evy ketemu saya secara langsung maka Ibu akan mengerti betapa cekingnya saya (TB 176 cm sedangkan BB max 57 kg tetapi seringnya hanya 53 kg) hehehehe
Tentang huruf Jawa memang merupakan modifikasi dari huruf India…tidak sama persis dengan huruf India
setelah ini bade diterusken membedah wedhatama gak kang :d, sumonggo.
*nyuwun ijin untuk memforward tulisan ini ke temen2 kejawen
*hebat*
deuw…
si bapak ini keren bener c…
kecil yang orang Jawa aja ga ngerti loh…..
kalo ga salah inget, huruf Jawa itu cerita tentang dua pangeran yang sedang berentem ya?
karena ada utusan (caraka)
n masing2 merasa berkewajiban lebih
akirnya rebutan
trus berantem
karena sama saktinya (pa dha ja ya nya)
akirnya mereka berdua wafat (ma ga ba tha nga)
cerita yang kecil dapet waktu kaya’ gt…
Matur suwun kang atas tulisan ini. he..he..he… saya jadi malu sbg orang jawa. moso’ ga ngerti tulisan jawa babar blas.
beideweei, saya setuju dengan DA TA SA WA LA (chapter II-nya) tuh…
aku kembali buta huruf pada tulisan ini. kelamaan ndak diasah
Mas King…
Aku bukan orang jawa, tapi suami. kayanya susah sekali ya..
bagaimana bisa anak-anakku iso boso Jowo ( usaha neh )
butek neh kepala…
ampun ampun…
hahaha… ketipu ni yee… sapa yang marah? Terkesan marah ya? Karena cara penulisan RA nya?
Lagi pula nanya purwacaraka itu ingin tau artinya kok keren banget si PURWACARAKA BIG BAND hihihi… sorry lho pakde King tapi bener emang tertarik mempelajarinya, dengan begitu kan aku bisa tahu hanya dari kata PURWACARAKA aja bisa diuraikan jadi beberapa tafsiran, 1) PURWA CA RA KA, 2) PURWA CARAKA (kalau aku boleh sok tau PURWA+CARAKA itu sudah penggabungan 2 kata ya bukan huruf lagi), dan memang sangat jelas 2 versi kata PURWACARAKA itu sudah mempunyai arti yang berbeda.
Oh iya satu lagi, xwoman kalo marah ga pake acara cengar cengir lho…
Good. Saya teringat dengan teman saya waktu di SMP dulu di Kalimantan. Dia mengajarkan saya menulis dalam bahasa Jawa. Menyenangkan. Tulisan deking, jadi membawa saya ke masa silam. Thanks bro. Tulisannya membuat pengetahuan saya bertambah lagi.
aku kok cuman sampe ha na da
twothumbsup
Usul,
Mbok dilanjut dengan mengulas mengungkap kengapakan bahasa banyumas, termasuk banjarnegara. jangan-jangan dibaliknya ada sebuah makna mendalam. Orang sering bilang, kengapakan itu adalah bagian dari perlawanan, tetapi so what?
ditunggu pak de
waktu SD saya merasa pelajaran bahasa Jawa teramat sangat susah (dengan aksaranya yang menari nari)
)
ternganga melihat eyang kakung yang dengan fluent nya membaca aksara *hapal dilafalkan dari belakang, suatu hal yang hingga kini belum pernah saya lakukan (secara dah males puol
sekarang , disuruh membaca aksara Jawa, seperti anak yang baru baca, di eja satu satu.. ugh, degradasi skill neh
Begitu beranjak remaja, saya merasa bahasa tersusah adalah bahasa Indonesia
*i am totally agree kalau bahasa jawa itu penuh dengan filosofi kehidupan.. jadi pingin mudik ke tanah Jawa (JAWA beneran :p )
Menarik.
Semakin banyak tau soal bahasa, semakin banyak ilmu yg di dapat.
Thx buat infonya.
“sedikit- sedikit lama” jadi bukit ” apa tuh dalam bhs jawanya Pak dhe…??
assalamualikum.
maaf sebelumnya saya hanya sedikit bingung soalnya tulisan jowo kuno itu beda artinya dengan kitab yang saya punya contah seperti HO NO CO RO KO itu kalo gak salah artinya ADA SEORANG UTUSAN dalam kitab JOKO BOYO yang sudah berusia sekitar 1 abad itu hanya itu yang saya ketahui. saya bukannya mau sombong atau apa ya tapi ini benar kenyataan saya hanya memeberi saran mohon untuk di kaji lg atau anda mencari kitab atau buku orang zaman dulu kalo bisa anda meneliti kebenarannya. Terimakasih.
mas ada tamabahan sedikit setelah saya tela’ah ada yang saya mau tanyakan anda mendapat info tsb dr mana and dr sapa jika saya boleh tahu. and anda bisa menerjemahkan bahasa sansekerta dari mana???????????????????????????? hanya itu saja terimakasih
Anda tidak salah…
yang honocoroko = ada utusan
Datasawala=saling berselisih paham
Podhojayanya=sama kuatnya
mogobothongo=sama2 menjadi bathang (mayat)
Itu tidak salah…karena memang ada beberapa versi makna tentang huruf Jawa, tetapi saya pribadi tdk senang arti yg versi tsb karena tdk ada makna filosofis yang bisa ditelaah lebih lanjut
Apa yg saya ungkapkan adalah versi telaah Ki Hadjar Dewantara(Apa Anda tdk membaca secara teliti keterangan dalam tulisan saya??????????????)
Sedangkan penjelasan lebih lanjut adalah hanya sebatas usaha saya memaknainya
Kalau Anda ingin tahu makna2 lain dari huruf Jawa silakan diklik link wikipedia di atas
Sekali lagi ADA BANYAK VERSI MAKNA HURUF JAWA dan saya hanya memilih yang menurut saya memiliki nilai2 filosofis yg lebih dalam
‘Kalau yg honocoroko=ada utusan menurut saya hanya arti secara sejarah, makna kehidupan tdk bisa begitu banyak digali
Tambahan juga untuk mas Rahman (atau irmawan ya?)hehehe…
Apakah saya salah jika berusaha sok menafsirkan makna huruf Jawa? Toh huruf Jawa tidak berkaitan dengan ajaran agama yang tentu saja tidak bisa seenaknya ditafsirkan.
Selain itu saya hanya berusaha mencari sisi baik dan juga bisa dimanfaatkan dari huruf Jawa tsb.
Sebenarnya banyak yg bisa kita pelajari dari alam (termasuk juga ilmu pengetahuan)…
Kalau memang tafsiran huruf Jawa tsb bisa mendatangkan mudharat maka saya bersedia menghapus artikel tsb
Terus terang saya tidak bisa menafsirkan bahasa sanskerta, apa yang saya lakukan hanyalah menelaah penafsiran KI HADJAR DEWANTARA akan makna huruf Jawa
weleh…weleh…
apik tenan pembahasane..
aku sing tiang jogjaw mawon mboten ngertos asal usul boso jowo
diperlanjut terus yo mas artikele
ben podo sinau boso jowo
termasuk aku iki,,,,kwekekekekkekekek
http://www.jawapalace.org
Etimologi Aksara JAWA
Ha Na Ca Ra Ka
HURUF BACA MAKNA HURUF
Ha Hana hurip wening suci - adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
Na Nur candra,gaib candra,warsitaning candara-pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi
Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi-satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
Ra Rasaingsun handulusih - rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana - hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam
Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan - menerima hidup apa adanya
Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa - mendasar ,totalitas,satu visi, ketelitian dalam memandang hidup
Sa Sifat ingsun handulu sifatullah- membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
Wa Wujud hana tan kena kinira - ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas
La Lir handaya paseban jati - mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
Pa Papan kang tanpa kiblat - Hakekat Allah yang ada disegala arah
Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane - Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
Ja Jumbuhing kawula lan Gusti -selalu berusaha menyatu -memahami kehendak Nya
Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi - yakin atas titah /kodrat Illahi
Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki - memahami kodrat kehidupan
Ma Madep mantep manembah mring Ilahi - yakin - mantap dalam menyembah Ilahi
Ga Guru sejati sing muruki - belajar pada guru nurani
Ba Bayu sejati kang andalani - menyelaraskan diri pada gerak alam
Tha Tukul saka niat - sesuatu harus dimulai - tumbuh dari niatan
Nga Ngracut busananing manungso - melepaskan egoisme pribadi -manusia
Aksara consonants
Pasangan consonants
Aksara murda consonants
Subscript aksara murda consonants
Vowels, vowel diacritics and final consonant diacritics
Punctuation
Numerals
Sample
Gumebyaring tapak ilating guntur
.nemahake pratanda nuswantara
iguh pratikel kula warga bangsa
nandur pocapan wacana warta
olehing eman bhinekaning atunggal
Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka Paku Buwana IX
Filsafat ha-na-ca-ka-ra yang diungkapan Paku Buwana IX dikutip oleh Yasadipura sebagai bahan sarasehan yang diselenggarakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada tanggal, 13 Juli 1992. Judul makalah yang dibawakan Yasadipura adalah ” Basa Jawi Hing Tembe Wingking Sarta Haksara Jawi kang Mawa Tuntunan Panggalih Dalem Hingkang Sinuhun Paku Buwana IX Hing Karaton Surakarta Hadiningrat “. Dalam makalah itu dikemukakan oleh Yasadipura ( 1992 : 9 - 10 ) bahwa Paku Buwana IX memberikan ajaran ( filsafat hidup ) berdasarkan aksara ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya, yang dimulai dengan tembang kinanthi, sebagai berikut.
Nora kurang wulang wuruk tak kurang piwulang dan ajaran
Tumrape wong tanah Jawi bagi orang tanah Jawa
Laku-lakune ngagesang perilaku dalam kehidupan
Lamun gelem anglakoni jika mau menjalaninya
Tegese aksara Jawa maknanya aksara Jawa
Iku guru kang sejati itu guru yang sejati
Ajaran filsafat hidup berdasarkan aksara Jawa itu sebagai berikut :
Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada ” utusan ” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan )
Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ” saatnya ( dipanggil ) ” tidak boleh sawala ” mengelak ” manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maksdunya padha ” sama ” atau sesuai, jumbuh, cocok ” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan ” sekedar menang ” atau menang tidak sportif.
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.
anda juga dapat mepelajari falsafah kuno mengenai HANACARAKA pada kitab sbb
PUSTAKA WEDHA SASANGKA
Kababar Dening : KANGJENG GUSTI BENDARA RADEN ADJENG DHENOK SURJANINGSIH (Ngeksiganda Nagri 1643)
Rinukti Saha Rinumpaka Dening : SESANGGAWIRJA
Sengkalaning Tjandra SAPTA RASA MALEBENG PERTIWI Utawi WIWARANING TJEPURI HESTHINING DJAGAD (Tahun Masehi 1967 utawi Tahun Saka 198
Wedha Ageng Surasa.Karangan Angka 1 saking : Wirid Wedha Tjarita lan Djangka :
Bagijan Kaping Kalih, Ngagem Tjarios :
ARGA BAWERA
Punapa ta tegesipun Arga Bawera ?
Arga sami kalijan giri, prawata, prabata, ardi, redi, gunung.
Bawera sami kalijan djembar, omber, kobet, mboten tjupet, mboten kaling-kalingan, tanpa wangenan, tanpa wates.
Dados Arga Bawera ateges : Gunung kang djembar omber, mboten kaling-kalingan, padhang trawangan.
Suraosipun: Pralampampitaning kawitjaksananipun Sang Lokaprana, ingkang tuhu limpad, bontos, djembar, omber, tanpa wangenan, sarwi padhang datan kewran nembus sagung aling-aling (warana).
Dumunung ing puntjaking Arga ingkang Bawera, panggenan ingkang inggil pijambak, limrahipun sok kawastanan : Guruloka. Tumrap blegering manungsa dumunung wonten ing sirah (mustaka).
Katjarijos Sang Prabu Brawidjaja ingkang kaping II inggih Raden Djaka Lawung, ingkang sakelangkung lingsem ing penggalih, sebab sanget kaesi-esi dening ingkang garwa Dewi Retna Sekar dalah ingkang rama marasepuh Adipati Tjiung Gupita, sesampunipun masrahaken pusaraning pradja Madjapait dhateng ingkang raji Pangeran Anom Minak Pijungan, ingkang ladjeng adjedjuluk Prabu Brawidjaja ingkang kaping III. Ladjeng djengkar saking kedhaton, tindakipun mendhem kula, nimpal keli, tanpa kendel tumoleh, ngener mangidul, kesupen dhateng ingkang katilar, nering karsa sumedija nindakake dhawuhing ingkang ibu swargi. Ing sakmargi-margi tansah ngawuningani alam gumelar ingkang sarwi elok, edi, asri, nengsemaken. Penggalihipun Sang Prabu kasengsem sanget, kadudut, kapiluja pirsa kawontenan mekaten wau punika.
Ing salebeting kalbu rumaos kagigah, binuka saja kentjeng sedijanipun. Thukuling raos ladjeng tansah kagungan tresna ing sesamining tumitah, mboten mbedak-ambedakaken; malah saja ngrembaka, ing wasana mahanani santosaning penggalih anggonipun badhe mangudi dhateng kaluhuran. Saja malih menawi emut nalika taksih wonten ing salebeting kedhaton, tansah dipun tjampahi, dipun tjamah dening ingkang garwa punapa dene dipun sepelekaken. Inggih ing salebeting kawontenan punika Sang Prabu rumaos, bilih penggalihipun kirang santosa, mijar-mijur, gampil kapikut tuwin kapikat dening pakartining pantja drija ingkang damelipun namung adjak-adjak risak thok kemawon. Pramila sadaja kala wau ladjeng anambahi santosaning penggalih, kentjeng sedijaning tijas; ingkang mekaten kala wau andjalari tindaking Sang Prabu saja mantep, madhep, terus tanpa kendel, tan ngetang tansajaning marga, mboten kepengin dhahar, ngundjuk punapa dene sare, ngantos sariranipun katingal kera aking persasat namung kantun gagra kusika.
Benter soroting Hijang Bagaskara ing wantji tengange lan asreping hawa ing wantji abijoring Sang Kartika, babar pisan mboten karaos, ing salebeting tyas namun tansah kumedah-kedah inggal saged mangertosi punapa sedjatosipun ingkang dinawuhaken rama ibunipun swargi kok wanter sanget.
Mboten kepetang pinten dangunipun anggenipun tindak nilar kedhaton, sampun dumugi ing pinggiring bengawan Brantas ingkang sisih ler. Ing papan ngriku Sang Prabu sumedija aso sawatawis, kedjawi kalijan ngentosi tuntasing riwe sarta sajahing sarira, ing salebeting ngaso kala wau, Sang Prabu emut dhateng panguwuhing garwa dalasan mara-sepuh, ingkang kalih-kalihipun sampun sami kaperdjaja, bab anggenipun tansah damel sisiping rembag, ing wusana nuwuhaken risaking kawontenan. Wekasan Sang Prabu ladjeng ngupadi palenggahan ingkang prajogi, inggih punika sendhe-sendhe ing kadjeng ageng sapinggiring bengawan Brantas kala wau. Amargi kenging siliring Hijang Samirana, sarira keraos seger, ngantos mboten kraos lijer-lijer, wekasan ngantos sare kepatos.
Ing wusana tengah-tengahing sare Sang Prabu njumpena kados-kados rinawuhan ingkang rama kanthi paring dhawuh mekaten:
“Ngger Djaka Lawung putraningsun pribadi, kaja ing wektu dina samengko, sira wus karasa lan ngrumangsani sekabehaning kaluputanmu, dhek nalika sira ngasta pusaraning pradja Madjapait. Kaja nalika ingsun bakal surud wus paring uninga marang sira, jen sira kudu wasis djumeneng dadi pengembaning negara Madjapait. Ora kena mbedak-mbedakake marang sidji lan sidjining kawula, paribasane mban tjinde mban siladan, lan tansah kudu tresna lahir trusing batin tumrap marang sekabehaning para kawula. Kudu wani sengsem marang tumindak kautaman, ninggal marang sekabehaning tumindak kelahiran, ja ing alam kanisthan. Nanging djebul kosokbaline, sira lena marang sekabehing piwelingingsun apadene piweling ibunira. Wekasan sira mung tansah ngumbar hardaning kamurkan, ora kersa sumungkem dalasan manembah ing ngersaning Hijang Bagas Puruwa, malah ngungkurake. Wekasan sira gampang kapikut marang bebudjukane si Adipati Tjiung Gupita lan anake si Retna Sekar. Sira tansah kelu marang gebijaring kadonjan, datan kersa ngemuti jen ta kahanane djagad raja mangkene tansah owah lan gingsir. Mengertija ngger, jen sira ana ing sadjeroning lali, kuwi kang ana kabeh mung marang nistha, jen sira dumunung ana ing sakdjerone eling, kabeh kuwi mau sedjatine dalan kang tumudju marang kaluhuran. Mula saka kuwi jen pantjen ing wektu dina iki sira wus wiwit binuka rasanira, elinga marang djedjering djagad, ja djagad gedhe kang den arani djagad raja, utawa ja djagadira pribadi kang den arani bawana setra. Lan jen pantjen sira njata-njata temen sumedija tumindak kang tumudju marang kaluhuran djati, pirsa marang asal mulanira, weruh marang sedjatine djiwangga, mara noleha mangidul, delengen ing puntjaking gunung Ardjuna kae, sira sedjatine ja wus dumunung ing kana.”
Sinareng Sang Prabu noleh mangidul, ladjeng anedija mirsani puntjaking redi Ardjuna, katingal tjahja manther saksada lanang ngantos sundhul ngawijat. Dene Sang Prabu rumaos kados-kados sampun lenggah dumunung ing puntjaking Arga Ardjuna ngriku. Sareng Sang Prabu mirsani kanan kering, tjetha sanget bilih arga punika ingkang winastanan arga bawera. Ing sisih ler katingal pradja Madjapait kanthi wela-wela, ing sisih wetan katingal pareden bebandjengan, sisih kidul katingal pesabinan idjem rojo-rojo. Saja kraos wonten ing puntjaking redi kasebat. Wosipun saged amirsani kanthi tjetha wela-wela lan mboten kaling-kalingan punapa-punapa, inggih punika kang den wastani tanpa warana.
Ing saladjengipun ingkang rama paring dhawuh malih, mekaten: “Mangertija ngger, jen sedjatine ing putjuking gunung Ardjuna kana kae, papane ramanira dhek djaman kala semana mesu brata, mangesthi ing Hijang Bagas Puruwa, mudja lan mudji akanthi nindakake talak brata, datan sare, datan dhahar, mung tansah mindeng madijaning Guwa Laja, njenjuwun supaja bisa pinaringan turun kang ing tembe saged gumanti kepraboning pradja Madjapait, jen wus tumeka titi wantji ramanira kundur ana ing Hindrabawana. Awit wus sawatara warsa anggeningsun palakrama kelawan ibunira, nanging meksa isih durung pinaringan turun. Kang mengkono mau rama rumaos ketjalan lari tumrap pamangkuning negara, jen ta tumeka kukuting angganingsun isih durung pinaringan putra. Ja sanadijan abot dikaja apa, djer kanggo kamuljaning putra wajah, mula ramanira ja ora kagungan pangresula, djer kuwi wus dadi kuwadjibane ramanira pribadi.
Apadene lelakone ibunira, dhek nalikane ingsun tinggal ana ing kedhaton, sakperlu andjaga keputren, lan isen-isening kraton kabeh, ing wusana marga saka pokale si Darmawangsa, ibunira djengkar lolos saka keputren, parane mangulon, perlu ngupaja anane si Handaja Pati, ja kuwi warangka dalem ing Madjapait, kang ing wektu semana lagi ingsun utus mbedah tanah Djawa Tengah, perlu jasa pelabuhan ing Semarang. Dene tindake ibunira kalunta-lunta, nusup-nusup angajam wana, munggah gunung medhun djurang, nganti tumeka ing lelengkehing gunung Lawu sisih wetan.
Mangertia ngger, merga saja anggone nusup-nusup mau ilang sipating prameswarining Naga Binathara, malah kaja wus ilang trap-susilaning wanodija kang andana warih, pada bae karo wong tjilik kang datan kambah ing wulang wuruk.
Kahanan kang mangkono mau kabeh disangga dening ibunira kanthi sabar nrima, sareh pikoleh, datan asesambat utawa angresula, kang ana mung emut, lan ateges ora lali marang kaluhuran lan emut jen ing djagad gumelar mono asipat owah miwah gingsir, malah penjungkeme tumrap Hijang Bagas Puruwa ditemeni, ora nglirwakake, rumaos ibunira, kaja wus utjul saka blengguning kanisthan. Sakbandjure ibunira tansah emut marang ingsun, ija ramaneki pribadi, kang lagi mesu brata kanggo keperluane negara lan kawula. Mulane sanadijan abot dikaja ngapa ibunira datan wigih nanggulangi rubedaning salira, djer kuwi kenaa kanggo panebusing putra wajah ing mbesuke.
Nanging bareng sire dhewe ngger, banget anggenira nglirwakake piwelingingsun, apadene piwelinge ibunira kang tansah nandhang papa tjintraka. Djebul tibame marang sira kosok balen banget. Dupeh sira wus darbe panguwasa, dupeh sira wus adarbe wenang tumrap negara lan kawula, ing wekasan mung anduweni sipat adigang, adigung adiguna, lali marang laku kautaman, ngumbar hardaning kamurkan, nggugu sakarepe dhewe, gampang kelu marang gebijaring djagad gumelar, suthik marang tetulung, adoh marang pamesu brata, ninggalake marang djedjering wong tuwa, apa rumangsanira dupeh wong atuwanira wus padha sirna. Ing satemah nampa pawelehing Hijang Sasangka Djati, sira ingatasing Nalendra Gung mung ditjamah dening garwanira tedhaking sudra. Rumangsanira wus kinadjenan lan kineringan dening sakpadha-pdha, lali jen kuwi mono kabeh mung dumunung ing alam kanisthan. Mula jen tjetha-tjetha sira wus ngrumangsani kabeh kaluputanira kanthi rasa kang djudjur, mara sawangen kae ing putjuking gunung. Wis ja ngger samene bae, adja kongsi sira lali maneh sekabehing piwelingingsun iki, jen pantjen sira kepengin muljakake turun-turunira kabeh nganti tumeka pungkasaning djaman.”
Sakrampungipun dhawuhipun ingkang rama, Djaka Lawung inggih Prabu Brawidjaja ingkang kaping kalih, sampun rumaos lenggah wonten ing putjuking redi Ardjuna madjeng mangaler. Nanging sanget andadosaken kedjoting penggalih, sareng mirsani sariranipun ageng inggil, asta dalasan ampejanipun sarwi ageng kebak rikma, kenakanipun pandjang-pandjang, rikma gimbal, djenggot miwah rawisipun pandjang. Persasat denawa (raseksa) ingkang anggegirisi. Rumaos ngagem agem-ageman sarwi pethak, kados pangagemaning para pandhita. Ing salebeting penggalih sanget lingsem dhateng Hijang Bagaskara, dene ingatasing putra Nalendra kok ladjeng saged mawujud denawa ingkang anggegirisi sanget.
Mekaten kala wau kawontenanipun Sang Prabu Brawidjaja, ingkang nembe tapa njingkiri papan keramenan, nanging kados-kados klentu marginipun, awit anggenipun gantos wewudjudanipun anggegirisi. Punika sedaja nelakaken, bilih satunggaling djanma ingkang nembe tumindak nilar dhateng kaluhuran, tansah ngumbar hardaning kamurkan, wusana ladjeng tebat dhateng Hijang Bagas Puruwa. Senadijan tata lahiripun sampun miwiti pamesu bratanipun, namung saking dajaning kamurkan ingkang babar pisan dereng uwal saking kuwandhanipun, ateges taksih kelet kumanthil, wusana saged mahanani wewudjudan ingkang anggegirisi kala wau.
Inggih mekaten punika tumindaking sebagian ageng para djanma manungsa, ingkang namung tansah ngumbar hardaning kanepson, pepenginan, angkara murka, gampil kapikut ing gebijaring djagad gumelar, ingkang mboten aseli, mboten sedjati, ingkang ateges sedaja kala wau palsu.
Pramila Djaka Lawung saja kentjeng anggenipun badhe nindakaken pamesu bratanipun, mboten badhe kundur jen dereng angsal wangsiting Hijang Sasangka Djati.
Katjarios sesampunipun Djaka Lawung radi dangu anggenipun mesu raga wonten ing putjuking redi Ardjuna, ing satunggaling wekdal, ing tengah dalu, nalika Djaka Lawung nembe nindakaken pakarjaning pasemeden, wusana mboten kanthi kanjana-njana lan mboten kagraita, wonten satunggaling peksi emprit mentjok ing bau kiwaning Djaka Lawung. Ing salebeting anggalih Djaka Lawung ngungun ketjampuran kaget, kok wonten kedadosan ingkang nganeh-anehi. Ingatasing peksi emprit ing wantji tengah dalu, kok mentjok ing pundhak kiwanipun. Punika genah sanes sabaenipun peksi, mesthi badhe wonten kedadosan-kedadosan ingkang elok. Ing salebeting tijas Djaka Lawung anggraita:
“Iki kok ndadak ana kedadean aneh maneh, ingatase manuk emprit ing wajah bengi kathik tengah wengi sisan, wani mentjok ing bau kiwaku, iki genah ana apa-apa kaja dene pengalaman kang uwis-uwis”. Wusana pepuntening batos ladjeng kepengin ndangu dhateng pun emprit kala wau. Dhawuhipun mekaten: “E, emprit iki kok elek banget, ingatase kowe mung asipat manuk, kok wani mentjok ing bauku kang kiwa, kang sedjatine aku iki lagi nengah-nengahi pakarjaning pasemeden. Apa kowe ja bisa tata djanma, mara terangna kang tjetha”.
Peksi emprit: “E, kowe lali ngger karo aku, nanging ja wus sakmesthine, lha wong njatane aku saiki saling wewudjudan. Mangertia ngger, sedjatine aku iki rak ja wong ngatuwamu dhewe ta. Elinga dhek djaman kala samana, nalikane ibumu keplaju-plaju nganti tekan ing sakngisoring gunung Lawu kang kapara rada sisih lor, ing kono ibumu rak mampir ana ing sawidjining omahing mbok randha, kang aran mbok Saraagi ta. Dene djalarane ibumu nganti keplaju kuwi mung merga saka pokale si Darmawangsa. Mula ngger, kowe ngugua karo omongku, sedjatine kowe rak wus tak jasakake kedhaton kang gedhe banget ana ing tengah-tengahe Bengawan Brantas, ja kuwi nalikane kowe ngaso bijen kae. Aku mung andjaga murih kepenakmu ing tembe mburi, mula tak djaluk kanthi banget kowe inggala andjegur ing bengawan Brantas kana, mengko ndak papag. Perlune kowe bisa djumeneng Nata Binathara kang ing pungkasane bakal bisa andhepani djagad, dadi ratu kadjen keringan”.
Djaka Lawung: “Mengko ta dhisik, kuwi nalare keprije, ingatase kowe ki manuk, lha kok bisa tata djanma kathik ngaku wong tuwaku pisan, mara terangna kang tjetha”.
Emprit: “We lha, rupane kowe isih durung mudheng wae marang kandhaku, aku rak wis omong ta, jen aku iki sedjatine rak ja ibumu dhewe kang wus swargi, ja saiki iki aku awudjud emprit kang dadi jitmane ibumu. Mulane adja kesuwen mengko mundhak selak ora karu-karuan kedadeane. Wis ja, mung welingku bae inggal tindakna, andjegura ing tengahing bengawan Brantas, aku wus sumadija ing kana. Aku tak budhal andhisiki”.
Djaka Lawung: “Ija,, mengko inggal-inggal taklakonane.”.
Katjarios Prabu Brawidjaja I ingkang sampun swargi, sampun dumunung wonten ing Hasta Warana, papan ingkang wijar, omber lan bawera. Mboten kewran mirsani kawontenan ingkang mekaten kala wau. Djalaran priksa sedaja kawontenan ingkang sampun lan ingkang dereng kedadosan. Nering penggalih dereng saged negakaken dhateng ingkang putra. Pramila pandjenenganipun sanalika tumurun njelaki ingkang putra, kanthi paring sabda mekaten: “Ngger Djaka Lawung, teka kebangeten temen, durung sepira suwene ingsun paring dhawuh marang sira, poma di poma sing ngati-ati, djebul lagi kena omonge si emprit bae wis kelu, kepikut, tandha jekti jen sira durung mumpuni anggonira nindakake pamesu bratanira. Isih gampang ginodha dening sapa bae, kang ateges sira durung anduweni prajitna, ja kuwi durung nganggo wewaton PANTJA WEDHA. Mangertija ngger, jen sedjatine kang awudjud emprit iki mau dudu wong atuwamu, nanging kuwi jitmane si Djaja Katiwang. Elinga dhek nalikane sira isih djedjaka, dhemen ambebedhag, sira rak wus tau tate djemparing ajam wana kang wusana bisa kena, ing kono getihe si ajam wana nganti amber ambalabar, bisane sat marga sira dhewe kang nambak. Ing sakwise bandjur ana swara, ngaku jen sedjatine kuwi jitmane si Djaja Katiwang. Nganti sira ngojak-ojak tekan sakwetane bengawan Madijun. Mula ngger adja sira gampang utawa kelu marang gebjaring kahanan, kuwi mono mung wudjud pengitjuk-itjuk, supaja sira lena, ing wekasan badhar pamesunira. Wis ja ngger, sing ngati-ati, Rama bakal kundur.”
Sakontjating ramanipun saking panduluning pamesu bratanipun Djaka Lawung, ing wusana ladjeng gumregah wungu saking anggenipun mesu raga, ing salebeting tijas namung tansah angrumaosi, bilih tumindakipun taksih tansah dereng tumata, dereng titis, tandha jekti taksih gampil ginodha ing kawontenan sanes, ingkang sedajanipun namung badhe andjelemprengaken kemawon. Ingkang mekaten wau ing salebeting penggalih sanget matur nuwun dhateng ingkang rama dene kok tansah kadjangkung, kapirsanan, anggenipun tansah tumindak kirang leres wau. Ugi ngrumaosi bilih anggenipun talak brata dereng sampurna, lan kedah saja dipun prajitnani, sageda anggenipun mesu brata inggal katarimah ing Djawata, sarta sedaja kalepatanipun inggala saged kalebur sadaja. Ing wusana nering tjipta menawi sedaja sampun sami resik, wusana badhe djumeneng Nalendra Pandhita ingkang sidik ing kawruhing budhi.
Sesampunipun Djaka Lawung saja mantep, madhep anggenipun sumedija nindakaken pamesubratanipun, awit rumaos saja padhang, saja terwatja, saja gamblang lampahing kawontenan ing Djagad gumelar punika. Nering sedija mboten badhe keguh utawi kelu sarta kepintjut dhateng gebijaring kawontenan, sarta mboten balereng mirsani soroting Hijang Bagaskara, namung tansah kondjem ing bantala, sumungkem wonten ngersaning Hijang Bagas Puruwa, nindakaken sedaja dhawuhing rama ibu ingkang njata-njata tumudju dhateng kaluhuran djati. Wekasan sanget andadosaken kedjoting penggalih, dene sareng mirsani angganipun, pulih duk ing nguni, kados nalikanipun dereng wudjud denawa, inggih punika wudjud Djaka Lawung ingkang bagus ing rupi.
Ewahing rerupen kala wau mertandhani, bilih dajaning angkara murka ingkang tumumplek ing angganipun Djaka Lawung sampun sirna sedajanipun, ingkang wonten namung sutji, resik, padhang suminar, amargi sedija ingkang sampun kawetja wau. Inggih mekaten punika wohing lampah ingkang tumudju dhateng kaluhuran djati, mboten maelu dhateng kelahiran. Wudjuding satrija anggambaraken sipating kautaman, dene wudjuding denawa anggambaraken sipating Angkara Murka.
Mangkana ta wau, bawane Nalendra kang sampun gentur tapane, mahanani tjahja gumebjar ing saknginggiling redi Ardjuna, lir soroting Hijang Tjandra ingkang badhe midjil saking lengkehing bawana. Sumilak sumamburat ngebaki dirgantara. Kathah ingkang samia arerepen, kathah ingkang samia amemuhun, mratjihnani wonten ndaru ingkang lumengser saking gedhong kaendran, andhawahi redi Ardjuna. Gotheking ngakathah sami suka-suka pari suka, bilih badhe wonten Pandhita Nalendra, ingkang badhe adamel kuntjarining negari miwah kawula.
Tjahja saja dangu saja katingal sirna, wekasan sirna babar pisan.
Sinten ta ingkang nampi pulunging pandhita ?
Sak sirnaning tjahja, ingkang lagija teteki ing putjuking arga Ardjuna, inggih Prabu Brawidjaja kaping II ugi peparab Djaka Lawung, karawuhan satunggaling begawan ingkang sampun ketingal sepuh, ketingal mesem gumudjeng, sedaja polahipun tansah adamel renaning sanes. Glomah-glameh pangandikanipun, nanging mranani, mertandhani begawan ingkang pantjen sampun kawisudha bontos ing kawruh budhi menggah ngelmu dalasan lakunipun. Ing wusana begawan sepuh ladjeng ngendika : “Ngger Djaka Lawung, ingsun rawuh ngger, mara prajogakna lenggahira, adja sira kleru ing panampa lan uga sira adja kagungan raos adjrih, ingsun mene ja Ejangira dhewe djare. Kira-kira sira lali marang ingsun, awit ja mangkene kuwi kahanan ing donja, bisane mung tansah gawe lali, nanging arang-arang bisa gawe eling. Mula rawuhingsun iki kepengin gawe eling marang sira. Mangertia ngger jen ingsun iki sedjatine ja Hijang Bagas Puruwa kang bakal paring wangsit marang djeneng sira, kang lagija teteki sak perlu njuwun ngapura sekabehing kaluputanira. Miturut tata lahir kaja-kaja ora tinemu ing akal jen ta ingsun ing wektu dina samengko bisa wawan sabda kelawan djeneng sira. Mangertia ngger, kedjaba ingsun iki ja Hijang Bagas Puruwa, nanging ja emuta, nalikane sira isih ana ing sakdjeroning kandhungane ibunira, ingsun ja wus ana ing kono ngger, adjedjuluk Begawan Manik Sidhi, mula ingsun iki ja kena diarani Begawan Manik Sidhi.
Elinga nalika isih djumeneng ana ing sadjeroning kandhungan, sira wikan, waskitha, witjaksana, djalaran durung ketaman ing kahanan kelahiran, ja kahanan kang tansah gawe lalinira wau. Sira wis bisa mangerteni marang sekabehing kahanan kang sira lakoni ing mbesuke, lan sira ja wus mangerteni asal mulanira kabeh, nanging bareng sira wus mijos saka guwa garbane ibunira, bandjur salin slaga, awit anggonira mojos mau metu sawidjining marga kang ala dinulu, ja kuwi kang aran Marga Sara Ina. Bareng sira wus wiwit lelumban ing madijaning djagad gumelar, apa maneh marang asalira, marang marganira kang lagi diliwati bae wis kesupen kabeh. Mula ngger, poma dipoma tansah elinga marang mula bukanira, marganira lan sakpanunggale, kanggo gegondhelan aja sira kongsi gampang ketaman bebendune ejangira dhewe, ja kuwi ingsun iki, djalaran babar pisan sira nglalekake, dadi kang tjetha sakiki ja ngger, jen ingsun iki sedjatine ja djeneng sira pribadi nalikane sira isih lenggah ing madijaning kesutjen, ja alam purwaka. Tjethane jen ingsun iki ja sira, ateges ingsun sumimpen ana ing sira, ateges ingsun sumingid ana ing sira, ateges ingsun njamadi marang sira, ateges ingsun nguripi marang sira, ateges ingsun kang agawe kekuatan marang sira, lan ateges pribadiningsun, ja pribadinira.
Mula saka kuwi ngger, elinga sira marang ingsun, uga ingsun tansah makarti tumrap sira. Jen sira lali, ateges datan maelu marang ingsun, ingsun mesthi bae ora saged tumindak, djalaran katutup dening pakartining kuwadhaganira. Dene kuwadhaganira dipandhegani si Lokaprana, ja kuwi kang tansah ngaling-ngalingi sira, jen ta sira kepengin emut marang ingsun. Kang mangkono mau jen sira wus widjang-widjang panampanira, kaja samubarang lir wus ora bakal tumpang suh ja senadijan ngenani djagad gumelar apadene ngenani bawana setranira dhewe, kanggo saiki ja kanggo ing mbesuke, jen sira wus tumeka ing djandji bisaa bali, kaja dene Tapaking Garuda Jeksa kang sinamber gelap, sirna sakpandurat lir katijup ing maruta sakethi.. Semene dhisik ngger, poma tansah EMUT.”
Djaka Lawung: “Kandjeng Ejang Begawan, sareng ingkang wajah nampi wedjangan sawatawis saking pandjenenganipun Ejang, kados siniram toja gesang raosing manah, kenging kawastanan, kalis saking sedaja rubeda. Pramila namung sagung pangaksami ingkang tansah kula suwun, kersaa Ejang paring sih kawelasan dhateng djasat kula, ingkang namung tansah katutup ing warananing gumelar, nilar dhawuhing rama ibu. Punapa dene sareng Ejang andhawuhaken, bilih inggih Ejang punika djasat kula, nalika kula taksih wonten ing guwa garbaning ibu, nindakaken tapa, kenging kawastanan mboten tumama ing bentjana, mboten ketaman gebijaring kelahiran ing wusana sareng kula midjil saking wewengkoning ibu ing wekasan kula tumindak mboten sakmesthinipun, ingkang ateges namung tansah ngumbar ubaling pantjadrija, kesupen dhateng duk asal kula, lan dhateng pundi purug kula ing bendjingipun.”
Begawan Manik Sidhi: “Wis ora maido ngger, apa maneh sira kang pantjen durung titi wantji ngawruhi sedjatining kahanan, ja kahanan ing nalika semana apa dene kahanan ing mbesuke, selagine para djanma kang ngrumangsani wus bontos mungguh ing kawruh sangkan paraning dumadi bae isih akeh kang padha nglenggana, amarga pantjen durung pinareng lan antuk wangsiting Hijang Sasangka Djati. Maknane ja saka pepadange dhewe kang ateges pribadi, ja kang den arani gurunira sedjati. Ja amarga saka kahanan kang mangkono mau ingsun kepara wani rawuh andhisiki ana ngersanira, djer kabeh mau wus katata, katiti lan ora ana barang kang luput saka sedijane, sakuger kabeh ditindakake kanthi temen-temen lan djudjur. Mula saka kuwi ngger, pamundhutingsun, adja sira gampang mitajani marang rembuge sapa bae, kang nyata-nyata durung bisa minangkani, apa ta sedjatine kang diarani Guru Sedjati kuwi. Mangka ing wektu dina saiki, kaja sira wus bisa wawan sabda karo Guru Sedjati, ora lija ja ingsun pribadi iki, ateges ja pribadinira dhewe. Kanggo kagambarake dhek nalikane sira isih djumeneng ing sadjeroning guwa garbaning ibunira.”
Djaka Lawung: “Saja padhang raosing manah kula Ejang sareng tampi dhawuh punika wau. Kepareng ingkang wajah ladjeng njuwun priksa kados pundi ing saknjataning gumelar punika, lan kados pundi tumrap ing wekdal sakpunika, punapa inggih namung kedah mekaten kemawon, ingatasing kula punika anggadhahi kuwadjiban mengku negari dalasan sak-isinipun, ingkang ing wekdal sapunika kula pasrahaken dhateng dimas Minak Pijungan. Awit saksirnaning rama ibu ingkang sampun swargi, paring piweling, menawi bendjingipun negari Madjapait punika badhe angalami kawontenan ingkang sakelangkung awrat sanggenipun, ingkang wosipun supados kula waspada sedaja tindak tanduk kula.”
Begawan Manik Sidhi: “Ngger, bener banget pitakenira iku. Mula ngger sedjatine dhek nalikane sira isih djumeneng ana ing guwa garbaning ibunira, kabeh mau wus kawetja, tandha jektine ingsun ing wektu dina iki bisa anggelar sakabehing kahananira dhek samana, wong sedjatine sira ing kala samana ja ingsun iki, dadi kabeh iki wus katata lan katiti, marga saka kawitjaksanira ing dhek djaman kala sama, ja ateges kawitjaksananingsun ing sak-iki iki. Bab pangembataning pradja sedjatine ora kepareng sira aturake tumrap marang ingsun, djalaran tundone bandjur tumudju marang gebijaring kelahiran. Ewa semono jen pantjen temen-temen kabeh iku mau ora mung kanggo keperluanira dhewe, kaja dhek nalikane sira isih ngasta pusaraning pradja, Ejang ija mrajogakake. Mangertia ngger, anggenira nindakake tapa brata seprana-seprene kae kudu katudjokake marang kabeh para kawula, utawa ing besuk jen wus tumeka redjaning djaman. Mula saka kuwi ngger piwelingingsun, sakpungkuringsun iki mengko, sira kepareng nilar putjuking gunung Ardjuna kene, lan andjudjuga ing sadjeroning dhatulaja Madjapait, nemonana adinira si Minak Pijungan. Sira wadjib mendha-mendha kaja wong miskin kang panggaweane mung andjedjaluk. Ing wusana kanggo mangerteni lan andjadjagi sepira saktemene penggalihe adinira lan keprije pangrengkuhe. Jen pantjen adinira apik tengkepe lan pangrengkuhe marang sira lan mangerteni sedjatine sira kuwi sapa, wusana bandjur mundhuta pamit, dene bab ruwet rentenging negara tetep pasrahna marang adinira. Nanging jen pangrengkuh kuwi mau nganggo tjara kang deksura, dakwenang utawa munasika, kersaa sira bandjur gawe ontran-ontran. Mundhuta siti sak-gegem, bandjur sabdanen dadi kentjana. Ing kono sira bandjur njenjuwun marang Hijang Bagas Puruwa, supaja pengagem tjara Nelendra, kaja nalikane sira djumeneng bijen. Jen Minak Pijungan wus ngrumangsani kaluputane, negara apa dene isen-isene kabeh pasrahna, nanging mawa perdjandjen, adja kongsi negara kapasrahake marang putrane Minak Pijungan, awit putrane Minak Pijungan ora anduweni wenang mangku negara Madjapait, dene kang wenang ja putranira dhewe. Bab srah-srahaning pradja ngenteni jen putranira wus midjil saka garwanira padmi.”
Djaka Lawung: “Nalaripun kados pundi Ejang, djalaran ngantos wekdal sapunika ingkang wajah dereng anggadhahi garwa utami padmi.”
Begawan Manik Sidhi: “Ngene ngger, jen sira wus masrahake negara marang adinira, sira kudu djengkar saka kedhaton, lakunira ngidul terus mangulan bener. Jen sira wus tumeka ing sakwetane gunung Lawu, ing kono sira bakal mirsani ana sela gedhe nanging rata, lan ing kono ana tjarakan Djawa, tinggalane Ejangira dhewe kang aran Begawan utawa Empu Galihan. Ja marga anggonira bisa matja tjaraka mau, ateges sira wus mangerteni marang asal mulanira apa dene marang paranira. Sakwise sira bandjur djumeneng ana ing sak tjedhaking sela kono, dadi Pandhita Nalendra adjedjuluk Begawan Dwiasmara. Tetekia kongsi djangkep sapta warsa lan adja sira kundur jen durung pepanggihan karo Pandhita Wanodija kang asma Resi Trembini. Ja Resi Trembini kuwi kang bakal dadi garwanira. Dene asma kang saktemene ja kuwi Dewi Lawung Wati Sri Wardani. Ja ing kono sira bakal kagungan putra kakung gumanti keprabon Madjapait, kang aran Raden Prijangga Lawung. Dene Dewi Lawungwati Sri Wardani kuwi putri saka negara Djenggala kang kebhedhah dening Djaja Katiwang dhek djaman kala samana. Nanging mangertija jen Dewi Lawungwati Sriwardani kuwi juswane kira-kira ja wus sepuh, nanging ja ing kono si Prijangga Lawung bakal mretapa, tjalon djumeneng nata Madjapait Prabu Hajam Wuruk, ja Prabu Brawidjaja Kalamurti Tjakrabuwana kang kaping IV.”
Djaka Lawung: “Sesampunipun mekaten ladjeng kados pundi Ejang, punapa ingkang wajah tetep wonten pertapan ?”
Begawan Manik Sidhi: “We lha ora ngger, sira lan garwanira kudu wani tumindak kaja dene kawula tjilik, idhep-idhep mirsani keprije sedjatine kahanan negara kuwi, sira kudu laku tetanen, ngupakara tanem tuwuh, utawa kasile bandjur diedol menjang negara. Anggone ngedol ana ing sadjerone pasar, ja garwanira sing nggendhong, lha sira dewe sing njunggi, sarta ana ing dalemira kudu tlaten ngopeni sato iwen, upamane pitik, bebek, menthog lan lija-lijane. Dadi tjekak tjukupe kudu bisa urip kaja dene wong tani kae. Ing kono babar pisan sira ora kepareng ngatonanke jen sira mono sedjatine Nalendra. Jen ing wajah bengi sing wadjib mulang-muruk bab tjarakan Djawa marang sapa bae, utawa kabeh ija uga bab kawruh sangkan paraning dumadi. Djer mengko kena kanggo pantjadan sira djumeneng nalendra kang witjaksana ambek adil paramarta, asih ing sesamaning dumadi. Bisa angrasakake keprije dadi kawula kuwi, dadi ora mung waton paring dhawuh thok bae.”
Saka panuwune Ejang, sira adhedhukuh ing pedhukuhan kang diarani Madjalangu, kang ora adoh saka Talok Langu, ja kuwi ngger sedjatine kang aran Negara Madjapait, asal saka padhukuhan kang sira dunungi mau. Dene madja ateges manunggaling djagad, pait tegese paekaning tumitah kang tjidra. Dadi ing mbesuke Negaranira bakal rusak marga saka pokale turunira dhewe, nanging ing titi mangsa kala bakal mudjudake Negara kang bisa agawe manunggaling djagad, kaloka kadjana prija, kondhang ing Bawana mantja. Ja ing kono negaranira bakal dadi negara gedhe kang katelu lan anduweni tjahja kang sumorot madhanigi ngawijat.
Ing sakwise mamgkono sira kudu wani nandur empon-empon tolaking wong sak Negara, dene papan kang betjik ing tlatah wetan, ja kuwi ing sakwetane Semeru. Ing kana sira bakal kagungan garwa ampejan asma Dewi Wiraksini Prabawulan.
Wus samene bae ngger piwelingingsun, lan inggal ajatana adja kongsi katalompen, lan sakpungkuringsun terus tindaka mlebu marang dhatulaja.”
Djaka Lawung: “Sanget kapundhi dhawuh pengandikanipun Ejang lan ingkang wajah namung tansah njuwun tambahing pangestu, pinaringan kijat lan emut, sarta mboten badhe tumpang suh anggen kula nindakaken”.
Sakpandurat Begawan Manik Sidhi sampun mboten katingal ing pandulu, mlebet ing madijaning Guwalajanipun Djaka Lawung. Saja adamel teguh sedijaning Djaka Lawung anggenipun badhe nindhakaken pakarjan utami kalawau.
Wekasan Djaka Lawung ugi mandhap saking petapan redi Ardjuna, terus ngener dhateng kedhaton negari Madjapait, Kanthi mengagem ingkang sarwa rompang-ramping, tumindak kados dene tijang ngemis, terus mandjing ing salebeting dhatulaja. Kaleresan Sang Nalendra inggih Minak Pijungan pinudju lenggah ingadhep andher para abdi dalem seba tjaos, ngendikan bab anggenipun ngasta pusaraning pradja. Ketingal rena ing penggalih, katandha anggenipun ngendika kinanthenan gudjeng ingkang renjah, adamel renaning para ingkang sami seba tjaos.
Dereng dangu anggenipun sami imbal watjana, katungka sowanipun abdi dalem djagi, ngaturi uninga bilih ing srambining dhatulaja wonten satunggaling tijang ngemis ingkang kepengin mundjuk atur ing ngersaning nata. Sang Nalendra marengaken supados tijang ngemis wau sowan ing ngarsa nata. Sareng sampun katingal sowan, sanget andadosaken dukaning ingkang Sinuhun, teka wudjudipun tijang ngemis kemawon udjug-udjug wantun lenggah ing kursi andjadjari ingkang Sinuhun. Sang Nata ladjeng utusan abdidalem supados tijang ngemis kalarak medal pinaringan pidana sakmurwatipun. Nanging sareng tijang ngemis badhe kalarak ladjeng njirnani, ing wusana adamel ontran-ontan, mundhut siti sakgegem, pinudja dados kentjana. Wusana Sang Prabu kepareng nimbali tijang ngemis wau, sanget kedjotipun malih, bilih sirna wudjuding tijang ngemis, nanging gantos wudjud ingkang raka, inggih Sang Prabu Brawidjaja kaping II, ngagem busana kanalendran.
Dhawuhipun Sang Prabu (Brawidjaja II): “Jaji Prabu, durung sapira lawase sira ngasta pusaraning pradja djumeneng nata wus tumindak sija marang sakpadha-padhaning tumitah. Ja kebeneran iku kang mandjilma djenengingsun pribadi, upamane wong ngemis temenan, kira-kira ja sira patrapi paukuman, senadijan wong ngemis iku tanpa dosa lan perkara, mung marga saka wani lungguh kursi djadjar sira. Kang mengkono mau jaji, andadekna ing pangeling-elingira ing salawas-lawase”.
Minak Pijungan: “Dhuh kakangmas, pantjen ingkang raji kirang waspada, mertandhani bilih ingkang raji dereng saged djumeneng nata gung binathara, ingkang mekaten kala wau prajoginipun sedaja panguwaosing ratu kula kunduraken ing ngersa paduka kakangmas. Dene sedaja kalepatanipun ingkang raji,kersaa paring gunging pangaksami”.
Sang Prabu: “Wus ora dadi ngapa jaji, jen tumindakingsun iku sedjatine kanggo andjadjagi penggalihira, wus kuwat apa durung djumeneng Nalendra, nanging sepisan iki ora dadi baja pengapaa, muga-muga ing sateruse adja kongsi sira ambaleni maneh tumindak kang keleru mau. Dene bab pradja tetap ingsun pasrahake marang sira. Nanging poma dipoma, adja kongsi dipasrahake sapa bae jen ingsun durung kundur, djalaran mangertia jaji, jen kang andarbeni wenang nglengser keprabon ing mbesuke dudu saka turasira, nanging midjil saka turasingsun”.
Minak Pijungan: “Nuwun dhawuh sendika kakangmas. Sedaja badhe kula estokaken, ladjeng kakangmas badhe ngersakaken djengkar negari malih punika nalaripun kados pundi, sarta tindakipun dhateng pundi utawi pinten warsa dangunipun ?”.
Sang Prabu: “Bab djengkaringsun sira ora perlu mangerteni, kabeh mau dadi reregemaningsun. Wus jaji, karia slamet basuki tumeka ing besuke”.
Sang Prabu Brawidjaja kaping II inggih Djaka Lawung kanthi mengagem tjara limrah terus ontjat saking dhatulaja, tindakipun ngener redi Lawu ingkang sisih wetan.
mboten Katjarios tindakipun ing samadijaning marga Djaka Lawung andhedherek dhawuhipun Begawan Manik Sidhi, terus andjedjak ing papan ingkang sampun kapratelakaken dening Begawan Manik Sidhi kasebat, inggih punika njata wonten ing lelengkehing redi Lawu ingkang sisih wetan, katingal sela ageng wradin. Inggal-inggal Djaka Lawung minggah dhateng sela kala wau, sareng sampun dumugi ing nginggil, pranjata wonten seratanipun Djawa Kina, inggih punika ingkang sinebat Tjarakan Djawa.
Djaka Lawung sakelangkung ngunguning penggalih mirsani tjarakan Djawa kala wau kalijan ngumandika, iki bandjur keprije tjarane aku bisa matja. mboten dangu Begawan Manik Sidhi sampun katingal rawuh ing ngersaning sinatrija, ladjeng paring pitedah bab pemaosing tjarakan Djawa wau, dhawuhira: “Ngger Djaka Lawung, tumungkula ngger, lan rungokna dhawuhingsun tumrap pematjaning tjarakan iki:
“Hingsun Nitahake Tjahja Rasa Karsa”
“Dumadi Titising Sarira Wandija Laksana”
“Pantya Dhawuhing Djagad Jekti Ngawidji”
“Marmane Gantya Binuka Thukul ing Ngakasa”
Kuwi ngono anggambarake kahanan ingsun apadene sira dhek djaman kala samana, sakdurunge mawudjud kaja ngene ini. Mungguh keterangane mangkene:
Hingsun kuwi katjekak Ha, tegese ana, wudjud, wiwitan, ja kuwi kang den sebut Hijang Bagas Puruwa, lenggahe ana ing alam Puruwa, ya alam Wasana, kena diarani Sirna nanging Neka, utawa datan kena kinaja ngapa.
Nitahake, jen katjekak Na tegese, ndhawuhake, njabda, nganakake, andjumenengake, mudjudake. Dadi Hijang Bagas Puruwa wus andhawuhake.
Tjahja, jen katjekak Tja tegese, Sorot, pepadhang, sunar kang tanpa wewajangan. Ja kuwi tjahjaning Hijang Bagas Puruwa pribadi.
Rasa, jen katjekak Ra tegese, ja rasane Hijang Bagas Puruwa pribadi kang wus kadhawuhake utawa katitahake.
Karsa, jen katjekak Ka tegese karep, ja karepe (karsane) Hijang Bagas Puruwa dhewe (pribadi).
Dadi: HA, NA, TJA, RA, KA, tegese, Hijang Bagas Puruwa wus aparing dhawuh marang tjahja, rasa lan karsane pribadi, kang supaja tumitis utawa tumurun, tegese turun saka pribadine Hijang Bagas Puruwa dhewe. Dene Hijang Bagas Puruwa kuwi kena diarani Sang Hijang Huna, tegese Swara, Pangandika kang tanpa lesan. Dene lesan ing kene ateges piranti. Bandjur sakteruse :
Dumadi, jen katjekak Da,tegese wis dadi, mawudjud, gatra wis ana, nanging wudjud utawa gatra kang isih samar. Tegese ora bisa dipirsani nganggo pirantining pantjadrija.
Titising, jen ditjekak Ta, tegese tetesing sabda, dhawuh, pangadika mau.
Sarira, jen ditjekak Sa, tegese Sarining Rasa, ja rasane Hijang Bagas Puruwa kasebut.
Wandija, jen katjekak Wa, tegesa wahana kang winadi, utawa wola-wali (ora mung sepisan), dadi wahana kang winadi kuwi sedjatine ja kang diarani ora mung sepisan kuwi.
Laksana, jen katjekak La, tegese tumindak utawa ditindakake, lumaris, lumaku, makarti. Ja marga pakarti, tumindak lan laku mau, bandjur bisa mawudjud wela-wela.
Dadi: DA, TA, SA, WA, LA, tegese Ana Tetesing Rasa Kang Wola-Wali Pakartine, tjetha jen kabeh kuwi ora mung sepisan gawe, kang ateges marambah-rambah nganti kena diarani datan ana pedhote, utawa langgeng, tetep, adjeg, kaja dene getere djedjantungira.
Pantya, jen katjekak Pa, tegese papan, wadhah, panggonan, bolongan, guwa, utawi sipat.
Dhawuhing, jen katjekak Dha, tegese perintahe, pakone, kongkonane, utusane.
Djagad, jen katjekak Dja, tegese djagad, bumi, bawana, kelaswara, tijambita, wewengkon, ringkese diarani panguwasa.
Jekti, jen katjekak Ja, tegese sajekti, sedjati, temenan, ora goroh, sampurna, pepak, djangkep ora kurang.
Ngawidji, jen katjekak Nga, tegese manunggal, kumpul, ora pisah, samad sinamadan, limput linimputan.
Dadi: PA, DHA, DJA, JA, NJA, anduweni teges: Wadhah Kanggo Papane Dhawuh Kang Wus Manunggal Kalawan Bumi, tegese wadhah lan isine ora bisa pisah, utawa sing andhawuhi lan sing diparingi dhawuh wus njawidji (manunggal).
Marmane, jen katjekak Ma, tegese mulane, sanjatane, akibate, kedadeane.
Gantya, jen katjekak Ga, tegese ganti, berobah, ewah sipate, owah wewudjudane, owah kahanane.
Binuka, jen katjekak Ba, tegese kabukak, menga, diweruhi, kaweruhan, katon, mangerti, karasa, kasat ing mata.
Thukul ing, jen katjekak Tha, tegese wutuh, semi, modot, berobah saka asale, pindhah saka papane.
Ngakasa, jen katjekak Nga, tegese ngawijat, dirgantara, awang-awang, ndhuwur, ngantariksa.
Dadi: MA, GA, BA, THA, NGA anduweni teges: Mulane Bandjur Owah Wewudjudane lan Bandjur Thukul Ing Awang-awang, tegese ana nanging durung kasat mata, ja pirantine si pantjadrija.
Semene ngger, luhuring tilarane ejangira dhewe ja Empu Galihan, anggone paring tetilaran marang putra wajahe, kedjaba bakal kena kanggo sesambungane pangandikan tumrap sidji lan sidjine, djebul ngemu surasa nalika sira isih ana ing djaman ketentreman, ja djaman kang wiwitan. Kawruh iku mau sedjatine durung tutug, djalaran kedjaba ana aksara Djawa, uga ana sandhangan, tegese sakwise sira bleger awudjud kaja saiki iki bisa njandhang, ngrasakake. Dadi sandhangan dudu panggango, nanging Rasane. Tjatjahe sandhangan iku mau ana 12 idji, dene aksarane ana 20, mulane aksara Djawa iku kabeh ana 32. Telu ateges asalira, rasaning bapa, rasaning bijung lan titising Hijang Djagad Pratingkah, dene loro kuwi tegese wadhah lan isine.
Kawruh kang kaja mangkene iki sebarna marang kabeh para kawula, kareben padha mangerti marang asale dhewe-dhewe,
kang ateges ora gampang ngumbar hardaning kamurkan. Kaja wus tjukup samene ngger piwelingingsun bab tilarane ejangira Empu Galihan, wus ngger karia basuki”.
Saknalika Begawan Manik Sidhi enja saking pandulu, dene Djaka Lawung saja mantep, madhep lan rumaos rena sanget panggalihipun, dene wonten kedadosan ingkang saged maringi pepadhang ngantos dumugi sakputra wajahipun sedaja bendjing ugi badhe sanget mangertosi, ingkang ateges mboten itjal larinipun.
Pamesubratanipun kaladjengaken terus ngantos pinten-pinten warsa. Ing ngriku Djaka Lawung djumeneng Pandhita Nalendra, adjedjuluk Pandhita Dwiasmara, ugi Pandhita Katong.
mboten karontje kawontenanipun Sang Pandhita, anudju ing satunggaling dinten, Sang Pandhita lenggah ing srambining Sanggar Palanggatan, ingadhep sedaja para tjantrik, ingkang karembag inggih namun tambahing kawruh budhi, ingkang tumudju dhateng kaluhuran djati. Dereng dangu anggenipun sami asung pangandika, katungka aturipun tjantrik, bilih ing ndjawi wonten satunggaling wanodija ingkang kepengin sowan ing ngarsa resi. Sang Pandhita ugi ladjeng marengaken.
Sesampuning wanodija sowan, Sang Pandhita mundhut priksa: “Sampejan saking pundi mbakju, dene nami sampejan sinten, kok keraja-raja tekan padhepokan ngriki, napa baja wonten perlu.”
Wanodija: “Inggih Sang Pandhita, kula punika asal saking negari Djenggala, ladjeng kepladjeng nalika negari Djenggala binedhah dening Ratu Angkara, ingkang nama Prabu Djaja Katiwang. Sampun dangu anggen kula ngumbara kalunta-lunta, perlu ngangsu kawruh Kejaten, inggih kawruh kasunjatan. Ing wusana salebeting kula ngumbara tanpa prana, mireng rawat-rawat bakul sinambi wara, bilih ing ngriki wonten pandhita kang sidik, asma Pandhita Dwiasmara, punapa inggih pandjenengan Sang Pandhita ? Dene peparab Kula Resi Lawung Wati, nami kula pijambak Lawung Wati Sri Wardani, putra ratu ing Djenggala duk samanten.”
Sareng Sang Pandhita mireng aturipun wanodija kala wau, saknalika emut dhateng dhawuhing Begawan Manik Sidhi, menawi wanodija punika njata-njata tjalon garwanipun, pramila mboten saranta Sang Pandhita ladjeng aparing dhawuh kanthi trang terwatja: “Diadjeng, kaja wus tumeka ing titi wantji, jen sira bakal dadi tetimbanganingsun. Awit Hijang Bagas Puruwa wus paring uninga marang djeneng ingsun, jen sedjatine ja sira kuwi kang pantes ingsun garwa kinarja sarana margane ingsun adarbe turun tjalon gumanti keprabon ing negara Madjapait. Mula dhiadjeng, adja kongsi sira andarbeni pangira-ira kang ora bener, awit kabeh mau kaja wus kinarsakake mring Djawata, dadi jen pantjen sira kepengin njuwita ing padhepokan kene, kaja ja wus prajoga banget, malah sakwise iki sira bakal ingsun bojong tindak anjedhaki pradja, sakperlu mirsani kahananing negara, awit negara ing wektu dina samengko ingsun pasrahake marang adhiningsun si Minak Pijungan. Ing kana ingsun bakal andjudjug ing padhepokan Madjalangu lan ingsun wadjib agawe karang kitri, laku tetanen, sira mengkono uga dhiadjeng.”
Wanodija: “Dhuh sang Pandhita, sanget andadosaken ngradatosing manah kula sareng nampi dhawuh pandjenengan ingkang kados mekaten punika. mboten kanjana-njana menawi kula badhe kedhawahan pulung ingkang tanpa upami agengipun, bebasan lumpuh kang saged lumaris. Sang pandhita, menawi pantjen Sang Pandhita sudi dhateng djasat kula, badhe anggarwa dhateng kula, punapa mboten getun ing pawingkingipun, awit Sang Pandhita katingal taksih mudha, ing mangka kula sampun sepuh kados mekaten wudjudipun, Sang Pandhita. Punapa malih sareng kula mireng, bilih Sang Pandhita punika Nalendra ing Madjapait, punapa inggih pantes menawi kula angrenggani keputren, kinarja garwa prameswari.”
Sang Pandhita: “Wis ta dhiadjeng adja sira kakehan ing pangudasmara, djer kabeh kuwi wus kinarsakake ing Djawata, dadi ingsun apadene sira mung kari nindakake.”
mboten katjarios Sang Pandhita kalijan Dewi Lawung Wati Sriwardani sampun sami sih-sinisihan, lir saklimrahing djanma, ing wusana sang Dewi sampun katingal anggarbini timur.
Ing salebeting anggarbini kala wau, Sang Dewi sanget anggenipun kagungan pepinginan dhahar ulam ajam sawung, ingkang ulesipun wiring kuning tjampur wido djengger lan sukunipun pethak memplak. Panuwunipun dhateng ingkang garwa mboten kenging kaampah, kumetjer ngiler. Sang Pandhita mboten kirang weweka, sedaja panjuwunipun ingkang garwa inggal kaupadi, wekasan pikantuk satunggiling sawung tjeples ingkang dados panjuwunipun ingkang garwa.
Sawung ladjeng kapragat, ulamipun kadhahar sedaja kanthi nikmating raos.
Inggih sawung punika sedjatosipun ingkang badhe djumeneng wonten ing guwa garbaning Sang Dewi, ingkang ing tembe badhe mijos kakung tjalon gumantos Kepraboning negari Madjapait, adjedjuluk Raden Prijangga Lawung.
Sang Pandhita ingkang tansah emut dhateng dhawuhing Begawan Manik Sidhi, sesampuning ingkang garwa anggarbini sawatawis tjandra, ladjeng kabojong dhateng padhepokan ing Madja Langu ing satjelakipun Negari Talek Langu, ing sisih ler kilenipun. Wonten ing padhepokan ngriku, Sang Pandhita inggal mbangun teki, jasa dalem sakmurwatipun, nindakaken tetanen, nginguh sato iwen, ingkang wosipun sedaja wau sami tumut amiturut dhawuhing Begawan Manik Sidhi.
mboten katjarios Sang Dewi sampun ambabaraken putra kakung, bagus ing warni, kimplah-kimplah pindha tojaning tlaga Arga Sonja. Djabang baji senadijan saweg juswa 2 warsa, namung sampun katingal pamering ngaluhur, pantjen inggih trahing kesuma dhasar tedhaking mara tapa.
Sang Bagus pinaringan asma Raden Prijangga Lawung. Kotjapa sareng Raden Prijangga Lawung sampun djangkep juswa 17 warsa, saja tjetha pamoripun, gumebijar mentjorong, mertandhani tjalon Nalendra Binathara. Remenipun namung tansah ulah kridaning dedamel, tetes, merak ati, ngabekti dhateng rama ibu, lembah manah, nanging kendel, datan adjrih dhateng punapa kemawon. Landheping panggraitanipun ngedab-edabi, persasat pirsa dhateng sedaja kawontenan, senadijan dereng winarah nanging dipun tresnani dhateng kantja-kantjanipun ing kiwa tengening padhepokan ngriku. Remen weweh dhateng sesami, asih lan andhap asor, ngertos dhateng susila, mboten ngluhur-ngluhuraken, tindakipun sami kemawon kalijan lare padhusunan, persasat mboten mantra-mantra menawi punika sedjatosipun putraning Nalendra.
Ing wantji senggang ingkang rama kepareng nimbali ingkang putra, dhawuhipun: “Ngger Prijangga Lawung, sira ingsun paringi pirsa ngger, nanging adja kaget atinira, lan bandjur adja kegedhen ing rumangsa. Mengkene ngger, sedjatine wong atuwanira iku ja ingsun iki dudu kawula tani kang mengkene iki. Ingsun sedjatine Nalendra Madjapait. Kala samana nalika rama isih djumeneng, akeh banget penggodhane. Mula rama bandjur kepengin gesang kaja dene kawula ing nganti seprene. Dene negara ingsun pasrahake marang pamanira dhewe, ja kuwi si Pangeran Anom Minak Pijungan lan sakiki djumeneng Nalendra adjedjuluk Prabu Brawidjaja Kalamurti Tjakra Buwana kang kaping III. Dene ingsun wus paring dhawuh marang pamanira, adja kongsi negara dipasrahake marang sapa bae, jen ingsun durung kundur ngedhaton. Ing wusana wektu dina samengko kaja wus tumeka titi wantji ingsun andjabel panguwasane Minak Pijungan, djalaran ingsun wus rumangsa kagungan putra kang wenang nglenggahi dhamparing keprabon, ja kuwi sira ngger. Jen ingsun waspadakake, kaja sira wus andungkap diwasa, kaja wus pantes jen ta ngrenggani negara Madjapait. Mangertia ngger, sedjatine ibunira iku putri saka Djenggala, dadi wus pantes jen djumeneng prameswarining Nata. Mula sira ja wus wenang banget nglintir keprabon. Mula saka kuwi ngger, poma dipoma tansah sumungkema ing ejangira kang wus swargi, kang bakal andjangkung pangastanira djumeneng Nata ing pradja Madjapait.”
Raden Prijangga Lawung: “Kandjeng Rama sesembahan kula, sanget ing pamundhi dhawuhipun rama, ingkang putra namung andhedherek sedaja dhawuh, mboten badhe ambadal kersa. Sedaja namung tansah sumarah ing ngarsa rama dalasan ibu, ingkang kula bekteni lahir trusing batos, inggih wakiling Hijang Bagas Puruwa.”
Sang Pandhita lega sanget ing penggalihipun, dene ingkang putra tansah andherek dhawuning rama.
Sang Pandhita paring dhawuh malih: “Nanging mangertia ngger, jen djumenengira dadi nalendra kuwi kudu ngenteni jen sira wus juswa 25 warsa, dadi kurang 8 warsa. Ing sadjeroning 8 warsa mau, kang 7 warsa anggonen ngulandara, lelana kang sakperlu ngudi kawruh budhi kang sedjati, anggladhi marang katijasaning sariranira, kudu wani pait getir, makarja kang abot, nindakake talak brata, pirsa marang kasengsaraning kawula, pirsa marang kawula kang dhemen nindakake djubrija, tjidra, durdjana lan kudu wani nanggulangi. Adja sira kundur jen sira durung ngleksanani pamundhute rama. Awit sira wadjib sudjana marang kedadean ing tembe mburi, emut marang anak turunira, andjaga katentremane djagad sak isine kabeh. Jen kurang sakwarsa djandji sira wus bisa ngleksanani pamundhute rama, sira kepareng kundur. Ing kono sira ingsun sengkakake ngaluhur djumeneng Adipati Anom. Dene bab jasa kraton ora perlu bojong menjang Talok Langu, tjukup padhukuhan kene bae kanggo kraton. Katimbang ngusir si Minak Pijungan mesakake, aluwung ingsun kang ngalah. Wis ngger djengkara saka kene, ingsun tunggu ing padhepokan kongsi sakrawuhira ngger. Ora liwat rama mung bisa paring pudja-pudji pangestu, rahaju, widada ing saklawas-lawase.”
Raden Prijangga Lawung: “mboten langkung rama, ingkang putra namung njuwun tambahaing pangestu, tinebihna ing rubeda, tjinelakna ing karahajon. Sampun rama, sembah sungkem kundjuk ing ngersa rama miwah ibu.”
Raden Prijangga Lawung nilar padhepokan sumedia nindakaken dhawuhing rama, dene Sang Pandhita miwah garwa sami nengga ingkang putra kanthi raos prihatos, sarta tansah njenjuwun ing Djawata, sageda ingkang putra tansah pinajungan karahajon.
KELAHIRAN HA-NA-CA-RA-KA
Secara garis besar, ada dua konsepsi tentang kelahiran ha-na-ca-ra-ka. Dua konsepsi itu masing-masing mempunyai dasar pandang yang berbeda. Konsepsi yang pertama berdasarkan pandang pada pemikiran tradisional, dari cerita mulut ke mulut sehingga disebut konsepsi secara tradisional. Konsepsi yang kedua berdasar pandang pada pemikiran ilmiah sehingga disebut konsepsi secara ilmiah.
Konsepsi secara tradisional.
Konsepsi secara tradisional mendasarkan pada anggapan bahwa kelahiran ha-na-ca-ra-ka berkaitan erat dengan legenda Aji Saka. Legenda itu tersebar dari mulut ke mulut yang kemudian didokumentasikan secara tertulis dalam bentuk cerita. Cerita itu ada yang masih berbentuk manuskrip dan ada yang sudah dicetak. Cerita yang masih berbentuk manuskrip, misalnya Serat Momana, Serat Aji Saka, Babad Aji Saka dan Tahun Saka lan Aksara Jawa. Cerita yang sudah dicetak misalnya Kutipan Serat Aji Saka dalam Punika Pepetikan saking Serat Djawi ingkang Tanpa Sekar ( Kats 1939 ) Lajang Hanatjaraka ( Dharmabrata 1949 dan Manikmaya ( Panambangan 1981 )
Dalam manuskrip Serat Aji Saka ( Anonim ) dan kutipan Serat Aji Saka ( Kats 1939 ) misalnya diceritakan bahwa Sembada dan Dora ditinggalkan di Pulau Majeti oleh Aji Saka untuk menjaga keris pusaka dan sejumlah perhiasan. Mereka dipesan agar tidak menyerahkan barang-barang itu kepada orang lain, kecuali Aji Saka sendiri yang mengambilnya. Aji Saka tiba di Medangkamulan, lalu bertahta di negeri itu. Kemudian negari itu termasyhur sampai dimana-mana. Kabar kemasyhuran Medangkamulan terdengar oleh Dora sehingga tanpa sepengatahuan Sembada ia pergi ke Medangkamulan. Di hadapan Aji Saka, Dora melaporkan bahwa Sembada tidak mau ikut, Dora lalu dititahkan untuk menjemput Sembada. Jika Sembada tidak mau, keris dan perhiasan yang ditinggalkan agar dibawa ke Medangkamulan. Namun Sembada bersikukuh menolak ajakan Dora dan memperhatankan barang-barang yang diamanatkan Aji Saka.
Akibatnya, terjadilah perkelahian antara keduanya, oleh karena seimbang kesaktiannya meraka mati bersama. Ketika mendapatkan kematian Sembada dan Dora dari Duga dan Prayoga yang diutus ke Majeti, Aji Saka menyadari atas kekhilafannya. Sehubungan dengan itu, ia menciptakan sastra dua puluh yang dalam Manikmaya, Serat Aji Saka dan Serat Momana disebut sastra sarimbangan. Sastra Sarimbangan itu terdiri atas empat warga yang masing-masing mencakupi lima sastra, yakni :
1. Ha-na-ca-ra-ka 2. Da-ta-sa-wa-la
3. Pa-dha-ja-ya-nya 4. Ma-ga-ba-tha-nga
Sastra Sarimbangan itu, antara lain terdapat dalam manuskrip Serat Aji Saka, pupuh VII- Dhandhanggula bait 26 dan 27 sebagai berikut :
Dora goroh ture werdineki Dora bohong ucapannya yakin
Sembada temen tuhu perentah Sembada jujur patuh perintah
Sun kabranang nepsu ture Ku emosi marah ucapannya
Cidra si Dora iku Ingkar si Dora itu
Nulya Prabu Jaka angganggit Lalu Prabu Jaka Menganggit
Anggit pinurwa warna Anggit dibuat macam
Sastra kalih puluh Sastra dua puluh
Kinarya warga lelima Dibuat warga lelima
Wit Ha-na-ca-ra-ka sak warganeki Dari Ha-na-ca-ra-ka itu sewarganya
Pindho Da-ta-sa-wala Dua Da-ta-sa-wala
Yeku sawarga ping tiganeki Yaitu sewarga ketiganya
Pa-dha-ja-ya-nya ku suwarganya Pa-dha-ja-ya-nya sewargane
Ma-ga-ba-tha-nga ping pate Ma-ga-ba-tha-nga keempatnya
Iku sawarganipun itulah sewarganya
Anglelima sawarganeki Lima-lima satu warganya
Ran sastra sarimbangan Nama sastra sarimbangan
Iku milanipun Itulah sebabnya
Awit ana sastra Jawa Mulai ada hufur Jawa
Wit sinungan sandhangan sawiji-wiji Mulai diberi harakat satu per satu
Weneh-weneh ungelnya Macam-macam lafalnya
Teks diatas mirip teks yang terdapat dalam Manikmaya jilid II (Panambangan 1981 : 385) kemudian untuk memberikan kesan yang menarik lagi bagi anak-anak yang sedang belajar aksara ha-na-ca-ra-ka, dalam Lajang Hanatkaraka jilid I dan II ( Dharmabrata, 1948:10-11 : 1949:65-66 ) dihiasi dengan gambar kisah Dora dan Sembada. Hiasan yang menggambarkan kisah kedua tokoh itu menandai lahirnya ha-na-ca-ra-ka.
Tidak dapat dipungkiri bahwa legenda Aji Saka hingga beberapa generasi mengilhami dan bahkan mengakar dalam alam pikiran masyarakat Jawa. Dikatakan oleh Suryadi ( 1995 : 74-75 ) bahwa mitologi Aji Saka masih mengisi alam pikiran abstraksi generasi muda etnik Jawa yang kini berusia tiga puluh tahun keatas. Fakta pemikiran tersebut menjadi bagian dari kerangka refleksi ketika mereka menjawab perihal asal-usul huruf Jawa yang berjumlah dua puluh.
Selain Aji Saka sebagai tokoh fiktif, nama kerajaannya yakni Medangkulan masih merupakan misteri karena secara historik sulit dibuktikan. Ketidakterikatan itu sering menimbulkan praduga dan persepsi yang bermacam-macam. Misalnya praduga yang muncul dari Daldjoeni ( 1984 : 147-148 ) yang kemudian diacu oleh Suryadi ( 1995 : 79 ) bahwa kerajaan Medangkamulan berlokasi di Blora, sezaman dengan kerajaan Prabu Baka di ( sebelah selatan ) Prambanan, yakni sekitar abad IX. Berdasarkan praduga itu, aksara Jawa ( ha-na-ca-ra-ka ) diciptakan pada sekitar abad tersebut.
Praduga Daldjoeni tentang lokasi Medangkamulan memang sesuai dengan keterangan dalam sebuah teks lontar ( Brandes, 1889a : 382-383 ) bahwa Medangkamulan terletak di sebelah timur Demak, seperti berikut :
Mangka wonten ratu saking bumi tulen, arane Prabu Kacihawas. Punika wiwitaning ratu tulen mangka jumeneng ing lurah Medangkamulan, sawetaning Demak, sakiduling warung.
Demikianlah ada raja dari tanah tulen, namanya Prabu Kacihawas. Itulah permulaan raja tulen ketika bertahta di lembah Medangkamulan, sebelah timur Demak sebelah selatan warung.
Akan tetapi , penanda tahun kelahiran ha-na-ca-ra-ka diatas berbeda dengan yang terdapat dalam Serat Momana. Dalam Serat Momana disebutkan bahwa ha-na-ca-ra-ka diciptakan oleh Aji Saka yang bergelar Prabu Girimurti pada tahun ( saka ) 1003 ( Subalidata 1994 : 3 ) atau tahun 1081 Masehi. Tahun 1003 itu dekat dengan tahun bertahtanya Aji Saka di Medangkamulan, yakni tahun 1002 yang disebutkan dalam The History of Java jilid II ( Raffles 1982 : 80 ) pada halaman yang sama dalam The History of Java itu disebutkan pula bahwa Prabu Baka bertahta di Brambanan antara tahun 900 dan 902, yakni seratus tahun sebelum Aji saka bertahta.
Sementara itu, dalam Manikmaya ( salinan Panambangan, 1981 : 295 ) disebutkan bahwa Aji Saka - dengan sebutan Abu Saka mengembara ke tanah Arab. Di negeri itu ia bersahabat dengan Nabi Muhammad ( yang hidup pada akhir abad VI - pertengahan abad VII ). Setelah pergi ke pulau Jawa, dengan sebutan Aji Saka akbibat berselisih paham dengan Nabi Muhammad ( Graff 1989 : 9 ) ia menciptakan aksara ha-na-ca-ra-ka. Penciptaan aksara itu diperkirakan pada sekitar abad VII ( sesuai dengan masa kehidupan Nabi Muhammad ) karena di dalam teks tidak disebutkan secara eksplisit.
Warsito ( dalam Ciptoprawiro, 1991 : 46 ) dalam telaah Serat Sastra Gendhing berpendanpat bahwa syair ha-na-ca-ra-ka diciptakan oleh Jnanbhadra atau Semar. Dengan demkian, saat kelahiran ha-na-ca-ra-ka sulit ditentukan karena Semar merupakan tokoh fiktif dalam pewayangan.
Pendapat lain dikemukan oleh Hadi Soetrisno ( 1941 ). Dalam bukunya yang berjudul Serat Sastra Hendra Prawata dikemukan bahwa aksara Jawa diciptakan oleh Sang Hyang Nur Cahya yang bertahta di negeri Dewani, wilayah jajahan Arab yang juga menguasai tanah Jawa. Sang Hyang Nur Cahya adalah putra Sang Hyang Sita atau Kanjeng Nabi Sis ( Hadi Soetrisno, 1941 : 6 ). Disamping aksara Jawa, Sang Hyang Nur Cahya juga menciptakan aksara Latin, Arab, Cina dan aksara-aksara yang lain. Seluruh aksara itu disebut Sastra Hendra Prawata ( Hadi Soetrisno, 1941 : 3 - 6 )
Di kemukakan pula bahwa berdasarkan bentuknya, aksara Jawa merupakan tiruan dari aksara Arab, mula-mula aksara itu berupa goresan-goresan yang mendekati bentuk persegi atau lonjong, lalu makin lama makin berkembang hingga terbentuklah aksara yang ada sekarang ( Hadi Soetrisno 1941 : 10 ). Lebih lanjut dijelaskan bahwa Aji Saka yang dianggap sebagai pencipta aksara Jawa itu sebenarnya bukan penciptanya, melainkan sebagai pembangun dan penyempurna aksara tersebut sehingga terciptalah bentuk aksara dan susunan atau carakan ( ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya ) seperti sekarang ini ( Hadi Soetrisno, 1941 : 7 ). Terciptanya bentuk aksara dan carakan itu melibatkan kedua abdinya, Dora dan Sembada yang menemui ajalnya secara tragis.
Selian yang telah diuraikan di atas, ada dugaan bahwa kisah tragis Dora dan Sembada dalam legenda Aji Saka merupakan simbol perang saudara untuk memperebutkan tahta Majapahit. Perebutan ia mengakibatkan hancurnya kedua belah pihak, menjadi bangkai dengan ungkapan ma-ga-ba-tha-nga. Tentu saja kisah simbolik yang melahirkan aksara ha-na-ca-ra-ka itu muncul setelah hancurnya kerajaan Majapahit, antara abad XVI dan XVII ( Atmodjo, 1994 : 26 )
Dugaan lain adalah bahwa peristiwa tragis yang menimpa Dora dan Sembada merupakan simbol gerakan milenarianisme, yakni gerakan yang mengharapkan datangnya pembebasan atau ratu adil, dengan ungkapan ha-na-ca-ra-ka ( Atmojo, 1994 : 26 ). Namun kapan datangnya pembebasan dan siapa yang dimaksud dengan ratu adil, apakah Raden Patah yang berhasil naik tahta setelah Majapahit runtuh atau Sutawijaya yang mampu menyelamatkan negeri ( Pajang ) dari rongrongan Arya Penangsang ataukah tokoh lain, masih merupakan tanda tanya yang sulit untuk memperoleh jawaban secara ilmiah atau nalar.
Praduga-praduga di atas mencerminkan keragaman pendapat, keragaman itu sulit dapat timbul dari persepsi yang berbeda-beda sehingga sulit untuk menentukan persamaan waktu atas kelahiran ha-na-ca-ra-ka. Kesulitan itu dapat disebabkan oleh sifat legenda yang fiktif sehingga memungkinkan terjadinya perbedaan antara sumber yang satu dan sumber yang lain, sesuai dengan kehendak pengarang atau penulis masing-masing. Perbedaan praduga pertama ( Daldjoeni ) dengan praduga kedua ( dalam Serat Momana ) dan praduga ketiga ( dalam The History of Java ) misalnya terletakpada selisih waktu dua abad, sedangkan praduga kedua dengan praduga ketiga hanya mempunyai selisih satu tahun. Perbedaaan ketiga praduga tersebut akan lebih beragam jika menyertakan perkiraan hidup Aji Saka dalam Manikmaya, pendapat Warsito dan Hadi Soetrisno serta kisah-kisah simbolik di atas. Selain itu masih terbuka kemungkinan yang dapat menimbulkan perbedaan yang berasal dari teks-teks lain yang belum sempat diungkapkan di sini, termasuk misteri pencipta aksara tersebut.
Konsepsi secara Ilmiah
Kelahiran pada perkembangan aksara Jawa erat hubungannya dengan kelahiran dan perkembangan bahasa Jawa. Secara alami, mula-mula bahasa Jawa lahir sebagai alat komunikasi lisan pemakainya. Bahasa Jawa yang dilisankan itu, seperti bahasa ragam lisan pada umumnya, terikat oleh waktu dan tempat ( lihat Molen, 1985 : 3 ) untuk melepaskan diri dari keterikatannya, sesuai dengan pola pikir pemakainya dan sejalan dengan tantangan zaman akibat pengaruh lingkungan serta perkembangan ilmu dan teknologi, sarana yang nyata dan kekal, berupa aksara diciptakan. Aksara yang dipakai etnik Jawa muncul pertama kali setelah orang-orang India datang ke pulau Jawa. Diperkirakan bahwa sebelum itu etnik Jawa belum mempunyai aksara ( Poerbatjaraka, 1952 : vii ) sehingga masih berlaku tradisi kelisanan. Dengan munculnya aksara, mulailah tradisi keberaksaraan untuk menciptakan bahasa ragam tulis, meskipun tradisi kelisanan tetap berlangsung.
Hasil teknologi baru yang berupa tulisan memang memainkan peranan yangamat penting dalam sejarah manusia, dalam kehidupan sehari-hari di bidang ilmu pengetahuan, politik dan sebagainya. Ada perbedaan mendasar antara peradaban yang tanpa tulisan dan peradaban yang mempunyai tulisan ( Molen, 1985 : 3 ) peradaban yang mempunyai tulisan setidaknya mempunyai kelebihan setingkat lebih maju
uraian yang bagus tentang honocoroko,kebetulan dulu saya suka naik gunung lawu dan ketemu penganut kejawen dan
dikasih wejangan soal sastra jendra pangruwat diyu dengan
amalan honoroko dotosowolo monggobotongo….
ho–hono urip wening suci…..
suwun–darma
Heeee bener - bener cocok sekali makna tulisan jawa itu maknanya sejagad ya ha na ca ra ca …… kalo di lanjutin sama makna lir - ilir pas banget tuuu buat nyadari para koruptor biar sadar bahwa hidup ini adalah cuma dari Ha sampai nga dan tak lebih dari itu , seharusnya habis makna ha na ca ra ca …… dilanjutkan makna / arti lir - ilir mantep sekali tu ya heeeeee
Dan dengan memakai panduan huruf jawa, ada seorang kakek yang pernahsaya temui yang berprofesi sebagai tukang pijat yang bisa menebak sifat dan karakter seseorang dari namanya dengan menggunakan huruf jawa sebagai panduan, kombinasi nama seseorang dihitung berikut juga dgn hari seseorang itu lahir dan nama daerah tempat dia tinggal. lalu ada rumus baku yang dia pakai, maka hasilnya 100% tepat!!!.
menurut saya hal itu bukanlah hal yang mistis dan khurofat karena dia memakai rumus baku, jadi siapapun selama dia bisa paham rumus baku dan memakainya maka dia pun bisa mengetahui sifat dan karakter seseorang, berikut jalur kehidupan yang telah dia alami.
Mungkin sama halnya dengan menggunakan rumus matematika dan fisika. jadi tidak menyinggung wilayah aqidah.
tapi sayang saya lupa lagi rumusnya
[...] saya sekarang tidak hanya akan mencoba belajar tentang makna kehidupan saja karena ini lebih mengacu pada teori saja tetapi saya juga akan selalu berusaha untuk [...]
ooooowww gitu ya aq wong banjar mlh nembe ngrti tp gmn tentang pasangan huruf2 jawanya
Ngono yo ngono, ning mbok ojo ngono to mas… Etika penulisan iku kudu nulis sumbere soko endi, lha tulisanmu ora nganggo sumber babar blas koyo-koyone awakmu dewe sing dadi sumber !
Waktu aku kuliah S3 ning Malang tahun 2004, aku oleh tugas gawe tulisan bab Manajemen Indonesia, akhire aku nulis: “Manajemen Eling Lan Waspodo”. Bab-3 tulisanku kok japlak 100%.
Amargo tujuane awakmu gur kanggo nyebarake kawruh Jowo, aku melu seneng, tapi besuke, becik sumbere kok tulis yo… !
Salam, Edi Noersasongko
Buka kembali lembaran lama…
aku perlu sedikit data dari sini nih, kayaknya lagi perlu
gile baca 2 artikel dalam 1 postingan nih hehehe…
baca artikel ke-2 (red : komen 36) nyerah dech
@yoeni asri,
Keluhuran kebudayaan Jawa memang tidak bisa dinegasikan. Di Forum Religiositas Agama, saya menemukan artikel yang menarik sekali. Ini situsnya: http://hatinurani21.wordpress.com/
MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN?
Pengantar
Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).
Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)
Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:
- Bs. Belanda selama 300 tahunan
- Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan
- Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).
- Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.
- Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).
Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.
Gerilya Kebudayaan
Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:
- Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.
- Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
- Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.
- Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.
- Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.
- Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.
- Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.
- Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi p