Kenapa mesti (ke) Cina?
Senin, September 17, 2007 oleh deking
“Uthlubul ‘ilma walaw bishshiin”
(Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina)
[diriwayatkan oleh Anas bin Malik]
**************
[Jika ada yang merasa tersinggung dengan penggunaan kata "Cina" (bukan "China") maka saya mohon maaf dan silakan lihat bagian akhir tulisan ini]
**************
Terlepas dari perdebatan nilai kebenaran hadits tsb (shahih, hasan, dha’if atau bahkan mungkin maudzu), saya berusaha berpikir positif dan obyektif akan hadits tsb. Walaupun misalnya ternyata hadits di atas adalah hadits palsu (alias bukan perkataan Nabi Muhammad) menurut saya tidak ada salahnya menerapkan kalimat tsb, toch inti dari kalimat di atas tidak berkaitan dengan akidah melainkan merupakan nasehat untuk menuntut ilmu. Bukankah selama ini banyak di antara kita yang menuruti nasehat orang tua kita padahal orang tua kita bukanlah Nabi apalagi Rasul. Yang penting adalah apa isi nasehatnya kan? ![]()
Uppsss kok jadi ngelantur…
Lufakan sahaja ya ![]()
Sebenarnya inti tulisan saya bukan tentang hadits kok. Siapa sich saya kok berani-beraninya mengkritisi hadits?
Kali ini saya hanya berusaha menyoroti kenapa (dianjurkan) menuntut ilmu sampai negeri Cina. Kenapa mesti Cina?
Selama ini kita mungkin sudah mengetahui kalau beberapa bangsa yang terkenal maju dalam hal dalam ilmu pengetahuan adalah bangsa Yunani, Mesir dan Babilonia. Lalu bagaimana dengan Cina? Apakah bangsa Cina (kuno) telah mencapai kemajuan dalam hal ilmu pengetahuan (selain dalam hal konstruksi … tembok besar Cina)?
Mari kita cermati pencapaian bangsa Cina (kuno) dalam hal matematika, khususnya tentang teorema Pythagoras. Sebelum menulis lebih lanjut tentang teorema Pythagoras bangsa Cina (kuno), perkenankan saya untuk sekedar mengingatkan kembali tentang teorema Pythagoras, yaitu:
c2=a2 + b2
Teorema Pythagoras sebetulnya tidak ditemukan oleh Pythagoras, melainkan sudah ditemukan oleh matematikawan-matematikawan dari India, Yunani, Cina dan Babilonia. Pemberian nama “Pythagoras” untuk teorema tsb hanyalah karena Pythagoras-lah yang pertama kali mampu membuktikan kebenaran umum dari teorema tsb secara matematis. Sekarang kita mungkin sudah familiar dengan berbagai macam versi pembuktian teorema Pythagoras, tetapi mari sejenak kita lihat bagaimana bangsa Cina (kuno) membuktikan teorema Pythagoras. Pada periode antara 300 SM dan 200 M, bangsa Cina sudah menemukan dan membuktikan teorema Pythagoras.
Sebenarnya apa yang dilakukan oleh bangsa Cina (kuno) lebih pada “menunjukkan”, bukan “membuktikan” karena pembuktian versi mereka tsb tidak bisa digeneralisasikan. (Ingat pembuktian teorema Pythagoras yang berlaku general pertama kali dilakukan oleh Pythagoras). Bangsa Cina “membuktikan” teorema Pythagoras secara konstruksi visual dengan bantuan gambar. Untuk lebih jelasnya silakan lihat gambar berikut, tetapi sayangnya pada teks asli tidak terdapat penjelasan mendetail tentang pembuktian tsb.
Pembuktian di atas sebenarnya “hanya sekadar” menunjukkan kalau “Azure” dan “Red” jika digabungkan akan membentuk suatu persegi baru, yaitu persegi dengan panjang sisi sama dengan panjang hypotenusa (sisi miring) segitiga siku-siku. Ternyata jika bagian-bagian “Red remove (a dan b)” dan “Azure remove (c)” jika “dipotong” dan “ditempelkan” pada bagian “Red enter dan Azure enter” (a’, b’ dan c’) bisa membentuk suatu persegi dengan panjang sisi sama dengan panjang hypotenusa (sisi miring) siku-siku.
Apa yang dilakukan bangsa Cina (kuno) tsb sebenarnya kira-kira sama dengan pembuktian sederhana hanya sekedar menunjukkan akan jumlah besar sudut pada segitiga (Euclidian) sebesar 180o, seperti terlihat pada gambar di bawah:
Tapi benarkah apa yang dilakukan oleh bangsa Cina (kuno) tsb tidak bisa digeneralisasikan karena hanya berdasarkan permainan konstruksi saja? Mengingat tidak ada penjelasan mendetail pada teks aslinya maka mari sama-sama kita telusuri pembuktian tsb. Untuk mempermudah pembahasan selanjutnya, maka saya gambar ulang konstruksi gambar asli dari bangsa Cina tsb.
Untuk bisa meng-generalisasi-kan pembuktian tsb, maka kita harus bisa membuktikan secara matematis kalau segitiga A4C4O3 = segitiga B1C1O1; segitiga A1A2C4 = segitiga B3C3O2 dan segitiga B2B3O1= segitiga C3O2O3.
Karena pembuktian ketiga kesamaan bagian tsb mirip maka saya buktikan salah satunya saja, yaitu segitiga A1A2C4 = segitiga B3C3O2.
- Garis A1A2 sejajar dengan garis A3A4 dan kedua garis tsb dipotong garis C1C4 sehingga sudut A1A2C4 = sudut C4ZA4.
- Garis C1C4 sejajar dengan garis C2C3 dan kedua garis tsb dipotong garis A4C2 sehingga sudut A4C2C3 = sudut C4ZA4.
- Dari dua langkah di atas maka terbukti kalau sudut A1A2C4 = sudut A4C2C3.
- Secara analog kita akan mendapatkan sudut A1C4A2 = sudut O2C3C2.
- Panjang sisi A2C4 = panjang sisi C2C3.
- Karena kedua segitiga tsb memiliki ukuran sudut yang sama dan salah satu panjang sisinya sama maka kedua segitiga tsb kongruen, yaitu sama bentuk dan ukuran alias segitiga A1A2C4 = segitiga B3C3O2.
Secara analog kita akan bisa membuktikan kalau segitiga A4C4O3 = segitiga B1C1O1 dan segitiga B2B3O1= segitiga C3O2O3. Oleh karena itu kita bisa membuktikan kalau ternyata apa yang dilakukan bangsa Cina (kuno) memang benar-benar sebuah pembuktian yang bisa digeneralisasikan.
Terbukti kalau bangsa Cina (kuno) telah mencapai kemajuan yang cukup pesat dalam hal ilmu pengetahuan. Jadi memang tidak ada salahnya untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina kan?
CATATAN:
-
Saya mohon maaf kalau penulisan “Cina” salah karena saya pernah membaca perbedaan pendapat antara “Cina” dan “China” terkait dengan konotasi positif-negatif dari kedua istilah tsb. Sama sekali tidak ada maksud dari saya untuk merendahkan jika memang ternyata “Cina” memiliki konotasi negatif. Tapi jika ada yang merasa keberatan, maka saya siap untuk meralatnya.
-
Gambar pertama saya culik dari buku “A History of Chinese Mathematics” karangan Jean-Claude Martzloff.
-
Yang saya maksud dengan segitiga A1A2C4 = segitiga B3C3O2 adalah kedua segitiga tsb kongruen.
-
Yang saya maksud dengan Garis A1A2 adalah garis yang memuat/melalui titik A1 dan titik A2.






haiyah… *mumet warning applied
apalagi buat yg puasa tp nggak sahur
tp emang cina sekarang jd salah satu kekuatan ekonomi dunia lho bung Deking… tp produknya banyak yg ditolak AS, kenapa ya? *OOT bangjet
karna jaman dulu cina pinter banget haha mungkin ya
duh…matematika…males
bacamikir…tapi bisa dibilang karena di china itu pendidikannya sangat maju. sehingga akan lebih baik apabila menuntut ilmu ke negeri panda tersebut.
tapi saya sih kalau boleh milih, lebih prefer ke UK atau oz untuk menuntut ilmu hohoho…
* Mode ‘kurang konsentrasi’ is ON *
buka puasa pake kurma,kolak sedikit es,kacang mede,ice cream,semur j………L, nasi anget ,,,,wAH<<<<<
Ngilerrrrrrr……..
walah pusing aku bacanya.
tapi bukan cuma karena itu kan inti dari hadist tersebut, Cina dari dulu udah terkenal dengan ilmu bela dirinya dan ilmu pengobatannya
sekolah jauh2 ke negeri orang, belajar yg bikin pusing gini ya? ga rugi kalo gitu…..
satu kata
PUZIIING!!!
kalau dulu , cina paling top kali ya .jadi kita dianjurkan menuntut ilmu walaupun sampai ke negeri tersebut.
Sejak dahulu kala .. mereka sudah jago dalam berhitung. Salah satunya diterapkan dalam ilmu feng shui .. terbukti, penelitian deKing menyatakan bahwa sejak dulu Cina eh China eh .. RRC aja deh sudah maju sejak dulu.
sore…. jam 3.40… tunggu buka puasa…
baca postingan ini
ya Tuhan…. sudah lama sekali saya tidak belajar phytagoras…
*terduduk lemas*
cara menghitung menggunakan sempoa asalnya sebenarnya dari mana kang?
btw, Chinakan sudah dijelaskan juga bahwa zaman nabi juga china terkenal dengan ilmu pengetahuannya.
wajarlah sekarang (sebentar lagi) juga akan menjadi raksasa ilmu pengetahuan.
*Konslet*
———-
Cina itu memang diam - diam menghanyutkan, kira - kira produk “bajakan” di Indonesia itu hampir semuanya “Made in China”, lho.
bukannya tuntut ilmu sampe ke liang lahat ?
liang lahat di negeri cina ?
Uraian Pakde King makin menguatkan opini bahwa “Cina” memang memiliki peradaban tinggi. Terlepas dari itu, ada penafsiran “logika terbalik” yang terkandung di balik kalimat “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Menurut penafsiran saya, kalau boleh lho, Pak, penggunaan kata Cina bukan semata-mata menunjukkan aspek geografis, tetapi Cina di mata dunia dikenal sebagai yang khas dan unik –maaf sudah terstigma sebagai bangsa yang pelit dan kolot.
Maaf terpotong.
OK, salam
Mengapa kita mesti menuntut ilmu ke bangsa yang “pelit dan kolot”? Ini untuk memberikan dorongan spiritual kepada umat Islam bahwa menuntut ilmu itu lintaperadaban, lintasagama, lintaskultural, atau lintasbangsa. Jadi, kata “Cina” lebih saya tafsirkan sebagai kiasan ketimbang harfiah. Itu hanya kemungkinan dari penafsiran awam saya lho, Pak, hehehehe
cina atau china buat saya sama aja
beberapa media seperti Tempo nulisnya China. trus Detik dan Kompas nulisnya Cina. tp Jawapos malah nulisnya Tiongkok. so, buat saya gak masalah kok
Kemarin nonton dimaaanaa itu, ada kuburan pamannya Rasulullah di Cina.
Mungkin gak ada hubungannya dengan menuntut ilmu ke negeri cina, tapi… ya itu menunjukkan bahwa berjalan jauh itu memang baik, banyak pengalaman.
Kalo kata pepatahnya sih, “Jauh berjalan banyak dilihat”
Lagian kalo Cina itu memang mesti diakui sebagai salah satu kebudayaan tertua dengan peradaban yang sudah maju dulunya
rumusnya banyak…
palaku mumet…
mendingan tidor aja ah…
*absen dolow om*
Hadis aja disambungin sm matematika??!!
Terkontaminasi racun thesis!!
bangga juga jadi cina
walaupun kurang berilmu
hiks,,hiks
@ ‘K,
Lho? Memangnya selama ini ndak bangga?
Mesti bangga jadi apapun, karena “menjadi” secara takdir itu bukan pilihan kita dari dulu. Kalo ada yang ngolok-ngolok itu sama artinya ngejek pilihan Tuhan
Lagian… ilmu bisa dicari kok
bahas tentang hadistnya aja ah…..
Maksudnya ke cina itu bukannya berarti ke tempat yang jauh pak de?
njlimet..bin mumet secara alam pikiran saya yang kebanyakan buka puasa…tapi hari ini buka saya diawali denga kuweh lupis…ada hub dgn postingan ini sama2 segitiga…wakakaka
maaf mas, hadits itu artinya :
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”
atau
“Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”
kalau terjemahan bahasa indonesianya adalah yang pertama, hadits tersebut bisa diartikan sebagai anjuran untuk menuntut ilmu kenegri cina ( secara harfiah ), negeri yang unik, seperti kata pak sawali, dan negeri yang sudah maju pesat ilmu pengetahuannya seperti kata mas deking. yang ditunjukkan oleh teorama om pitagoras diatas.
tapi, kalau terjemahannya itu adalah yang kedua, saya lebih memahaminya sebagai kiasan . dan bukan anjuran . bahwa manuntut ilmu itu dapat dilakukan dimana saja. tak dibatasi oleh ruang
maaf pak bahasa arab saya payah emang. tapi apapun itu, menuntut ilmu emang wajib ya pak?!
Menurut saya, saya lebih setuju dengan yang sudah dikomentari, yaitu kiasan. Agar manusia tak terkukung di satu tempat saja.
Kedua, menurut tulisan anak ini… Ah, sudahlah. Saya lebih suka memakai kata Tiongkok. RRT, Republik Rakyat Tiongkok. Karena bagi saya, penggunaan Cina memang terkesan… (ah, baca saja tulisan itu).
Peace!
@ALL:
Pertama saya ingin menyampaikan bahwa tulisan saya ini bukanlah membahas hadits tsb di atas secara tekstual atau tersurat. Sejujurnya saya adalah orang yang tidak suka memahami hal2 terlalu secara tersurat, saya lebih menyukai untuk memaknai hal2 secara tersirat bahkan untuk sesuatu yang sudah jelas tersurat pun biasanya saya obrak-abrik untuk mencari makna tersuratnya
Kenapa saya mencantumkan hadits tsb dalam tulisan saya ini?
Mungkin bagi yang suka mengamati tulisan2 matematika saya (bukan tulisan umum) secara teliti maka akan memahami style saya yang suka menggunakan intro secara agak memaksakan.
Begitu juga pencantuman hadits tsb tidak lain hanyalah sekedar sebagai intro tulisan saya. Inti tulisan saya kali ini adalah berbagi informasi tentang pencapaian ilmu pengetahuan yang dicapai oleh bangsa Cina kuno. Selama ini yang sering dibahas adalah pengetahuan orang2 Babilonia, Mesir dan Yunani. Oleh karena itu saya kali ini ingin berbagi informasi bahwa bangsa Cina kuno juga tidak kalah dalam hal pengetahuan.
Mengenai hadits tsb di atas, saya SANGAT SETUJU untuk tidak menanggapinya secara tersurat melainkan secara tersirat untuk memaknai secara kiasan.
Hadits tsb menunjukkan kalau menuntut ilmu tidaklah dibatasi oleh dimensi ruang (baik ruang fisik berupa tempat secara geografis, maupun ruang dalam artian lebih luas yang bisa berupa “ruang suku bangsa”, “ruang kebudayaan” dll)
Kalau boleh saya tambahkan (keluar dari konteks hadits), menurut saya menuntut ilmu tidak hanya bebas secara dimensi ruang tetapi juga tidak terikat pada dimensi waktu. Bahkan keterbatasan dimensi ruang pada suatu waktu akhirnya bisa ditembus karena ketidakterbatasan dimensi waktu.
Contoh:
Pada tahun 2000 saya tidak bisa menuntut ilmu di tempat X (berarti pada waktu tsb dimensi ruang saya untuk mencapai tempat X tsb terbatas).
Tetapi pada tahun 2007 ternyata saya bisa menuntut ilmu di tempat X tsb. Nah berarti keterbatasan dimensi ruang saya pada akhirnya bisa ditembus oleh keluasan dimensi waktu yang saya miliki.
hehehehehehehe
[...] ttg sejenis atau ttg Ramadhan. antobilang chikastuff deking manusia super die4pleasure peyek extrememusmilitis [...]
@Arya:
Yupzx…Cina memang menjadi salah satu raksasa ekonomi.
BTW kok gak hetriks?
@Anang:
Mungkin juga
@cK:
Halah … OZ terus yang diomongin
@Baliazura:
Waduch malahan pamer makanan
@Ayahshiva:
Yupzx… yang namanya ilmu kan memang sangat luas, tidak hanya ilmu pengetahuan seperti matematika atau teknologi saja. Bela diri dan pengobatan juga merupakan ilmu juga
@Venus:
Hehehehe …
Ya jelas ga rugi, lha gratisan jé
@May Airinn:


Pusing? Listrik mati lagi ya hehehe
@Bachtiar:
Mungkin …
@Erander:
Yupzx…. bangsa yang terletak di lembah sungai Kuning ini memang merupakan salah satu bangsa yang memiliki peradaban tinggi sejak dulu.
@Itikkecil:
Ngabuburit sambil belajar matematika saja ya
@HarySMK3:
Secara jujur saya tidak tahu secara pasti asal-usul sempoa. Tapi di buku yang saya baca sempoa sudah ada sekitar tahun 300M di Cina
@Arul:
China memang sudah maju sejak dulu
@DB:
Kok sering banget korslet? Coba perbaiki sambungan kabelnya
Jadi ingat salah satu hasil karya teman saya di sini. Teman saya membuat hasil karya seni berupa gambar bumi dengan tulisan “Made in China”
@Funkshit:
“Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai liang lahat” setahu saya merupakan hadits yang lain dari hadits yang saya pakai dalam tulisan ini.
@Sawali Tuhusetya:
Setuju Pak, mengenai alasan saya mencantumkan hadits tsb ada pada tanggapan komentar saya yang “@ALL”
@Arya:
Sayangnya tidak semua orang seterbuka Anda bung. Banyak orang yang mempermasalahkan antara China dan Cina.
@Alex:
Asal jangan jauh berjalan di Red Light District saja ya. Bisa-bisa puasa langsung batal 7 turunan kekekekekek
@Almascatie:
Oii bangun, nanti telat sahur lho …
@COTS:
Hadits tsb di atas hanyalah sekedar intro untuk pembahasan utama saja.
@’K, :
Lho? Kita harus bangga dengan diri kita sendiri. Kalau bukan diri kita yang bangga akan diri kita sendiri, lalu siapa lagi yang akan bangga dengan kita hehehehe
@Alex:
SEPAKAT!!!
@Danalingga:
Setuju Oom. Mengenai alasan pencantuman hadits ini sudah saya sebutkan pada tanggapan komentar pertama yang “@ALL”
@Regsa:
Waduch mentang2 sudah buka ya
@Tan Andalas:
Pertama terima kasih atas ralatnya. Saya ketinggalan “walau” … kelupaan
BTW mengenai kenapa saya mencantumkan hadits ada di tanggapan komentar yang “@ALL”.
Saya setuju jika makna hadits tsb adalah bahwa menuntut ilmu tidak terbatasi dimensi ruang, bahkan menurut saya juga tidak terbatasi oleh dimensi waktu.
@Rozenesia:
Hehehe memang saya juga tidak memahami secara tekstual kok. Alasan saya ada di komentar “@ALL”
good start for the fisrt task bro
ech sampe salah tulis…..
the ‘first task’ maksudnya, hehehehe
Cina dalam hadis itu kekna punya dua esensi. Satu jarak, kedua bahwa menuntut ilmu di luar dunia Islam pun dianjurkan.
Nabi memang figur yg sangat terobsesi dgn pendidikan. Dia kan pernah jg–ini pun harus ditelisik keshahihannya–setetes tinta seorang pelajar lebih berharga dari tumpahan darah para syuhada.
Sori, sok beropini on my 1st comment. Salam.
Ini mah “Teorama Deking van de Dreef”
Teorema Deking van de Dreef sebetulnya tidak ditemukan oleh Deking van de Dreef, melainkan sudah ditemukan oleh matematikawan-matematikawan bangsa Cina (kuno). Pemberian nama “Deking van de Dreef” untuk teorema tsb hanyalah karena Deking van de Dreef-lah yang pertama kali mampu membuktikan kebenaran umum dari teorema tsb secara matematis.
Sekarang kita mungkin sudah familiar dengan berbagai macam versi pembuktian teorema Deking van de Dreef diblognya yang ruaaar biasa, tetapi mari sejenak kita lihat bagaimana bangsa Cina (kuno) membuktikan teorema Deking van de Dreef. He he…
(Seumpama beneran bisa pergi ke negeri Cina, mas Deking sajalah yang menuntut ilmu, saya mah cuma pengin ketemu putri huang zhou aja)
He he he….
@ undercover
Errr… Putri Huang Zhou yang dikenal cantik itu, ya?
Kalo itu saya juga mau donk ketemu atau kencan
knapa musti ke cina?
aku ingat kata ustadz saya, pada zaman Rasulullah SWT, Cina adalah negeri yg paling jauh (menurut org arab), Cina juga ilmu pengetahuannya bagus, begitu lah…
Uje juga pernah bilang, knapa Cina? peradabannya bagus, contohnya busana cina (yang perempuan), walau tanpa penutup kepala, tapi busana tertutup kan? lengan panjang, selain itu saya lupa…
@Kang Hasan
Meski tertutup, busana (tradisional) wanita Cina itu itu ketat lo, Kang. Saya malah suka gimanaaa gitu ngeliatnya. (Atw emg dasar viktor kali ya…
@ mas Alex
Yup, butul mas Alex, saya juga pengin liat pedang pembunuh naga, to liong to itu lho mas, he he… yang pusing2 biar jatahnya mas Deking aja. Saya nggak ikutan, soalnya hidup terlalu singkat kalo cuma untuk berpusing2, he…
OOT
@ rozenesia
iya, anak itu… *ngikik*
imsakkkkk……imsakkkkk……imsakkkkk……
uhmmm di cina dah imsyak belom yah
eh OOT yah….
*kaburrr*
mungkin karena dulu cina itu paling yahud.
tapi maksudnya kita sebenarnya dianjurkan untuk mencari ilmu seberapa jauh ilmu itu berada . walaupun harus menyusup ke negeri orang . hoho…….
carilah ilmu sampai ke negeri belanda .
walah postingannya mantab. Saya sih ga ada niat ke Cina euy.
Penemu mesiu juga ahli-ahli dari China… Nenek moyang kita konon ada pula keturunan China bagian Selatan, Yunan. Tapi ilmu kepinterannya kok nggak nurun yah..?
Dalam hal ini kita bisa memanfaatkan dua aliran interpretasi “nash” yaitu : Tafsir Literal vs Tafsir Kontekstual. Dalam kaitannya dengan penafsiran kontekstual ada cabangnya yang disebut dengan hermeneutika, lalu… apalagi ya ..
#Pengantar di atas sok aja, sok ahli tafsir#
Tetapi ternyata berdasarkan komentar teman2 di sini yg sempat saya scan, bunyi hadist di atas bisa2 saja difahami baik secara literal maupun kontekstual-nya, [mnurut saya] sama benar.
Literal : Cina atau china ternyata sedari dulu sampe sekarang memang salah satu gudang ilmu dunia.
Kontekstual : Tetapi tidak menuntut ilmu di cina atau china bukan berarti kita gak nyunnah, karena substansinya adalah menuntut ilmu boleh dimana saja bahkan sampe ke negeri china pun boleh atau bisa saja.
Kesimpulan :
Ternyata dikotomi tafsir literal dan kontekstual dapat benar secara bersama2. Ini contoh yang baik untuk mengatakan : Kenapa kita tidak gunakan saja keduanya bersama2.
#Kesimpulan OOT ya, sorry pak…#
Test… 1 2 3
dari cina saya malah suka kisah2 silat saolin nya..
, karya kho ping hoo… yang saya tangkep sih nilai2 kehidupannya bisa dipahami… walau sulit diterapkan.. terdapat banyak filosofi kehidupan… haduh kok jadi nglantur..
ya intinya : belajar itu dari sapa saja.. toh imam syafi’i pun menjadikan seorang pemelihara anjing menjadi gurunya (kalau gak salah )
Pak deKing napa neh… kalo saya komen agak panjang gitu ditolak terus sama Akismet atau apa sih namanya…
Emang gak boleh ya panjang2…
Rasanya gak panjang banget seh…
yg saya tau Azura itu adiknya Pangeran Zuko
pangeran dari bangsa Api yg diusir ayahnya di pelem Avatar
saya juga pengen ke cina
buat ktemu
cecepetemen cetingya… ya… saya mengerti…
Dalam hal ini kita bisa memanfaatkan dua aliran interpretasi “nash” yaitu : Tafsir Literal vs Tafsir Kontekstual.
Tetapi ternyata berdasarkan komentar teman2 di sini yg sempat saya scan, bunyi hadist di atas bisa2 saja difahami baik secara literal maupun kontekstual-nya, [mnurut saya] bisa sama benar.
Literal : Cina atau china ternyata sedari dulu sampe sekarang memang salah satu gudang ilmu dunia.
Kontekstual : Tetapi tidak menuntut ilmu di cina atau china bukan berarti kita gak nyunnah, karena substansinya adalah menuntut ilmu boleh dimana saja bahkan sampe ke negeri china [sama sekali] pun boleh atau bisa saja.
Kesimpulan :
Ternyata dikotomi tafsir literal dan kontekstual dapat benar secara bersama2. Ini contoh yang baik untuk mengatakan : Kenapa kita tidak gunakan saja keduanya bersama2.
#Tenyata gara2 kesimpulan OOT, sorry pak…#
#48
Setelah diedit2 berhasil juga …
Napa ya ?
Hampir saja batal puasa…
Ah, nggak dong…
@deking
hetrik itu ferbuatan syaiton
*kabuuuuuuuuuuurrrrrrr
@caplang
iya trus kemudian Pangeran Zuko yg terbuang memburu si Aang the Airbender bersama pamannya
@Neni Mariana:
What task?
@NesiaWeek:
Setuju Mas, seperti dalam tanggapan komentar saya di atas. Menuntut ilmu itu tidak terikat dimensi ruang dan ruang itu tidak hanya secara geografis saja tetapi bisa juga “ruang suku bangsa” dan “ruang kebudayaan”
@Undercover:
Bagaimana kalau dibalik mas? Saya yang ketemu Putri Huang Zhou dan Mas Heri yang menuntut ilmu
@Alex:
Heh…suit dulu dunk. Yang menang yang boleh ketemu sama tuch Putri
@Kang Hasan:
Ya, mungkin karena kemajuan peradaban yang sudah dicapai Cina itulah yang mnjadi alasan
@NesiaWeek:
Hayo…mikirin apa nich
@Undercover:
Pedang pembunuh naga? Hahaha saya juga suka tuch
@Antobilang:
ya ya ya … sama2 tau siapa tuch anak
@Almascatie:
Di Cina sudah buka tuch
@Bachtiar:
Tuntutlah ilmu sampai (negeri) Tegal
@Roffi:
Niatnya ke Jepang ya Kang? hehehe
@Thamrin:
Mungkin ilmu kepinterannya jatuh di laut waktu dalam perjalanan Pak
@Herianto:
Membaca awalan komentar Pak Heri saya secara spontan langsung berencana mengajukan usul berupa suatu PERPADUAN. Tapi ternyata apa yang saya pikirkan tsb sudah Pak Herianto cantumkan di bagian akhir komentar:
Setuju saja lah
@Dobelden:
Iya benar mas … bahkan kita juga menuntut ilmu dari benda mati. Misalkan (filosofi) air.
@Herianto:
Komentar ini sudah saya tanggapi langsung di blog Pak Herianto
@Caplang:
Kalau mau kopdar di Cina jangan lupa ajak2 ya Bro
@Arya:
Lha … emang antum bukan syaiton?
*menunggu Arya melakukan hetriks*
“Kalau boleh saya tambahkan (keluar dari konteks hadits), menurut saya menuntut ilmu tidak hanya bebas secara dimensi ruang tetapi juga tidak terikat pada dimensi waktu. Bahkan keterbatasan dimensi ruang pada suatu waktu akhirnya bisa ditembus karena ketidakterbatasan dimensi waktu.”
Emang ruang dan waktu ada????
*bikin rusuh niy*
[Ngangguk-ngangguk sambil pegang janggut mode: ON]
Peradaban tinggi Cina boleh jadi menjadi salah satu pertimbangan.
Cina atau China hanya sebuah nama, gw sih cuek aja…
Cina memang punya teknologi hebat, sampai bisa bikin Amerika takut thd Naga Tidur tsb. Soalnya pesawat Stealth kebanggaan Amerika bisa dideteksi oleh Cina.
Mungkin kalau Soekarno tidak lengser
gara2 those fucking American politiciansmaka negeri ini akan jauh lebih baik dari sekarang ini baik dari segi ekonomi maupun teknologi… (lha kok jadi OOT hehehe….)hiks,
yang dibahas ilmu matematik, kok komen-komen-nya bisa dikategorikan ke ilmu sosial semua tha ???
* 
*ngelirik komen-komen nun diatas sana
“Uthlubul ‘ilma walaw bishshiin”
(Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina)
[diriwayatkan oleh Anas bin Malik]
itu bukan hadits…
coz sanadnya ndak ada
kamu kan memang suka memaksa. contohnya, memaksa anto jadi istrimu. gyahahahahaha
*ngakak baca komen diatas*
@ kang mas arya
kok kangmas tega2nya sih menuduhku menikah dengan deking? kamu tau kan bagaimana perasaanku padamu?
*kerasukan jin almascatie*
Sejarah bisa dibolak-balik om, yang penting pemaknaannya saja…
*berusaha dengan keras untuk memahami*
*sial, matematika memang sulit*
dan akhirnya tidak bisa mengomentari….
*maaf komentar sampah*
Wah sahur sambil belajar matematika neh aku, langsung kenyang
@CY
“Mungkin kalau Soekarno tidak lengser gara2 those fucking American politicians maka negeri ini akan jauh lebih baik dari sekarang ini baik dari segi ekonomi maupun teknologi… (lha kok jadi OOT hehehe….)”
PKI ya!?? mo merusak NKRI ya!!?? *laporin CY ke petrus*
@mas deking
*BZZTTT….GRRTTAAK…DUARRRRRRRRR*
ups otak saia pecah…
*OOT Mode ON*
“Karena kedua segitiga tsb memiliki ukuran sudut yang sama dan salah satu panjang sisinya sama maka kedua segitiga tsb kongruen, yaitu sama bentuk dan ukuran alias segitiga A1A2C4 = segitiga B3C3O2…”
lalu hubungannya dengan mainan-mainan cina yang ditarik dari toko-toko itu bagaimana?
mungkin karena kebanyakan toko dimiliki oleh orang Tiong Hoa…
permisi… ada pe-er buat anda di sini
selamat mengerjakan
sebaiknya sih untuk merujuk ke bangsa yang ada di RRC sana memakai kata China (bukan Cina), setidaknya itu yang official dipakai oleh pemerintah Indonesia. Hanya saran loh
astagfirullah, saya sedih ketemu rumus-rumus yang saya benci waktu sekolah
hiks hiks
saurrrr…….saurrrr
daripada mumet nyawang rumus mending nyampah saja afhh..
@Hoek
Ooo…. rupanya petrus itu setiran America ya ….
*elus2 jenggot*
Btw gw kan bilang Soekarno bukan PKI, jadi menurut persepsi anda Soekarno itu = PKI ya?? Berarti putrinya juga ada cap PKI di katepe-nya ya?? Tapi kok bisa jadi Presiden ya?? hmmm….
*Laporin Hoek ke Megawati Soekarnoputri*
ewh… bapak,, saia blum buka..
shaumna fnuh lowh… ga pake shaum bedhug
jadi… suplai otak kurang buat baca tulisan bapak…
afwan pak,,, saia fushing tujuh khelilhing…
uwh ewh hewh hffff… bulb bulb…
Setelah melihat komen2 di sini, menyadarkan saya kalo banyak orang yang malas bersentuhan dengan mate matika. Sehingga menjadi ignore terhadapnya.
Matematika…rumus…
*Puyeng
Tpi knp yach kl ngomongin ttg cina/china kdg suka jadi SARA
sechanTpi knp yach kl ngomongin ttg cina/china kdg suka jadi SAR
Kenapa, Ina?

Karena doktrin yang meluas paska 1965 kah?
kenapa cina?
mungkin makna sebenarnya adalah boboroknya pendidikan di negeri ini
hm…
saya kok tiba tiba mumet baca ini ya?
untunglah…tidak seperti bunyinya:
bisa kita bayangkan akibatnya?
eh ada yang niat bahas kata “walau” nya gak ? opo artine cuma “meski sejauh” atau ada makna lain ?
Teori pitagoras aduuh ini dia teori yang membuat pitak kepala….. btw, saya setuju menerjemahkan kata2 bagus meski bukan shoheh aapalagi yang maudu.. asal tidak menyimpang dari akidah yang penting…
kadang kita alergi dengna kata2 nabi: soheh gak, hasan enggak padahal gak ngerti apa itu soheh dst…. berdsarkan ilmu mustolahul hadtis…..
sementara jika Eistein dan para filosof bicara, lihatlah kutipan itu tidak pernah diperdebatkan…….. jadi amin2 saja bahakn menjadi teori yang amat sangat dibanggakan…. sementara hadits tentang perbedaan traweh saja sampai sekarang satu sama lain saling meng xxxxxx ….
mantap mas bahasannya… dapat ilmu baru tentang Pythagoras…. tapi paling banter aku bisanya bikin pita goresss deh..
Mie Goreng
Tak terbayangkan sebelumnya, mie goreng itu selalu menjadi salah satu menu utama sarapan. Hidangan ringan menyenangkan ini sudah cukup efisien untuk untuk dicerna menjadi kalori dikeluarkan tubuh berupa energi.
‘Pencernaan’ menu umum yang khas Cina ini, memaksa kita untuk mengapresiasi kemudian mengakui ‘Tionghoa’ sebagai referensi kulinari dan rujukan ilmu bela diri.
Kalaupun keberadaan hadits dhoif ‘utlubil ilma walau bissin’ benar adanya sebagai hadist bukan dari Nabi ( akal-akalane ulama), kandungan isinya pasti lebih dari sekedar Nabi memerintah ‘belajar masak mie dan membela diri’.
Karena Cina sudah jauh dikenal sebelumnya akan filosofi peradabannya, seni budayanya, dan akidah ke’Islamannya’. Tao, Yin-Yang tak perlu dijelaskan, saya takut dan tak ingin memunculkan kesan ‘Islam agama saduran*’. Ini murni imaji liar (dzon) yang memperdayai sisi jahat pemikiran. Tapi karena memang sebagian besar kosmologi Islam mengingatkan kita akan kosmologi Cina. Tao dengan wajah Yin-Yangnya adalah Taichi yang tak lebih merupakan Shidratul Muntaha Confucius sendiri yang mengatakannya. Bukannya saya menyandingkan memberi ‘wajah lain Islam’ tapi benar kalau Nabi memerintahkan berburu ilmu ke Cina bukan ke negeri asalnya tapi ke Dia ‘kota ilmu’ lewat Ali sebagai gerbangnya, karena di dalam Islam ternyata ‘Cina’ ada disana. Lebih dari itu, universalitas bawaan Islamlah yang menyadur, menyepuh, menggubah dan menyempurnakan lengkap dan meliput segala ajaran dan jurusan.
Menjurus ke Ilahian (ke kebenaran) banyak dan beragam cara sebagaimana aneka menu makanan bervariasi tapi tetap satu tujuan (God as a goal) is like to eat is to be Full. Mie dengan panjang dan zig-zagnya tak hanya menawarkan aroma serta rasa tapi selera perenungan (taste to illuminate), sedang capaian Ilahi mengantarkan pada tangga titian gapaian (stairway to God). Keduanya menyublim saling mencerahkan: dirasa lidah, direkam otak, ditampung perut dan dicerna hati yang berfikir (qolbun ya’qil).
* Sadur -pb kelihatan, keadaan (maksud tabiat) yang sebenarnya.
Menyadur-menyusun kembali tanpa merusak garis besar isinya. mengolah (hasil penelitian, laporan) mengikhtisarkan.
Saduran -hasil menyepuh (sepuhan) menggubah (gubahan)
ringkasan, ikhtisar, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi tiga, hal, 976 Jakarta: Balai Pustaka
gak ngerti deh…
Memang hadist tsb hadist palsu, yang shahih adalah : Aku adalah kota Ilmu dan Ali adalah Pintu gerbangnya. Mengherankan kalo Nabi menyuruh cari ilmu ke negeri cina padahal kota ilmu adalah dirinya sendiri. Tapi kita muslim harus hati2 karena banyak ayng meplesetkan “hadist” tsb, dengan mengubahnya menjadi : Crailah ilmu ke negeri cina, bahkan ada yang menulis : Inilah negeri yang direkomendasikan Nabi untuk mencari ilmu, se-olah2 Nabi mewajibkan muslim cari ilmu hanya ke cina. Ini perang urat syaraf, muslim harus cerdas untuk tidak bersikap inferior, untuk tidak ngeper oleh hegemoni orang lain. Bahkan sekarang sejarah juga sedang diubah, kata mereka wali songo semuanya orang cina, Islam masuk indonesia bukan dibawa orang Gujarat tapi orang cina yang sebarkan Islam di negeri kita. Ada apa media ngotot amat mau ubah sejarah denga mendongkrak hegemoni negeri Tiongkok itu???? Ada apa dibalik ini semua????? Hati2 saudaraku, jangan terjebak, setelah dikangkangi kuasa yahudi janganlah lagi inferior oleh golongan ya’juj ma’juj. Muslim mesti bangga jadi muslim, kejayaan pernah dialami umat muslim ini, meski kita ahu di Tiongkok sana juga banyak muslimnya, tapi yang pegang kuasa ekonomi regional bukanlah Tiongkok muslim. Yang jelas, muslim Tiongkokmtidak akan coba ubah “hadist” maupun ubah sejarah Islam.
Apakah anda tahu kalo Tiongkok banyak belajar dari Mesir?? Negeri Tiongkok yang anda bangga-banggakan sebagai makhluk serba pintar, asalnya hanyalah golongan manusia barbar yang suka bertempur sesamanya, suka saling serbu dengan bangsa2 sekelilingnya, sampai Dzulkarnain asal Mesir datang, memimpin mereka dan mengajarkan mereka menjadi beradab. Negeri Tiongkok memang sudah panjang sejarahnya, tapi belum apa-apa dibandingkan denga Mesir, Babylonia, Assyria, dll. Jangan terlalu agungkan, atau pas-paskan yang ditulis orang tentang cina dengan Islam. Ingat lho, meski Chen Ho Muslim, tapi jangan lupa, konon meski katanya kuil sampokong itu dulunya masjid, toh sekarang jadi klenteng dan ad patung chen ho yang dijadikan dewa.