Bagaimana kita tahu dan bagaimana kita tahu kalau kita tahu ?
Ada yang mau menjawab pertanyaan tersebut?
Kalimat di atas hanyalah sekedar intro dari sedikit cerita tentang Munchhausen Trilemma. Ya, kalimat di awal tulisan ini adalah contoh dari regressus ad infinitum yang merupakan salah satu dari Munchhausen Trilemma alias insoluble trilemma. Munchhausen Trilemma adalah tiga hal yang menjadi penyebab tidak mungkin-nya dilakukan pembuktian the true truth atau kebenaran sejati dari suatu hal, baik secara logika-matematika atau metode lain. Adapun ketiga Munchhausen Trilemma alias insoluble trilemma tersebut adalah:
- Dogmatism
- Regressus ad infinitum (infinite regression)
- Petitio Principii
****************
1. Dogmatism
Secara sederhananya dogma merupakan suatu doktrin atau kepercayaan yang tidak boleh diragukan kebenarannya. Biasanya dogma dikeluarkan oleh agama, ideologi-kepercayaan maupun organisasi kuat dimana semua umat atau pengikutnya benar-benar harus menaati dogma tsb.
Dari definisi dogma tersebut sepertinya sudah cukup jelas kalau pembuktian kebenaran sejati bisa dikatakan sebagai suatu hal yang mustahil karena dogma sudah dianggap sebagai kebenaran sejati itu sendiri.
Berhubung dogma menyangkut suatu agama atau ideologi maka maaf jika saya tidak bisa memberikan contoh dari dogma.
Lalu kenapa (harus) ada dogma? –> jangan anggap serius pertanyaan ini beserta jawabannya
Dogma (mungkin) dilahirkan sebagai salah satu upaya pengikatan dan pemaksaan kepada pihak lain demi mempertahankan dan menguatkan eksistensi diri sendiri. Ya … sepertinya dogma muncul dari rasa takut manusia. Rasa takut akan “kematian” eksistensi (bagian) dirinya.
****************
2. Regressus ad infinitum
Secara etimologi regressus ad infinitum adalah:
Regressus (Philosophy) is a series of statements in which a logical procedure is continually reapplied to its own result without approaching a useful conclusion.
(MSDict Oxford English Dictionary version 2.11.0 special for Symbian OS™)
Sedangkan infinitum atau infinite memiliki arti tidak berhingga.
Jadi secara sederhananya regressus ad infinitum adalah suatu rangkaian (tak berhingga) pernyataan dimana hasil prosedur logika diterapkan ulang pada setiap masalah sebelumnya.
Mmmm bingung ya? Kalau tidak ya syukur tapi kalau bingung ya sama
OK saya ada tawaran lain dari definisi regressus ad infinitum tsb, yaitu:
Regressus ad infinitum adalah suatu upaya pemecahan masalah dimana masalah yang sama (yaitu masalah yang ingin dipecahkan di awal) ditawarkan sebagai solusi dari masalah itu sendiri.
Contoh regressus ad infinitum:
-
Bagaimana kita tahu dan bagaimana kita tahu kalau kita tahu
-
I need an introduction to introduce the introduction and another introduction to that introduction
Kalimat di atas merupakan regressus ad infinitum karena “solusi” dari permasalahan “(bagaimana) kita tahu“ adalah “masalah” itu sendiri, yaitu “(kalau) kita tahu“. Jadi dalam hal ini kita tidak dapat membuktikan “kebenaran sejati” dari pernyataan tsb karena “solusi” yang ditawarkan itu sendiri masih berupa “masalah” yang harus dipecahkan.
Sama halnya dengan contoh pertama, pada contoh kedua ternyata introduction yang sebenarnya merupakan “masalah” yang ingin dipecahkan justru ditawarkan sebagai “solusi” dari introduction itu sendiri.
Lalu kenapa ada regressus ad infinitum? –> mohon jangan anggap serius pertanyaan ini beserta jawabannya
Ah sepertinya regressus ad infinitum hanyalah merupakan perwujudan (atau cerminan ya?) dari sifat keragu-raguan (dan kemunafikan?) manusia. Coba kita lihat saja…masak masalah yang ingin dipecahkan malahan dijadikan sebagai solusi.
****************
3. Petitio Principii
Petitio principii sering juga disebut sebagai circular argument, yaitu dimana pengambilan kesimpulan dari suatu argumen hanya didasarkan pada satu premis saja. Pada petitio principii biasanya bukti pendukung (dalam pengambilan kesimpulan) sebenarnya hanyalah pernyataan ulang dari argumen awal (dasar?) sehingga pada akhirnya hanya akan terbentuk suatu lingkaran atau circular argumen.
Contoh Petitio Principii:
-
Pokoknya™ hanya pendapat kami-lah yang benar karena pendapat-pendapat yang lain salah
-
If a smoker wants to quit, all they need is will power and a desire to quit! (diambil dari wikipedia)
Sama halnya dengan contoh pertama. Pada contoh kedua ini bukti pendukung yang berupa “will power and a desire to quit“ hanyalah merupakan pernyataan ulang dari argumen dasar yang berupa “wants to quit“.
Argumen dasar dari kalimat di atas adalah “Pokoknya™ hanya pendapat kami-lah yang benar“ sedangkan bukti pendukung untuk pengambilan kesimpulan adalah “karena pendapat-pendapat yang lain salah“. Sangat jelas terlihat kalau bukti pendukung “karena pendapat-pendapat yang lain salah“ hanyalah merupakan pernyataan ulang dari argumen dasar “Pokoknya™ hanya pendapat kami-lah yang benar“.
Lalu kenapa ada petitio principii? –> Lagi-lagi jangan anggap serius pertanyaan ini beserta jawabannya ![]()
Mungkin saja petitio principii hanyalah merupakan perwujudan (atau cerminan ya?) dari egoisme (dan kekeraskepalaan) manusia karena pada petitio principii pengambilan keputusan hanya didasarkan pada satu premis sudut pandang saja yaitu dirinya sendiri dan bukti pendukung yang ada pun diambil dari sudut pandang sendiri. Ah egois sekali ya…
***********************************************************
Ternyata Munchhausen Trilemma alias insoluble trilemma merupakan cerminan dan perwujudan sifat manusia juga ya…
- Dogmatism —> KETAKUTAN
- Regressus ad infinitum (infinite regression) —> KERAGU-RAGUAN (dan KEMUNAFIKAN?)
- Petitio Principii —> EGOIS dan KERAS KEPALA
Kalau ada yang tidak setuju dengan simpulan saya di atas ya silakan. Lha saya ini juga menyimpulkannya secara ngawur kok
Apa yang saya lakukan hanyalah sekadar ingin melihat Munchhausen Trilemma dari sudut pandang saya sendiri, yaitu mengaitkannya dengan sifat manusia.
Eh ketakutan, keraguan (dan kemunafikan) dan egois itu bisa dikaitkan dengan nafsu atau tidak ya?
Kalau begitu mari kita lebih mengendalikan nafsu kita di bulan Romadhon. Selamat beribadah puasa bagi yang menjalankan… *maksa mode ON*
Catatan:
Tulisan ini lahir karena terinspirasi sebuah essay berjudul “The Intuitive Foundations of Rationality” karya Rosemary R.P. Lerner dengan berbagai tambahan informasi dari wikipedia.


Bagaimana kita tidak tahu dan bagaimana kita tahu kalau kita tidak tahu ?
aku bertanya dengan tambahan “tidak aja dech”
aaah telaatt!!!
*baca dulu*
Dogmatism, Regressus ad infinitum, dan Petitio Principii, tampaknya ada semua tuh pada pola dan gaya berpikir masyarakat kita selama ini, terutama kelompok masyarakat tertentu yang menganggap dirinya paling benar, suka memaksakan kehendak, mau menang sendiri, dan mengintimidasi orang. Sesuatu yang bisa dirasionalisasikan pun seringkali didogmakan. Ini sebuah bentuk pembodohan masyarakat kita yang budaya literasinya masih sangat rendah.
Perlu ada proses revitalisasi –atau mungkin “revolusi”– budaya berpikir agar masyarakat kita bisa membedakan mana yang dogmatis dan mana yang bukan, mana kebenaran yang tak boleh dibantah –karena berkaitan dengan nilai2 dan keyakinan– dan kebenaran yang bisa didiskusikan dan diperdebatkan.
OK, salam hangat.
bah beraaattt! *lagi males mikir, baru bangun tidur*
bukannya itu lebih masuk ke perilaku ya?
IMO lho..
kalo nafsu itu seperti makan, minum, beli barang dan s** huehehe
*komen ngaco*
ah iyaa…selamat menuaikan ibadah berpuasa
di negeri orang. maaf-maaf kalau saya ada salah yaa..*bikin huru-hara sebelum puasa*
“Ketakutan, keragu-raguan (dan kemunafikan), egois juga keras kepala”.
Ya..ya….ya….I see
(emangnya liat apa?).*benwith lemot*
Mo ngucapin….Met berpuasa ria. smoga puasanya lancar dan diterima ama yang di atas. Amin.
weleh puyeng..
kurang lebih sama puyengnya dengan ini nih:
ada secarik kertas yang kedua sisinya berisi tulisan..
tulisan disisi 1 bertuliskan: kalimat disisi 2 adalah benar,
tulisan disisi 2 bertuliskan: kalimat disisi 1 adalah salah,
kalimat yang disisi mana tuh yang benar?
Setelah saya baca-baca, saya jadi bingung memikirkan kebingungan saya sendiri. Terimakasih dan salam eksperimen.
hmm…baca berkali2 tetep aja ga mudheng maksudnya
lemot kali yaBtw selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin.
males baca
*berlalu
aku pancen bocah ndeso
Orang lain yang ngasih tau kalau kita tau Mas.kekekeke
gak mudheng aku.
Gubrak….benerkan?…..mendingan jadi dosen filsafat ato bahasa aj, Kang…lebih cocok sepertinya…..He3x
BTW, met puasa dan mohon maaf lahir batin jika banyak berbuat salah (ato berprasangka salah ya??)….he3x….
mohon kearifan dan kebijaksanaannya karna saya juga hanya manusia biasa…..^_^
dari tulisan ini saya jadi “tahu kalo saya tidak tahu” mas deKing…
bahasannya buerat jhe,,.. (ato aku yang males mikir ya..
)
susah nih, hmm…
yang jelas hak masing-masing pribadi bagaimana mereka mau menjalankan hidup ini.
menurut saya sih gitu…
Bagaimana kita tidak tahu dan bagaimana kita tahu kalau kita tidak tahu ?
pede aja lagi…!!!
Mau mengomentari “yang kalo begitu”
Selamat menunaikan ibadah puasa juga …
Bhasa londone kolak opo?
Bagaimana kita tidak tahu dan bagaimana kita tahu kalau kita tidak tahu ?
gak tau
*Nyut – nyut-nyut*
*Otak rusak, hubungan pendek*
saya masih tidak tau kalau saya tidak tau. . .
http://abeeayang.wordpress.com/2007/09/12/warningwaktunya-tarawihdilarang-nge-blog-dulu/
Ya ya .. saya juga ga tahu kalau saya itu tahu soalnya saya ga pernah mau tahu kalau saya itu tahu sebab saya tahu kalau saya tidak tahu apa yang saya tahu .. please dong ah.
Hehehe .. deKing .. mohon maaf lahir bathin ya. Salah2 kate maapin ane ya. Semoga setelah puasa Ramadan kita kembali fitri dengan menjalankan ibadah puasa semata2 karena Allah.
yang pasti, karena sudah diberitahu sebelumnya…
kalo gak, pasti gak tahu……..
cK…cK…cK….
klo ga salah itu ada istilah
orang tau klo dia tau
orang tau klo dia tidak tau
orang tidak tau klo dia tau
orang tidak tau klo dia tidak tau
jadi kesimpulannya saya tidak tau.
nih jawabanya:
“Kita harus memberitahu orang bahwa kita sebenarnya tahu sesuatu yg akan segera diketahui bahwa seharusnya kita tahu pengetahuan tadi akan diketahui oleh seseorang yang lain sehingga nanti akan kita dianggap paling tahu akan yang perlu diketahui. jadi kesimpulannya kita mengetahui yg mengetahui tahu…!!!?”
bingung kan… ane juga makin bingung mas…
*beli puyer*
Mumpung sedang
ada sinyal yang kuattidak begitu sibuk maka saya cicil menanggapi komentar@Dobelden:
“tidak”nya kurang satu Bro
@cK:
Makanya jangan molor mulu
@Sawali:
Itulah Pak…sangat sulit untuk mencari kebenaran yang hakiki jika semua menerapkan unsoluble trilemma tsb.
Untuk melakukan proses revitalisasi (dan revolusi) berpikir juga seringkali kita terbentur pada adanya dogma dkk.
@cK:
Kalau berat ya sama dipikul dunk
Oh ya masalah keraguan dkk sudah saya ralat. Thanx ya
@Ina:
Selamat berpuasa juga Mbak…awas jangan begadang lagi nanti telat bangun untuk sahur.
@Dalamhati:
Hahaha itu mirip2 dengan paradoks yang sudah pernah saya tulis
@Paijo:
Kalau bingung berarti kita sudah berpikir karena kebingungan sesungguhnya merupakan produk dari berpikir.
@Lintang:
Baca lagi dunk
Sama2 Mbak…saya juga mohon maaf dan selamat menjalankan ibadah puasa juga ya
@Arya:
Dilarang nyampah
Kowe pancen ndeso
@Liexs:
Berarti kita selalu butuh orang lain untuk mengetahui apakah kita sudah tahu ya Mas
@Satuaja:
Waduch dosen filsafat atau bahasa? Gila amatz…
Saya ini hanya manusia biasa
BTW Met puasa juga dan saya juga mohon maaf atas segala khilaf. Sebagai seorang manusia saya pastinya tidak luput dari segala khilaf
@Macanang:
Macanang terlalu banyak mikir ibu-ibu yang main tenis sich hehehe
@Akbar Kadabra:
Saling menghormati saja ya Mas
@Traju:
Tahu gak tahu yang penting Pede ya Mas
@Regsa:
Selamat menunaikan ibadah puasa juga…
Bahasa londone kolak kayake koolaak
@Atmo4th:
Saya juga tidak tahu
@Mihael DB Ellinsworth:
Kalau korslet tinggal ganti sekering saja dijamin beres
@Funkshit:
Kalau saya sudah tahu kalau saya tidak tahu
@Abeayang:
Thanx atas iklannya
@Erander:
Kenapa tidak mau tahu Bang?
BTW saya juga mohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf
terutama predikat yang saya sematkan pada Bang EranderSelamat menunaikan ibadah puasa
@nK:
Kadang masih juga tidak tahu walau sudah diberitahu sebelumnya
@Baliazura:
Ternyata orang tahu atas ketidaktahuannya akan ketahuannya itu
@Abeayang:
Kayak tukang ramal dunk Mas
Judulnya… Bagaimana kita tahu dan bagaimana kita tahu kalau kita tahu…
Benar filsafati ini…
bagaimana saya tahu bahwa saya tidak tahu itu gampang nggak pak de?
Mas deking berat banget bahasannya… ugh..
*masih mikir TA jadi cuman numpang ngoment*
sigh…di sini baru gempa
otak belon nalar
sigh…menganga pengen jawab
panik aja belon kelar
*kok jadi kaya pantun ya*
Met puasa ya…..
Ini ilmu pelajaran dari mana sih…..
ckckckc….
.
* ini contoh tulisan yang ditulis setelah koneksi internet normal dan beres pindah rumah, rasakan bedanya”
ntar komennya, baca dulu…. ‘)
ehm…. *narik nafas kemudian sambil batuk-batuk*
pertamax, tulisannya bagus, berarti sudah normal kan ?
keduax,
yup, saya sedikit mengerti soal regressus ad infinitum. tambahannya, prosedur logika yang diterapkan mirip dengan fungsi limit (dalam matematika), yaitu menuju pada solusi tak terhingga/tak terdifinisi dan akhirnya kembali ke pernyataan awal. dengan kata lain, pernyataannya bisa menjadi solusi bagi masalahnya.
(IMHO)
itu dari beberapa buku tentang epistemologi yang saya baca.
ketigax,
dalam psikologi proses mental (kognitif) ada yang namanya konsep META (bukan nama orang lho…). Konsep meta dlm bahasa kasarnya adalah kita tahu/sadar/paham akan pengetahuan/kesadaran/pemahaman yang kita punyai.
misalnya, metaknowledge. adalah “pengetahuan” bahwa kita mengetahui sesuatu. metamemory, metacognition, dan meta yang lain.
kalau dilihat sepintas lalu, itu mirip dengan regressus. tetapi proses meta itu adalah proses mental yg membantu kita sadar akan keberadaan dan eksistensi yang kita punya.
intinya : sadar bahwa dia mempunyai/memiliki sesuatu [kesadaran/pengetahuan/memory], dan ini (meta) biasanya sangat berkembang pada orang-orang jenius.
lanjut….
nitip iklan lagi :0
http://abeeayang.wordpress.com/2007/09/13/kalo-soeharto-jd-presiden-lg-gmn/
sepertinya komentarku sebelumnya masuk akismet deh…
dibebasin dong mas….
lanjut….
keempatax,
ada pernyataan terkenal dari Ed Gein, seorang pembunuh berantai terkenal di AS, ketika dia disidangkan. Ketika ditanya atas motif dan alasan apa dia membunuh begitu banyak orang. Jawabannya pendek, “Saya membunuh karena ingin membunuh”.
hehehe…. argumen sirkuler dan regressus dalam sekali ucap
kelimax,
selamat puasa mas….
mas, “The Intuitive Foundations of Rationality” itu bentuknya file bukan? boleh minta gak?
waw, tulisan berat kaya gini nulisnya sambil ngga serius? benar2 manusia
luarbiasa!!selamat menjalankan ibadah shaum Ramadhan juga PAK deking.
saya sudah mbaca tapi gak mudeng-mudeng ya , ah baca lagi
sejujurnya cuma sampe paragraph ke 2 — Dogmatism…. heheh i’m done with filsafat
Kalau kita percaya surga itu ada maka kita harus percaya bahwa neraka itu tidak ada,
lawannya surga neraka, lawannya ada ya tidak ada, jika ada itu ada maka apakah tidak ada itu ada atau tidak ada,
bagaimanakah kita bisa tahu kalau tidak ada itu ada atau tidak ada :ngawur 100%:
btw, ini petuah dosenku pak Damardjati Supadjar di Pusat Studi Pancasila UGM.
ahh, moga2 Pancasila ga jadi dogma juga
waw cape bacanya.. by the way saya sudah beres defence.. horeeeee
Ga mudheng aku…
Aku tau klo aku ternyata ga tau… hehehe…
Met puasa aja dech…
ah jadi inget socrates
As for me, all I know is that I know nothing.
Menurut saya, berbagai pertanyaan ini bisa disederhanakan menjadi “apakah kebenaran itu sendiri bersifat mutlak ataukah relatif?”.
Artinya, apakah manusia bisa mengetahui kebenaran hakiki, ataukah tidak?
Artikel yang menarik.
Sudah pusing2 mbaca…
Sudah pusing ngasi komentar panjang2…
Waktu di submit gagal…
Waktu di back komen yang sudah ditulis tadi dah ilang…
Memang nasib nih lagi apes kali p deKing…
Ujian ramadhan kali…
Besok saya rancang lagi dah… sepertinya komentar saya tadi bagus banget…
Jangan2 komentar bagus gak boleh ya di sini …
Narsis itu mbatalkan puasa gak ya ?
#Sudah ah.. tarawih dulu#
Eh… sebentar dulu..
Rupanya pas saya ngasi komentar yg ditolak tadi p deKing lagi gak di rumah, eh malah maen ke rumah saya…
Pantes.. komentar bagus itu ditolak melulu, wong orangnya gak ada…
#OOT + Narsis = kabur ah#
Balik lagi…
Ngambil mouse ketinggalan… ktimbang ngganggu pikiran nanti waktu tarawih…
#Alasan aja untuk hetriks#
@alex
*nimpuk alex dengan buku filsafat 5000-1 halaman*
aku aja
gakmudeng, kok alexbisamudeng*kabur, panjatin doa, minta alex dikasih kesabaran*
@deking
IMHO, kesimpulannya:
Mungkin sebaiknya sih tidak tahu sama sekali atau mungkin lebih baik merasa tidak tahu.
Daripada kita tahu bagaimana kita tahu, sedangkan sebenarnya kita tidak tahu kalau kita tahu.
Karena kita tahu kalau memang kita tahu menjawab tentang ke-tahu-an kita, dan kita pasti tidak tahu, kalau kita memang benar-benar tidak tahu.
Itu lebih baik daripada sok tahu, bukan begitu ? :twist:
*mode mumet: on* *gak tahu kapan bisa off*
He he, saya terbingung-bingung dengan hal yang beginian. Tapi syukur, dengan kemampuan mas Deking memaparkan, saya agak2 mudeng meski sedikit deh kayaknya. He..
Mas Deking, saya jadi mikir… apakah theorama ini juga yang dijadikan kiblat bagi pemimpin2 yang otoriter? Karna kecenderungan pemimpin yang otoriter menurut saya lebih banyak didasarkan pada kurang pede nya seorang pemimpin akan kemampuan yang dimilikinya bukan malah sebaliknya. Sedang ketiga cerminan sifat manusia yang mas Deking sampaikan dari “Munchhausen Trilemma” itu mewakili bagi pemahaman saya tentang orang-orang yang tidak percaya diri. Atau nggak ada hubungannya sama sekali mas?
Thanks.
@ undercover
Uhm… iya juga Her, ya? Itu bisa diterapin ke dalam hal kepemimpinan ya?
Aku jadi ingat NKRI ini…
*mikir2 ide buat tulisan*
@ mas Alex
Mas bagaimana gempa? Nggak ngefek di Aceh kan mas? Ok deh, tar dilanjut ya, saya mo siap2 mo kerja… he.
@ undercover
Di bagian yang mengarah ke timur sana, getarannya sih lumayan *menurut info*. Di Banda juga ada getarannya, cuma skalanya kecil, nyaris nggak terasa.
Sejak kemarin jadi mantau situs BMG juga jadinya di sini
menarik sekali, bagaimana Munchhausen Trilemma mencerminkan juga sifat manusia,
regressus ad infinitum itu muncul apa karena keterbatasan akal manusia ya?
Tapi kebanyakan kita juga tak tahu kalo kita tak tahu….., hehehe…. :p
So…, karena sudah masuk Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa.
*Hos..hos…hos…
ampe comment ke 55 kok bayut ade ama bayut almas nga keliatan.
Pada kemana? bertapa yach?
*bayut checking system*
mohon maaf Mas Deking, Siw lagi sibuk TM…jadi ndak bisa komen
Maaf…seperti biasa terlambat merespon
@Alex:
Bukan filsafati tapi mumeti
@Danalingga:
Gampang2 susah Oom
Bagaimana kita bisa tahu jika kita tidak tahu
@Arul:
Sudah sana kerjain TA-nya. Bila perlu diposting kekeke
@Tianzega:
Hati2 … lihat2 sudah pakai baju atau belum kalau mau keluar karena gempa kekeke
@Raffaell:
Selamat puasa juga Bang…
Ini nemu wangsit kok kekeke
@Rivafauziah:
Thanx
@Bang Fertob:
***
Sebenarnya koneksi masih kacau kok Bang. Cuma tulisan ini muncul sebagai pelampiasan selesainya presentasi progress thesis
***
Pertama* : terima kasih
(Hati2 dengan kata Pertama* karena terancam masuk akismet kekekeke)
Kedua:
Waduch saya malahan tidak berpikir ke konsep limit. saya kemarin malahan terlintas tentang deret tak hingga (baik konvergen maupun divergen). Wah terima kasih atas info limit-nya Bang
Ketiga:
Yupz…metakognisi pernah dikaji beberapa rekan kerja saya untuk berusaha mengembangkan prestasi belajar siswa.
Ya dimana diharapkan setiap pebelajar (siswa) dapat menilai/mengukur pencapaian setiap level belajar sehingga diharapkan setelah melakukan “introspeksi diri” tsb siswa dapat menilai dan mengembangkan strategi yang sudah digunakan dan selanjutnya menentukan strategi untuk langkah berikutnya.
Keempat:
Hehehe sebanarnya kalau dipikir2 apa itu bisa dikategorikan sebagai alasan atau tidak ya Bang?
Kelima:
Terima kasih Bang
@Mardun:
Iya dalam bentuk file. Saya cari dulu ya, tapi saya tidak bisa janji akan bisa mengirimnya dalam waktu dekat karena saya sedang lumayan sibuk.
@Rifu:
Maksud saya jangan dianggap serius karena tulisan2 dengan warna biru itu 100% pendapat saya dan benar2 subyektif
Jagalah hati selama puasa dan juga untuk masa2 selanjutnya ya NAK
@Bachtiar:
Bac lagi tapi jangan lupa belajar dulu untuk ulangan besok di sekolah hehehe
@Uwiuw:
Gak papa walau cuma sampai paragraf dua kok hehehe
@Fadli:
Walau itu merupakan petuah salah satu tokoh favorit saya (Damardjati Supadjar) tapi saya tidak setuju dengan pernyataan tsb hehehe
Menurut saya dalam pernyataan tsb kita tidak bisa menegasikan kedua hal yang termuat (”surga” dan “ada”)
Sebagai contoh:
“semua laki2 pembohong”
Kita tidak bisa menegasikannya menjadi
“Semua wanita bukan pembohong”
Hehehe tapi itu pendapat saya lho…
@Roffi:
Selamat ya Bro…sudah jadi Master nich.
Kapan nich makan2nya?
@Dwihandyn:
Selamat puasa juga Mbak
@itikkecil:
Itu berarti Socrates menerapkan ilmu padi…semakin berisi semakin merunduk
@M3:
Memang benar kalau suatu kebenaran itu bisa bersifat mutlak atau relatif. Tetapi jika suatu kebenaran relatif diberikan dalam bentuk dogma maka pada akhirnya kebenaran relatif tsb akan bertransformasi menjadi kebenaran mutlak
@Herianto:
Pertama2 … maaf Pak, saya sudah cek akismet tapi tidak ada komentar Pak Herianto yang tersangkut disana.
Ditunggu komentar selanjutnya Pak…
BTW kalau masalah narsis jangan tanya saya Pak…saya bukan pakar narsisme
Eh mouse yang warna hitam itu milik saya Pak…jangan diambil ooiii
@Extremusmilitis:
Iya ya…intinya jangan sok tahu
@Undercover:
Mmmm tentang para pemimpin otoriter sepertinya banyak kiblatnya dech Mas, ya mungkin memang termasuk trilemma tsb. Pokoknya semua rakyat dicekoki dogma2 supaya sang penguasa tetap bertahta
Benar Mas…saya setuju. Memang ketiga hal tsb sepertinya bisa ditemui juga pada orang yang tidak percaya diri (dalam artian luas). Tapi masih banyak orang2 tipe lain yang memenuhi trilemma tsb
@Alex:
Kekekekeke NKRI-nya mantapzx
BTW ditunggu tulisannya Bro…
@Undercover dan Alex:
Semoga saja kondisi lekas normal kembali … amien
@Peyek:
Mengenai trilemma yang bisa mencerminkan sifat manusia itu 100% pemikiran saya yang sangat subyektif Cak. Jadi sangat mungkin untuk tidak disetujui
Keterbatasan akal dan keterbatasan pengendalian diri (emosi, keragu-raguan dll) menurut saya memang bisa melatarbelakangi lahirnya regressus ad infinitum.
@Faiq:
Lama tak jumpa Pak … apa kabar?
Tidak tahu kalau tidak tahu sering melahirkan kesoktahuan
Selamat menunaikan ibadah puasa juga Pak
@Ina:
Almas sedang pulang kampung … emang Ina tidak dipamitin?
@Siwi:
Lha itu sudah komentar?
ini thesis??????????????
*kyaaaaaaaaaaaaa*
Kalo tiba2 saya melemparkan pertanyaan “Bagamana kita bisa mengetahui tentang sesuatu tanpa mengetahui tentang segala sesuatu?” ke anda, itu cukup untuk ngejawab pertanyaan anda tadi gak? Memang argumen yang saya ajukan ini sedkit melenceng dari apa yang kita hadapin, tp itu kan cuma membuktikan ketidaktahuan kita akan sesuatunya secara pasti sampai turunan yang paling bawah. Berarti pertama-tama yang harus kita tahu yang yang merupakan turunan kita dong. Jadi aspek2 yang jadi integral kita ya gausah dibahas, biarkata ada rumusnya,kalo kita gatau tentang turunan sendiri (dan semua sesama kita beserta turunan-turunannya) gimana bisa mencapai keadaan antara sesuatu dan bukan sesuatu->maksudnya hasil dari bentuk integralnya? Yang ada semua cuma come up sama aproksimasi2 ampe taon jebot. Buktinya yang bisa praktis cm fisika kan? Karena menurut saya matematika bertugas untuk mengkaji apa yang sudah ada dan saling melengkapi dengan ilmu fsika guna mencapai sesuatu yang baru. Ga heran deh tu ahli2 fisika pada ujung2nya mempertanyakan sesuatu yang bersifat abstrak (anti-materi). Sedangkan itu yang megang kan org2 filsafat murni –dimana kebanyakan filsuf2 brilian itu Cuma berakhir dengan keadaan yang butuh dianalisa secara seksama sama bidang eksak buat ngebuktiin apa yg mereka kaji itu sesuai dengan rumus yang konvensional–. Nah kita semua tau dong kalo selama ini kedua pihak ini Cuma berkutat seputar masalah ini doang. Ya gak? Padahal kalo menurut saya yang bisa jadi filsuf ya juga cuma org matematika doang. Mana ada filsuf yang kemampuan analisanya jelek dan gak bijak? Mereka kan diwajibkan untuk always peka n kritis sama nilai2 yang udah mereka temukan dari sejarah (past behaviour predict future behaviour). Sama aja kan sama mat? Mat kan gprnh bikin rumus tentang apa yang ada besok. Dia itu sangat realistis,saking realistisnya org yg ga ngerti bisa gila kalo ngeliat apa yang dia gambarin pake sistim komunikasi yang diterapkan dalam ilmu tersebut (maksud saya ilmu itu cuma merupakan suatu bentuk komunikasi yang memang secara sengaja ada buat kita menuju kepada apa yang menjadi reason daripda kita hidup). Nilai ini merupakan nilai mutlak daripada eksistensi ilmu matematika dan filsafat, nilai bagi saya merupakan dasar dari segala teori. Makanya 1+1 past 2, pasti anda yang jago bgt matnya ini bisa tahu kenapa, tp esensinya bagi praktis, hanya cuma buat fisika. Dimana dia juga cuma bisa menemukan hal baru yang memungkinkan menggugah hati nurani orang2. Nah. Ngomongin soal hati nurani, kadang2 org2 yang udah kebiasaan sama rumus jadi idealis, trus yang gak tqau bener malah mengeneralisasikan semuanya. (intinya ketepatan target daripada apa yang matematika rumusin itu membutuhkan praktis toh? klo nggak nilai dari masing2 x,y,z, lalala itu bisa dapet darimana kan??) nah, dsinilah fungsi para pemikir2 filosofis seharusnya diletakkan. Sebab inilah kuncinya untuk menyatukan dualitas itu.
Makanya di agama aja diajarin mengenai akhirat, menurut sayamaksud akhr itu ya merupakan esensi daripada kehidupan kita. Dimana pada titik tolak tersebut kita bakal bertemu dengan dunia ketiadaan, jadi yang namanya akhirat itu keduanya totally infinite. Tak hingga,ketiadaan lalala
Kalau saya sih tidak sengaja menemukan sebuah kesaman antara apa yang kitab suci ajarin dan apa yang fisika kenalin. Yakni, kedua disiplin ilmu ini memberikan kita 2 buah solusi (theosofi dengan akhiratnnya dan fisika dengan teori termodinamikanya). Pokoknya kalo ditelaah makna semantiknya, pasti dapet banget deh.)
Aduh maaf banget nih saya cm bisa memaparkan ide aneh saya secara gila dengan bahasa yang gak tertata kaya rumus, bukannya mau merendahkan anda yang sudah terbiasa dan sangat lihai dengan tanda2 dan rumus matematika sekaligus pengaplikasiannya..Justru saya malah sangat salut. Dan melihat judul topik ini saya gamau buang kesempatan. saya harus menyampakan argumentasi (daripada saya sesat). Dan saya gamau pesimis seperti yang sudah lewat. Padahal potensinya mereka tuh gede bgt, cuman gamau aja dikritik demi mempertahankan integritasnya sebagai penganut teori yang udah didirikan. Padahal waktu berjalan, zaman berkembang. Begitu pula alam semesta terus mengembang. Dan gak lupa perkembangan akan selalu mengakibatkan pengurangan dipihak lain. Masa mereka mau maksain 12+√2=3?
Itulah,manusia cuma mau enaknya doang. Mereka lupa kalo mereka sebagai diri sendiri (manusia individual) juga dibangun diatas aspek2 lainnya. Inti dari paparan membosankan saya ya cuma mau membenarkan pernyataan anda tp lewat cara yang berbeda.
1. Regressus ad infinitum (infinite regression-akal) —> KERAGU-RAGUAN (dan MUNAFIK karena meninggalkan kemanusiawiannya sebagai makhluk dualitas)
2. Petitio Principii-budi —> EGOIS dan KERAS KEPALA->karena sebagian sifat manusia bersifat Illahi, hal ini menyebabkan dia menjadi menekan pihak yang menjatuhkan dia. Makanya deh ada kepribadian yang kepecah2. karena ada konflik di dalam sistem dualitasnya yang mengurangi kesadaran pribadi.
3. Dogmatism(nyawa) —> KETAKUTAN akan kematian inilah trnitas manusia. Mengapa nyawa saya taruh lepas dari dualitas? Karena dialah yang merupakan obyek dari dualitas itu. Dia cuma dipengaruhi. Makanya, kesadaran gak cuma bisa diterapkan sm org yg bernyawa. Makanya juga kesadaran punya 3 tingkatan. Kan ada yang bilang ”karena aku berpikir, makanya aku ada”. Tapi si nyawa ini gak mandul. Dia juga punya pasangan. Yakni seluruh fungsi organ,sistem sel, dan lalala demi memenuhi kepentingan dari si dualitas itu juga yang udah manusiawi (butuh) –secara kan dia belom sempurna–
Kayanya cukup lah. Saya sotoy bgt sih. Haduh jadi gaenak,maaf ya. Pokonya,gitu deh kalo cara pandang saya mengenai permasalahan kompleks yang anda ajukan. Saya mohon maaf loh kalo ada salah ngomong. Ini kan cuma intrepetasi saja. Jangan diambbil hati ya.
Bln puasa gila,masa mau marah gara2 tersinggung sm psikopat macem gua doang.huhu
hehe
Gudbye..Gbu!!
Filsafat sekali..
Aku ngerti sih, Mas..
Tapi kalo dalam keadaan kenyang pasti bisa paham..
kalo udah yg begini, jadi ingat falsafah uRang Minang:
Terhimpit hendak diatas
terkurung hendak di luar
jalan berdua mau di tengah
jalan sendiri mau duluan (duluan dari siapa?)
ketika ada jangan dimakan
ketika gak ada baru dimakan
tegak berseliweran – kendor berdenting2…..
filsafah bikin susah………
*ngorok…………..*
pusing, mas deKing..
wah, mending otakku dibuat ngerjain tugas aja deh..
tugas semakin menggunung..
dari kmaren baca n ngulang baca lagi, tapi te2b ga ngerti
otakku dah musti di upgrade neh
*BZZZTTT…*
ups..otak saia ceped sangadh korslet mbaca postingan ini…
duh, ga sanggup saia
ampon dah…
eh, saia sepertina nyamfah…
*digruduk orang-orang banjarnegara…*
*kaboorrr…………..*
nah tul kan, iya tuh
karena masih banyak tahu, tempe, dan lalapan
*OOT gak seh? Ya iya lah*
permisi pak , saya telha menjadi korban pemaksaan kehendak.
saya mau laporan juga pak ,
buat bapak ada titipan nih.
titipan nya salah
ulangi….
klik donk sayang
wekekeke, kayanya lupa tuh, udah tahu kena gempa di-arepin ga pake baju lagi, ntar kan bisa-bisa jadi “free
nudeentertainment”*timpuk deKing pake sendal*
Menurut aku sih Munchhausen Trilemma terlepas dari definisi ilmiahnya, lebih ke bahwa memang tidak ada sesuatu yang pasti dan bisa dipastikan di dunia ini.
Dan kalau emang dihubung-hubungkan, pasti ada hubungannya, karena kita
“manusia”punya nafsu, maka kita bisa berada pada ketiga kondisi tersebut. Karena kalau tidak ada rasa, maka kita tidak ubahnya seperti mesin yang hanya bisa menganggukkan dan menggelengkan kepala sesuai dengan perintah.Jadi, lebih baik mengatakan tidak tahu pada saat kita memang merasa tahu, daripada menurutkan nafsu mengatakan tahu padahal kita sebenarnya tidak tahu hanya untuk menunjukkan kebisaan dan ke-aku-an kita
@Superkecil:
Bukaaannnnn….
@Saladdias:
Yupzx…saya sepakat dengan hal tsb, hal tsb menurut saya analog dengan apa yang saya bicarakan.
Bolehkah saya menganalogikan hal tsb secara geometri, yaitu dengan dimensi dua yang tercakup dalam dimensi 3 (Euclidian saja ya).
*
Dimana semua unsur dalam dimensi 2 tidak akan dapat menembus dimensi 3, misal suatu benda yang terkungkung pada dimensi dua secara horisontal tidak akan bergerak secara vertikal karena (gerak) dia dibatasi hanya secara horisontal saja. Tetapi suatu unsur yang merupakan anggota dimensi 3 akan bisa bergerak dan menjelajahi dimensi 2.
Jadi sesungguhnya kita merupakan bagian dari suatu dimensi yang lebih besar alias merupakan turunan dari dimensi dengan derajat yang lebih tinggi lagi. Dan keadaan tsb membuat kita untuk tidak sok tahu tentang dimensi di atas kita.
*Maaf kalau ternyata saya salah tangkap maksud Anda
Hahahaha santai saja lagi…
Saya malahan senang karena saya mendapat tambahan ilmu dari Anda. Terima kasih atas tambahan ilmunya
@COTS:
Hati-hati … kenyang itu melenakan.
@k*tutur:
Menarik sekali Pak…
@Nieznaniez:
Sudah selesai belum tugasnya?
@’K, :
Pakai core duo saja hehehe
@Hoek:
Hush…orang Banjarnegara baik-baik lho.
*sambil injak-injak Hoek*
@Extremusmilitis:
Waduch… tempe di sini harganya mahal
@Bachtiar:
Titipan sudah diterima tapi saya oper ke orang lain saja ya
@Tianzega:
Tapi (IMHO) hal tsb bisa menjadi salah satu penghambat proses penyebaran ilmu Bro …
Weits…tuh kan, kalo baca tulisan kamu literature thesis ku jadi terabaikan, hiks…
Panjang, n berat bro….
Sedikit comment aja yo…
Mencermati sedikit kata di depan:
“Tiga hal yang menjadi penyebab tidak mungkin-nya dilakukan pembuktian the true truth atau kebenaran sejati dari suatu hal”
Well…. kebenaran sejati emang susah didapatkan. Dari sudut pandang agama, keberadaan akhirat merupakan ‘hal adil’ sebagai tempat mengungkap segala ‘the true truth’ yang bisa menjadi topik perdebatan empuk di dunia ini.
Tapi itu semua bukannya menutup kemungkinan untuk saling sharing tentang segala hal yg kita pernah dapatkan (baca: wacana or pengetahuan) kepada orang lain, dalam hal ini aku setuju ama kamu, hal itu bisa menghambat “proses” penyebaran ilmu.
Nah, kuncinya “proses” itu sendiri. Saat kita merasa tahu dan memberikan apa yg kita tahu ke orang lain, n orang lain pun menanggapi nya dengan apa yang mereka tahu, saat itulah proses pembelajaran itu berlangsung.
Akan terhambat kalo masih bercokol benih-benih ke ’sok’ an kita (sok tahu, sok benar, sok gosok deh pokoknya).
Tapi akan semakin memperluas “proses” itu tatkala kita dengan arif mampu memandang dari sudut pandang lain dan menyikapi pada tahap selanjutnya, entah menerima “ketahuan orang lain (yg mungkin berbeda)” itu lalu menjadikannya sebagai bagian dari prinsip kita, atau menjadikannya hanya sebagai tambahan wacana dlm “pengetahuan”.
Itu dulu deh, sebelum tambah panjang, hihihi….
*Comment tambahan nih: habis baca blog mu yg ttg phytagoras, katanya intro mu suka gak nyambung ama isi tulisan. Tumben yang ini nyambung, hehehehe:p
mau komentar OOT disaat otak sedang error :
“ada pengetahuan terlarang di dunia ini, dan pengetahuan itu akan membawa kita ke neraka terdalam.”
siapa yang ngomong ya ? *kok lupa sih*
mau komentarin kebenaran hakiki dan kebenaran relatif, karena saya orangnya
septictankskeptic, jadi kayak gini nih komentarnya :lha kok jadi di strike semua ya ? perbaiki dong om deking yang terhormat dan yang
katanyaganteng*yg dicoret itu septictank-nya*
[...] orang-orang malang ini peroleh telah menjadi perangsang nafsu makan kalian. Saya sendiri sudah tak tahu apakah harus sedih ataukah malah senang. Sedih karena melihat anak-anak yatim yang lucu-lucu dari [...]