Hehehehe….maaf ya saya akan meneruskan hobi saya untuk bermain analogi. Walaupun lumayan panjang tapi saya persilakan membaca sampai selesai. Semoga tidak membosankan
———————————–
Sebenarnya saya tidak paham agama sehingga saya tidak pernah menulis tentang agama, tetapi lagi-lagi saya tertarik untuk mendaur ulang komentar saya sendiri di sini. Sering saya membaca tulisan tentang agama di tempat saudara saya antara lain Joe, Neo 49, Danalingga, Secondprince dan mungkin yang lain (maaf kalau tidak tercantum). Kadang saya hanya sanggup untuk membaca saja tanpa mampu meninggalkan jejak komentar. Tetapi karena kemarin saya menemukan dua pendapat yang berbeda (bertolak belakang?) tentang agama maka akhirnya saya tertarik untuk nimbrung juga. Pendapat itu adalah “Ternyata semua agama sama” vs “Nyatanya semua agama itu tidak sama“.
******Kesebangunan dan Kongruensi*******
Secara umum topik yang akan saya bahas sama dengan Danalingga dan Bharma tetapi saya akan menggunakan cara saya sendiri untuk membicarakan tentang agama ini, yaitu dengan analogi (matematika).
Kalau Danalingga menggunakan lingkaran sebagai salah satu unsur dalam penyimbolan agama maka saya akan menggunakan segitiga sebagai simbol agama. Hal ini karena saya pernah membaca bahwa segitiga merupakan lambang religi dan segiempat lambang ilmu pengetahuan (CMIIW ya). Seperti di salah satu artikel yang saya temukan di sini diyatakan bahwa segitiga merupakan simbol dari api spiritual atau triatna.
Oleh karena itulah saya memilih untuk menganalogikan agama dengan segitiga (semoga tulisan saya ini tidak diberangus karena sembarangan main analogi….masak agama disamakan dengan bangun datar seperti itu).
Di dalam geometri ada dua istilah yang agak dekat, yaitu SEBANGUN dan KONGRUEN. Secara sederhana definisi kedua hal tsb adalah:
- Sebangun —> memiliki bentuk yang sama.
- Kongruen —> memiliki bentuk dan ukuran yang sama.
Dalam hal ini biasanya indikator kesamaan bentuk adalah ukuran sudut. Jika dua segitiga memiliki ukuran-ukuran sudut yang sama maka segitiga-segitiga tsb dikatakan sebangun.
Untuk kongruensi kita tidak hanya melihat sudut saja sebagai penentu kesebangunan (kesamaan bentuk), tetapi kita masih membutuhkan satu ukuran lagi yaitu panjang sisi. Panjang sisi dalam hal ini menentukan ukuran segitiga. Jadi jika dua segitiga kongruen maka kedua segitiga tsb tidak hanaya memiliki kesamaan dalam halukuran sudut, tetapi juga panjang sisi-sisinya.
Jika diilihat definisi sebangun dan kongruen di atas maka bisa kita katakan kalau sifat kesebangunan lebih umum dari kongruensi karena dua segitiga yang kongruen pasti sebangun sedangkan dua segitiga sebangun belum tentu kongruen. Kalau digambarkan dengan diagram venn maka kira-kira seperti berikut:
***********Agama dari sudut pandang matematika**********
OK sekarang saya akan menarik benang merah antara konsep kesebangunan dan kongruensi dengan konsep agama.
Sebelumnya saya akan mendefinisikan dulu ke dalam konteks agama mengenai dua hal penting berkaitan kesebangunan dan kongruensi , yaitu sudut dan sisi. Saya pribadi akan mendefinisikan dan mengaitkan konsep sudut dan sisi ke dalam konteks agama sebagai berikut:
-
Seperti telah disebutkan pada definisi kesebangunan, suatu sudut lebih berpengaruh terhadap bagimana bentuk segitiga. Oleh karena itu sudut dalam konteks agama akan saya kaitkan dengan “bentuk” agama. Menurut saya pribadi, semua agama memiliki “bentuk” yang sama yaitu setidaknya memuat hal-hal berikut:
- Adanya obyek yang disembah, sesembahan yang bernama Alloh, Tuhan, Dewa atau lainnya
- Adanya ritual penyembahan sebagai bentuk komunikasi dan interaksi vertikal antara sesembahan dan manusia (yang diikat oleh suatu aturan komunitas agama bersangkutan)
- Mengajarkan untuk berbuat baik kepada sesama sebagai suatu bentuk komunikasi dan interaksi horisontal
-
Jika sudut berpengaruh terhadap bentuk, maka sisi akan lebih berpengaruh terhadap ukuran. Semoga kita bisa sepakat kalau menentukan (mengenali?) suatu bentuk akan lebih mudah dibandingkan mengetahui ukuran dari bentuk tsb. Untuk mengetahui ukuran maka kita akan lebih memperhatikan dan melakukan hal-hal detail. Nah oleh karena itulah saya mendefinisikan sisi sebagai suatu usaha dan bentuk bagian detail dari agama. Jadi sisi berkaitan dengan hal-hal yang bersifat dengan lebih khusus dari suatu agama:
- Apa dan bagaimana sang sesembahan (nama, jumlah dll)
- Aturan khusus dalam ritual sesembahan sebagai bentuk komunikasi dan interaksi vertikal antara manusia dan sang sesembahan
- Aturan khusus dalam komunikasi dan interaksi horisontal sesama manusia (mungkin hanya ada di agama tertentu).
Misal: Sholat untuk muslim, misa untuk kristen+katolik, dan ritual agama lain (maaf jika tidak lengkap dan salah…mohon koreksi)
Misal: zakat yang harus dibayarkan sebagai suatu bentuk kepedulian kepada sesama. (maaf karena keterbatasan pengetahuan maka saya hanya bisa memberi contoh dalam agama Islam, bagi rekan agama yang lain dipersilakan berbagi informasi).
Nah mari kita lanjutkan…
Salah satu syarat dua segitiga (atau lebih) dikatakan sebangun adalah memiliki dua ukuran sudut yang sama. Nah jika melihat ke definisi sudut dalam konteks agama yang sudah saya sebutkan di atas maka kita bisa melihat bahwa semua agama setidaknya memiliki dua ukuran sudut agama yang sama, yaitu adanya “sudut” sesembahan dan adanya “sudut” ritual penyembahan. Jadi menurut saya pribadi karena semua agama sama-sama memiliki “ukuran sudut” berupa obyek sesembahan dan aturan ritual penyembahan maka semua agama memenuhi syarat umum dalam hal kesebangunan. Jadi semua agama adalah sebangun.
Tetapi mengenai “ukuran”, yaitu hal-hal yang lebih bersifat detail dan khusus maka ternyata setiap agama memiliki “ukuran” kedetailan masing-masing. Hal tsb tercermin dari fakta bahwa setiap agama mempunyai aturan masing-masing. Sebagai contoh nyata, spertinya semua agama memiliki nama-nama yang berbeda untuk menyebut nama sang sesembahan (walaupun mungkin sebenarnya obyek yang disembah itu satu sama tapi nama tetap beda). Setiap agama juga memiliki aturan khusus dalam hal ritual penyembahan yang dilakukan.
Dalam hal-hal yang bersifat detail dan khusus (sebagai bentuk perwujudan dari sisi dan ukuran dalam konteks matematika) ternyata semua agama tidaklah sama sehingga tidak bisa memenuhi syarat kongruensi. Jadi semua agama tidak ada yang kongruen.
Jadi menurut saya semua agama hanyalah sekedar sebangun, tetapi tidaklah kongruen.
Simpulan secara sepihak, menurut saya:
- “Ternyata semua agama itu sama” yang dicetuskan oleh Danalingga memiliki makna yang sama dengan “Semua agama adalah sebangun” menurut versi saya.
- “Nyatanya semua agama tidak sama” gagasan Bharma sama dengan “Semua agama tidak ada yang kongruen” versi saya.
Memang perbedaan pendapat tentang kesamaan atau ketaksamaan agama selalu hanya berakar dari pemilihan sudut pandang yang berbeda, begitu juga saya yang hanya mengambil satu analogi tapi ternyata memuat dua sudut pandang sekaligus…plin-plan hehehehe
Tapi ya seperti itu pendapat saya…silakan rekan-rekan simpulkan sendiri.
“Tiap orang kan beda-beda™” (dipinjam dari ucapan seorang calon psikolog)
BAGIKU AGAMAKU DAN BAGIMU AGAMAMU





tumben panjang pak…

*kapling comment pertama*
yeah.. ini pointnya menurutku, sudut pandangan yg berbeda selalu menjadi rahmat bagi orang2 yang mau berpikir *ayat quran-nya apa ya.. lupa sayah*
hmm dan kayaknya nih analog
ibener pas agama emang “sebangun” tapi ga kongruen dan apalagi kalo angkanya antara masing2 sudut [contohnya segiti] maka dipastikan tu segitiga bentuknya jadi aneh bener deh…Analisisnya menarik. Kalau menggunakan analogi itu, sering kali lalu orang mengatakan, “segitigaku” paling benar. Repotzzz
*kapling comment ketiga*
hetrik deh
*kaburrrrrrrr*
waaa kena salip
T_T
Konsisten ..
Mungkin itu kata yang tepat buat deKing .. semua masalah atau pembahasan yang ada selalu ditinjau dari sudut matematika / kimia .. sesuai dengan profesi beliau. Good, good. Hmm, bagaimana kalau narsis ditinjau dari sudut matematika atau kimia. Pasti keren .. atau jangan2 tulisan soal itu sudah pernah di posting ya? dan pasti saya dimasukan dalam daftar itu.
Btw .. istilah narsis buat saya itu pertama dari deKing, gara2 pic yang ada di blog saya banyak menampilkan wajah saya. Pengen nampilkan wajah orang lain, repot mesti minta ijin. Kalo pasang wajah artis, sudah kebanyakan. Tapi gitu deh, cap narsis dari deKing sudah dipopulerkan ke beliau kepada ku.
Good job.
Kafir Antum™
Pokoknya™ Aliran agama dan Mahzab saya yang PALING BENAR!!!!!
Ane ga mahu disamakaeun dengan yang lain.Yang lain itu calon penghuni neraka semua!. apalagi yang menuhankan akal!
*dijitak*
“Ketahuan ga baca sampai habis”
Maaf King, soalnya baru bangun tidur, jadi masih loading nyawa dan isi otak.
::::::::
Yang jelas, ane ga suka analogi begini. mengingatkan nilai Matematikaku di raport dulu. dimana nilai tersebut sudah mendekati Podium. dan ga keluar dari 5 besar… ha ha ha ha
*bego dibanggakan*
*Daripada bangga akan kebego’an?*
“sama aja ya?????”
kok jadi curhat? kok jadi???? Inikan box komen?
*Kabur karena malu*
Yupz….
bisa belajar dari sejarah agama2… koq..
aku suka kata yang terakhir… “bagiku agamaku bagimu agamamu”. Boleh gak dari ulasan ini aku nyimpulin kalau “semua agama gak ada yang sama, tapis semua agama itu benar” ??
@Neo
Oh Tuhan tempatkanlah aku di Neraka, aku gak ingin sorgamu.. kalau di sana seperti apa yang digambarkan kebanyakan orang.. penuh kemewahan dan kesenangan.. aku takut kalau aku akan melupakanmu jika aku larut dalam kesenangan…. Tuhan tempatkan aku di Nerakamu karena bila hanya salah satu agama saja yang benar.. maka akan banyak sekali orang yang menderita di Neraka… oleh sebab itu aku ingin berbagi di sana Tuhan… dan aku yakin Kasihmu tak pilih kasih dan tetap berhembus dalam panasnya api neraka…. karena Engkaulah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang … dan aku selalu haus kasihMu Tuhan…
SATU TUHAN SATU AGAMA
Dalam forum Dialog antariman di Hotel Sahid Jaya, Alwi Shihab mengatakan bahwa banyaknya agama di dunia ini merupakan kehendak Allah semata, seperti tersirat dalam surat Al Hajj/22:40: “… kalau tidak karena perlindungan Allah kepada manusia antara sebagian mereka dengan sebagian yang lain, niscaya sudah diruntuhkan biara-biara, gereja-gereja, sinagog-sinagog, dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah …”. Tujuan penciptaan agama yang beragam itu, kata Alwi seraya mengutip surat Al Maidah/5:48 [Jika Allah mengendaki maka akan menjadikan umat ini satu ….] agar manusia bebas berlomba-lomba dalam kebaikan sesuai ajaran dan jalan terang (syirat atau manhaj) yang mereka pegang, dan dari situlah Allah bisa mencatat siapa saja manusia terbaik di atas dunia ini (Tekad, 8-14 Nopember 1999).
Pernyataan Alwi Shihab tersebut, tentu saja aneh. Pertama, jika benar semua agama itu ciptaan Tuhan, mengapa ajaran-ajaran agama itu berbeda bahkan bertentangan. Misalnya, ajaran Katolik melarang keras perceraian sementara Islam membolehkannya. Ada konsep kasta-kasta di Hindu, sementara Islam mengajarkan kesederajatan. Lebih aneh lagi ketika Tuhan berbicara tentang dirinya pada berbagai agama yang diciptakannya itu dalam wujud yang berbeda-beda. Pada Hindu Tuhan berwajah Trimurti, pada Kristen Trinitas, dan pada Islam Tuhan itu Ahad. Betapa Tuhan sangat hipokrit! Tuhan punya banyak muka?
Kedua, bukankah secara akademis, telah disepakati adanya dua penggolongan agama, yaitu agama samawi (langit), agama yang diturunkan Tuhan, dan agama tabiy (ardhi/bumi), agama ciptaan manusia (budaya). Dalam kategori ini, Yahudi, Nasrani, dan Islam masuk kelompok agama langit, sedangkan selebihnya Hindu, Budha, Konghucu, dan sebagainya adalah agama bumi. Jadi jelaslah bahwa tidak semua agama berasal dari Tuhan.
Jika yang dimaksud agama-agama oleh Alwi Shihab, adalah tiga agama langit di atas, tentu perlu penjelasan yang utuh. Bukankah dua diantara agama-agama itu telah mengalami perubahan radikal lewat proses campur tangan manusia. Jika demikian masihkah dapat dikatakan sebagai agama ciptaan Tuhan? Di sinilah letak keanehan pendapat yang mengatakan bahwa agama-agama yang ada di dunia ini semua berasal dari Tuhan. Lantas bagaimana sebenarnya? Yang logis adalah Tuhan Esa hanya menurunkan satu agama. Dan agama itu adalah agama yang mengajarkan tauhid.
Dan 25 Rasul yang diutus Allah, tidak ada satu pun yang mengajarkan konsep ketuhanan selain konsep tauhid. Ini dapat kita lihat misalnya dari seruan mereka: “Hai kaumku, mengabdilah kalian hanya kepada Allah, (sebab) tidak ada Tuhan bagi kalian selain Dia!” [Nuh: Al A’raf/7:59; Hud: Al A’raf/7: 66, Hud/11:50; Shaleh: Al A’raf/7:73, Hud/11:61; Syu’aib: Al A’raf: 65, Hud/11:841. Seruan seeupa juga dilakukan Isa (Ali Imran/3:50-51).
Ajaran para rasul yang hanya menuhankan Allah itu, di kesempatan lain disebut sebagai ajaran Islam. Maka berkali-kali Allah menegaskan bahwa para rasul itu adalah seorang muslim [Ibrahlm (Ali Imran/3:67, AI An’am/6:121-123), Ismail, Ishaq, Ya’kub (A1 Baqarah/2:130-135), Isa dan pengikut setianya (Ali Imran/3:52, A1 Maidah/5:111)].
Dengan demikian menjadi jelas bahwa dari zaman ke zaman Allah hanya menurunkan satu agama, yaitu agama tauhid. Agama tauhid itu memiliki ciri utama ketundukan dan kepasrahan hanya kepada Allah, Tuhan Esa. Oleh karena itu agama itu disebut Islam (dari kata aslama, menyerahkan diri).
Agama tauhid ini secara estafet diturunkan dari satu rasul ke rasul lainnya; ditutup dan disempurnakan saat kerasulan Nabi Muhammad saw (Al Ahzab/33:4G). Jika pada kerasulan sebelum Muhammad saw, agama ini bersifat lokal (misalnya Hud bagi kaum Ad, Shaleh bagi kaum Samud, Luth untuk kaum Madyan, Musa untuk bani Israel [Bani Israel/17:2]), karena itu mungkin sekali punya nama lokal, misalnya Nasrani [berasal dari kata Nazareth, nama tempat asal kelahiran Isa], maka setelah kerasulan Muhammad saw, agama Islam bersifat universal (An Saba’/34:28) dan bahkan rahmatanlilalamin (Al Anbiya’/21:107).
Diantara masa-masa itu, agama tauhid (Islam) pernah diselewengkan oleh umatnya, diantaranya di era Yahudi (Al Maidah/5:41, An Nisa/4:46) dan Nasrani. Penyelewengan terberat adalah perubahan konsep ketuhanan monoteisme menjadi politeisme. Atas penyelewengan ini, Al Qur’an memberikan koreksi; misalnya surat AI Maidah/5: 72-75 adalah bantahan terhadap ajaran Trinitas. Jadi sebenarnya telah tamatlah Islam era Yahudi atau Nasrani setelah diutusnya Muhammad saw.
Jadi, memang Yahudi, Nasrani, dan Islam sebenarnya adalah agama-agama Allah. Tapi tiga itu bukan tiga melainkan satu yakni keseluruhan ajaran tauhid yang secara estafet dibawa rasul-rasul. Dan ingat, bukan Yahudi atau Nasrani yang sekarang.
Meskipun Allah menurunkan Islam sebagai satu-satunya agama, tetapi Allah tidak “ngotot” agar seluruh manusia memeluk Islam (AI Baqarah/’2:256), sekalipun dengan kekuasaan mutlaknya, Allah mampu melakukan itu (Al Maidah/5:48). Ternyata Allah justru memberi kebebasan kepada manusia untuk berkreasi “menciptakan” agama, bahkan Tuhan, baru [apakah ini yang disebut kehendak Allah oleh Alwi Shihab; memang secara hakiki semua yang terjadi, termasuk perbuatan manusia, adalah kehendak Allah; jadi Allah juga berkuasa berkehendak untuk melindungi tempat ibadah agama-agama]. Agama-agama ciptaan manusia itu diberi hak hidup, dan pemeluknya juga bebas menjalankan segala ritualnya. Hanya saja agama Allah tidak boleh disamarkan atau dicampur-adukkan dengan agama ciptaan manusia. Itulah pesan penting surat Al Kafirun/109:1-6.
Islam, dengan demikian, menghargai sepenuhnya keberadaan agama-agama lain sekaligus siap “berkompetisi” secara fair untuk membuktikan mana yang terbaik. Persoalannya, adakah yang lebih baik dari ciptaan Allah.
setuju
setuju
wah analoginya sejauh ini mantap he he
oh iya dari analogi ini apa bisa ditarik kesimpulan kalau semua agama benar? seperti yang ditanyakan pada komen di atas saya
jawaban saya sepenuhnya negatif
Karena Agama saya yang paling benar he he he he (lho lho lufakan, lufakan)
berat,,berat,,bahasannya,,berat
jadi cuma absen aja n numpang ngetobb
secara matematika gw dulu dapet 3 apa 4 yah
lupa pastinya,,,,
hihihi
waduh agama lagi?binggung mo ngasih koment apa,mending akau copy paste koment ku di danalingga
“akhirnya kita ga usah membahas tentang agama, ya karna linkaran yg ini sudah tidak perlu untuk dibahas ,yang pelu kita bahas adalah step titik linkaran dan bukan bayangan dari cahaya. Teologi hanyalah penyelidikan atas pertanyaan siap Tuhan,saya pernah baca dikit dan sepertinya agama adalah perkembangan dari keingin tahuan siapa dan kemana tujuan hidup.mula-mula manusia mencari cari siapa yg awal dan berkuasa atas semuannya. sama halnya perjalanan Musa mencari Tuhan. pada awalnya manusia mentuhankan benda benda namun karna perkembangan pemikiran benda benda tersebut bisa rusak dan ber-awal maka timbul konsep Tuhan yang tak terlihat, tak berbentuk (karna susah untuk memikirkan bentuk )dan tak berawal dan berakhir.”
ahhhhh. Matematika lagi….
Wah, kamu menyamakan agama satu dengan yang lain ya?

wah, kafir kamu!
*kabuuur*
rada setuju juga sih, tp nurut saya tiap agama itu ibarat bumi sama jeruk purut : hanya seolah seperti sebangun.
jika dibilang bulat, sebetulnya juga tidak bulat. jadi dikatakan sebangun, sebenarnya juga tidak sebangun. bahkan tiap jeruk purut saja punya kerutan yg berbeda bukan?
sayangnya apa yg terlihat mata, maka terucaplah di lidah, padahal kita masih punya telinga, pikiran (otak), indra penciuman, kulit yg bisa meraba dst.
sayang yah?!
setuju … pokoke™ setuju
[...] dari anda berpikir berdasarkan fatwa – fatwa yang berlaku. Sekiranya agama anda dengan agama lain sebangun dan kongruen sehingga mungkin prakteknya (untuk menarik masuk mereka – mereka yang “kafir”) sama [...]
Wah Pak De emang serius.
*komen serius nanti aja*
hmm,,hmm,,
dan jumlah sudut segitiga selalu 180 derajat!
yang artinya…ah, pusing.maap.
Kita manusia hidup di dunia ini hanya sementara saja. Oleh karena itu apakah kita telah ” mempersiapkan diri ” kita untuk hidup rukun dengan sesama manusia, terlebih-lebih hidup rukun dengan sang Pencipta ? Orang yang tidak dapat hidup rukun dengan Tuhan, hidupnya masuk neraka dan orang yang hidupnya rukun dengan Tuhan, hidupnya akan masuk syurga.
Pertanyaannya adalah apa atau bagaimana yang disebut hidup rukun dengan Tuhan ? Orang-orang yang menuruti ajaran Allah dan mengikuti jalan yang ditunjukkanNya lah yang disebut hidup rukun dengan Tuhan.
Semua ajaran agama yang meng atasnamakan atau demi nama Tuhan, senantiasa mengarahkan pengikutnya untuk dapat hidup rukun dengan Tuhan. Hanya saja bagaimana kita bisa atau dapat mengetahui bahwa ajaran agama yang inilah yang benar atau ajaran agama itulah yang benar ? Bingung bukan ? Tidak dan jangan bingung. Ambillah semua kitab suci semua agama itu dan pelajari. Setelah anda kumpulkan, baca dan pelajari , kemudiannya akan ditemukan adanya satu agama yang benar-benar ajaran agama yang datangnya dari Tuhan. Anda juga nanti akan dituntun sehingga anda akan mengenal nama- nama nabi dan apa yang disampaikannya, apakah ucapan yang disampaikannya itu betul atau benar terjadi ( kalau benar, berarti kebenaran yang disampaikan telah menjadi satu sejarah dalam kehidupan kita), kemudian lihat apakah ucapan-ucapan yang disampaikan ( dalam bahasa agama disebut Firman) itu HIDUP. Kalau akal pikiran dan hati nurani kita telah melihat dan merasakan kebenaran firman yang disampaikan itu benar dan hidup, itulah agama yang benar. Dari sekian banyak Kitab Suci yang diajarkan masing-masing agama itu, menurut saya hanya Kitab Taurat, Kitab Zabur dan Injillah yang berisikan NUBUAT dan nubuat itu sebagian telah tergenapi dan sebagiannya masih berlanjut ( Karena firmanNya itu HIDUP ).
Salah salah nubuat yang sangat spektakuler ialah tentang adanya seorang Mesias akan lahir. Dilahirkan oleh seorang gadis perawan, dilahirkan di suatu kota yakni Betlehem. Tidak hanya sampai disitu, matinyapun telah diramalkan bagaimana, kemudian setalah mati naik ke syurga. Dan bebarapa agama menyebut diri orang itu dengan sebutan Yesus Kristus atau Isa Al Masih. Bahkan Isa Almasih ini disebut juga sebagai jalan yang lurus yang patut diikuti (Az Zuhkruf, 43:61), Isa AS pembawa keterangan dan patut diikuti (Az Zuhkruf, 43:63), Isa AS mengatakan perkataan yang benar (Maryam,19:34), Isa AS itu utusan Allah dan firmanNya (An Nisa,4:171), Isa AS adalah Roh Allah yang menjelma menjadi Manusia yang sempurna (Maryam,19:17), Isa AS dila,hirkan bukan dari bapa insani, tetapi dari Roh Allah ( Al Anbiyaa, 21:91 ), Isa AS lahir, mati dan dihidupkan kembali ( Maryam, 19:33 ), Isa AS mati, diangkat dan pengikutNya dipilih atas orang kafir (Al Imran, 3:55), Isa AS menghidupkan orang mati ( Al-Maidah, 5:110), Isa AS diberi mukjijat dan Roh Kudus (AL Baqarah, 2:253), Kafirlah orang yang menolak Isa AS ( An Nisa, 4:156), Isa AS akan diimani oleh semua ahli kitab (An Nisa,4:159), Hai ahli kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu nenegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil dan apa-apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu (Al Maidah,5:68), Isa AS berkuasa/ terkemuka di dunia dan di akhirat (Al Imran, 3:45). Dan perlu juga saya sampaikan bahwa Isa atau Yesus itu adalah jalan, kebenaran dan hidup yang kekal, sehingga Nabi Muhammad sendiri berdoa sebelum matiNya agar Beliau dapat dipertemukan dengan TEMAN YANG MAHA TINGGI ( Hadis Shahih Bukhari 1573 ). Belajarlah dari agama yang benar, sehingga kita tidak dihantui oleh agama-agama palsu dan tentang datangnya nabi dan nabiah palsu inipun telah dinubuatkan oleh Yesus sebelum wafatnya.
[...] kalau kita menuangkan pikiran, ide, idealisme, ideologi bahkan agama yang kita anut melalui tulisan pada blog gratisan tujuannya untuk dibaca orang. Lalu pembaca [...]
Analogi Pak Deking saya kira ada benarnya juga. Menurut hemat saya sih, semua agama memang mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk mengesakan Tuhan. Hanya saja, masing-masing agama punya Tuhan dan cara yang beda-beda berdasarkan syariatnya masing-masing. (wih, sok tahu, ya?)
Nah, saya menunggu analogi-analogi Pak Deking yang lain. Ini memudahkan pemahaman terhadap sesuatu yang abstrak jadi konkret banget, gitu deh …
*komen serius*
agama itu memang berbeda pada level level tertentu
tapi agama juga sama pada level level tertentu
sekarang kira kira level di bagian mana yang merupakan level terakhir ?
waduh…berat bang. saya sudah baca tapi bingung mo komen apa
abis pake matematika segala. udah tau saya nggak suka eksak
huehehehe yang pasti kita harus toleransi antar umat yang berbeda agama. walaupun beda-beda, tetap harus bersatu juga tho?
jadi teringat bhinneka tunggal ika
Masing masing agama punya tujuan masing-masing, apa yang anda cari.
Pemujaan, Penghambaan, Kedamaian, Penyerahdirian atau Pengakuan.
Masing2 agama menawarkannya dalam kadar masing2 dan memikat calon penganutnya masing-masing.
orang boleh beda, setuju!
termasuk bagaimana cara kita meng-analogikannya, untuk lebih mudah dimengerti dan dipahami,
btw, itu uraian untuk beda agama, lha kalo satu agama beda pengertian, gimana menganalogikannya ya? apa bisa juga dengan matematika?
menurut saya sih, semua memang tergantung sudut pandang. dimana pengamat mengamati objek.
jangankan agama yang gak kelihatan bentuknya, bangun segitigapun jika di lihat dari sisi yang berbeda pasti akan menuju kesimpulan yang berbeda.
dalam hal-hal tertentu iya.
dalam beberapa hal pasti ada yang membedakan.
kesimpulan :
mumet kie mas dab!!
apakah seorang agnostic seperti saya juga memiliki “segitiga”?
Well, agama itu sebenarnya udah jadi dan nggak usah di perdebatkan lagi – tinggal penganutnya aja menjalankan dan mengamalkan apa yang diajarkan..
………………..
saya baca postingnya, saya baca juga semuuuaaaa komen-nya, (termasuk tb) dari 1 s/d 30. hasilnya ….
pusing. sampe lupa mao komen apaan… duh….
………………..
Kalo saya menganalogikan agama itu seperti garis ‘paralel’ dalam bidang non-Euclidean. Sekilas dari dekat terlihat tidak akan pernah bertemu satu sama lain, bahkan menuju ke arah yang berbeda. Tapi kalo dilihat dari jauh, ternyata semuanya menuju ke arah yang sama; cuma sudut pandang kita aja yang ‘bengkok’.
@Almas:
Memang perbedaan sudut pandang ini yang sering repot.
Seringkali orang berselisih hanya karena pengambilan sudut pandang yang berbeda, padahal obyek yang “dipandang” adalah sama.
@Kang Adhi:
Waduch Kang…itu yang sulit. Pada dasarnya hal seperti itu lahir dari keegoan manusia sendiri
@Erander:
Thanx Bang…
Maaf kalau Bang Erander menjadi tidak nyaman atas predikat narsis yang sekarang melekat pada Bang Erander.
Kenyataannya Bang Erander memang narsis kan?@Neo 49:
Ah antum masih saja nekad menanggapi tanpa membaca dan memahami permasalahan yang ada
…
Siapa ya yang biasanya melakukan hal seperti itu?
@Arul:
Ya sejarah agama mungkin bisa membantu untuk mengkaji permasalahan ini.
@co-that:
“Bagiku agamaku dan bagimu agamamu” saya kutip dari salah satu ayat di Al Qur’an.
IMO…Setiap agama saya rasa tidak akan mengajarkan permusuhan dan peperangan. Yang menimbulkan kelahiran hal2 tsb adalah sang pemeluk agama sendiri yang mungkin kurang tepat dalam menangkap “pesan” Tuhan.
@Toni:
Terima kasih atas ilmu tambahannya Pak
Mmmm…mungkin ada beberapa ajaran-ajaran agama sebagai perwujudan perintah Tuhan yang disesuaikan dengan kondisi jaman. Walaupun banyak ajaran agama yang bersifat fleksibel
@Secondprice:
Ah maaf…bukan kapasitas saya untuk menentukan dan menilai benar dan salah.
Saya hanya berusaha membandingkan “bentuk” agama saja…bukan untuk menilai “keindahan” masing2 “bentuk” tsb
@ ‘K:
Kalau berat, marilah kita sama-sama memikulnya
@Baliazura:
Mmmm sepertinya saya perlu memikirkan hal ini dulu…berat
Kalau seperti itu kok terkesan kalau agama dikonstruksi oleh manusia ya?
@rd Limosin:
hehehehe berbeda dengan Bung Baliazura…
Kalau Bung Baliazura said “waduh agama lagi” maka Mas Ardy malahan “ahhhh. Matematika lagi…”
@Antobilang:
Ya akhi, janganlah antum seperti itu…
Mendingan antum perbaiki semantik dulu sana
@Ahmad:
Sepakat!!! Nah itulah masalahnya…untuk apa sich telinga dan otak kita diciptakan
@Joerig:
Mendingan setuju daripada dicap tut..tut..tut… waduch kena sensor
@Dana yang lagi males login:
OK saya tunggu oom
@Damarberlari:
Eh lama tak bersua
@Jaren:
Semoga kita bisa…
@Sawali Tuhusetya:
Hmmm kalau saya pribadi bingung dengan hal tsb. Apakah tujuan pengesaan Tuhan memang dimiliki semua agama atau hanya dimiliki oleh agama2 tertentu…
Tapi sepertinya kalau masalah “kembalinya” manusia pada tuhan merupakan ajaran dan tujuan semua agama.
BTW mengenai analogi itu memang kesukaan saya…semoga saya masih bisa bermain2 dengan analogi.
@Danalingga:
*akhirnya datang juga*
Level terakhir itu level yang paling bagus atau malahan yang paling rumit dan sulit ya?
Untuk orang2 tertentu yg cenderung cari aman maka dia akan memilih untuk bertahan pada level yg bisa dia nikmati
hehehehe
@cK:
Iya keberagaman bukanlah suatu alasan untuk perpecahan…
@Peyek:
Uraian untuk satu agama? Wah saya kok sepertinya perlu bertapa lama untuk membahas hal itu hehehehe
@Andalas:
Hehehehe masalah pengambilan sudut pandang sebaiknya sesuaikan saja dengan kebutuhan kita
@Gerry:
Saya tidak tau banyak tentang agnostik. Apakah para agnostik hanya sekedar percaya Tuhan ataukah agnostik juga memiliki ritual penyembahan Tuhan yang diatur dan diakui oleh suatu komunitas?
Jika ternyata agnostik memiliki ritual penyembahan yang diatur dan diakui suatu komunitas maka menurut saya itu sudah menjadi suatu “segitiga” alias agama.
Tapi yang jelas saya tidak mengatakan kalau yang bukan segitiga adalah jelek…tidak.
Saya hanya membandingkan antar segitiga saja kok
@Domba Garut a.k.a kampret nyasar:
Intinya memang mengamalkan apa yang diajarkan ya Bang. Tapi jangan asal mengamalkan tentunya…tentu akan lebih baik jika juga dilakukan pengkajian amalan2 tsb.
@Telmark:
Saya juga bingung menanggapi komentar2nya
Komentar2 yang masuk mantap2…
@Catschade:
Hohohohoho ini juga analogi yang bagus….mantapz. Setuju!!
Cuma sayangnya non Euclidean masih kurang familiar bagi masyarakat umum.
[...] tak seharusnya aku terdiam depan komputer ini. Hanya membaca banyolan2 yang bikin panas telinga, omongan lebih pada pencarian Popularitas, Gak pernah tau kalo bahan ceritaan ntu sudah pasti dan tid…. Ok, aku tau kok, mereka paham tentang menggoyangkan jari-jari mereka untuk berolah kata, dan [...]
euh…dari dulu saya kebingungan mengungkapkan istilah yg tepat untuk sama tapi nggak sama ini. terima kasih
waduh2 ni sampai tak print soalnya ga mudeng saya
? tak baca dirumah aja deh maklum tarif internet mahal
keep bloging bro
Sama, namun berkembang di zaman yang berbeda beda, dan kita bisa menilai sendiri mana yang lebih sempurna…..
duh.. kok mesti matematika lagi sih….
kenapa gak bahasa indonesia… sejarah …gitu
biar gak pusing/….
ya bagaimana 3 orang buta memegang gajah
:D
[...] kalau kita menuangkan pikiran, ide, idealisme, ideologi bahkan agama yang kita anut melalui tulisan pada blog gratisan tujuannya untuk dibaca orang. Lalu pembaca [...]
kang deking ini guru matematika opo kimia tho?
memang semua agama sebangun dalam tujuan demi kemaslahatan umatnya, tetapi masing2 agama mempunyai cara yang berbeda dalam pemenuhan kemaslahatannya sendiri (red.umat)
Masing-masing agama tentunya mengajarkan menuju kebaikan. Aku ambil kalimat terakhirnya aja dech pak
Lakum Diinukum Waliyadin
Mengutip dari komen mas Toni ;
Kalo seperti itu adanya berarti beliau menganggap Tuhan itu Satu Kesatuan, diibaratkan seperti banyak lidi (berapapun banyaknya) yang diikat menjadi satu lalu dinamakan sapu lidi, dan sapu tersebut adalah satu.
He…he…. matematika yang rumit, agama yang menjadi rumit juga
Sebangun : bentuknya sama (kurang lebih begitu ya).
Kongruen : bentuk dan ukuran sama (sama dan sebangun).
Agama?
Hem… kali ada dua faktor pokok yang mendasarinya.
Yang utama itu hubungan dengan Pencipta dan hubungan antara mahluk yang diciptakan.
Biar bentuknya segitiga maka ditambah juklaknya (Wahyu Allah) atau Juklak Non Wahyu.
Nah garis-garis khayali yang terhubung… kalau begitu sebangunkah?, kongruen kah?….
Namun, bukan karena perbedaan yang kemudian jadi pertentangan atau permusuhan lho… itu seeh urusan lain…
” sepertinya agama adalah perkembangan dari keingin tahuan siapa dan kemana tujuan hidup”
adalah dalam diri manusia punya hasrat untuk kembali ke dalam ke sucian (fitri ) saat pertama kali lahir kedunia jika muncul suatu hasrat untuk kembali kepada kesucian maka manusia mulai mengingat esensi dari dirinya dan siapa yang telah menciptakannya lalu mulailah pencarian terhadap esensi dari manusia dan Tuhan
ati-ati lho ngomongmu…
ntar dimintain pertanggungjawaban d akhirat…
sesungguhnya agama yg benar itu agama Tauhid, agama yg bener2 dah dridhoi Allah Swt…ya itu aga islam.
tataran nampak mungkin sama.
esensinya bisa keliatan sama.
hakikatnya, belum tentu sama
masih ada waktu memperdebatkan keyakinan?
kenapa ga kita kerja bareng aja buat dunia ini menjadi damai bagi semua makhluk.
Berdebat terus, basi! sementara bumi semakin ambruk oleh petuah-petuah yang katanya dari pada para pemuka agama yang yakin atas kebenaran. Sementara aktifitas hidupnya jauh dari petuahnya sendiri. Kebenaran?
gile!
yuk kita bikin bumi Allah ini menjadi damai dan bergandengan tangan!
Wislah, ga usah berteori!
Saya mau numpang nanya aja pada semua yang ikut komen dalam posting ini yaitu tentang ” Ternyata semua agama sama ” dengan pertanyaan sebagai berikut : Siapakah yang dapat menyelamatkan manusia sehingga seseorang itu dapat luput dari laknatulah ? Pertanyaan ini penting mengingat pada level-level tertentu ternyata semua agama sama, adalah sama, namun pada level lain, tidaklah sama. Apakah persembahan, beramal dan lain sebagainya dapat menyelamatkan seseorang dari laknatulah ? Sementara nabi-nabi yang ada aja gak berani menjamin keselamatan pengikut-pengikutnya untuk dapat selamat dan masuk ke sorga !
innaddina ‘indallahill Islam….
agama yang diridhai Allah adalah Islam
Menarik nih pembahasan pak deKing.
Komentar saya begini :
Yang saya ketahui berkaitan hal ini adalah :
Berbagai usaha telah dilakukan oleh kalangan tertentu demi mengatasi problem2 berikut :
[1] Konflik antar [penganut] agama yg berbeda. Sebenarnya juga antar [penganut] agama yg sama dengan pemahaman yg berbeda. Istilahnya : “Berperang atas nama Tuhan”.
[2] Mendangkalnya fungsi akal akibat model pemahaman/keyakinan keagamaan tertentu. Itu makanya ada istilah ” Agama adalah candu”, yg oleh sbagian [justru] mbuatnya kehilangan fungsi akal akibat kecanduan itu.
Contoh bbagai usaha mengatasinya problem di atas :
[1.1] Pengamalan prinsip toleransi
[1.2] Mengembangkan pemahaman pluralisme, yg salah satu varian artinya adalah : semua agama sama. Apanya yg sama ? Ini juga berbeda2. Contoh apa yg dimaksud dengan SAMA itu ya seperti ungkapan pak deKing kali ini.
[1.3] Mencetuskan gagasan teologi global.
[2.1] Membuka lebar2 peluang ijtihad
[2.2] Rasionalisasi pemahaman agama. Contoh : Protestan di kalangan nasrani dan [Islam] Liberal/mu’tazilah di kalangan Islam, dstnya .
[2.3] “Tuhan telah mati”, kata mereka. Ini adalah ungkapan yg menyatakan betapa muaknya mereka menyaksikan tingkah pola sebagian orang2 yg mengaku ber Tuhan.
Ktika pada satu titik di perjalanan pemahaman kita memang ada saat2 kita menjadi “muak” thadap fakta hubungan antar ummat beragama [yg ribut mlulu] dan fakta di depan mata terbelakangnya ummat [Islam] dibandingkan ummat lain di era ini, maka yg [acap] terjadi adalah :
[1] Ada yg secara ekstrim lari ke masa lalu. Pokoknya segala sesuatunya harus ada referensi ke kisah2 di masa lalu. –> Salaf
[2] Ada yg secara ekstrim membuang [sama sekali] masa lalu dan menatap sgala sesuatunya ke depan, dengan pikirannya sendiri.
Ada yg tidak ingin kehilangan [uswah dan ibrah] dari masa lalu dan tidak ingin juga kehilangan masa kini (waqi’) dan masa depan (khalaf).
Kalo saya…,
tidak ingin kehilangan apa2 yg sepatutnya jadi milik saya,
dari-NYA.
#Yeah…, berhasil kuakhiri dengan puisi, semoga dimengerti…#
pandangan yang menarik..
semua agama tidak sama, karena itu saya memilih salah satu agama bukan semua agama….hehehe. maturnuwun pakde, tulisannya panjangggg, matematika lagi….pening!
sibermedik:::
semua juga tahu kok, mas, kalo menurut umat muslim agama yang diridhoi allah itu ya cuma islam.
tapi semua juga tahu kalo menurut hindu, agama yang bener bener itu ya agamanya brahma sang pencipta, wisnu sang pemelihara, dan syiwa sang penghancur.
agama yang diridhoi oleh trimurti itu ya agama hindu
kalo menurut siddharta ya bisa lain lagi.
menurut yesus juga tambah lain.
gimana? omongan saya bisa dipertanggungjawabkan di akhirat ga?
eh.. masih rame euy. Pak De nya kemana nih?
hadiro..
sorrry Mas, aku bacanya nanti aja…
dah malam…
@Joe:
Akhi Joe bisa aja…ana kan yang sering belajar dari tulisan antum.
Terima kasih kembali ya akhi….
Kekekekekekekekek
BTW kok tumben kamu sopan banget….
@Papuaxxx:
Silakan bro…semoga bisa bermanfaat
@Raffaell:
Kalau boleh saya menyatakan kembali pendapat Bang Raffa…
mungkin secara gampang bisa kita analogikan dengan dengan teknologi ya Bang? Pentium 1 dst…
Tapi kalau tentang ini saya no komen saja ya Bang
Setuju dengan bagian terakhir pendapat Bang Raffa…SILAKAN MENILAI SENDIRI
Kebetulan saya tidak membahas tingkat kebenaran dan kesempurnaan suatu agama
@klikharry:
Lha taunya cuma itu Mas
@Dobelden:
Benar sekali…semua tergantung sudut pandang. Jadi jangan sampai ada perpecahan karena ada perbedaan pendapat yang disebabkan oleh pemilihan sudut pandang yang diambil
@Mataharicinta:
Saya guru Matematika kok Mbak Ika
@Wilchem01:
Setuju…
Nah pemilihan cara yang berbeda itu kan hanya berlaku untuk kemaslahatan umat mereka sendiri (internal), jadi alangkah baiknya jika kita tidak menyalahkan cara yang dipilih agama lain karena cara itu untuk kebaikan mereka sendiri … bukan kebaikan kita sebagai orang luar
@xwoman:
Setuju mbak…
Masalah Tuhan merupakan area rumit…
Atau mungkinkah sebenarnya Tuhan itu hanya satu?
Hanya saja tiap agama mengambil sudut yang berbeda dalam “memandang” Tuhan…MUNGKIN
@Agorsiloku:
Nah juklak itulah yang pada akhirnya membuat agama2 tidak “kongruen”
Yang terakhir setuju Pak…
@Baliazura:
Tuhan adalah tujuan ya mas? Setuju…
Dan semoga saja agama itu bisa benar2 diterapkan menjadi rambu2 petunjuk pencapaian Tuhan.
Agama bisa dianalogikan dengan “rambu-rambu” lalu lintas yang dibuat untuk keselamatan “pengguna jalan” itu sendiri.
Nah alangkah baiknya jika kita menghormati rambu2 yang digunakan di jalan yang lain karena sesungguhnya rambu2 tsb dibuat menyesuaikan kondisi jalan yang ada.
Misal jalan yang banyak anak2 tentu akan lebih baik jika dipasangi polisi tidur demi keselamatan tetapi untuk jalan tol tanpa penyeberang jalan akan lebih bermanfaat jika tanpa polisi tidur.’
Jadi misalkan kita pemakai tol maka kita tidak tepat untuk mengatakan bahwa penggunaan polisi tidur itu di jalan kompleks itu tidak tepat…uruslah jalan kita masing2.
@Sibermedik:
Terima kasih atas peringatannya Mas…
Mas…
Tanggapan komentar mas sama dengan tanggapan untuk Baliazura, yaitu analogi jalan raya dan rambu2.
Jadi intinya apa?
Semua orang pasti akan mengatakan miliknyalah yang terbaik…
Selain itu saya kan tidak mengatakan derajat kebenaran suatu agama kan?
@Vino:
Iya…dan kita sebaiknya janganlah memvonis hakekat2 dari agama lain.
@Roemahcerdaz:
Nah itulah mas…saya inginnya juga kita tidak usah mendebatkan perbedaan yang ada.
Tulisan saya sebenarnya berusaha mengkritisi beberapa pihak yang senantiasa mempermasalahkan perbedaan.
Kenapa perbedaan mesti dipermasalahkan?
Kenapa mesti mengklaim dirinya sendiri yang terbaik…
@Rajaenggang:
Hehehehe…
Sekali lagi jawaban saya silakan dilihat ttg analogi agama sebagai rambu2 keselamatan (tanggapan kepada Baliazura)…
Silakan dibaca
@Abuhaedar:
Bagi orang Islam (termasuk saya…dan bagi saya PRIBADI).
Bagaimana bagi pemeluk agama lain ya?
@Herianto:
Terima kasih Pak…
Pengamalan prinsip toleransi…
Wahai saudara2 semua…sepertinya bagus tuch kalau benar2 diterapkan
@Spitod:
Terima kasih…
@Cewektulen:
Hehehehe….sudah minum obat belum?
@Joe:
Terima kasih dab…
Sepertinya tidak semua orang bisa memahami hal itu wahai Akhi…
@Danalingga:
)
Maaf…sedang sibuk ngurus keimigrasian…ini pun menanggapi komentarnya agak2 ngasal karena urusan belum selesai. Takut dideportasi
komen yang ini keknya cocok di daur ulang nih.
sangat sangat mengena sekali.
“BAGIKU AGAMAKU DAN BAGIMU AGAMAMU”
Inti dari penggalan firman diatas sebenarnya udah jelas banget, bahwa agama Islam (khususnya) sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.
Waktu itu saya masih kuliah dan kebetulan nggak sengaja nguping percakapan adik saya yang SMU dengan teman2nya mengenai topik yang hampir sama dengan ini. Ditengah serunya percakapan itu ada salah seorang yang bilang, “agama itu nggak boleh diperdebatkan, karena jika agama menjadi bahan perdebatan maka nggak salah jika terjadi banyak bunuh-bunuhan antara sesama manusia”.
Surprise eiy, sungguh saat itu saya nggak nyangka diantara mereka udah ada yang bisa berpikiran seperti itu.
Tapi apapun tujuan mas deking, sebagai sebuah wacana postingan ini menarik untuk dibaca sampai habis tapi tidak untuk diperdebatkan.
Menurut saya agama yang ada dunia ini, tidak ada yang sebangun. Asumsi ini jika variabel² sebut diatas disatukan dalam satu rumus/persamaan.
Bila dipecah dengan kategori umum (supaya terasa sebangun) dan kategori khusus, menurut saya kurang valid mengingat kita harus memandang suatu benda itu secara keseluruhan untuk memverifikasi apakah benda tersebut sama atau tidak.
Jadi menurut aku lihatlah dari resultante variabelnya. Resultante atau hasil akhirnya ini yg menentukan bentuk seperti apakah itu gerangan.
Jadi menurut saya teori sebangun tapi tak kongruen tidak masuk tuh. Halah ngomong apa aku ini.. huehuehue…
hahahahaha, anda ini….. nah yang begini nih yang bikin orang takut belajar agama, karena ada matematikanya….. hahahha
sayang sekali…pelaksanaannya jauh sekali dari itu…
Menarik nih..
sebenarnya kesimpulan nya banyak yang sudah dibayangkan. tapi kadang sulit untuk diungkapkan. Dengan pendekatan ini ya mungkin orang lebih bisa mengerti
ngak komen dah cape baca posting sama komen yang lain
@ deking
cuma gingetin..manusia seperti saya g punya hak menghakimi…
ikut nimbrung lagi sedikit aja, bahwa sebenarnya antara agama Islam, Kristen dan Yahudi itu adalah satu agama yang serumpun(kayak sosiologi aja), bahwa ketiga-tiganya bersumber dari Nabi Abraham/ Ibrahim. Masalah kita manusia untuk memilih suatu keyakinan adalah hanya masalah/ mebuat piliahan moral. Saya ada baca satu tulisan, dan akan saya kutipkan untuk kita renungkan kembali, begini katanya : Jaka Allah sendiri merasa senang dengan Isa Almasih atau Yesus Kristus, sehingga Dia membangkitkanNya dari mati dan mengangkatNya ke sisiNya, mengapa ada manusia mau menolak Isa/ Yesus dari hidup mereka ?
Kutipan tersebut diatas sangat mengusik saya, sehingga saya merasa perlu ikut nimbrung sedikit. Terima kasih
menarik ^ ^
Mari renungkan,,
masihkah kita mengatakan
“agama saya adalah yang lebih baik?”
Waduh dah rame lagi disini, ga komen ah….takut lidah saya keseleo.
Lha wong ilmu saya masih cetek.
Eh, ada ga ya persamaan matematika utk. membuktikan keberadaan Tuhan?! khan matematika adalah ilmu pasti, dan keberadaan tuhan
katanyajuga pasti.Dan gi…..
[**akhh....diseret kepojokan oleh para penggemar deking**]:lol:
@ 65 Mrs. Neo Forty-Nine
Bicara pelaksanaan berarti ngomongin manusianya, pelakunya. Jadi nggak ada yang salah dengan agamanya.
mantap sekali penjelasannya..
diskusi tentang “sama” atau “beda” menurut saya adalah hal yg sangat relatif..
“semua agama sama” vs “semua agama tidak sama”, semua punya pendapat serta alasan masing2..
tapi, untuk “semua agama baik”. semua setuju kan?
[...] yang mau mengaitkannya dengan tulisan yang kemarin silakan. Atau ada yang [...]
(OOT) nomor cantik
@Danalingga:
Hehehehe kok jadi kayak pabrik daur ulang komentar saja hehehe
@undercover:
Terima kasih mas…tujuan saya menulis ini adalah untuk mengingatkan tentang
“BAGIKU AGAMAKU DAN BAGIMU AGAMAMU”
@Roffi:
Benar juga memang…tetapi menurut saya pribadi perbedaan antar agama berada pada tingkat khusus tsb. Seperti beberapa rekan mengistilahkannya dengan “level”.
Tapi ide Kang Roffi akan saya pikir lebih lanjut dulu…nice idea
@ndarualqaz:
Wakakakak maafkan saya ya akhi…
Siapa tau ada orang yang suka matematika menjadi lebih suka belajar agama
@Mrs. Neo 49:
Pelaksanaan? Ya seperti pada tanggapan komentar dari saya pada #59….intinya kan para “pemakai jalannya” yang bermasalah
@Piogrand:
Ya suatu pendekatan mungkin hanya cocok untuk kalangan tertentu. Semoga saja ada yang merasa cocok dengan pendekatan saya ini
@Kangguru:
Saya juga capek Kang
@Sibermedik:
Terima kasih Mas. Insya Alloh saya akan berusaha untuk lebih berhati-hati
@Rahmat:
Benar dan itu berarti kita harus siap untuk mempertanggungjawabkan pilihan kita tsb…kita harus siap dengan segala konsekuensi yang ada.
Dan yang tidak kalah penting adalah kita tidak boleh menyalahkan pilihan yang diambil orang lain karena mungkin pilihan itulah yang tepat untuknya dan dia sendirilah yang akan mempertanggungjawabkan pilihannya.
@Mochinobi:
Setuju…
Intinya sudahlah bertanggungjawablah pada pilihan kita…tidak usah memvonis pilihan yang diambil orang lain.
@Sugeng Rianto:
Seneng di kamu donk Geng, lha penggemar saya cewek2 semua hehehe…
*emang ada penggemar
Wis kana…koen manjing kantor sit
@Undercover:
Setuju Mas…
Bukan salah cangkul jika dia digunakan untuk membunuh karena pada dasarnya cangkul digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat…bertani.
Salahkanlah orang yang menggunakan cangkul untuk membunuh
@Anker:
Semua agama baik…setidaknya untuk penganutnya masing2.
@Joyo:
Selamat Mas…Anda layak dapat
“Sesungguhnya agama yang benar disisi Allah adalah agama Islam”
Kalau ikut konsep matematika (logic), bilangan hanya ada 1 dan 0. Atau “ya” dan “tidak” atau juga benar dan salah.
Kalau agama yang benar adalah Islam berarti yang lain adalah salah.
agama Islam apa Islam?
di tangan matematikawan ternyata membahas isyu yang nylekit ini bisa cool, calm and confident. sesuatu yang susah bahkan bagi seorang kyai saya sekalipun.
btw, semua agama sama rasanya itu (u external)
semua agama tidak sama (u internal)
contoh ayatnya juga begitu:
sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam (internal orang Islam) sama dengan “jadikanlah petunjuk untuk semua domba-domba yang tersesat” ini ayat internal umat kristiani.
ayat eksternalnya: lakum dinukum waliyadin (untukmu agamamu unttukku agamaku) begitu pula di kristen dan agama lain pasti ada… ayat2 eksternalnya
bayangkan jika dua ayat (internal) untuk eksternal, berantem jadinya gak aada yang mau ngalah…
waah komentnya kepanjangan gak habisnya artikelnya panjang… sih
Dengan berteori apapun tentang agama akhirnya yang dicari orang atau manusia adalah keselamatan hidup di dunia dan akhirat dan sekaligus memperoleh kehidupan yang kekal. Betul ngak ? Kalau memang betul, yang paling benar bahkan Absolut benar hanya satu, yaitu Isa Almasih atau Yesus Kristus
Agama langit mana yang dapat menyangkal kebenaran ini ? IA adalah jalan kebenaran dan hidup. Roh Kudus yang menjelma menjadi manusia dan selama hidupnya tidak pernah bercacat atau tercela. Kalau teori mah masih ada kurangnya dan kadang tidak pasti.
@ atas saya
lho, itu teori juga, bukan?
wah untung ngga bilang klo yang sisi nya lebih panjang berarti lebih bagus . ..
sejauh ini saya setuju aja deh sama artikel nya
mantafffff juragan
(antara orang beragama dan tidak beragama)
Mas Deking, maaf…..
menurut saya, anda harus lebih dulu tau atau menentukan sikap, apakah esensi ajaran agama itu benar atau tidak.
Mgkn pertamakali adalah percayakah anda bahwa Tuhan itu ada?
kalo anda sudah tidak percaya keberadaan Tuhan, maka
Obrolan ttg agama sudah tidak berguna.
karena agama berbicara tentang keimanan kepada tuhan dan isi kitabnya adalah Firman2NYA.
Anda lebih tepat berdebat di forum “apakah tuhan itu memang ada”
Tapi Kalo anda percaya bahwa Tuhan itu ada
maka silakan cari agama mana yg konsep ketuhanannya paling benar menurut anda. agama itulah yg akan menjelaskan kepada anda bagaimana posisi agama2 yg lain.
Agama itu sebangun atau kongruen?? itu sangat membuang2 waktu…(maaf)
karena jelas masing2 agama mengklaim dirinya paling benar dan agama yg lain salah.
orang2 yg tidak beragamalah yg mencoba mencari kesamaan smua ajaran agama untuk membedakannya dengan yang tidak ada ajaran agama.
Sepertinya semua agama itu kebenarannya relatif, krn kita blom tau mana yg paling benr, pdhl kota yakin agama kita paling benar
Agama Islam banyak meminjam dogma dari agama-agama lain, bahkan dari komunitas yang disebut penyembah berhala atau kafir. Salah satu dogma utama adalah “pengadilan terakhir” yang dipinjam oleh agama Islam dari agama Zoroaster Persia.
Untuk lebih lengkapnya, ini artikel ini menarik sekali. Ini situsnya: http://religi.wordpress.com/2007/03/16/agama-langit-dan-agama-bumi/
AGAMA LANGIT DAN AGAMA BUMI
Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen, maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.
Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya; “Hindu View of Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.
Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto).
Ada pula yang menggolongkan agama sebagai agama langit (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha, dll.) Penggolongan ini paling disukai oleh orang-orang Kristen dan Islam, karena secara implisit mengandung makna tinggi rendah, yang satu datang dari langit, agama wahyu, buatan Tuhan, yang lain lahir di bumi, buatan manusia. Penggolongan ini akan dibahas secara singkat di bawah ini.
Agama bumi dan agama langit.
Dr. H.M. Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya “Empat Kuliyah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan agama-agama samawi. Agama alamiah adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan Budha. Mengenai agama Hindu Rasjidi mengutip seorang teolog Kristen, Dr. Harun Hadiwiyono, Rektor Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana” di Yogyakarta sebagai berikut:
“Sebenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu sebenarnya adalah satu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi jaman sejak kira-kira 1500 S.M hingga jaman sekarang. Dalam perjalanannya sepanjang abad-abad itu, agama Hindu berkembang sambil berobah dan terbagi-bagi, sehingga agama ini memiliki ciri yang bermacam-macam, yang oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubung karena itu maka Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu itu sesungguhnya adalah satu proses antropologis, yang hanya karena nasib baik yang ironis saja diberi nama agama.” 1)
Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan (yang duduk di kursinya di langit ketujuh, Sky god, kata Gore Vidal). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bab Keempat dengan judul “Agama Islam adalah Agama Samawi Terakhir” Rasjidi dengan jelas menunjukkan atau menempatkan Islam sebagai puncak dari agama langit. Hal ini dapat dipahami karena Rasjidi bukan saja seorang guru besar tentang Islam, tetapi juga seorang Muslim yang saleh.
Bahkan dengan doktrin mansukh, pembatalan, para teolog dan ahli fikih Islam mengklaim, Qur’an sebagai wahyu terakhir telah membatalkan kitab-kitab suci agama-agama sebelumnya (Torah dan Injil).
Bila Tuhan yang diyakini oleh ketiga agama bersaudara ini adalah satu dan sama, pandangan para teolog Islam adalah logis. Tetapi disini timbul pertanyaan, apakah Tuhan menulis bukunya seperti seorang mahasiswa menulis thesis? Sedikit demi sedikit sesuai dengan informasi yang dikumpulkannya, melalui percobaan dan kesalahan, perbaikan, penambahan pengurangan, buku itu disusun dan disempurnakan secara perlahan-lahan?
Tetapi ketiga agama ini tidak memuja Tuhan yang satu dan sama. Masing-masing Tuhan ketiga agama ini memiliki asal-usul yang berbeda dan karakter yang berbeda. Yahweh berasal dan ajudan dewa perang, yang kemungkinan berasal dari suku Midian, dan dijadikan satu-satunya Tuhan orang Israel oleh Musa. Jesus salah seorang dari Trinitas, adalah seorang pembaharu agama Yahudi yang diangkat menjadi Tuhan oleh para pendiri Kristen awal. Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad. Jadi Yahweh, Trinitas dan Allah adalah tuhan-tuhan yang dibuat manusia. 2) (Lihat Karen Amstrong: A History of God).
Dan karakter dari masing-masing Tuhan itu sangat berbeda. Ketiganya memang Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan pencemburu keras, gampang marah, dan suka menghukumi pengikutnya dengan kejam, tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain, seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam, Allah memilikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh yang paling dibencinya.
Jadi jelaslah di langit-langit suci agama-agama rumpun Yahudi ini terdapat lima oknum Tuhan yang berbeda-beda, yaitu Yahweh, Trinitas (Roh Kudus, Allah Bapa dan Tuhan Anak atau Jesus) dan Allah Islam. Masing-masing dengan ribuan malaikat dan jinnya.
Pengakuan terhadap Tuhan yang berbeda-beda tampaknya bisa menyelesaikan masalah soal pembatalan kitab-kitab atau agama-agama sebelumnya oleh agama-agama kemudian atau agama terakhir. Masing-masing Tuhan ini memang menurunkan wahyu yang berbeda, yang hanya berlaku bagi para pengikutnya saja. Satu ajaran atau satu kitab suci tidak perlu membatalkan kitab suci yang lain.
Tetapi disini timbul masalah lagi. Bagaimana kedudukan bagian-bagian dari Perjanjian Lama yang diterima atau diambil oleh Perjanjian Baru? Bagaimana kedudukan bagian-bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdapat di dalam Al-Qur’an? Apakah bagian-bagian itu dipinjam dari Tuhan yang satu oleh Tuhan yang lain, yang ada belakangan? Atau persamaan itu hanya kebetulan? Ataukah para penulis kitab-kitab yang belakangan meminjamnya dari penulis kitab-kitab terdahulu?
Pembagian agama menjadi agama bumi dan agama langit, dari sudut pandang Hindu sebenarnya tidak menjadi masalah. Ini terkait dengan konsep ketuhanan dari masing-masing agama. Agama-agama Abrahamik atau Rumpun Yahudi (nama yang lebih tepat daripada “agama langit”) memandang Tuhan sebagai sosok berpribadi, seperti manusia, yang berdiam di langit (ke tujuh) duduk di atas kursinya, yang dipikul oleh para malaikat. Dari kursinya di langit itu Dia melakukan segala urusan, termasuk antara lain, tetapi tidak terbatas pada, mengatur terbit dan tenggelannya matahari, “menurunkan” wahyu dan lain sebagainya. Dari segi ini benarlah sebutan “agama langit” itu, karena ajarannya diturunkan oleh Tuhannya yang bermukim nun jauh di langit.
Dalam pandangan agama Hindu, Tuhan bersifat panteistik, yang melingkupi ciptaan (imanen) dan sekaligus di luar ciptaannya (transenden). Menurut pandangan Hindu Tuhan tidak saja lebih besar dari ciptaannya, tetapi juga dekat dengan ciptaannya. Kalau Tuhan hanya ada di satu tempat di langit ketujuh, berarti Ia ada di satu noktah kecil di dalam ciptaannya. Oleh karena itu Dia tidak Mahabesar. Agak mirip dengan pengertian ini, di dalam agama Hindu, dikenal ajaran tentang Avatara, yaitu Tuhan yang menjelma menjadi mahluk, yang lahir dan hidup di bumi – seperti Rama dan Krishna – menyampaikan ajarannya di bumi langsung kepada manusia tanpa perantara.
Dari segi ini, dikotomi agama langit dan agama bumi tidak ada masalah. Baru menjadi masalah ketika “truth claim” yang menyertai dikotomi ini. Bahwa agama langit lebih tinggi kedudukannya dari agama bumi; karena agama-agama langit sepenuhnya merupakan bikinan Tuhan, yang tentu saja lebih mulia, lebih benar dari agama-agama bumi yang hanya buatan manusia dan bahwa oleh karenanya kebenaran dan keselamatan hanya ada pada mereka. Sedangkan agama-agama lain di luar mereka adalah palsu dan sesat.
Pandangan “supremasis” ini membawa serta sikap “triumpalis”, yaitu bahwa agama-agama yang memonopoli kebenaran Tuhan ini harus menjadikan setiap orang sebagai pengikutnya, menjadikan agamanya satu-satunya agama bagi seluruh umat manusia, dengan cara apapun. Di masa lalu “cara apapun” itu berarti kekerasan, perang, penaklukkan, penjarahan, pemerkosaan dan perbudakan atas nama agama.
Masalah wahyu
Apakah wahyu? Wahyu adalah kata-kata Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia melalui perantara yang disebut nabi, rasul, prophet. Bagaimana proses penyampaian itu? Bisa disampaikan secara langsung, Tuhan langsung berbicara kepada para perantara itu, atau satu perantara lain, seorang malaikat menyampaikan kepada para nabi; atau melalui inspirasi kepada para penulis kitab suci. Demikian pendapat para pengikut agama-agama rumpun Yahudi.
Benarkah kitab-kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam, sepenuhnya merupakan wahyu Tuhan? Bila benar bahwa kitab-kitab ini sepenuhnya wahyu Tuhan, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka kitab-kitab ini sepenuhnya sempurna bebas dari kesalahan sekecil apapun. Tetapi Studi kritis terhadap kitab-kitab suci agama-agama Abrahamik menemukan berbagai kesalahan, baik mengenai fakta yang diungkapkan, yang kemudian disebut ilmu pengetahun maupun tata bahasa. Berikut adalah beberapa contoh.
Pertama, kesalahan mengenai fakta.
Kitab-suci kitab-suci agama ini, menyatakan bumi ini datar seperti tikar, dan tidak stabil. Supaya bumi tidak goyang atau pergi ke sana kemari, Tuhan memasang tujuh gunung sebagai pasak. Kenyataannya bumi ini bulat seperti bola. Dan sekalipun ada banyak gunung, lebih dari tujuh, bumi tetap saja bergoyang, karena gempat.
Kedua, kontradiksi-kontradiksi.
Banyak terdapat kontradiksi-kontradiksi intra maupun antar kitab suci-kitab suci agama-agama ini. Satu contoh tentang anak Abraham yang dikorbankan sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan (Yahweh atau Allah). Bible mengatakan yang hendak dikorbankan adalah Isak, anak Abraham dengan Sarah, istrinya yang sesama Yahudi. Sedangkan Qur’an mengatakan bukan Isak, tetapi Ismail, anak Ibrahamin dengan Hagar, budak Ibrahim yang asal Mesir
Contoh lain. Bible menganggap Jesus sebagai Tuhan (Putra), sedangkan Al-Qur’an menganggap Jesus (Isa) hanya sebagai nabi, dan bukan pula nabi terakhir yang menyempurnakan wahyu Tuhan.
Ketiga, kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa.
Di dalam kitab-kitab suci ini terdapat doa-doa, kisah-kisah, berita-berita tentang kegiatan Tuhan, mirip seperti berita surat kabar, yang ditulis oleh seseorang (wartawan) atas seseorang yang lain (dari obyek berita, dalam hal ini Tuhan). Lalu ada kalimat yang merujuk Tuhan sebagai “Aku, Kami, Dia, atau nama-namanya sendiri, seperti Allah, Yahweh, dll”. Mengapa Tuhan menunjukkan diriNya dengan Dia, kata ganti ketiga? Kata-kata atau kalimat-kalimat pejoratif seperti Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui ini pastilah dibuat oleh manusia, sebab mustahil rasanya Tuhan memuji-muji dirinya sendiri.
Keempat, ajaran tentang kekerasan dan kebencian.
Di dalam kitab-suci kitab-suci agama-agama langit ini banyak terdapat ajaran-ajaran tentang kebencian terhadap komunitas lain, baik karena kebangsaan maupun keyakinan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kebencian terhadap orang Mesir, Philistin, Canaan dll. Di dalam Perjanjian Baru terdapat ajaran kebencian terhadap orang Yahudi dan Roma. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan pemeluk agama-agama lain yang dicap kafir secara sepihak. Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?
Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang menurunkan wahyu kebencian dan kekerasan semacam itu? Di dalam agama Hindu kebencian dan kekerasan adalah sifat-sifat para raksasa, asura dan daitya (demon, devil, atau syaitan).
Di samping hal-hal tersebut di atas, agama-agama rumpun Yahudi banyak meminjam dogma dari agama-agama lain, bahkan dari komunitas yang mereka sebut penyembah berhala atau kafir. Dogma utama mereka tentang eskatologi seperti hari kiamat, kebangkitan tubuh dan pengadilan terakhir dipinjam oleh agama Yahudi dari agama Zoroaster Persia, lalu diteruskan kepada agama Kristen dan Islam. Legenda tentang penciptaan Adam dipinjam dari leganda tentang penciptaan Promotheus dalam agama Yunani kuno. Bagaimana mungkin tuhan agama langit meminjam ajaran dari agama-agama atau tradisi buatan manusia?
Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), pendiri Arya Samaj, sebuah gerakan pembaruan Hindu, dalam bukunya Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) membahas Al Kitab dan AI-Qur’an masing-masing di dalam bab XI II dan XIV, dan sampai kepada kesimpulan yang negatif mengenai kedua kitab suci ini. Bahwa kedua kitab suci ini mengandung hal-hal yang patut dikutuk karena mengajarkan kekerasan, ketahyulan dan kesalahan. Ia meningkatkan penderitaan ras manusia dengan membuat manusia menjadi binatang buas, dan mengganggu kedamaian dunia dengan mempropagandakan perang dan dengan menanam bibit perselisihan.
Apa yang dilakukan oleh Swami Dayananda Saraswati adalah kounter kritik terhadap agama lain atas penghinaan terhadap Hindu yang dilakukan sejak berabad-abad sebelumnya oleh para teolog dan penyebar agama lainnya.
Kesimpulan.
Tidak ada kriteria yang disepakati bersama di dalam penggolongan agama-agama. Setiap orang membuat kriterianya sendiri secara semena-mena untuk tujuan meninggikan agamanya dan merendahkan agama orang lain. Hal ini sangat kentara di dalam agama-agama missi yang agresif seperti Kristen dan Islam dimana segala sesuatu dimaksudkan sebagai senjata psikologis bagi upaya-upaya konversi dan proselitasi mereka.
Di samping itu tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah isi suatu kitab suci betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung kitab suci-kitab suci itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?
Penggolongan agama-agama menjadi agama langit dan agama bumi, jelas menunjukkan sikap arogansi, sikap merendahkan pihak lain, dan bahkan sikap kebencian yang akhirnya menimbulkan kekerasan bagi pihak yang dipandangnya sesat, menjijikan dan tidak bernilai. Di lain pihak penggolongan ini menimbulkan rasa tersinggung, kemarahan, dan akhirnya kebencian. Bila kebencian bertemu kebencian, hasilnya adalah kekerasan.
Melihat berbagai cacat dari kitab suci-kitab suci mereka, khususnya ajarannya yang penuh kebencian dan kekerasan, maka isi kitab suci itu tidak datang dari Tuhan, tetapi dari manusia yang belum tercerahkan, apalagi Tuhan-Tuhan mereka adalah buatan manusia.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas disarankan agar dikotomi agama langit dan agama bumi ini tidak dipergunakan di dalam baik buku pelajaran, wacana keagamaan maupun ilmiah. Dianjurkan agar dipergunakan istilah yang lebih netral, yaitu agama Abrahamik dan agama Timur.
(Ngakan Putu Putra sebagaian bahan dari SATS ; “Semua Agama Tidak Sama” ).
Catatan kaki:
I). Prof . DR. H.M. Rasjidi : “Empat Kuliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi” penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1974. hal 10) H.M Rasjidi hal 53
2). Lihat Karen Amstrong : A History of God
3). Swami Dayananda Saraswati Satyarth Prakash (Light of Truth), hal 648.
4). Ibid hal 720.
Oke, kalau kita ingin berterus terang, yang mengatakan agama Yahudi, kristen, dan Islam adalah serumpun itu hanya manusia agar terjalin adanya kerukunan dalam ummat. Kalau dalam firman, tidak pernah disebutkan. Memang Abraham mempunyai anak Ismael dan Ishak. Ismael pun diberkati, terlebih lebih Ishak. Link dari Abraham sampai ke Yesus atau Isa, jelas. Dan link dari Abraham le Ismeil jelas, tapi link dari Ismael hingga nabi Muhammad, tidak terlihat. Namun dari Adnan hingga Nabi Muhammad, jelas. Dan semua nabi-nabi yang ada di dalam Alkitab semua berasal dari keturunan Ishak, hingga sampai kepada Mesias yaitu Yesus Kristus. Perjanjian lama dan Perjanjian Baru, itu adalah satu buku yang menjadi satu kesatuan, dan masing-masing kitab tidak berdiri sendiri-sendiri. Disebut demikian oleh karena kitab itu adalah berisi firman Tuhan yang hidup. Dan Alkitab disamping berisikan ketetapan-ketetapan atau peraturan-peraturan, juga berisi banyak nubuat. Nubuat yang ada di Perjanjian Lama tergenapi di Perjanjian Baru. Dan juga Nubuat yang termuat hingga saat ini masih dalam proses untuk digenapi. Oleh karena itu maka Alkitab itu disebut dengan Firman Allah karena isinya memang dari Allah yang disampaikan melalui nabi-nabi.
Karena Tuhan yang anda maksud berbeda-beda dan banyak, itu hak anda untuk mengatakannya termasuk dalam buku yang anda kutip. Yang jelas tertera dalam Alkitab itu Tuhan itu Esa. Tentang trinitas (Bapa, Putra dan Roh Kudus) itu bahasa simbol yang anda interpretasikan secara harafiah, sehingga Tuhan itu ada bermacam-macam. Tuhan sangat ingin agar hubunganNya dengan ciptaannya dapat hidup rukun. Oleh karena itu, Tuhan selalu mengekspresikan ke Esaan Nya itu dengan berbagai cara, karena IA adalah Maha, seperti contoh pada saat ummatNya keluar dari Mesir, Tuhan senantiasa mengekspresikan ke Esaan Nya itu dalam berbagai cara dan bentuk, agar ummatNya itu betul-betul percaya dan hanya menyembah Tuhan yang Esa yang menciptakan langit dan bumi. Yesus tidak dilahirkan dari bapa yang insani tapi dari Roh Kudus Tuhan (bukan dari hubungan suami istri).
Yesus tidak pernah mengajarkan kepada murid dan pengikutnya tentang kekerasan. Hanya manusia yang mengaku beragamalah yang mungkin anda lihat melakukan kekerasan, karena banyak pengikut agama itu mengaku beragama tapi tidak mengerti apa ajaran agama yang diakuinya itu. Yesus itu penuh dengan kasih, sehingga selama IA hidup di dunia tidak sekalipun IA berbuat salah dan dosa, sehingga Tuhan berkenan kepadanya dan mengangkatnya ke Sorga dan ditempatkan disisiNya. Hanya Yesus satu-satunya manusia yang kudus (suci) dan telah beroleh tempat disisi Tuhan.
Agar anda dapat lebih mengerti apa yang anda simpulkan tentang firman itu, saya sarankan anda untuk sekali-kali membaca Alkitab, tapi jangan sepotong-sepotong, harus sampai habis. Setelah itu baru anda bisa berkomentar lagi di blog ini.
Alkitab tidak mengenal istilah Bab, namun untuk mencari sesuatu di dalam Alkitab, kita dapat mencari dengan cara, misalnya Daniel 1 ayat 15 samapi 17, dan bukan Bab sekian.
Demikian yan dapat saya sampaikan dan semoga kita semua diberkati.
@myunnus
wah mas belum tau ya ada fuzzy logic? ada dunia abu2 lho dan ini lebih mampu menggambarkan realitas/kebenaran.
@rahmat
klo mo jujur tuhan tu ciptaan manusia
@myunnus:
Saya tetap berpegang pada “bagiku agamaku dan bagimu agamamu”
Ttg 1 dan 0 itu adalah logika klasik (Boolean), sekarang sudah ada Fuzzy logic kok (seperti komentar Mas Joyo)
@Danalingga:
Setahu saya sich Islam … bukan agama Islam hehehe
Tapi mungkin saya yang salah.
@Mr. Kurt:
Wah setuju sekali dengan dikotomi (fungsi) eksternal dan internal dari suatu agama. Setuju Pak
@Rahmat:
Silakan bagi para “pengguna jalan” untuk memilih dan memilah rambu-rambu yang sesuai dengan tujuan dan keselamatan masing2
@Joe:
Hehehe kalau teorimu mana Joe?
@Funkshit:
Hehehe saya bukanlah hakim yang bisa memberikan suatu vonis
@Agus:
Terima kasih Mas.
Sebelumnya saya sudah menentukan sikap mengenai keberadaan Tuhan, yaitu Tuhan itu ada.
Benar sekali Mas kalau semua agama mungkin mengklaim dirinyalah yang paling benar. Tetapi menurut saya (seperti termuat dalam tulisan saya), hal itu berlaku untuk hal2 yang bersifat khusus atau kalau boleh pinjam istilah Pak Kurt Zainudin adalah untuk hal2 yang bersifat internal.
Menurut mas kalau untuk hal2 yg bersifat umum (fungsi eksternal) dr semua agama gimana Mas?
@Tazzmanian:
Semua agama paling benar bagi pemeluknya masing2 ya hehehe
@Sejati:
Penggolongan dan penilaian agama sangat dipengaruhi unsur subyektifitas sang penilai.
@Rahmat:
Terima kasih.
Ijinkan saya menanggapi komentar Saudara:
Tanggapan saya:
1. Untuk kata “anda” (saya garis bawahi):
Sepertinya komentar Saudara tidak tepat ditujukan kepada saya karena Mas Rahmat menggunakan kalimat “anda interpretasikan secara harafiah”.
Dalam tulisan saya di atas, saya sama sekali tidak menyinggung masalah trinitas. Apalagi menginterpretasikan trinitas secara harfiah.
Mungkin Mas Rahmat salah sasaran atau komentar itu kopipais saja hehehehe…
2. Maaf hanya sekedar bertanya saja, berkaitan kutipan yang saya ambil dari komentar Mas Rahmat.
) melakukan interpretasi trinitas secara harfiah, maka saya ingin bertanya…
Karena Mas menyatakan bahwa “anda” (mungkin saya yang dimaksud ya
Dari kutipan tsb apakah itu berarti Bapa=Putra=Roh Kudus?
Lalu dimana posisi Yesus dan Allah?
Maaf hanya bertanya lho…
sekali lagi… bagiku agamaku dan bagimu agamamu
Salam damai
@Mas Joyo:
Maaf ketinggalan hehehe…
Untuk yang fuzzy logic saya setuju
Untuk yang Tuhan adalah ciptaan manusia…
Mungkin karena Tuhan adalah ciptaan manusia sehingga akhirnya ada banyak Tuhan ya
matematika ya?
kalo kompie? aljabar boolean? 1 dan 0?
1 ada dan 0 tdk ada?
bukan gitu BOL?
Joesacht pasti bisa banyak beri kesaksian ini
jadi Tuhan karena DIA ada pastilah DIA 1 tidak berayah, beribu, dan tidak diperanakan
Dalam ilmu Fuzzy ketidak teraturan itu muncul karena sesuatu yg teratur, lihat aja awan atau bentuk daun, mereka selalu berbeda satu dgn yg lain, tapi ternyata tersusun dr satu materi yg sama dan berkumpul dgn sangat teratur.
ehm? jika masih dangkal banget ?
sorry2 aje ye…
aaammmppppuuuuuuun lagi. Beragama koq jadi repot gitu ya. Kenapa ngga nrimo aja kalo gue tuh agamanya Islam, si FX agamanya katolik. Itu kan cuma peran yang dikasih Tuhan aja. Gitu aja koq repot ya.
makanya aku mendingan nggak beragama, aku ingin damai, selama ini perang atas nama agama lebih banyak, lebih dahsyat, dan lebih lebih nyeremin, aku hanya ingin pelayan semua makhluk Nya.
Ya hebat deh kamu, tesisnya hampirrrrrrr mendekati jalan yang lurus bukan jalan yang disimpangkan untuk keuntungan pribadi dan golongan ( raja zaman dahulu itu yang mengangkat manusia jadi tuhan ) sehinga segitiganya tidak kongruen.
wah apaaan itu saya hanya minta gambar tentang rambu-rambu lalulintaskok ndak ada katanya kamu OK
@semua,
intinya TUHAN-lah yg menciptakn mnusia yg mmpunyai akal & itulah kelebihan manusia atas makhluk2 Tuhan yg laen. Dan manusia-lah yg mmbuat hal ini jd perdebatan. klu mnurut aku sih, kta2 smua memiliki kmmpuan(akaL)&Logika terbatas. Sedangkn Tuhan-lah yg mmbatasi akal manusia. Nah,.. bwt yg mo jwbn agma n jalan mnuju Tuhan mnakah yg
paling bner, to be continued..
@ tik-tak sambungan…
menurut gw, yang paling bener adalah: Agama yang isinya menyuruh kita untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Hikmahnya adalah: Dia (Tuhan) memberi pengajaran kepada kita semua agar kita dapat mengambil pelajaran!!!!!!!!!
so,
tak-terusin ya… kesimpulannya klu menurut aku sih, begini…
dengan diskusi ini gw jadi tau nih,
1. Kemampuan kita masing-masing umat manusia bwt mengenal Tuhan menurut agama, k’pecayaan, dan kapasitasnya masing2.
2. Bahwa sesungguhnya tabiat manusia tuh ditakdirkan mempunyai ego yang tinggi.
3. Manusia selalu tidak puas terhadap apa yang telah diberikan-Nya (kecuali org2 yang ikhlas/tulus).
4. Manusia mau tidak mau dituntut untuk mencari esensi Tuhan yang maha GHAIB. Toh walaupun dengan keterbatasan akal dan sifatnya yang suka “ngengkel”(berpaling:red), manusia kgak ada yang bakalan bisa tahu esensitas sebenarnya apa sih tujuan agama itu? kecuali orang2 yg mendapat petunjuk dari Tuhan yg Esa& org2 yg ikhlas.
daripada ngobrol n g’ ada jluntrunganny, gimana klu kita sama-sama sepakat bahwa semua yang kawan2 kemukakan diatas bner smua!(secara subjective tentunya). Kan ada peribahasa tuh: “diatas langit, masih ada langit”. jadi kita harus maklum dong sebagai manusia biasa yang mempunyai keterbatasan akal fikiran dalam mengenal agama dan Tuhan kita.
tambah: “sepandai-pandainya tupai melompat, pasti nanti akan jatuh juga” iya kan? itulah sifat manusia. kagak ada yg sempurna coyyyy, klu bahasa jawanya: nobody’s perfect.
So, gmn klu kita kembalikan masalah ini kepada Tuhan yang Esa. Toh, besok lambat laun kita akan tau sendiri. Inget man! KIAMAT UDAH DEKET…. ntar setelah kita dibangkitin kembali, itulah JAWABAN sebenarnya bwt kita. he3x……. semuanya akan menjadi jelas…las…lassssssss……… karena dialah yang Maha Menghakimi….
so, selamat menanti hari itu tiba. OK?
(NB: aduh, sory yah.. klu pndpat gw jd rbet n panjang gni. Mohon comment dan koreksi bro ‘n sist semuanya.)
salam sejahtera bwt semuanya…..PEACE MANNNN!!!!!!!
[...] Abang sopir dan bos bos saya di pos parkir memiliki beberapa kesamaan yang mungkin sebangun tapi tidak kongruen. Pertama. Mereka semuanya berpendidikan S3 alias SD, SMP,SMA. Bahkan ada yang cuma S2. Dengan [...]
wah ternyata di sini penjelasan tentang himpunan bagian itu. huhuhu
ya…… ya……. ya……..
kalao menurut saya sih, agama itu pada ushulnya sama saja. semua orang yang memeluk agama dapat di garis besarkan sebagai keinginan untuk mencari selamat. setiap agama punya sesembahan dan punya yang menyembah. walaupun memiliki cara2 yang berbeda tapi tetap aja yang dipersembahkan itu intinya sama saja. yaitu ketidak berdayaan dan pengakuan akan adanya kekuasaan diluar diri yang dapat merubah dan menentukan segala keputusan.
balik lagi kepada keinginan semula dalam beragama tadi yaitu keinginan untuk selamat, saya rasa alangkah baiknya memang seperti yang di bilang oleh tik tak pada point 1 itu. dengan mengenal agama kita masing2 kita dapat mengerti benar apa yang di ajarkan sebenernya. karna saya percaya tak mungkin Tuhan menyuruh manusia untuk saling menghancurkan karena agama itu untuk ketenangan dan kedamaian jiwa.
Mas Dekil,
Menarik….menarik….menarik
Tapi,
Hubungan dgn SEGITIGA nya mana?
Dari analoginya mas, bisa juga kan pake SEGISATU, SEGIDUA, SEGITUJUH atau SEGI DUAPULUHSATU?
*cuman mau salam kenal kok*
Karena aku berpikir maka aku beragama. Terus terang BRAVO buat yang menganalisa agama secara rasional dan teoritis ! Kita selalu harus gunakan metoda rasional dan bahkan matematis. We are mathematically created by CREATOR ! Tinggalkan saja pisau ilmu sosial, gak pernah beres….
hmmmmm…..berat jg buat dipahami, tp klo kita sedikit mengerti ttg filsafat keTuhanan mgkn semuanya akan menjadi mudah untuk dimeNgerti…
tapi yang jeLas, jika kita mengetahui dan memahami arti Pencipta, Penguasa dan Pengendali maka….
Tentu ada yang menCiptakan, mengUasa’i, dan mengEndalikan apapun hasil Ciptaan-Nya…..
Artinya : Dia lah yang menCiptakan, mengUasa’i dan mengEndalikan semuanya…..
salam,