Dengan menggunakan sudut pandang dan cara masing-masing, begitu banyak blogger yang mendukung pembubaran IPDN sebut saja wadehel, anto, Roffi, ck, cakmoki, deking (hehehe), bu evy, Agorsiloku, 49 (yang mengungkap keburukan IPDN dengan gaya satire-nya), Bang Fertob , AMD dll (maaf untuk yang tidak sempat tercantum di sini) . Dari fakta tersebut bisa kita lihat bahwa mayoritas blogger sepakat dengan pembubaran IPDN, walaupun tidak bisa dipungkiri tetap ada beberapa pihak yang tidak sependapat dengan kita (para blogger pro pembubaran IPDN). Sebenarnya ada sedikit hal yang perlu dipertanyakan berkaitan dengan aksi blogger yang menyuarakan pembubaran IPDN, “Apakah mereka kami (karena saya termasuk di dalamnya) telah melakukan GENERALISASI BUTA?”
Apakah aksi ini tidak sama busuk dengan mereka para praja, pamong dan rektor IPDN yang melakukan gerakan tutup mulut untuk menutupi kebusukan mereka? Hanya karena beberapa oknum IPDN yang melakukan penganiayaan berujung kematian dalam suatu kemasan yang sangat indah, yaitu pendidikan, maka mereka kami (karena saya termasuk di dalamnya) para blogger pro pembubaran IPDN lantas dengan seenaknya menyerukan pembubaran IPDN. Apakah hanya berdasarkan semua kasus tersebut kita langsung bisa menganggap bahwa keseluruhan IPDN benar-benar busuk? Sepertinya mereka kami (karena saya termasuk di dalamnya) memang benar-benar melakukan generalisasi buta yang akhirnya membuat para praja IPDN yang masih memiliki hati nurani (semoga saja masih ada) pada akhirnya ikut menjadi korban akan aksi pembubaran almamater kebanggaan mereka.
Sekali lagi…. “Apakah mereka kami (karena saya termasuk di dalamnya) blogger pro pembubaran IPDN telah melakukan GENERALISASI BUTA?”
Jawaban saya adalah TIDAK!!! Apa yang kami lakukan ini bukanlah suatu generalisasi buta, apalagi kekonyolan. Sekali lagi ini bukan generalisasi buta.
Ijinkan saya berbicara dari sudut pandang Matematika secara singkat untuk menyampaikan pendapat saya tentang semua aksi yang kami lakukan. Banyak di antara kita tentu sudah sangat akrab dengan yang namanya statistika. Statistika sangat dibutuhkan ketika akan dilakukan suatu penelitian (memang tidak semua jenis penelitian membutuhkan statistika). Statistika dibutuhkan mulai dari perencanaan penelitian sampai dengan pengolahan data dan analisa semua hasil yang diperoleh.
Sebelum melakukan penelitian kita tentu saja sangat memerlukan sampel karena akan sangat repot jika kita melakukan populasi untuk penelitian kita. Kalau populasinya dalam skala kecil mungkin bukan suatu masalah, tetapi jika kita berhadapan dengan populasi berskala besar maka kita sangat membutuhkan pengambilan sampel. Nah di sinilah letak Matematika yang saya kemukakan….STATISTIKA…SAMPEL…POPULASI
Contoh:
Cakmoki akan melakukan penelitian tentang faktor penyebab disfungsi ereksi . Sangat tidak mungkin jika cakmoki mengambil data dengan mewawancarai semua laki-laki penderita DE yang ada di bumi ini, sehingga pada akhirnya cakmoki perlu melakukan pengambilan sampel untuk penelitian tsb. Mungkin cakmoki hanya akan mewawancarai beberapa laki-laki (100 lelaki, termasuk anto hehehe). Nah ke-100 orang tsb (termasuk anto) yang disebut SAMPEL, sedangkan POPULASInya adalah seluruh laki-laki penderita DE. Tetapi harap diingat bahwa sangat diharapkan bahwa sampel yang diambil sangat REPRESENTATIF, yaitu bersifat bisa mewakili populasi yang ada.
Kembali ke masalah IPDN tadi….
Apa yang mereka kami (karena saya termasuk di dalamnya) blogger pro pembubaran IPDN lakukan bukanlah suatu generalisasi buta. Yang mereka kami lakukan semuanya masih berdasarkan teori statistika dalam penelitian karena aksi mereka kami tsb sudah berdasarkan teori pengambilan sampel. Mereka kami melakukan aksi tsb karena sampel yang ada (para pembunuh) sudah cukup mewakili populasi yang ada (IPDN). Sampel yang kami gunakan sangat REPRESENTATIF. Apakah kematian sia-sia 37 orang praja masih dianggap belum menunjukkan keadaan yang sebenarnya? Apakah kematian sia-sia 37 orang praja hanyalah merupakan suatu kebetulan belaka? Harus menunggu berapa nyawa lagi yang melayang supaya sampel kita dianggap representatif dan kita tidak dianggap melakukan generalisasi buta?
Jangan-jangan dalam kasus ini suatu sampel dikatakan representatif BUKAN berdasarkan JUMLAH KORBAN tetapi berdasarkan SIAPA KORBAN? Jangan-jangan IPDN baru akan dibubarkan jika cukup ada satu ANAK PEJABAT yang mati?
Masihkah aksi kami ini dikatakan konyol?


Aha.. pertamax
Kalau korban2nya dianalisis dengan statistik, trendline-nya kira-kira apa pak guru?
aku benci mata kuliah metode statistika!!!!
aku benci!!!!!
wew…matematika…pusing ah lalalalalalalala…
Sama!!! saya juga tak suka mata kuliah Statistik!!
ah, anak pejabat ….
kenapa semuanya harus menunggu pejabat dulu.
ini menjijikkan.
semua tunduk & menjilat kepada pejabat … ini menjijikkan …
negaraku oh
Aha! Matkul Statistika kemarin lulus! Cihuy!
Walah pak, kalo anak pejabat mah susah “tersentuh”. Tinggal telpun bapaknya, orang yg mau “menyentuh” bakal “tersepak”.
Benar begitu gak ya? Para bapak dan ibu calon penerus bangsa yang pernah bersarang disana mungkin punya jawabnya.
Oya pak! Kita tidak konyol!
waduh statistik cuma dapet B.. bantuin ngolah data statistik saya atuh.. pusing nih..
ya.. pokoknya kami telah bersuara… mau dicibir di kemudian hari, saya sadar dan, saya saat ini sudah memikirkan sekali dengan hati dan kepala yang dingin, salut dari saya untuk anda² yang telah mendukung pembubaran IPDN, karena tidak membohongi nuraninya.
Haaah? Anto ternyata DE??? Antosalafy DE????
Waw.
*nelponin yang bapaknya pejabat*
Pak Deking :
Generalisasi setahu saya punya 2 ciri :
(1) Generalisasi Populasi, jadi kita mengambil sampel dari satu populasi, dan kemudian menemukan suatu fenomena (kasus) pada sampel itu, dan kemudian menggeneralisasikannya bahwa kasus/fenomena itu merupakan ciri populasi. Ini yang banyak dipakai dalam penelitian ilmiah kuantitatif (statistik) karena bersifat positivis.
(2) Generalisasi Kasus, jika kita menemukan suatu fenomena/kasus spesifik dengan keunikan tertentu pada sejumlah kecil (boleh 1 orang) sampel yang mempunyai ciri spesifik juga dan kemudian menggeneralisasikan bahwa orang-orang lain dengan ciri itu juga mengalami/mempunyai fenomena/kasus yang sama. Dan ini biasanya dipakai pada penelitian kualitatif.
Tapi generalisasi menghilangkan apa yang disebut : keunikan individu. Bahwa individu mempunyai keunikan masing-masing yang bisa saja membuatnya berbeda dari kelompok.
Generalisasi seperti cerita diatas tidaklah buta. Tapi generalisasi bisa melanggar prinsip logika All, Half, dan None. Generalisasi dalam statistik sendiri punya level kepercayaan (level of confidence) yang berupa suatu batasan berapa persen suatu kasus dapat keluar dari kasus utama, dan juga “error” baik pada pengambilan sampel maupun pada pembuatan hipotesa.
Jadi kalau dengan 37 nyawa mati lalu kita mengatakan SEMUA (ALL) menjadi pembunuh, secara statistik itu bisa saja dipertanggungjawabkan jika memenuhi syarat-syarat, tetapi secara kenyataan itu bisa dibantah. Karena tidak SEMUA (semua disini dalam kenyataan) Praja IPDN adalah pembunuh.
Saya setuju IPDN diperbaiki (karena saya percaya IPDN dapat diperbaiki), tetapi jika perbaikannya memang harus berujung pada pembubaran, mungkin itu jalan yang terbaik.
Salam Perbaikan
[sinis mode on]
Kata frensternya alumni IPDN (kalo nggak salah ya
), 37 orang itu cuma sebagian kecil dari populasi seluruh praja IPDN.
Jadi, sampelnya terlalu kecil! Nggak bisa mewakili secara statistik!!
IPDN nggak boleh bubar!! Statistik apa itu… 37 itu tidak signifikan kalau dibandingkan ribuan yang pernah sekolah di situ. Kalau ditinjau dari kacamata teknik, jumlah yang mati itu bisa dianggap tidak ada!! Harus diabaikan untuk memudahkan perhitungan.
Jadi, IPDN gak boleh bubarrr!!!
[sinis mode off]
Hehehe…
Sayangnya mereka lupa, bahwa pembunuhan tidak bisa dijustifikasi dengan pendekatan semacam itu.
Cape deh… -_-
Waduw…sudah di cek belum kebenaran bahwa 37 orang praja IPDN tersebut mati sia-sia oleh kelakuan senior mereka?
Atau itu hanya sebuah wacana?
Tapi, teruskan perjuangan anda!
Namun saya baru menonton dulu, karena jalan terang setelah IPDN dibubarkan belum saya dapatkan.
:damai:
tidak, kami tidak buta.
saya nda tau harus bilang apa, maklumlah…….IPDN kan isinya orang yang dicuci otak semua.
Memang generalisasi, tapi menurut saya generalisasi untuk IPDN ini benar benar sebuah generalisasi seperti halnya generalisasi kita bahwasanya ular itu berbisa. atau generalisasi kita bahawa buaya itu ganas dan memangsa semua makhluk hidup. anggap saja dari 4000 praja IPDN, cuma ada satu yang baik…….
37 itu yang ketahuan lho…
Sok statistik mode “on”
nah gini…ada juga yang namanya prevalesi, pasti tahu dong..
lulusan ITB berapa ribu? berapa yang mati di pukulin?
lulusan akmil berapa ratus ribu, berapa yg mati di pukulin?
lulusan Unpad berapa ribu…
dst…
dari situ bisa disimpulkan perbandingannya khan…
pasti dong IPDN menempati titik puncak an satu2nya… TOP yang kasusnya emang terbunuh bukan accindent…
lha apakah itu yang namanya generalisasi?
bikin aja diagram bar-nya pak… biar kliatan…
“sok tahu mode “off”
btw…btw..soal anak pejabat mati… walah klo brani ama anak pejabat mah ga bakal selamat seumur hidup…asalh jangan anak pejabtnya yg jadi “bully”
baru liat kekerasan di IPDN di youtube.com
saya bersyukur dulu gak jadi daftar di APDN Bandung….. coba kalo daftar dan masuk…… wah….. tahun 1988 saya sudah almarhum.
Gabungan ekonomi-statistik-dan matematika menjadi cabang ilmu ekonometrika, sehingga IPDN-Statistik-matematika menjadi bidang keilmuan IPDNtrika. Hmm, saya sangsi mahasiswa IPDn ngerti tetang tinjauan matematis-statistik, menurut P. Ryas Rasyid (2007, tempointeraktif.com), dorongan mahasiswa IPDN sebagai pelajar utk belajar sudah tidak ada, karena pinter nggak pinter mereka pasti lulus. Ini yang kemudian membuat dorongan mereka untuk berbuat brutal di tempat belajar mereka lebih tinggi.
bubarin aja Om …. dana & gedungnya buat penjara cipinang aja … udah penuh sesak tuh
[...] dipersempit ke soal bimbimbel tadi. Saya tidak tau apa pernyataan saya ini menggeneralisir atau representatif atau tidak, “Mayoritas orang yang ingin SPMB mengikuti [...]
@om fertob
bikin posting di komen pak de ya,oom..
panjangnyaaa…hehe47x..
@pak de
aaarrrggghhh…HARI SENIN UTS STATISTIK!!!!!
logika matematika daku rendah sekaliii…
dulu pas tes IQ juga penghalang dapet level jenius ya cm si logika matematika,,
tp statistik sih ga bodoh2 amat kok,, cm males usaha aja,,
seperti kata oom fertob, kan ada tingkat keyakinan kita pada hipotesis,,
OOT: waktu itu maap tiba2 sign out pas pak de lg sholat ya,,mau ngerajain tugas+udah teler,,kapan on lg?
[...] cara pak deking yang pake ilmu mate-matika, kita itung bareng2 yuuk, setiap tahun IPDN menerima 1000 [...]
sayang sekali ya, duit rakyat dari hasil pajak itu dipake untuk membiayai para praja yg katanya berhasil mengabdi itu?
mengabdi or cuman meneruskan tradisi kultural birokrasi indonesia?
yang dijadikan sampel itu ya kok namnya anto gitu loh?
[...] Belajar Video EditingFourtynine pada Screen Shots: Deddy Mizwarpeyek pada Screen Shots: Deddy MizwarAksi Pembubaran IPDN (Suatu Tinjauan Matematis) « manusia biasa pada If You Tolerate This Your Children Will Be NextMoci Arane pada Apa Kata Dunia?Harajuku Girl [...]
37 meninggal dunia.
Ribuan dirawat.
Puluhan Ribu dapat kekerasan.
Hampir semua hilang rasa kemanusiaan.
Gak perlu matematika yang canggih untuk menjadi alasan pembubaran IPDN…..
Saya bingung, kenapa setiap nrekbek banyak-banyak, selalu ada yang jadi “tumbal”? kemarin di posting Mas Agor, sekarang rupanya di sini! Duh, dihapus aja kalo gitu Pak!
*Ngirim Feedback protes ke Matt*
Kalau saya TIDAK SETUJU IPDN DIBUBARKAN, karena kampusnya sudah bener, tapi yang dibubarkan adalah pola pikir dan konsep PERPLONCOAN. Ini tidak mudah dan sangat besar Effort yang harus dikeluarkan, termasuk pengorbanan “satu generasi” angkatan yang notabene pernah diplonco sebelumnya.
Sedikit sharing saja, pada saat kuliah dulu saya dan teman-teman seangkatan sepakat untuk TIDAK MEMBUAT PERPLONCOAN untuk adik kelas saat OSPEK, meskipun kita dulu DIPLONCO. Tentu saja ada yang mempelopori aksi ini dan kebetulan didukung sepenuhnya oleh para pejabat kampus (Dekan dan Dosen). Apa yang terjadi ? adalah sebuah masa transisi yang penuh dengan haru biru dan air mata perjuangan ….. karena panitia OSPEK terdiri dari beberapa angakatan (termasuk senior yang memlonco kita), pertikaian antar panitia tak bisa dihindarkan (anatara yang pro dan kontra perploncoan) , hampir setiap rapat evaluasi panitia selalu berantem, tapi untungnya hasil rapat selalu dimenangkan oleh angkatan yang kontra PERPLONCOAN, sehingga seluruh agenda OSPEK bisa lepas dari aksi PERPLONCOAN. Berat memang ….. tapi hasilnya manis, sejak saat itu TIDAK ADA PERPLONCOAN di fakultas kami, dan justru dari fihak universitas memberikan penghargaan atas jerih payah kami MENGHAPUS PERPLONCOAN. Pertanyaanya sekarang, siapa yang mau jadi pionir di IPDN untuk menghapus perploncoan ? atau kalau susah juga, mahasiswa yang sekarang dipisah ke kampus lain sampai mereka lulus, dan yang baru benar-benar bersih dari cara “pembinaan” yang aneh itu ………
Mas, kalo ditinjau dari ilmu Perkapalan gimana?
kalo perlu, ditinjau dari segala disiplin ilmu…biar gampang memahami…
kekekeke
*ngumpet*
aduh… jangan d’bubarkan lah
gmn2 kan ipdn tuch kampus idaman byk org. ya ga sech?
emm……
gene aja, harus lebih disiplin lg. emang se bakalan susah
but
all kan mesti bljr dulu
pokokna maju tyuz
for smua kalangna.
yg bener dunk krjanya. key!
[...] sampel, saya ambil lima pernyataan dari posting [...]