Apakah seorang guru adalah seorang superhero??
Bisa YA bisa BUKAN…
Tanya kenapa??
1. Ditinjau dari segi motif tindakan yang dilakukan superhero
Jika melihat motif atawa latar belakang tindakan yang dilakukan superhero maka seorang guru mungkin bisa saya kategorikan atau katakan sebagai superhero. Kenapa?
Kalau kita membaca cerita fiktif dan menonton film tentang superhero kita bisa melihat dan memahami kalau para superhero tersebut menolong orang lain tanpa mengharapkan pamrih atau balasan apapun, bahkan para superhero tersebut menyembunyikan identitas mereka.
Memang sih para guru bukannya tanpa pamrih dalam mengajar dan/atau mendidik (bagi yang sudah mampu mendidik). Karena bagaimanapun juga diakui atau tidak, guru sudah menjadi suatu profesi dan salah satu konsekuensi dari suatu profesi tentu saja adanya gaji atau upah yang diberikan jika tugas dan kewajiban sudah dilaksanakan. Oleh karena itu tentu saja sangat wajar jika kebanyakan guru tetap mengharapkan datangnya tanggal muda yang identik dengan gaji, bukti nyata tentang hal ini bisa dilihat di sini (hehehe maaf Kang Wahyu).
Akan tetapi profesi guru cukup terkenal sebagai salah satu profesi dengan kesejahteraan alias gaji yang relatif sedikit (saya tambahkan kata relatif karena sedikit atau banyak itu relatif). Sampai-sampai dulu banyak anak yang tidak ingin bercita-cita sebagai guru, kebanyakan anak-anak bercita-cita sebagai dokter. Kalau mengingat dan memikirkan kembali pepatah atau nasehat “Bercita-citalah setinggi langit”, apakah fenomena tersebut (sedikitnya anak yang bercita-cita sebagai guru) menunjukkan kalau profesi guru bukanlah “langit”? Apakah itu menunjukkan kalau profesi guru masih kalah dari profesi dokter? Sepertinya jawabannya YA, tapi apa alasan jawaban tersebut?
Kalau melihat dari segi sosial baik guru maupun dokter sama-sama membantu orang tapi kalau dilihat dari segi penghasilan terlihat begitu banyak perbedaan di antara keduanya, jadi menurutku pribadi alasan fenomena tadi adalah karena kesejahteraan alias gaji.
Memang sih sekarang profesi guru kelihatannya telah menjadi salah satu profesi yang diburu banyak orang, tapi saya tidak tahu apa alasannya. Mungkin memang karena sekarang kelihatannya gampang untuk menjadi seorang guru, cukup dengan memiliki akta mengajar atau akta IV maka seorang sarjana dengan bidang keahlian X bisa dengan mudahnya menjadi guru bidang studi Y. Mungkin juga karena sekarang sulit mencari pekerjaan (dengan alasan keterbatasan lapangan kerja) sehingga banyak orang yang “lari” ingin menjadi guru, kan seiring bertambahnya jumlah penduduk maka kebutuhan pendidikan akan bertambah juga yang artinya jumlah guru yang dibutuhkan juga meningkat. Tapi semoga saja semakin banyaknya peminat profesi guru itu menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang ingin MENGABDI pada negara tanpa mengharapkan gaji yang besar (mungkinkah ini?). AMIN.
Eh, tapi ada juga seorang dokter yang ingin menjadi guru. Leres mboten Bu Evy? (Benar gak Bu Evy)?
Kembali ke masalah guru dan superhero….
Memang sih guru tidak sepenuhnya sama dengan superhero dalam hal ketanpapamrihan (karena guru masih tetap mengharapkan pamrih) tapi jika melihat perbandingan antara gaji dan tugas+tanggung jawab kok sepertinya guru boleh dibilang mirip-mirip dengan superhero. Apalagi penerapan kurikulum baru KTSP yang sepertinya menambah beban tugas dan lebih menyita waktu para guru ini tidak diiringi peningkatan gaji.
Mungkin benar ungkapan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, seperti yang digambarkan oleh Iwan Fals dalam lagunya yang berjudul Oemar Bakrie.
Oemar Bakri… Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri… profesor dokter insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri
(Oemar Bakri-Iwan Fals Tahun 1981)
(cuplikan lagu Oemar Bakri di atas diambil tanpa ijin dari blog seorang teman di sini)
Jadi, bolehkah saya menganggap (seorang) guru sebagai superhero?
2. Ditinjau dari segi kemampuan superhero
Superhero adalah sosok manusia yang memiliki kekuatan besar dan beda dengan manusia biasa (sekali lagi ini berdasarkan cerita fiktif tentang superhero), sedangkan guru hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan.
Jadi jika ditinjau dari kemampuan yang dimiliki sangat jelas kalau guru bukanlah superhero. TITIK. Ra sah ngéyél. Guru juga manusia…
Tapi setelah saya pikir dan saya timbang masak-masak ternyata (seorang) guru memang bukanlah superhero, guru hanyalah hero tanpa “super”…. (seorang) guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa
SEKEDAR PESAN:
- Maaf bagi rekan-rekan yang berprofesi sebagai dokter. Pemilihan dokter sebagai contoh pembanding di sini bukan berarti saya menganggap kalau seorang yang menjadi dokter itu selalu materialistis dan tidak sosialis, tentu saja banyak rekan dokter yang begitu ikhlas dalam menjalankan tugas kewajiban menolong sesama. Pemilihan dokter sebagai contoh pembanding hanya sekedar mengingat realita masa lalu, begitu banyaknya teman-teman saya yang bercita-cita sebagai dokter.
- Masih banyak superhero-superhero yang lain karena ke-superhero-an itu tidak bersifat general pada suatu profesi tetapi lebih bersifat individual. Mungkin juga tukang batu, tukang parkir, dokter, dan profesi-profesi lainnya atau bahkan politikus.
- Tulisan ini bukan karena
kebetulansaya adalah seorang guru, tetapi tulisan ini karena masih terbayang jelas betapa pontang-pantingnya ayah saya yang seorang guru SD dulu mencari pinjaman uang di saat saya harus membayar uang SPP dan kost. Tulisan ini juga karena masih terbayang jelas ekspresi kegembiraan dan kebahagiaan di wajah ayah saya ketika seorang muridnya yang telah sukses mengunjungi beliau.



Superhero… hero saja belum tentu.
guru sebagai profesi sebenernya tuntutannya gak banyak2, minta anaknya bisa sekolah/kuliah yah minimal s-1 lah. Selama ini kalau mau ngliahkan anaknya mesti menitipkan SK selama bertahun-tahun demi anaknya bisa kuliah. Kalau level SMA yang biasa-biasa saja yah masih sangguplah.
@helgeduelbek:
Nah, disitulah letak ke-hero-annya Pak guru…
Dengan menitipkan SK itu secara tidak langsung guru membantu kegiatan perbankan negara kita lho, berarti pahlawan juga kan? hehehe
Tuntutan gak banyak justru menunjukkan keheroan atau malahan menunjukkan kepasrahan ya?
Hero ada dalam diri kita sendiri. Superhero lebih dalam lagi ada dalam benak kita yang mungkin masih laten. Kita terjebak dalam pasar bebas. Rugi kita membayar pajak karena digunakan untuk membayar gaji para menteri yang tidak kerja – kerja melindungi rakyat yang kesulitan mencari beras. Lha, kenapa ya beras saja kok tidak dilindungi, petani tidak diberdayakan, tidak ada jaminan pendidikan untuk anak-anak kita – guru – padahal UU Guru danDosen menyatakan perlindungan dan jaminan itu.
wah, topik sesama guru..nimbrung ah..
Buat saya, Guru selalu jadi superhero…
Kedua orangtua saya adalah guru SD, YANG LUAR BIASA!
ibu saya, keluarga besar suami saya, hampir semua berprofesi sebagai guru.
HIDUP GURU!!!
saya mau jadi guru bukan karena pelarian lho
tapi pengen nggebet gadis2 sma yang jadi murid saya, kekekekeke!
Huah…
Kalau kata dosen saya, seseorang itu makin terlihat besar jika dia menghadapi (dan survive dari) kesulitan yang besar.
Kalau melihat sosok ‘guru’ yang Mas deKing (dan Pak Urip) jabarkan sebelumnya… mungkin memang ‘guru’ itu layak disebut ‘orang besar’, walaupun bukan ’super’ hero.
Jadi inget sama guru2 SMP-SMA saya… gimana kabarnya ya?
@ joesatch
Halah, Joe banget…
@Willyedi:

Memang bangsa ini tidak begitu menghargai para pahlawan. Lihat saja para veteran yang terlantar
@Anung:
Tumbén ora komentar “males”
@manusiasuper, venus:
Sepakat. Terima kasih
@Joesatch:
Iya aku percaya, kamu sudah pernah cerita alasanmu kok
Apa alasanmu ini perlu tak tambahkan ke dalam tulisanku di atas?
@Sora9an:
Maaf ketinggalan, sepertinya kita kirim komentar bersamaan ya
Tapi lagi2 ke-hero-an itu memang sebenarnya lebih bersifat individual kok mas.
Siapapun dia dan apapun profesinya, setiap orang punya potensi untuk menjadi hero walaupun mungkin hanya bersifat sangat lokal…lokal utk keluarganya sendiri atau bahkan untuk dirinya sendiri
Hero wah ngak deh, yang jelas banyak guru yang ngak mampu borong di supermarket Hero
@Kangguru:
Kalau Hero merek alat tulis gimana Kang?
guru is oke (on my mind)
but, to be good teacher wanna be is o difficult
why?
jadi guru tu g gampang
tanggung jawab moralnya tinggi bangett
apalagi guru sekolah
kalo muridnya ga berhasil yang tanggung jawab kan guru juga
coz tugas guru kan mendidik
kalo hasil didikannya ga jadi baik kan yang repot guru juga
sekedar cerita…
ibuku seorang guru
wali kelas pula
kalo misal ada muridnya yang ga bisa pelajarannya yang diajarkan ibu,
di rumah ibu kepikiran bangett gimana caranya biar muridnya bisa
di lain hal murid2 ibu bilang kalo ibu tu galak bangett plus ada kata2 yan sedikit ga mengenakkan hati
tapi ibu ga peduli
mau dikatain pa asala muridnay bisa
so what?
harus gimana lagi to guru itu?
udah gaji ga banyak (tapi insya Allah ‘gaji’ disana banyak
Amien….)
belum lagi kalo ‘mulut’ muridnya bikin kuping panas
apalagi kalo ada ortu murid yg marah2 gara2 anaknya g naik kelas
kok yg disalahin gurunya???
kenapa di ga nyalahin dirinya sendiri yg ga berhasil mendidik anaknya
kan guru ortu kedua
lah, ortu pertamanya kan dia
soal guru dan dokter itu beda
kenapa?
dokter dibayar mahal karena parameternya jelas
MENYEMBUHKAN!!!!
siapa c yg g pengen sehat?
kalo guru
parameternya apa?
KEBERHASILAN
disini kan butuh banyak variabel
walopun kesembuhan variabel nya jg banyak
tapi lebih banyak variabel buat keberhasilan
kalo mas deking bingung….
tenang….
ryu juga bingung
tiba2 ni jari mengetik kata2 ini
@Ryu:
Ampun…ampun saya jangan di-strap
Menyembuhkan—>obat
Wah mentang2 sudah belajar ilmu obat pakai kitab obat bahasa Belanda ya
sing komentar ora genah kabeh. saya setuju dgn=>o
saya ini guru juga lho
tapi guru piano