Fyuh…capek juga. Tidak cuma membuat aku capek secara fisik, kegiatan dan tugas kuliah akhir-akhir ini justru begitu menguras sisa-sisa kekuatan pikiranku. Proses pembelajaran memang lebih menyita pikiran tapi justru hal seperti ini yang sering aku nikmati.
Aku tidak akan curhat tentang rasa capek yang kurasakan, aku hanya akan sedikit cerita tentang hasil jalan-jalanku (Antobilang omongnya sih roadshow) ke daerah Enschede (perbatasan Belanda dan Jerman). Tanggal 17 Februari sampai dengan 20 Februauri yang lalu aku pergi ke daerah Ensgede dan juga mampir ke Jerman, di Enshede aku (dan teman-temanku) mengunjungi dua sekolah dasar. Sebenarnya aku bukanlah guru sekolah dasar tapi tidak ada salahnya kalau aku menengok sejenak bagaimana sekolah dasar di sini (Belanda). Salah satu sekolah yang aku kunjungi adalah SKOE (Stichting Katholiek Onderweijs Enschede) De Toermalijn, sekolah ini sebenarnya adalah sekolah Katholik (bisa dilihat dari namanya) tapi murid-murid sekolah ini cukup heterogen baik dari latar belakang agama, ras maupun status ekonomi keluarga. Bahkan banyak di antara murid yang beragama Islam itu berasal dari imigran gelap dari Irak, Turki maupun Maroko (hal ini berdasarkan penjelasan dari kepala sekolah).
Kepala sekolah dan guru-guru di sekolah tersebut mengatakan bahwa sekolah mereka tersebut merupakan sekolah yang biasa-biasa saja dan kebanyakan muridnya memiliki motivasi yang rendah. Tapi itu menurut mereka, kalau menurut aku pribadi dengan membandingkan dengan sekolah-sekolah dasar yang ada di Indonesia (tentu saja pembandingan ini sangat tidak adil) sekolah tersebut cukup bagus dan murid-muridnya lumayan kritis dalam mengajukan pertanyaan kepada kami (kami sempat mengisi beberapa materi untuk anak kelas 5). Di Indonesia murid-murid cenderung diam dan jarang ada yang mengajukan pertanyaan, mungkin murid-murid di Indonesia sudah bisa jadi tidak perlu mengajukan pertanyaan (AMIN) atau justru karena mereka tidak paham sama sekali sehingga untuk bertanya saja mereka tidak tahu apa yang akan ditanyakan. Tapi sepertinya salah satu penyebab utama murid tidak berani malu untuk bertanya adalah budaya dan pendidikan, anak-anak kurang diberi kesempatan untuk berpendapat sehingga secara pelan tapi pasti mereka juga akan enggan, malu atau bahkan takut untuk bertanya. Tapi hal tersebut mungkin hanya terjadi dulu saat aku kecil kali ya, sepertinya dan semoga saja pendidikan saat ini cukup memberikan kesempatan dan motivasi anak untuk berani berpendapat.
Hal lain yang aku kagumi dari sekolah ini adalah fasilitas belajar yang dimiliki (tentu saja sekali lagi tidak adil kalau aku membandingkannya dengan sekolah di Indonesia). Hampir setiap ruang kelas terdapat beberapa unit komputer, kata Kepala Sekolah erangkatkomputer tersebut dapat dimanfaatkan siswa untuk mengisi waktu luang saat istirahat karena perangkat komputer tersebut memiliki software khusus untuk game-game yang edukatif dan sesuai dengan level/kelas(tapi sayang karena keterbatasan waktu kami tidak bisa mengecek software macam apa yang ditanamkan dalam komputer-komputer tersebut), selain itu tentu saja komputer tersebut terhubung pada jaringan internet (semoga saja ada filternya sehingga murid-murid tidak dapat mengakses hal-hal yang belum layak konsumsi untuk mereka hehehe).
Selain itu di sekolah ini juga terdapat sport hall yang kata kepala sekolah ditujukan supaya semua siswa bisa berolah raga secara rutin karena lagi-lagi menurut kepala sekolah banyak anak-anak yang terancam obesitas karena pola makan dan pola hidup yang salah. Dengan olah raga yang rutin diharapkan kondisi tubuh dan kesehatan para murid bisa sedikit dikendalikan demi menunjang kenyamanan dalam belajar. Oh ya, biaya pendidikan di sekolah tersebut sangat murah yaitu hanya €25 per tahun.
Sudah ah, kalau aku ceritakan semua fasilitas yang ada di sekolah ini mungkin bisa berlembar-lembar dan hal ini juga aku khawatirkan akan memperbesar rasa iri dan cemburuku pada sekolah tersebut. Sebenarnya kecemburuan seperti itu bagus juga sih tapi kalau aku melihat fakta dan realita di Indonesia kayaknya mimpi punya sekolah murah dan full fasilitas seperti itu baru akan bisa terwujud berpuluh-puluh tahun lagi.


Heeh, coba indonesiyah ini masih dijajah Belanda – bukan berharap sih – mungkin kita mengalami nasib yang sama dengan orang Belanda, ya. Walaupun dulu Belanda “menjajah” indonesiyah, mereka bisa menyatukan nusantara ini. lha sekarang malah orang indonesiyah yang mengadu domba.
Tapi fasilitas pendidikan di sekolah dasar Belanda bagus juga. Kata Kwik kian Gie, sekarang indonesiyah sedang kaya, karena tidak memberi subsidi BBM padahal hagra BBM dunia begitu tinggi. “Mangkanye” pemerintah mau bagi-bagi uang sampai rapel anggota DPR/DPRD berlaku surut ke 2006. Huibaat tenann.
@Willyedi:
Saya malahan kadang berpikir alangkah indahnya kalau dulu kita tidak dijajah Belanda tapi dijajah Inggris, mungkin kita bisa lebih maju seperti halnya negara2 Persemakmuran Inggris
Nah sekarang kita bisa beratanya langkah indonesia untuk merdeka tuch bener apa ngak ya?
belajar dong dari mimpinya kang deKing, wahai “Indonesia” na…
[...] saja pikiran nglanturku kambuh lagi. Ini tidak bermaksud membawa ke alam filsafat tapi mencoba mengingatkan logika yang pernah diajarkan para guru yang kini tengah berhari jadi. Ini [...]