************************************************************************************************
Temanku: td pg dah kubaca artikel kang tajib
Aku: iya terus?
Temanku: kok km ksi ke mbak YYY sih (sekedar informasi mbak YYY adalah seorang nasrani)
Aku: gak papa…emang kenapa?
Temanku: apa gak menimbulkan ketidakbanggaanmu ama agamamu
Aku: Tujuanku kasih tulisan itu adalah untuk menunjukkan bahwa ORANG ISLAM tidak sama dengan AGAMA ISLAM
Aku: aku justru menunjukkan kalau ada yg tdk beres (radikal) itu hanya OKNUM, bukan ISLAM sebagai agama
Temanku: mmh gt ya mksdmu
***************************************************************************************************
Dialog di atas merupakan kutipan (dengan sedikit edit) obrolanku dengan seorang temanku melalui Yahoo Messenger pada tanggal 8 Februari 2007 jam 18.40.
Dialog itu berawal dari apa yang kulakukan kemarin dengan menunjukkan artikel tentang “keberisikan” yang ditulis oleh Kang Tajib di blognya. Dan kebetulan sebeneré sengaja aku memberitahukan hal tersebut sama temanku yang beragama kristen (mbak YYY). Seperti alasanku yang tertuang pada dialog di atas, aku menunjukkan artikel itu bukan untuk menjelek-jelekkan dan mempermalukan agamaku-Islam- tapi aku cuma berusaha mengajak orang untuk membedakan antara ORANG ISLAM dan AGAMA ISLAM (dan kayaknya kang Tajib juga tidak bermaksud mempermalukan agamanya-Islam- melalui tulisan yang cukup asyik itu. Bener apa ora Kang Tajib?). Selama ini sering aku mendengar dan membaca tentang tanggapan beberapa orang tentang agamaku (orang di sini merupakan orang secara individually, aku tidak menunjuk suatu organisasi atau kelompok atau bahkan agama apa pun tapi benar-benar orang secara personal) . Bahkan pas tahun baru kemarin kebetulan aku ngobrol sama orang Belanda, dia komentar tentang agama Islam dan juga negara-negara Islam yang katanya brutal, miskin dll. Nah pendapat-pendapat seperti itulah yang mendorongku untuk memberitahukan artikel kang Tajib ke temanku itu.
Selama ini banyak orang yang menganggap Islam adalah agama kekerasan dll hanya karena kebetulan banyak orang Islam yang berbuat kekerasan. Di Indonesia kebanyakan maling dan copet beragama Islam, itu jelas karena penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam sehingga probabilitas alias peluang orang Islam berbuat kejahatan juga besar. Coba kalau ambil contoh kriminalitas di India, Cina, Amerika Serikat atau negara-negara lain…. apakah agama para pelaku kriminalitas tersebut?
Tidak salah memang kalau banyak orang Islam berbuat kejahatan dan hal-hal yang tidak baik lainnya; entah orang Islam itu ada di Indonesia, negara Islam atau bahkan di negara di mana Islam sebagai minoritas. Tapi yang berbuat kejahatan ya si oknum itu bukannya agama yang dianut si oknum itu, aku kira tidak ada agama yang menganjurkan umatnya untuk mencuri, merampok, memperkosa dan berbuat kejahatan lainnya. Jadi marilah kita bedakan antara orang dengan agama yang dianut oleh orang itu.
Jadi sepertinya banyak orang yang salah dan asal-asalan dalam melakukan generalisasi (termasuk juga orang Islam sendiri)….agama Islam itu beda dengan orang Islam, agama Kristen juga beda dengan orang Kristen…dan masih banyak lagi.
Jadi marilah kita coba untuk berpikiran lebih positif untuk membedakan antara orang dengan agama yang dia anut…sorry ajakan harapan ini bukan aku tujukan hanya untuk selain orang Islam tapi justru terutama aku tujukan untuk orang Islam (karena aku juga seorang muslim).


absen dulu ah…komennya nanti
Saya sangat mendukung pendapatnya mas, karena apapun namanya kasih persaudaraan itu, itu yang paling indah. Saya malah salut, dan menurut saya anda tidak mempermalukan agama islam, tapi menekan kan bahwa islam itu adalah agama damai. Kalo ada yang menganggap islam itu, identik dengan kekerasan, itu adalah oknumnya. Tapi islam itu, mengajarkan kedamaian.
setuju ama pak jhon..
oknum2 Islam yg gak bertanggung jawab dan suka menebar vonis sesuka hati bikin males deh. orang islam beda ama agama Islam
apik mas…ning judule melu-melu raja dadine maandan ora demagang, nek di ganti sethithik ya dadi lewih payu
Emmm dimanapun pasti oknum yang selalu bersalah… tidak boleh di generalisasikan.
@Jhon, Anung, Helgeduelbek:
Memang Islam telah menjadi “korban” dan kena getah perbuatan sebagian umatnya (oknum). Tapi yang lebih parah sekarang adalah beberapa pelaku tindak kekerasan (dalam hal ini demonstrasi yang merusak dan ugal-ugalan) adalah oknum yang berbentuk ORGANISASI dengan émbél-émbél Islam jadi semakin merusak nama Islam. Bahkan di Jogja (tepatnya di daerah Samirono, seberang kampus UNY) ada satu kelompok masyarakat yang merupakan “anak-cucu” dari ormas suatu parpol Islam yang dengan bangga memproklamirkan namanya dengan BRISED (Brigade Islam Senang Damai) tapi kegiatan mereka hanya hal-hal yang berkaitan dengan maksiat seperti mabuk2an, bahkan base camp mereka merupakan depot penjualan lapen. Mereka-mereka itulah yang telah menggerogoti Islam dari dalam.
Tapi untuk menghilangkan suatu generalisasi adalah bukan hal yang mudah.
@Gembel:
Bener kang, nyong wingi sebeneré wis krasa nék judulé kurang mantep tapi bingung jé kang. Apa njenengan duwé ide hehehe….
Ya, begitulah. Masih banyak masyarakat Indonesia, bahkan dimanaca juga lho, yang belum bisa membedkan antara man qola (siapa yang bicara) dengan ma qola (apa yang dibicarakan). Kongkritnya, antara orangnya dengan apa yang bicarakan, dipikirkan.
Hal ini berdampak pada banyak hal….. sehingga, mereka yang begitu, perlu dilokalisir disini..
apapun agamanya minumnya…eh, hatinya harus baik…
@Kang Tajib:
SETUJU. BTW promosi talkshow ya Kang?
@Passya:
Itu harapan kita semua…apa kita harus minum teh botol “itu” ya biar pesan Pak Passya bisa menjadi kenyataan?
skrinsoot YMnya mana?
entahlah.. saya kadang gak bisa nyalahin temen2 saya non muslim yg men-generalisasi bhw islam identik dg kekerasan. betul kita pribadi benernya keberatan klo agama islam disama2kan ama umatnya. masalahnya, yg mereka liat2 di tipi adalah umat islam yg melakukan hal buruk [contoh: nge-bom] dengan mengatasnamakan keyakinannya atas agama yg dianutnya. shg, agama & umat: nge-blend buat mereka.
dan pada saat mereka melakukan hal yg demikian, saya tidak akan ngotot menjelaskan ini-itu bhw agama islam tidak seperti yg mereka lakukan. Bila mereka gusar, saya kasih senyum, saya mohonkan maaf atas kekerasann yg dilakukan temen2 muslim saya. saya tunjukkan sikap yg sabar, sikap damai, rendah hati, dll. dengan harapan: di sisi kecil ruang hati mereka, ada tersisa pendapat: “bahwa meski banyak yg suka kekerasan, tp ada juga kok muslim yg cinta damai”
@Kumala:
Thanks Bu Haji sudah mampir
Saya juga tidak menyalahkan sepenuhnya umat lain, saya justru kecewa dengan muslim yang mengatasnamakan agama untuk legalisasi tindakan mereka. Saya menyebut muslim2 yang seperti itu melakukan bluner karena mereka malahan “membahayakan” agama Islam dengan tindakan (sok) suci mereka itu.
Sebagai Manusia Biasa sayapun sependapat dengan tulisan Diatas, Sebagai muslim sebaiknya dan sebanyak-banyaknya memberikan tauladan yang baik lingkungannya (di keluarga, di komplek timpat tinggal, di tempat kerja,atau dimanapun kita berada) sehingga dapat menjadi contoh yang baik. Buat Mas Deking juga yang sedang disana semoga dapat menjadi contoh yang baik buat lingkungannya, bagaimana ?
@Kumala:
Thanks Bu Haji sudah mampir
halah.. jangan panggil saya bu haji to. saya ini blom haji oqh.. suami saya dowank yg haji.
sementara ini, saya cukup puas digauli haji aja.kikikik…@Deni:
Terima kasih Pak Guru, saya akan berusaha berbuat terbaik yang saya mampu.
@Kumala:
Maksud kalimat yang distrike apa ya?
Maksudnya, Pak Haji gaul gitu ya?
@Kumala
Belum naik haji, tapi udah dinaiki haji, hehehe…
agamanya yang salah atau cara pemahamannya yang keliru… saya kira semua agama mengajarkan kita untuk lebih baik dan tidak pernah mengajarkan kemungkaran. memang ada sebagaian yang melakukan kebodohan yang mengatasnamakan agama (sok suci), mungkin karena mereka menganggap bahwa dirinya paling benar dan mereka tidak sadar bahwa tindakan mereka merugikan banyak orang yang tidak berdosa, padahal surga itu bukan tempat manusia yang melakukan kekerasan.
ra sah komment ah!
mumet!
abot!
@Dee:
Waduh kalau masalah naik-menaiki yg seperti itu saya masih awam nih Pakdhé
@m_kharis:
Setuju sekali mas
@Ryu:
Aku yo mumet
Seep…
Tapi agama kadang dijadikan oknum itu sebagai alasan untuk anarki pak, itu yang gawat kan..
menggeneralisasi ajaran agama berdasarkan polah oknumnya, itu nggak cuma monopoli masyarakat Indonesia lho.
masih di era 90-an di Jerman, jauh sebelum peristiwa 9/11, ada temen perempuanku, berjilbab, yang ditolak nyewa rumah krn pemilik rumahnya takut rumahnya dijadikan tempat kegiatan kekerasan.
singkong diragiin, tape deeeehh..
eh ………….
singkat aja ……
ya orang yang bawa agamanya yang salah.agama semuanya mengjarkan yang baek2 tuh orangnya yang buat hal apalagi kekerasan mengatas namakan agama ih…………. nggak fair…
thx
Itu adalah hal yang wajar sekali, Allah berfirman :
QS 26. Asy Syu’araa’136. Mereka menjawab: “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat,
atas dasar ini, maka menyampaikan saja. Kalau mereka berbantahan, saya lebih suka tinggalkan saja dan tidak mau sama sekali terlibat dalam kondisi begitu.
Secara logis, kita juga tahu kan Mas de King, masalah beriman ini “memenuhi kaidah” jika dan hanya jika : “Allah memberi hidayahNya”.
Menyalahkan agama Islam adalah kondisi logis, yang mampu melihat kebenaran karena berusaha untuk tidak menyombongkan diri. Saya suka ayat ini :
QS 5. Al Maa’idah 82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.
Perhatikan kalimat terakhir itu. Kunci persoalan sering terletak dari usaha kita (termasuk saya tentunya) : ingin menyombongkan diri…..
@Manusiasuper:
Repotnya ya yang kayak gitu itu Bro
@Yanti:
Generalisasi sepertinya memang penyakit akut yang mendunia
@Putraderita:
Tetapi kenyatannya agama sering terkena imbas perbuatan umatnya
@Agorsilaku:
Yang bikin saya lebih khawatir adalah musuh dalam selimut, Pak.
Saya takut banyak umat Islam sendiri yang menggerogoti dari dalam secara pelan dan halus sehingga kita tidak sadar.
[...] Katanya Muslim itu bayar zakat supaya berbagi dan peduli dan saudaranya. Namun aku sudah liat sendiri Muslim Muslim pelit saat aku bekerja menjadi tukang bangunan. Dengan berbagai alasan dan dalih mereka memotong gaji kami. Mereka juga..ah sudahlah, pokoknya aku banyak ketemu Muslim kaya yang pelit bin kikir alias medit bin bakhil. Orang yang sudah pernah naik haji katanya alim. Nyatanya pak haji pemilik kostku itu tiap hari ikutan gabung main judi. Dosenku yang haji itu juga menyediakan kesempatan buat anak anak cewe agar dapat nilai tinggi dengan syarat harus mau datang kerumah beliau. Dan anak anak cowonya disuruh menghubungi beliau untuk membicarakan pembayaran untuk nilai. Ada apa? Apa agamanya yang salah? [...]
natomi Premanisme
Beberapa waktu lalu terdengar berita tentang terbunuhnya beberapa mahasiswa di Mataram oleh beberapa preman yang disewa pihak kampus untuk mengamankan kampus. Mengapa itu terjadi? Bahkan seharusnya tidak muncul pertanyaan seperti itu, karena semua orang secara diam-diam pasti sudah terbiasa maklum. Di mana pun tempat di republik tercinta ini, perilaku orang, siapa pun itu, yang merasa terancam posisinya kurang-lebih sama. Pada kasus di Mataram itu, penguasa kampus barangkali terancam oleh perilaku para mahasiswa yang suka sekali memunculkan gejolak di kampus dengan demo-demo yang sejak pergantian era memasuki era reformasi menjadi sesuatu yang semakin lazim, people power dan semacamnya. Jika kita lihat dari dekat, para penguasa kampus itu menyewa preman di samping juga menggaji para petugas keamanan kampus seperti satpam dan semacamnya, karena mereka jelas tidak bisa mempercayakan keamanan kampus seratus persen kepada para satpam. Barangkali para satpam bisa dipercaya mengambil porsi pengamanan kampus tertentu, sementara porsi lain dipertimbangkan oleh para pejabat kampus itu harus ditangani oleh orang lain yang siapa pun itu lebih dipercaya oleh mereka untuk memberi mereka rasa aman. Kampus pada kejadian itu menunjukkan dua kepentingan yang berlawanan, penguasa kampus dan para mahasiswa.
Akar permasalahan premanisme jika kita mau telanjang dan jujur melihat kenyataan adalah kebodohan, rendahnya kualitas sumber daya manusia, rendahnya profesionalisme jika bukan tidak adanya profesionalisme sama sekali pada sebagian besar masyarakat Indonesia, dan akhirnya rendahnya produktivitas. Di segala bidang dan sektor kita bisa lihat fenomena kebodohan, rendahnya kualitas sumber daya manusia dan tidak adanya profesionalisme dan rendahnya produktivitas semacam itu. Akibatnya, di segala bidang dan sektor kita juga bisa temukan perilaku premanisme. Pembunuhan mahasiswa yang dilakukan oleh para preman yang disewa pihak kampus di Mataram kemarin menunjukkan tidak profesionalnya para petugas keamanan kampus hingga tidak bisa dipercaya oleh juragan yang menggaji mereka, para pejabat kampus. Para pejabat kampus itu juga menunjukkan ketidakprofesionalan mereka di dalam mengurus kampus. Pada kejadian itu juga bisa terlihat masih begitu kentaranya pendekatan kekuasaan oleh para penguasa kampus. Kebodohan merekalah yang tentu saja menjadi penyebab mengapa mereka tidak bisa menggunakan pendekatan persuasif dan lebih beradab dan dengan mudah merasa terancam oleh para mahasiswa yang sebelumnya berhasil memaksa turun jabatan penguasa kampus sebelumnya karena alasan seputar KKN. Pada sisi yang lain yang lebih umum, para penguasa kampus itu sedang menunjukkan perilaku kedodoran, blingsatan, mudah kebakaran jenggot, terburu-buru menyeringai menunjukkan ketajaman taji-taring mereka, emosional, tidak profesional, ceroboh, sembarangan dihadapkan pada hembusan angin perubahan yang dimunculkan oleh anak-anak muda, oleh anak-anak kampus, oleh anak-anak jaman. Pasti seperti lagu lama yang telah sekian puluh tahun ke belakang selalu dinyanyikan oleh para penguasa, termasuk penguasa kampus, “Sudahlah mahasiswa itu tugasnya belajar, belajar yang baiklah, tak usah neko-neko. Kalau neko-neko jadi engga lulus-lulus.”
Di segala bidang dan sektor perilaku premanisme itu bisa ditemukan di republik tercinta ini. Akarnya sama, kebodohan, tidak adanya profesionalisme, dan rendahnya produktivitas. Contoh kejadian besar adalah perilaku politik yang masih lazim di republik ini. Kenapa demikian? Coba lihat, saat sang presiden mau meninggalkan negara menuju Mesir, beliau secara informal berpamitan pada markas besar TNI, di Cilangkap. Apa yang dibicarakan? Sekedar pamitankah? Jika dilihat dari dekat, di republik ini perilaku politik para elit politik dan masa pendukungnya tidak jauh berbeda dari para preman. Begitu juga para penguasa dan pihak-pihak yang dianggap bisa memberikan perlindungan kepadanya. Secara formal, di atas kertas, dunia politik, penyelenggaraan pemerintahan sudah terlihat sedikit mulai semakin teratur. Namun realitas formal dan realitas informal masih belum simetris. Artinya, kekuatan politik formal masih menjadi basa-basi dari kekuatan politik informal. Jelasnya demikian, kekuatan riil di republik ini adalah tentara, penguasa dan orang kaya. Dan apa yang disebut supremasi hukum sering kali terombang-ambing di antara supremasi kekuatan-kekuatan itu. Jarang terjadi supremasi kekuatan-kekuatan itu terbentur supremasi hukum. Lebih sering terjadi adalah supremasi hukum terbentur-bentur supremasi kekuatan-kekuatan itu.
Kekuatan politik riil itu kental bermain di dalam setiap arena. Dua aturan yang mereka ikuti –premanisme dan militerisme– adalah isme-isme besar yang merembesi bentuk ikatan-ikatan sosial formal maupun informal dari organisasi masa dan juga partai politik, bahkan yang bersifat keagamaan sekali pun –yang membela agama, membela Tuhan– kepemudaan, olahraga sampai gerombolan jalanan (gang). Rembesan premanisme dan militerisme itu menjelma menjadi sub-sub isme di antara bentuk-bentuk ikatan sosial itu. Premanisme dan militerisme yang demikian itu muncul karena defisit profesionalisme, defisit produktivitas. Militer profesional tidak akan membuahkan premanisme dan militerisme di luar lingkaran profesinya. Militer profesional tidak akan membuahkan anggapan bahwa mereka adalah warga negara kelas satu –dan warga negara yang lain dianggap berkelas kambing–, atau warga negara bertaring-taji-paling tajam, sehingga segala atribut yang berhubungan dengan militer memiliki khasiat di luar lingkaran profesi itu. Ini terlihat pada fenomena backing-mem-backing yang terjadi pada level preman kampung sampai level preman nasional.
Anatomi Preman Kampung
Jika dilakukan pembedahan dan dilihat lebih dekat akar-akar premanisme pada level kampung dan nasional adalah sama, yakni kebodohan dan oleh karena itu pengangguran, masalah ekonomi, defisit profesionalisme, defisit produktivitas, backing-mem-backing oleh militer atau bahkan pejabat polisi sendiri dan INI IRONI, orang kaya, atau pejabat yang merasa menjadi penguasa. Hampir di setiap kampung terutama di wilayah perkotaan masalah premanisme terjadi di seputar ruas-ruas jalan yang menjadi lahan berpenghasilan, baik dari parkir, bisnis keamanan pertokoan, tempat-tempat hiburan, diskotik, karaoke atau pelacuran, dan semacamnya. Jagat premanisme tak jauh beda dengan semesta rimba raya. Mereka yang bertaring-taji lebih tajam memakan daging mangsa yang bertaring-taji kurang tajam, mereka yang tak bertaring bertaji cukup memakan mangsa tumbuhan. Tak heran jika ada beberapa orang petentang-petenteng di jalanan, atau di kandang sendiri –maksudnya di kampung sendiri– bisa ditebak di belakang mereka ada orang bertaring, orang kaya, pejabat yang merasa menjadi penguasa, militer atau pejabat polisi, kapten, jenderal, kopral, mayor, sersan. Atribut yang sering mereka pakai dengan bangga sering kali adalah atribut-atribut militer. Dan, hanya ada dua aturan bagi para preman yang berperilaku petentang-petenteng percaya diri itu.
Peraturan pertama: Preman itu tidak pernah salah.
Peraturan kedua: Jika terbukti preman bersalah, lihat peraturan pertama.
Memperhatikan peraturan pertama, tak susahlah dipahami bahwa apa yang tipikal menjadi perilaku preman adalah mau jungkir-balik, mau mabuk, mau malak, mau maling, mau memperkosa, mau menipu, bahkan mau sembahyang sholat-ngaji sambil mabuk dan minum, mau bertato sekaligus berkopiah-bersorban, mau sambil mabuk berkopiah-bersorban meneriakkan takbir-tahmid di jalanan saat berkampanye mendukung partai politik yang berafiliasi keagamaan tertentu, mau melindungi anak-anak kos yang gemar kelonan, berrendesvous sex bebas di kamar-kamar kos, mau apa saja seenak pantat mereka, mereka tidak pernah salah. Seperti seloroh dungu mereka yang sering terdengar, “Orang mabuk bebas-merdeka.”
Kemerdekaan mereka dari jerat hukum masih begitu terbukti di mana pun tempat di lorong-lorong kampung, terutama di wilayah perkotaan. Kemerdekaan mereka dari jerat hukum ini dipertegas oleh fenomena backing-membacking oleh para anggota militer, bahkan polisi dan sekali lagi ini IRONI, orang kaya, dan pejabat yang merasa menjadi penguasa.
Karena backing-mem-backing itulah jika sang preman berurusan dengan polisi, sering lolos jeratan hukum. Ada yang mem-backing di belakangnya. Sering dan banyaknya kejadian preman lolos jeratan hukum menegaskan bahwa para pemegang otoritas kamtibmas terkesan letoi, impoten, alih-alih garang dihadapkan pada model preman ber-backing ini. Kejadian itu juga menegaskan bahwa para pemegang otoritas kamtibmas terkesan mandul dan tidak produktif di dalam menjalankan profesi penegakan hukum mereka. Defisit profesionalisme dan produktivitas itu akhirnya memberikan sumbangan berarti pada pembuktian kebenaran peraturan kedua di kalangan para preman, yakni “Jika terbukti preman bersalah, lihat peraturan pertama.”
Lekatnya isme yang namanya militer –maksudnya militerisme– menurunkan kelaziman penggunaan idiom-idiom militer di samping pada saat yang bersamaan juga idiom-idiom kekuasaan, seperti sebutan yang mereka gunakan untuk pimpinan preman di wilayah, ruas jalan atau kampung tertentu: “Jenderale Samirono”, “Yang pegang daerah sini”, Brigade, Laskar, Kesatuan, Korp, dsb. Campur-baur premanisme, defisit profesionalisme, defisit produktivitas, penyalahgunaan kekuasaan, pengangguran, kemiskinan ini menjadi lahan subur bisnis-bisnis dari yang sekedar miring—maksudnya sekedar urusan mo limo—sampai bisnis ilegal berbagai penyalahgunaan obat dan narkotika-psikotropika, persekongkolan pencurian kendaraan bermotor dan bisa jadi juga senjata api.
Premanisme di Kampung Samirono
Wajah premanisme juga terlihat dengan mudah dan jelas di Kampung Samirono, di sebelah selatan UNY, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Cobalah Saudara tinggal beberapa hari di kampung itu dan sedikit berperilaku fleksibel, ya luwes mabuk, ya luwes pakai kopiah-sorban tenteng sajadah, sedikit fasih melafal bahasa Arab agar akrab dan berkelas di antara preman-preman santri kampung itu saat bergaul di masjid. Sebutan preman-santri kiranya tepat untuk mereka dan karena itu preman model ini bisa dikategorikan sebagai preman model “semangka”, maksudnya, bagian luar hijau, bagian dalam merah. Atau Saudara cukup makan di sebuah Resto yang baru saja selesai dibangun dan dioperasikan di Jl. Colombo, No. 9A dan berdiri sejenak mengamati mereka yang sedang menjalankan profesi penjaga parkir. Sebaiknya Saudara datang agak malam, seputar pukul 9 malam, dan setelah selesai makan di situ, amati perilaku mereka, sebelum Saudara pergi. Mereka, para pemuda kampung lugu, setengah preman, preman dan super preman—ukurannya apa? Tato, mabuk, keberanian malak, keberanian nakut-nakuti orang –tentu bagi yang bisa ditakuti oleh preman kampung–, berbagi jadwal parkir di ruas jalan itu dan terakhir di depan sebuah Resto itu.
Mereka yang petentang-petenteng di ruas jalan itu pun bisa dirunut siapa yang ada di belakang mereka. Kabar burung terdengar, ada beberapa pejabat militer asal kampung itu yang nongkrong di Cilangkap atau sekedar orang yang bersaudara dengan pejabat tinggi militer atau sekedar teman pejabat militer itu dan kasiat para pejabat militer itu sangat ampuh bagi para preman itu. Para pejabat militer ini cukup memberi mereka alasan untuk leluasa petentang-petenteng di jalanan dan di kampungnya sendiri. Kabar burung juga mengatakan ada pejabat polisi yang berpangkat lumayan tinggi–kapten, jenderal barangkali– yang berasal dari kampung situ. Kabar burung itu rupanya bukan isapan jempol. Saat ada konflik antar gang –gentho-gentho-preman-pemuda setengah preman kampung– gang tetangga kampung sebelah ternyata miris hanya dengan melihat MOBIL DINAS PEJABAT POLISI berpangkat tinggi itu diparkir di garasi cucian mobil tempat para preman itu mangkal. Wah yang ini terjadi layaknya filem-filem mafiosto Italiano. Mobil dinas pejabat polisi itu terlihat khas seperti pada nomor plat mobilnya, warnanya. Cukup menyeramkan untuk menakut-nakuti orang–tentu saja orang yang bisa ditakut-takuti, yang pada kejadian konflik antar gang dengan preman kampung tetangga cara itu sungguh efektif-efisien. Preman kampung sebelah yang hanya dibacking oleh pengusaha kaya dengan kenalan orang-orang berpengaruh di dunia politik dan organisasi masa, gemetar-gentar dan mundur teratur. Namun begitu, aksi unjuk gigi, menyeringai ekspos taring-taji-tajam itu bisa jadi hanya berarti tidak lebih dari sekedar scarecrow atau MEMEDI SAWAH, hantu sawah untuk nakut-nakuti burung pemakan padi bagi orang yang tidak takut.
Persisnya begini, seorang pemuda yang suka sekali memakai seragam sekolah yang mirip-mirip seragam militer dan berpotongan rambut plontos-cepak khas militer melibatkan diri atau diminta terlibat di dalam penyelesaian masalah pencurian sejumlah uang di sebuah rumah kos. Pemuda itu adalah kerabat keluarga kaya di kampung Samirono dan sepertinya berkuasa dan punya kedekatan dengan para pejabat polisi atau militer dan karena itulah keterlibatannya dipercaya berkhasiat dan manjur di dalam segala urusan. Para pihak yang terlibat di dalam masalah itu, pihak yang kehilangan uang bersama para pendukungnya termasuk pemuda bergaya militer itu dan pihak yang dituduh mencuri uang itu berkesulitan menyelesaikan masalah itu. Si tertuduh mengelak telah mencuri uang itu, sementara pihak yang kehilangan uang beserta para pendukungnya memiliki dugaan kuat bahwa dialah yang mencuri. Pihak yang kehilangan uang bersama pemuda bergaya militer itu punya ide datang ke seorang kiai-dukun-orang tua-orang pintar di daerah Bantul. Kiai-dukun-orang pintar-orang tua itu terkenal bisa menunjukkan gambar wajah pencuri dengan menggunakan media air di gelas atau piring saat orang minta petunjuk, penerangan, tentang siapa yang sesungguhnya telah mencuri barang miliknya saat seseorang menjadi korban pencurian. Pemuda bergaya militer itu bersama pihak yang kehilangan uang semakin yakin bahwa si tertuduhlah yang telah mencuri uang itu, setelah datang ke kiai-dukun-orang tua-orang pintar itu dan setelah melihat gambar wajah pencuri lewat media air itu. Mereka bergegas pulang dan menemui si tertuduh dan meminta mengakui saja pencurian uang yang telah ia lakukan. Si tertuduh bersikeras tidak mengakuinya dan dengan gaya sangar-gasak-hajar, pemuda bergaya militer itu menghajar si tertuduh.
Berawal dari peristiwa penganiayaan itulah konflik antar gang terjadi. Si tertuduh dan teraniaya meminta bantuan-dukungan kliknya, yaitu orang-orang di tempat kerjanya dan juga juragannya yang adalah pengusaha yang cukup kaya dan berpengaruh di dunia politik, persisnya partai tertentu. Merasa memiliki backing yang cukup kuat, si tertuduh itu bermaksud memperkarakan peristiwa penganiayaan berlatar belakang tuduhan pencurian dan setelah si penganiaya mendapatkan keyakinan karena telah melihat wajah pencuri di dalam media air di tempat mbah dukun-kiai-orang pintar-orang tua di Bantul itu. Merespons maksud si tertuduh itu, pihak penganiaya mengundangnya untuk menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan. Entah bagaimana persisnya yang terjadi, kabar burung terdengar bahwa ia diundang ke sebuah tempat di situ telah diparkir mobil dinas polisi berpangkat tinggi, yang terlihat dari plat nomor dan warna khasnya. Setelah pertemuan itu, tidak terdengar kelanjutan peristiwa pencurian dan penganiayaan tersangka itu. Seorang yang ikut hadir di tempat negosiasi itu –“penyelesaian secara kekeluargaan itu”– bertutur dengan ikut bangga, “Sampean mau terus memperkarakan penganiayaan itu dan berhadapan dengan pemilik mobil dinas itu atau sampean anggap selesai sampai di sini?” Itulah babak terakhir yang terdengar dari peristiwa itu.
Lengkap kiranya alasan bagi para preman kampung itu untuk petentang-petenteng di jalanan sekitar kampung mereka karena tempat mereka parkir nyambi mabuk-mabukan, Joglo Resto, itu adalah tempat usaha orang kaya, yang juga barangkali dianggap berkuasa karena ia adalah anggota pejabat Badan Perwakilan Daerah Propinsi, BPD atau apalah. Siapa pun dia, pejabat atau bukan, yang jelas ia punya kasiat yang sama seperti para pejabat militer atau polisi karena ia adalah orang kaya. Dan kabar burung juga terdengar sang polisi yang konon berpangkat cukup tinggi itu punya hubungan keluarga dengan beliau yang terhormat sang pejabat anggota Badan Perwakilan Daerah itu. Lengkap sudah alasan bagi para preman kampung itu untuk leluasa petentang-petenteng, sok punya taring-taji-tajam mengerikan, karena di belakang mereka adalah orang-orang yang dianggap bertaring. Sekali buka mulut, menyeringai sedikit melotot orang bisa pingsan.
Belum lama terjadi peristiwa pemukulan terhadap seorang polisi yang sedang lewat oleh salah seorang preman yang nongkrong parkir, mabuk, cari gara-gara di depan Joglo Resto di Jl. Colombo itu. Sungguh ini pantas diungkapkan bukan semata-mata untuk memprovokasi polisi, memanas-manasi polisi. Cobalah Saudara mampir di kios lapak-lapak di sebelah barat persis lokasi parkir mereka, persisnya depan Joglo Resto, beberapa langkah ke barat dan bertanya benarkah beberapa hari lalu terjadi pemukulan anggota polisi di situ. Entah apa perkara hingga si polisi yang jelas berpangkat rendah itu dipukul preman. Si polisi mendekat dengan percaya diri karena mungkin tidak bersalah–dan bagaimana pun ia adalah polisi– dan segera dikerumuni preman-preman mabuk dan tampaknya berakhir damai. Barangkali juga andai si polisi itu memperkarakan pemukulan itu, belum sampai tuntas perkara PINGSANLAH dia karena mengetahui di belakang para preman kampung itu ada orang-orang bertaring-taji tajam, berkasiat membacking preman kampung. Barangkali polisi malang itu akan gemetar gentar hanya dengan melihat MOBIL DINAS PEJABAT TINGGI POLISI di parkir di situ dan akhirnya mundur teratur, takut tergusur, takut periuk-belanganya terguling.
Perilaku petentang-petenteng para preman itu juga diamini oleh mereka yang dekat dengan para preman kampung itu, seperti para pedagang kaki lima, warung tenda di ruas jalan Colombo, dekat-dekat pangkalan parkir preman itu. Karena mengamini perilaku preman petentang-petenteng itu, mereka juga tertular petentang-petenteng bahkan mabuk dan mengumpat berjamaah. Tidaklah sulit kiranya memasuki kalangan mereka. Cukup datangi markas mereka, dengan berjalan sedikit ke arah selatan memasuki kampung itu, ke arah masjid Inayah, ke arah jalan Solo. Di situ akan Saudara temukan warung jamu oplosan-miras sekaligus tempat mereka berjamaah mabuk. Sedikit luweslah dengan ikut mabuk di situ dan dengan mudah Saudara akan dibabtis menjadi jemaat pengajian el-Majnun itu, demikian sepertinya pas untuk nama gerombolan pemabuk itu. Kebetulan di sebelah utara tempat itu baru selesai dibangun masjid baru megah bernilai multimilion, bernama Manhajul Hidayah, biar sama bergengsi dan terkesan sejalan-paralel tempat mabuk itu pas kiranya disebut demikian, el-Majnun. Kelekatan, kepaduan, ke-klopan mereka yang mengamini, berjamaah mengikuti perilaku petentang-petenteng preman kampung itu beralasan karena ada hubungan mutual, semacam simbiosis mutualisma. Sang jenderal preman kampung itu, yang konon juga punya hubungan keluarga dengan sang Kaya-Pejabat-Berkuasa kampung itu, mendapatkan atau persisnya meminta upeti dari juragan pedagang warung-warung tenda itu dengan imbalan janji –barangkali juga bukti–keamanan selama tinggal dan dagang di ruas jalan Colombo itu. Dan begitulah lazim terjadi, kalau upeti tidak didapat, para preman itulah yang justru membuat situasi tidak aman. Karena kelekatan, kepaduan, ke-klopan yang sama, pernah suatu ketika mereka-mereka itu berjamaah mabuk di dalam kampung. Tentu mereka berjamaah mabuk dengan perasaan bebas merdeka, “Ini kan kapungku dewek, kampungku sendiri, dan lagi di depan rumahku sendiri”. Tentu karena terganggu, jika ada yang berani menegur teriak-teriakan keras mabuk mereka yang bukan pada saat dan tempatnya, malam hari saat semua orang istirahat-tidur apa yang terjadi adalah dengan gagah berani salah seorang pemabuk itu menggandeng penuh wibawa lengan si penegur dan berkata, ….. Alih-alih ia yang menegur kegiatan mabuk dan teriak-teriak itu, salah seorang yang adalah anggota jemaat mabuk malam itu, yang konon juga orang asli Samirono, tapi lama tinggal di kampung lain saja didamprat dan hendak dihajar hanya gara-gara pergi tanpa pamitan dari kerumunan pemabuk itu, para preman migran yang ikut membeli kekuasaan preman di kampung itu, anak buah pedagang warung tenda bersama preman setempat yang nebeng memarkiri warung tenda di Jl. Colombo.
Preman-Santri: Dari Merah Menuju Hijau
Istilah itu tepat sekali untuk menunjukkan “kebingungan”, disorientasi. Berawal dari merahnya kampung Samirono saat masih berjaya karena afiliasi pada partai politik tertentu sekian lama, dari pemilu satu ke pemilu yang lain, dan gara-gara tidak mendapatkan jatah parkir di ruas jalan tertentu yang lazim dikelola partai itu pada level grass-root masyarakat miskin kota, mayoritas kampung itu hijrah dan membelokkan afiliasi politik mereka ke partai keagamaan tertentu dan karena itu dengan serta-merta –mak bedunduk, sekonyong-konyong, mendadak–hijau royo-royolah kampung itu. Perubahan mendadak seperti itu tidak menjamin perubahan total sampai ke dalam. Urusan perilaku, urusan sikap, urusan kebiasaan, lebih dalam lagi urusan aqidah, iman, adalah bagian dalam yang tidak bisa dengan mendadak berubah pula. Meskipun karena hijrah, karena pembelokan afiliasi politik itu para preman kampung itu telah merubah penampilan merah mereka menjadi hijau royo-royo, bagian dalam mereka tak banyak berubah. Gaya, kebiasaan dan sikap mereka kurang-lebih sama seperti saat masih merah, ya mabuk, ya petentang-petenteng, ya sok kuasa, sok menjadi penguasa rimba raya —di kandang sendiri tentunya, yang khas preman kampung. Sedikit perubahan barangkali bisa di amati pada nama gerombolan preman itu. Dahulu mereka menggunakan nama BRISED yang berarti Brigade Samirono Edan dengan perasaan bangga besar hati, sangar-gasak, menyeramkan–mengikuti kekagolan perasaan para pengikut-pendukung partai yang pernah dikuyo-kuyo penguasa. Sebuah kesan kepribadian yang terseret-seret oleh berjayanya partai tempat mereka berafiliasi waktu itu. Setelah hijrah afiliasi politik, mereka masih menggunakan nama yang sama, BRISED, dengan rasa bangga, besar hati, sangar-gasak, menyeramkan yang sama pula. Namun kali ini arti nama itu mereka ubah menjadi Brigade Samirono Senang Damai. Sebuah nama yang terdengar lebih sejuk seperti warna hijau royo-royo yang sering kali menyejukkan mata.
Namun lagi-lagi, perubahan mendadak tidak menjamin perubahan itu terjadi total. Bahkan lebih mudah terjadi adalah bahwa perubahan itu hanya terlihat pada atribut-atribut luar saja, seperti kopiah, sorban, sajadah, bahkan ada yang pelihara jenggot, dan kalau pun tampak bersentuhan dengan aqidah, dunia batin pada teriakan-teriakan, yel-yel mereka saat konvoi di jalanan, itu hanya sebatas teriakan takbir-tahmid yang masih terdengar parau, kurang fasih karena berteriak sambil mabuk persis saat mereka masih merah dulu. Teriakan dan yel-yel mereka yang lain sama sekali tidak berubah.
Manhajul Hidayah: Sebuah Masjid Penegas Warna Hijau
“Esuk dele, sore tempe.” Begitu kata pepatah Jawa. Orang mudah berubah. Dahulu gerombolan preman itu enggan berdekat-dekatan dengan masjid, orang-orang masjid. Bahkan beberapa di antara mereka adalah Kristen. Dan terlihat jelas ke-Kristenan mereka hanya berfungsi sebagai penegasan negasi-penidakan, asal tidak Islam, asal tidak hijau, asal bukan masjid, asal bukan orang-orang masjid, asal bukan orang-orang partai hijau. Mereka membuat markas sendiri, tempat nongkrong, mabuk merencanakan konvoi, terutama pada even-even pengerahan masa menjelang pemilu, atau sekedar konvoi berangkat-pulang nonton pertandingan bola, atau juga tempat koordinasi pembagian lahan parkir, dan mabuk dulu sebelum berangkat parkir.
Tersebutlah sebuah kisah. Seorang pejabat pemerintah di salah satu departemen yang kaya raya asal kampung itu memasuki masa pensiun. Memasuki hari tua sebagai Muslim lebih afdol kiranya dengan menambahkan satu huruf “H” di depan namanya barangkali di antara titel-titel yang lain, dengan melakukan perjalanan umroh ke tanah suci. Lebih afdol lagi, tambahan huruf “H” di depan nama itu dipertunjukkan dengan bersedekah, mewakafkan sepotong kecil hartanya, untuk fasilitas umat di sekitarnya. Beliau membangun sebuah masjid benilai multimillion dan kabar burung terdengar masjid itu diwakafkan untuk fasilitas ibadah umat di sekitarnya. Gayung bersambut, para preman yang sudah menghijau itu, dan juga banyak dari para orang tua preman itu yang sejak dekade 60-an memang merah, ikut menghijau pula. Para ibu dari yang berusia paruh baya hingga yang mulai menua, mulai bersemangat belajar membaca al-Qur’an, mulai merubah kostum tradisional Jawa mereka dengan kostum Islami–jika bukan ke-arab-araban. Memang masih banyak yang pakai kebaya dan pakaian Jawa, tetapi mereka sudah terlihat memakai jilbab praktis, maksudnya tinggal pakai layaknya topi. Di awal Ramadhan, beberapa di antara mereka, yang adalah bapak-bapak, mulai memberanikan diri membaca al-Qur’an dengan disiarkan menggunakan loudspeaker masjid itu. Terdengar tergagap-gagap, dan masih bernuansa merah dekade 60-an. Terdengar suara baca al-Qur’an itu seperti teriakan, “Saudara-saudara, lihatlah aku dan anak turunku sudah hijau sekarang.” Sebuah teriakan yang agak terlambat, karena dunia sekarang sudah penuh dengan warna-warna, ya merah, ya kuning, ya hijau, ya biru, ya putih. Artinya, warna hijau itu bisa jadi tidak lagi istimewa. Biasa saja.
Para preman-santri mulai rajin ke masjid, meskipun pertimbangan utama mereka tampak sekedar ekspos ke-santrian mereka dan meskipun masih bertato dan mabuk. Mengapa demikian? Karena mereka ke masjid sore hari saja, atau Jumat saja, yang adalah waktu-waktu efektif untuk tonjolkan hidung, maksudnya presentasi sebagai santri. Setelah itu, seperti biasa mereka ke jalan. Di bulan Ramadhan saat yang paling efektif tonjolkan hidung adalah saat buka puasa bersama. Barangkali juga berbuka puasa dengan minuman menyehatkan jamu oplosan yang dijual di tempat Jemaat el Majnun.
Jika Saudara mengamati papan nama Masjid itu, tak ada yang istimewa, tertera nama “Manhajul Hidayah”, barangkali maksudnya upaya seorang haji untuk membukakan hidayah umat di sekitarnya. Sebuah maksud mulia. Terasa miring saat Saudara mengetahui bagaimana papan nama itu dibuat. Beberapa orang mendapatkan jumlah uang yang cukup dari sang haji untuk mempersiapkan papan nama itu. Cukup beli cat, cukup untuk beli rokok, dan yang jelas cukup untuk beli minuman menyehatkan –maksudnya minuman memabukkan, miras. Khas kerja preman-santri, kerja bikin papan nama masjid dan mabuk.
Sedikit Titipan dari Yogya,
Ruas Jalan Colombo, Kampung Samirono, Catur Tungal, Depok, Sleman, Yogyakarta:
HAYOOO PAK POLISI…. LEBIH GARANG GASAK PREMAN…. !!!
TUNJUKKAN … BAHWA PEJABAT TINGGI MILITER-POLISI (Jenderal-Kopral) dan PETINGGI PEMERINTAH …. TIDAK SELAYAKNYA MENJADI ALASAN (BACKING) BAGI PARA PREMAN KAMPUNG PETENTANG-PETENTENG, MERDEKA MABUK DI RUANG PUBLIK.
CATAT!
MARKAS OPERASI PREMAN KAMPUNG ADA DI JL. COLOMBO,
termasuk DEPAN JOGLO RESTO
RUAS JL. COLOMBO, SEBELAH SELATAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
MMARKAS INDUK, WARUNG MIRAS-JAMU OPLOSAN DI SEBELAH SELATAN MASJID MANHAJUL HIDAYAH.
AYOOOLAH PAK POLISI JANGAN LOYO…., JANGAN LETOI-IMPOTEN….!!!
WUJUDKAN TATANAN HIDUP TERTIB HUKUM….!!!
TEGAKKAN PROFESIONALISME ….!!!
ANDA DITUNGGU MASYARAKAT…!
GARANG….LEBIH GARANGLAH … GASAK PREMAN…!!!
Anatomi Premanisme
Beberapa waktu lalu terdengar berita tentang terbunuhnya beberapa mahasiswa di Mataram oleh beberapa preman yang disewa pihak kampus untuk mengamankan kampus. Mengapa itu terjadi? Bahkan seharusnya tidak muncul pertanyaan seperti itu, karena semua orang secara diam-diam pasti sudah terbiasa maklum. Di mana pun tempat di republik tercinta ini, perilaku orang, siapa pun itu, yang merasa terancam posisinya kurang-lebih sama. Pada kasus di Mataram itu, penguasa kampus barangkali terancam oleh perilaku para mahasiswa yang suka sekali memunculkan gejolak di kampus dengan demo-demo yang sejak pergantian era memasuki era reformasi menjadi sesuatu yang semakin lazim, people power dan semacamnya. Jika kita lihat dari dekat, para penguasa kampus itu menyewa preman di samping juga menggaji para petugas keamanan kampus seperti satpam dan semacamnya, karena mereka jelas tidak bisa mempercayakan keamanan kampus seratus persen kepada para satpam. Barangkali para satpam bisa dipercaya mengambil porsi pengamanan kampus tertentu, sementara porsi lain dipertimbangkan oleh para pejabat kampus itu harus ditangani oleh orang lain yang siapa pun itu lebih dipercaya oleh mereka untuk memberi mereka rasa aman. Kampus pada kejadian itu menunjukkan dua kepentingan yang berlawanan, penguasa kampus dan para mahasiswa.
Akar permasalahan premanisme jika kita mau telanjang dan jujur melihat kenyataan adalah kebodohan, rendahnya kualitas sumber daya manusia, rendahnya profesionalisme jika bukan tidak adanya profesionalisme sama sekali pada sebagian besar masyarakat Indonesia, dan akhirnya rendahnya produktivitas. Di segala bidang dan sektor kita bisa lihat fenomena kebodohan, rendahnya kualitas sumber daya manusia dan tidak adanya profesionalisme dan rendahnya produktivitas semacam itu. Akibatnya, di segala bidang dan sektor kita juga bisa temukan perilaku premanisme. Pembunuhan mahasiswa yang dilakukan oleh para preman yang disewa pihak kampus di Mataram kemarin menunjukkan tidak profesionalnya para petugas keamanan kampus hingga tidak bisa dipercaya oleh juragan yang menggaji mereka, para pejabat kampus. Para pejabat kampus itu juga menunjukkan ketidakprofesionalan mereka di dalam mengurus kampus. Pada kejadian itu juga bisa terlihat masih begitu kentaranya pendekatan kekuasaan oleh para penguasa kampus. Kebodohan merekalah yang tentu saja menjadi penyebab mengapa mereka tidak bisa menggunakan pendekatan persuasif dan lebih beradab dan dengan mudah merasa terancam oleh para mahasiswa yang sebelumnya berhasil memaksa turun jabatan penguasa kampus sebelumnya karena alasan seputar KKN. Pada sisi yang lain yang lebih umum, para penguasa kampus itu sedang menunjukkan perilaku kedodoran, blingsatan, mudah kebakaran jenggot, terburu-buru menyeringai menunjukkan ketajaman taji-taring mereka, emosional, tidak profesional, ceroboh, sembarangan dihadapkan pada hembusan angin perubahan yang dimunculkan oleh anak-anak muda, oleh anak-anak kampus, oleh anak-anak jaman. Pasti seperti lagu lama yang telah sekian puluh tahun ke belakang selalu dinyanyikan oleh para penguasa, termasuk penguasa kampus, “Sudahlah mahasiswa itu tugasnya belajar, belajar yang baiklah, tak usah neko-neko. Kalau neko-neko jadi engga lulus-lulus.”
Di segala bidang dan sektor perilaku premanisme itu bisa ditemukan di republik tercinta ini. Akarnya sama, kebodohan, tidak adanya profesionalisme, dan rendahnya produktivitas. Contoh kejadian besar adalah perilaku politik yang masih lazim di republik ini. Kenapa demikian? Coba lihat, saat sang presiden mau meninggalkan negara menuju Mesir, beliau secara informal berpamitan pada markas besar TNI, di Cilangkap. Apa yang dibicarakan? Sekedar pamitankah? Jika dilihat dari dekat, di republik ini perilaku politik para elit politik dan masa pendukungnya tidak jauh berbeda dari para preman. Begitu juga para penguasa dan pihak-pihak yang dianggap bisa memberikan perlindungan kepadanya. Secara formal, di atas kertas, dunia politik, penyelenggaraan pemerintahan sudah terlihat sedikit mulai semakin teratur. Namun realitas formal dan realitas informal masih belum simetris. Artinya, kekuatan politik formal masih menjadi basa-basi dari kekuatan politik informal. Jelasnya demikian, kekuatan riil di republik ini adalah tentara, penguasa dan orang kaya. Dan apa yang disebut supremasi hukum sering kali terombang-ambing di antara supremasi kekuatan-kekuatan itu. Jarang terjadi supremasi kekuatan-kekuatan itu terbentur supremasi hukum. Lebih sering terjadi adalah supremasi hukum terbentur-bentur supremasi kekuatan-kekuatan itu.
Kekuatan politik riil itu kental bermain di dalam setiap arena. Dua aturan yang mereka ikuti –premanisme dan militerisme– adalah isme-isme besar yang merembesi bentuk ikatan-ikatan sosial formal maupun informal dari organisasi masa dan juga partai politik, bahkan yang bersifat keagamaan sekali pun –yang membela agama, membela Tuhan– kepemudaan, olahraga sampai gerombolan jalanan (gang). Rembesan premanisme dan militerisme itu menjelma menjadi sub-sub isme di antara bentuk-bentuk ikatan sosial itu. Premanisme dan militerisme yang demikian itu muncul karena defisit profesionalisme, defisit produktivitas. Militer profesional tidak akan membuahkan premanisme dan militerisme di luar lingkaran profesinya. Militer profesional tidak akan membuahkan anggapan bahwa mereka adalah warga negara kelas satu –dan warga negara yang lain dianggap berkelas kambing–, atau warga negara bertaring-taji-paling tajam, sehingga segala atribut yang berhubungan dengan militer memiliki khasiat di luar lingkaran profesi itu. Ini terlihat pada fenomena backing-mem-backing yang terjadi pada level preman kampung sampai level preman nasional.
Anatomi Preman Kampung
Jika dilakukan pembedahan dan dilihat lebih dekat akar-akar premanisme pada level kampung dan nasional adalah sama, yakni kebodohan dan oleh karena itu pengangguran, masalah ekonomi, defisit profesionalisme, defisit produktivitas, backing-mem-backing oleh militer atau bahkan pejabat polisi sendiri dan INI IRONI, orang kaya, atau pejabat yang merasa menjadi penguasa. Hampir di setiap kampung terutama di wilayah perkotaan masalah premanisme terjadi di seputar ruas-ruas jalan yang menjadi lahan berpenghasilan, baik dari parkir, bisnis keamanan pertokoan, tempat-tempat hiburan, diskotik, karaoke atau pelacuran, dan semacamnya. Jagat premanisme tak jauh beda dengan semesta rimba raya. Mereka yang bertaring-taji lebih tajam memakan daging mangsa yang bertaring-taji kurang tajam, mereka yang tak bertaring bertaji cukup memakan mangsa tumbuhan. Tak heran jika ada beberapa orang petentang-petenteng di jalanan, atau di kandang sendiri –maksudnya di kampung sendiri– bisa ditebak di belakang mereka ada orang bertaring, orang kaya, pejabat yang merasa menjadi penguasa, militer atau pejabat polisi, kapten, jenderal, kopral, mayor, sersan. Atribut yang sering mereka pakai dengan bangga sering kali adalah atribut-atribut militer. Dan, hanya ada dua aturan bagi para preman yang berperilaku petentang-petenteng percaya diri itu.
Peraturan pertama: Preman itu tidak pernah salah.
Peraturan kedua: Jika terbukti preman bersalah, lihat peraturan pertama.
Memperhatikan peraturan pertama, tak susahlah dipahami bahwa apa yang tipikal menjadi perilaku preman adalah mau jungkir-balik, mau mabuk, mau malak, mau maling, mau memperkosa, mau menipu, bahkan mau sembahyang sholat-ngaji sambil mabuk dan minum, mau bertato sekaligus berkopiah-bersorban, mau sambil mabuk berkopiah-bersorban meneriakkan takbir-tahmid di jalanan saat berkampanye mendukung partai politik yang berafiliasi keagamaan tertentu, mau melindungi anak-anak kos yang gemar kelonan, berrendesvous sex bebas di kamar-kamar kos, mau apa saja seenak pantat mereka, mereka tidak pernah salah. Seperti seloroh dungu mereka yang sering terdengar, “Orang mabuk bebas-merdeka.”
Kemerdekaan mereka dari jerat hukum masih begitu terbukti di mana pun tempat di lorong-lorong kampung, terutama di wilayah perkotaan. Kemerdekaan mereka dari jerat hukum ini dipertegas oleh fenomena backing-membacking oleh para anggota militer, bahkan polisi dan sekali lagi ini IRONI, orang kaya, dan pejabat yang merasa menjadi penguasa.
Karena backing-mem-backing itulah jika sang preman berurusan dengan polisi, sering lolos jeratan hukum. Ada yang mem-backing di belakangnya. Sering dan banyaknya kejadian preman lolos jeratan hukum menegaskan bahwa para pemegang otoritas kamtibmas terkesan letoi, impoten, alih-alih garang dihadapkan pada model preman ber-backing ini. Kejadian itu juga menegaskan bahwa para pemegang otoritas kamtibmas terkesan mandul dan tidak produktif di dalam menjalankan profesi penegakan hukum mereka. Defisit profesionalisme dan produktivitas itu akhirnya memberikan sumbangan berarti pada pembuktian kebenaran peraturan kedua di kalangan para preman, yakni “Jika terbukti preman bersalah, lihat peraturan pertama.”
Lekatnya isme yang namanya militer –maksudnya militerisme– menurunkan kelaziman penggunaan idiom-idiom militer di samping pada saat yang bersamaan juga idiom-idiom kekuasaan, seperti sebutan yang mereka gunakan untuk pimpinan preman di wilayah, ruas jalan atau kampung tertentu: “Jenderale Samirono”, “Yang pegang daerah sini”, Brigade, Laskar, Kesatuan, Korp, dsb. Campur-baur premanisme, defisit profesionalisme, defisit produktivitas, penyalahgunaan kekuasaan, pengangguran, kemiskinan ini menjadi lahan subur bisnis-bisnis dari yang sekedar miring—maksudnya sekedar urusan mo limo—sampai bisnis ilegal berbagai penyalahgunaan obat dan narkotika-psikotropika, persekongkolan pencurian kendaraan bermotor dan bisa jadi juga senjata api.
Premanisme di Kampung Samirono
Wajah premanisme juga terlihat dengan mudah dan jelas di Kampung Samirono, di sebelah selatan UNY, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Cobalah Saudara tinggal beberapa hari di kampung itu dan sedikit berperilaku fleksibel, ya luwes mabuk, ya luwes pakai kopiah-sorban tenteng sajadah, sedikit fasih melafal bahasa Arab agar akrab dan berkelas di antara preman-preman santri kampung itu saat bergaul di masjid. Sebutan preman-santri kiranya tepat untuk mereka dan karena itu preman model ini bisa dikategorikan sebagai preman model “semangka”, maksudnya, bagian luar hijau, bagian dalam merah. Atau Saudara cukup makan di sebuah Resto yang baru saja selesai dibangun dan dioperasikan di Jl. Colombo, No. 9A dan berdiri sejenak mengamati mereka yang sedang menjalankan profesi penjaga parkir. Sebaiknya Saudara datang agak malam, seputar pukul 9 malam, dan setelah selesai makan di situ, amati perilaku mereka, sebelum Saudara pergi. Mereka, para pemuda kampung lugu, setengah preman, preman dan super preman—ukurannya apa? Tato, mabuk, keberanian malak, keberanian nakut-nakuti orang –tentu bagi yang bisa ditakuti oleh preman kampung–, berbagi jadwal parkir di ruas jalan itu dan terakhir di depan sebuah Resto itu.
Mereka yang petentang-petenteng di ruas jalan itu pun bisa dirunut siapa yang ada di belakang mereka. Kabar burung terdengar, ada beberapa pejabat militer asal kampung itu yang nongkrong di Cilangkap atau sekedar orang yang bersaudara dengan pejabat tinggi militer atau sekedar teman pejabat militer itu dan kasiat para pejabat militer itu sangat ampuh bagi para preman itu. Para pejabat militer ini cukup memberi mereka alasan untuk leluasa petentang-petenteng di jalanan dan di kampungnya sendiri. Kabar burung juga mengatakan ada pejabat polisi yang berpangkat lumayan tinggi–kapten, jenderal barangkali– yang berasal dari kampung situ. Kabar burung itu rupanya bukan isapan jempol. Saat ada konflik antar gang –gentho-gentho-preman-pemuda setengah preman kampung– gang tetangga kampung sebelah ternyata miris hanya dengan melihat MOBIL DINAS PEJABAT POLISI berpangkat tinggi itu diparkir di garasi cucian mobil tempat para preman itu mangkal. Wah yang ini terjadi layaknya filem-filem mafiosto Italiano. Mobil dinas pejabat polisi itu terlihat khas seperti pada nomor plat mobilnya, warnanya. Cukup menyeramkan untuk menakut-nakuti orang–tentu saja orang yang bisa ditakut-takuti, yang pada kejadian konflik antar gang dengan preman kampung tetangga cara itu sungguh efektif-efisien. Preman kampung sebelah yang hanya dibacking oleh pengusaha kaya dengan kenalan orang-orang berpengaruh di dunia politik dan organisasi masa, gemetar-gentar dan mundur teratur. Namun begitu, aksi unjuk gigi, menyeringai ekspos taring-taji-tajam itu bisa jadi hanya berarti tidak lebih dari sekedar scarecrow atau MEMEDI SAWAH, hantu sawah untuk nakut-nakuti burung pemakan padi bagi orang yang tidak takut.
Persisnya begini, seorang pemuda yang suka sekali memakai seragam sekolah yang mirip-mirip seragam militer dan berpotongan rambut plontos-cepak khas militer melibatkan diri atau diminta terlibat di dalam penyelesaian masalah pencurian sejumlah uang di sebuah rumah kos. Pemuda itu adalah kerabat keluarga kaya di kampung Samirono dan sepertinya berkuasa dan punya kedekatan dengan para pejabat polisi atau militer dan karena itulah keterlibatannya dipercaya berkhasiat dan manjur di dalam segala urusan. Para pihak yang terlibat di dalam masalah itu, pihak yang kehilangan uang bersama para pendukungnya termasuk pemuda bergaya militer itu dan pihak yang dituduh mencuri uang itu berkesulitan menyelesaikan masalah itu. Si tertuduh mengelak telah mencuri uang itu, sementara pihak yang kehilangan uang beserta para pendukungnya memiliki dugaan kuat bahwa dialah yang mencuri. Pihak yang kehilangan uang bersama pemuda bergaya militer itu punya ide datang ke seorang kiai-dukun-orang tua-orang pintar di daerah Bantul. Kiai-dukun-orang pintar-orang tua itu terkenal bisa menunjukkan gambar wajah pencuri dengan menggunakan media air di gelas atau piring saat orang minta petunjuk, penerangan, tentang siapa yang sesungguhnya telah mencuri barang miliknya saat seseorang menjadi korban pencurian. Pemuda bergaya militer itu bersama pihak yang kehilangan uang semakin yakin bahwa si tertuduhlah yang telah mencuri uang itu, setelah datang ke kiai-dukun-orang tua-orang pintar itu dan setelah melihat gambar wajah pencuri lewat media air itu. Mereka bergegas pulang dan menemui si tertuduh dan meminta mengakui saja pencurian uang yang telah ia lakukan. Si tertuduh bersikeras tidak mengakuinya dan dengan gaya sangar-gasak-hajar, pemuda bergaya militer itu menghajar si tertuduh.
Berawal dari peristiwa penganiayaan itulah konflik antar gang terjadi. Si tertuduh dan teraniaya meminta bantuan-dukungan kliknya, yaitu orang-orang di tempat kerjanya dan juga juragannya yang adalah pengusaha yang cukup kaya dan berpengaruh di dunia politik, persisnya partai tertentu. Merasa memiliki backing yang cukup kuat, si tertuduh itu bermaksud memperkarakan peristiwa penganiayaan berlatar belakang tuduhan pencurian dan setelah si penganiaya mendapatkan keyakinan karena telah melihat wajah pencuri di dalam media air di tempat mbah dukun-kiai-orang pintar-orang tua di Bantul itu. Merespons maksud si tertuduh itu, pihak penganiaya mengundangnya untuk menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan. Entah bagaimana persisnya yang terjadi, kabar burung terdengar bahwa ia diundang ke sebuah tempat di situ telah diparkir mobil dinas polisi berpangkat tinggi, yang terlihat dari plat nomor dan warna khasnya. Setelah pertemuan itu, tidak terdengar kelanjutan peristiwa pencurian dan penganiayaan tersangka itu. Seorang yang ikut hadir di tempat negosiasi itu –“penyelesaian secara kekeluargaan itu”– bertutur dengan ikut bangga, “Sampean mau terus memperkarakan penganiayaan itu dan berhadapan dengan pemilik mobil dinas itu atau sampean anggap selesai sampai di sini?” Itulah babak terakhir yang terdengar dari peristiwa itu.
Lengkap kiranya alasan bagi para preman kampung itu untuk petentang-petenteng di jalanan sekitar kampung mereka karena tempat mereka parkir nyambi mabuk-mabukan, Joglo Resto, itu adalah tempat usaha orang kaya, yang juga barangkali dianggap berkuasa karena ia adalah anggota pejabat Badan Perwakilan Daerah Propinsi, BPD atau apalah. Siapa pun dia, pejabat atau bukan, yang jelas ia punya kasiat yang sama seperti para pejabat militer atau polisi karena ia adalah orang kaya. Dan kabar burung juga terdengar sang polisi yang konon berpangkat cukup tinggi itu punya hubungan keluarga dengan beliau yang terhormat sang pejabat anggota Badan Perwakilan Daerah itu. Lengkap sudah alasan bagi para preman kampung itu untuk leluasa petentang-petenteng, sok punya taring-taji-tajam mengerikan, karena di belakang mereka adalah orang-orang yang dianggap bertaring. Sekali buka mulut, menyeringai sedikit melotot orang bisa pingsan.
Belum lama terjadi peristiwa pemukulan terhadap seorang polisi yang sedang lewat oleh salah seorang preman yang nongkrong parkir, mabuk, cari gara-gara di depan Joglo Resto di Jl. Colombo itu. Sungguh ini pantas diungkapkan bukan semata-mata untuk memprovokasi polisi, memanas-manasi polisi. Cobalah Saudara mampir di kios lapak-lapak di sebelah barat persis lokasi parkir mereka, persisnya depan Joglo Resto, beberapa langkah ke barat dan bertanya benarkah beberapa hari lalu terjadi pemukulan anggota polisi di situ. Entah apa perkara hingga si polisi yang jelas berpangkat rendah itu dipukul preman. Si polisi mendekat dengan percaya diri karena mungkin tidak bersalah–dan bagaimana pun ia adalah polisi– dan segera dikerumuni preman-preman mabuk dan tampaknya berakhir damai. Barangkali juga andai si polisi itu memperkarakan pemukulan itu, belum sampai tuntas perkara PINGSANLAH dia karena mengetahui di belakang para preman kampung itu ada orang-orang bertaring-taji tajam, berkasiat membacking preman kampung. Barangkali polisi malang itu akan gemetar gentar hanya dengan melihat MOBIL DINAS PEJABAT TINGGI POLISI di parkir di situ dan akhirnya mundur teratur, takut tergusur, takut periuk-belanganya terguling.
Perilaku petentang-petenteng para preman itu juga diamini oleh mereka yang dekat dengan para preman kampung itu, seperti para pedagang kaki lima, warung tenda di ruas jalan Colombo, dekat-dekat pangkalan parkir preman itu. Karena mengamini perilaku preman petentang-petenteng itu, mereka juga tertular petentang-petenteng bahkan mabuk dan mengumpat berjamaah. Tidaklah sulit kiranya memasuki kalangan mereka. Cukup datangi markas mereka, dengan berjalan sedikit ke arah selatan memasuki kampung itu, ke arah masjid Inayah, ke arah jalan Solo. Di situ akan Saudara temukan warung jamu oplosan-miras sekaligus tempat mereka berjamaah mabuk. Sedikit luweslah dengan ikut mabuk di situ dan dengan mudah Saudara akan dibabtis menjadi jemaat pengajian el-Majnun itu, demikian sepertinya pas untuk nama gerombolan pemabuk itu. Kebetulan di sebelah utara tempat itu baru selesai dibangun masjid baru megah bernilai multimilion, bernama Manhajul Hidayah, biar sama bergengsi dan terkesan sejalan-paralel tempat mabuk itu pas kiranya disebut demikian, el-Majnun. Kelekatan, kepaduan, ke-klopan mereka yang mengamini, berjamaah mengikuti perilaku petentang-petenteng preman kampung itu beralasan karena ada hubungan mutual, semacam simbiosis mutualisma. Sang jenderal preman kampung itu, yang konon juga punya hubungan keluarga dengan sang Kaya-Pejabat-Berkuasa kampung itu, mendapatkan atau persisnya meminta upeti dari juragan pedagang warung-warung tenda itu dengan imbalan janji –barangkali juga bukti–keamanan selama tinggal dan dagang di ruas jalan Colombo itu. Dan begitulah lazim terjadi, kalau upeti tidak didapat, para preman itulah yang justru membuat situasi tidak aman. Karena kelekatan, kepaduan, ke-klopan yang sama, pernah suatu ketika mereka-mereka itu berjamaah mabuk di dalam kampung. Tentu mereka berjamaah mabuk dengan perasaan bebas merdeka, “Ini kan kapungku dewek, kampungku sendiri, dan lagi di depan rumahku sendiri”. Tentu karena terganggu, jika ada yang berani menegur teriak-teriakan keras mabuk mereka yang bukan pada saat dan tempatnya, malam hari saat semua orang istirahat-tidur apa yang terjadi adalah dengan gagah berani salah seorang pemabuk itu menggandeng penuh wibawa lengan si penegur dan berkata, ….. Alih-alih ia yang menegur kegiatan mabuk dan teriak-teriak itu, salah seorang yang adalah anggota jemaat mabuk malam itu, yang konon juga orang asli Samirono, tapi lama tinggal di kampung lain saja didamprat dan hendak dihajar hanya gara-gara pergi tanpa pamitan dari kerumunan pemabuk itu, para preman migran yang ikut membeli kekuasaan preman di kampung itu, anak buah pedagang warung tenda bersama preman setempat yang nebeng memarkiri warung tenda di Jl. Colombo.
Preman-Santri: Dari Merah Menuju Hijau
Istilah itu tepat sekali untuk menunjukkan “kebingungan”, disorientasi. Berawal dari merahnya kampung Samirono saat masih berjaya karena afiliasi pada partai politik tertentu sekian lama, dari pemilu satu ke pemilu yang lain, dan gara-gara tidak mendapatkan jatah parkir di ruas jalan tertentu yang lazim dikelola partai itu pada level grass-root masyarakat miskin kota, mayoritas kampung itu hijrah dan membelokkan afiliasi politik mereka ke partai keagamaan tertentu dan karena itu dengan serta-merta –mak bedunduk, sekonyong-konyong, mendadak–hijau royo-royolah kampung itu. Perubahan mendadak seperti itu tidak menjamin perubahan total sampai ke dalam. Urusan perilaku, urusan sikap, urusan kebiasaan, lebih dalam lagi urusan aqidah, iman, adalah bagian dalam yang tidak bisa dengan mendadak berubah pula. Meskipun karena hijrah, karena pembelokan afiliasi politik itu para preman kampung itu telah merubah penampilan merah mereka menjadi hijau royo-royo, bagian dalam mereka tak banyak berubah. Gaya, kebiasaan dan sikap mereka kurang-lebih sama seperti saat masih merah, ya mabuk, ya petentang-petenteng, ya sok kuasa, sok menjadi penguasa rimba raya —di kandang sendiri tentunya, yang khas preman kampung. Sedikit perubahan barangkali bisa di amati pada nama gerombolan preman itu. Dahulu mereka menggunakan nama BRISED yang berarti Brigade Samirono Edan dengan perasaan bangga besar hati, sangar-gasak, menyeramkan–mengikuti kekagolan perasaan para pengikut-pendukung partai yang pernah dikuyo-kuyo penguasa. Sebuah kesan kepribadian yang terseret-seret oleh berjayanya partai tempat mereka berafiliasi waktu itu. Setelah hijrah afiliasi politik, mereka masih menggunakan nama yang sama, BRISED, dengan rasa bangga, besar hati, sangar-gasak, menyeramkan yang sama pula. Namun kali ini arti nama itu mereka ubah menjadi Brigade Samirono Senang Damai. Sebuah nama yang terdengar lebih sejuk seperti warna hijau royo-royo yang sering kali menyejukkan mata.
Namun lagi-lagi, perubahan mendadak tidak menjamin perubahan itu terjadi total. Bahkan lebih mudah terjadi adalah bahwa perubahan itu hanya terlihat pada atribut-atribut luar saja, seperti kopiah, sorban, sajadah, bahkan ada yang pelihara jenggot, dan kalau pun tampak bersentuhan dengan aqidah, dunia batin pada teriakan-teriakan, yel-yel mereka saat konvoi di jalanan, itu hanya sebatas teriakan takbir-tahmid yang masih terdengar parau, kurang fasih karena berteriak sambil mabuk persis saat mereka masih merah dulu. Teriakan dan yel-yel mereka yang lain sama sekali tidak berubah.
Manhajul Hidayah: Sebuah Masjid Penegas Warna Hijau
“Esuk dele, sore tempe.” Begitu kata pepatah Jawa. Orang mudah berubah. Dahulu gerombolan preman itu enggan berdekat-dekatan dengan masjid, orang-orang masjid. Bahkan beberapa di antara mereka adalah Kristen. Dan terlihat jelas ke-Kristenan mereka hanya berfungsi sebagai penegasan negasi-penidakan, asal tidak Islam, asal tidak hijau, asal bukan masjid, asal bukan orang-orang masjid, asal bukan orang-orang partai hijau. Mereka membuat markas sendiri, tempat nongkrong, mabuk merencanakan konvoi, terutama pada even-even pengerahan masa menjelang pemilu, atau sekedar konvoi berangkat-pulang nonton pertandingan bola, atau juga tempat koordinasi pembagian lahan parkir, dan mabuk dulu sebelum berangkat parkir.
Tersebutlah sebuah kisah. Seorang pejabat pemerintah di salah satu departemen yang kaya raya asal kampung itu memasuki masa pensiun. Memasuki hari tua sebagai Muslim lebih afdol kiranya dengan menambahkan satu huruf “H” di depan namanya barangkali di antara titel-titel yang lain, dengan melakukan perjalanan umroh ke tanah suci. Lebih afdol lagi, tambahan huruf “H” di depan nama itu dipertunjukkan dengan bersedekah, mewakafkan sepotong kecil hartanya, untuk fasilitas umat di sekitarnya. Beliau membangun sebuah masjid benilai multimillion dan kabar burung terdengar masjid itu diwakafkan untuk fasilitas ibadah umat di sekitarnya. Gayung bersambut, para preman yang sudah menghijau itu, dan juga banyak dari para orang tua preman itu yang sejak dekade 60-an memang merah, ikut menghijau pula. Para ibu dari yang berusia paruh baya hingga yang mulai menua, mulai bersemangat belajar membaca al-Qur’an, mulai merubah kostum tradisional Jawa mereka dengan kostum Islami–jika bukan ke-arab-araban. Memang masih banyak yang pakai kebaya dan pakaian Jawa, tetapi mereka sudah terlihat memakai jilbab praktis, maksudnya tinggal pakai layaknya topi. Di awal Ramadhan, beberapa di antara mereka, yang adalah bapak-bapak, mulai memberanikan diri membaca al-Qur’an dengan disiarkan menggunakan loudspeaker masjid itu. Terdengar tergagap-gagap, dan masih bernuansa merah dekade 60-an. Terdengar suara baca al-Qur’an itu seperti teriakan, “Saudara-saudara, lihatlah aku dan anak turunku sudah hijau sekarang.” Sebuah teriakan yang agak terlambat, karena dunia sekarang sudah penuh dengan warna-warna, ya merah, ya kuning, ya hijau, ya biru, ya putih. Artinya, warna hijau itu bisa jadi tidak lagi istimewa. Biasa saja.
Para preman-santri mulai rajin ke masjid, meskipun pertimbangan utama mereka tampak sekedar ekspos ke-santrian mereka dan meskipun masih bertato dan mabuk. Mengapa demikian? Karena mereka ke masjid sore hari saja, atau Jumat saja, yang adalah waktu-waktu efektif untuk tonjolkan hidung, maksudnya presentasi sebagai santri. Setelah itu, seperti biasa mereka ke jalan. Di bulan Ramadhan saat yang paling efektif tonjolkan hidung adalah saat buka puasa bersama. Barangkali juga berbuka puasa dengan minuman menyehatkan jamu oplosan yang dijual di tempat Jemaat el Majnun.
Jika Saudara mengamati papan nama Masjid itu, tak ada yang istimewa, tertera nama “Manhajul Hidayah”, barangkali maksudnya upaya seorang haji untuk membukakan hidayah umat di sekitarnya. Sebuah maksud mulia. Terasa miring saat Saudara mengetahui bagaimana papan nama itu dibuat. Beberapa orang mendapatkan jumlah uang yang cukup dari sang haji untuk mempersiapkan papan nama itu. Cukup beli cat, cukup untuk beli rokok, dan yang jelas cukup untuk beli minuman menyehatkan –maksudnya minuman memabukkan, miras. Khas kerja preman-santri, kerja bikin papan nama masjid dan mabuk.
Sedikit Titipan dari Yogya,
Ruas Jalan Colombo, Kampung Samirono, Catur Tungal, Depok, Sleman, Yogyakarta:
HAYOOO PAK POLISI…. LEBIH GARANG GASAK PREMAN…. !!!
TUNJUKKAN … BAHWA PEJABAT TINGGI MILITER-POLISI (Jenderal-Kopral) dan PETINGGI PEMERINTAH …. TIDAK SELAYAKNYA MENJADI ALASAN (BACKING) BAGI PARA PREMAN KAMPUNG PETENTANG-PETENTENG, MERDEKA MABUK DI RUANG PUBLIK.
CATAT!
MARKAS OPERASI PREMAN KAMPUNG ADA DI JL. COLOMBO,
termasuk DEPAN JOGLO RESTO
RUAS JL. COLOMBO, SEBELAH SELATAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
MMARKAS INDUK, WARUNG MIRAS-JAMU OPLOSAN DI SEBELAH SELATAN MASJID MANHAJUL HIDAYAH.
AYOOOLAH PAK POLISI JANGAN LOYO…., JANGAN LETOI-IMPOTEN….!!!
WUJUDKAN TATANAN HIDUP TERTIB HUKUM….!!!
TEGAKKAN PROFESIONALISME ….!!!
ANDA DITUNGGU MASYARAKAT…!
GARANG….LEBIH GARANGLAH … GASAK PREMAN…!!!
Pertanyaan: Apakah Islam agama teroris?
Jawaban: Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.
Tetapi, di dalam Al-Qur’an, ada banyak sekali ayat-ayat yang menggiring umat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, seperti: kekerasan, anarki, poligami dengan 4 istri, anggapan selain muslim adalah orang kafir, dsb. Sikap-sikap tersebut tidak sesuai lagi dengan norma-norma kehidupan masyarakat modern.
Al-Qur’an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4. Dimana mendapatkan angka 4? Kenapa tidak 10, 25 atau bahkan 1000? Dalam hal ini, wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia, tapi sebagai benda terhitung dalam satuan, bijian, 2, 3, 4 atau berapa saja. Terus bagaimana sakit hatinya istri yang dimadu (yang selalu lebih tua dan kurang cantik)? Banyak lagi hal-hal yang nonsense seperti ini di Al-Qur’an. Karena semua yang di Al-Qur’an dianggap sebagai kebenaran mutlak (wahyu Tuhan), maka umat muslim hanya menurutinya saja tanpa menggunakan nalar.
Sedangkan, tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah isi Al-Qur’an betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung Al-Qur’an itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?
Saat ini, banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur’an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Disamping itu, pemuka muslim atau siapa saja yang coba-coba memberi tafsiran yang lebih manusiawi tentang Al-Qur’an pasti mendapatkan ancaman terhadap keselamatan fisiknya.
Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?
@B Ali
http://herianto.wordpress.com/2007/05/16/fuzzy-1-logika-sang-kompromis/#comment-579
Apa yang kau cari ?
@ Herianto,
Yang saya cari adalah pemecahan tentang keadaan yang menimpa negara kita, Indonesia (kekerasan dan anarki).
Dimana akar permasalahan ini?
Kalau anda senang mencaci maki, itu masalah anda sendiri.
[...] TERBUKA BUAT SEMUA BLOGGER YANG KENA KOMENTAR SAMPAH (SPAM) BELIAU: Mohon komentar beliau di-mark as spam saja, berhubung saya tidak bisa menemukan alasan rasional [...]
BRISED, Brigade ISLAM Samirono Senang Damai:
Anatomi Premanisme
Beberapa waktu lalu terdengar berita tentang terbunuhnya beberapa mahasiswa di Mataram oleh beberapa preman yang disewa pihak kampus untuk mengamankan kampus. Mengapa itu terjadi? Bahkan seharusnya tidak muncul pertanyaan seperti itu, karena semua orang secara diam-diam pasti sudah terbiasa maklum. Di mana pun tempat di republik tercinta ini, perilaku orang, siapa pun itu, yang merasa terancam posisinya kurang-lebih sama. Pada kasus di Mataram itu, penguasa kampus barangkali terancam oleh perilaku para mahasiswa yang suka sekali memunculkan gejolak di kampus dengan demo-demo yang sejak pergantian era memasuki era reformasi menjadi sesuatu yang semakin lazim, people power dan semacamnya. Jika kita lihat dari dekat, para penguasa kampus itu menyewa preman di samping juga menggaji para petugas keamanan kampus seperti satpam dan semacamnya, karena mereka jelas tidak bisa mempercayakan keamanan kampus seratus persen kepada para satpam. Barangkali para satpam bisa dipercaya mengambil porsi pengamanan kampus tertentu, sementara porsi lain dipertimbangkan oleh para pejabat kampus itu harus ditangani oleh orang lain yang siapa pun itu lebih dipercaya oleh mereka untuk memberi mereka rasa aman. Kampus pada kejadian itu menunjukkan dua kepentingan yang berlawanan, penguasa kampus dan para mahasiswa.
Akar permasalahan premanisme jika kita mau telanjang dan jujur melihat kenyataan adalah kebodohan, rendahnya kualitas sumber daya manusia, rendahnya profesionalisme jika bukan tidak adanya profesionalisme sama sekali pada sebagian besar masyarakat Indonesia, dan akhirnya rendahnya produktivitas. Di segala bidang dan sektor kita bisa lihat fenomena kebodohan, rendahnya kualitas sumber daya manusia dan tidak adanya profesionalisme dan rendahnya produktivitas semacam itu. Akibatnya, di segala bidang dan sektor kita juga bisa temukan perilaku premanisme. Pembunuhan mahasiswa yang dilakukan oleh para preman yang disewa pihak kampus di Mataram kemarin menunjukkan tidak profesionalnya para petugas keamanan kampus hingga tidak bisa dipercaya oleh juragan yang menggaji mereka, para pejabat kampus. Para pejabat kampus itu juga menunjukkan ketidakprofesionalan mereka di dalam mengurus kampus. Pada kejadian itu juga bisa terlihat masih begitu kentaranya pendekatan kekuasaan oleh para penguasa kampus. Kebodohan merekalah yang tentu saja menjadi penyebab mengapa mereka tidak bisa menggunakan pendekatan persuasif dan lebih beradab dan dengan mudah merasa terancam oleh para mahasiswa yang sebelumnya berhasil memaksa turun jabatan penguasa kampus sebelumnya karena alasan seputar KKN. Pada sisi yang lain yang lebih umum, para penguasa kampus itu sedang menunjukkan perilaku kedodoran, blingsatan, mudah kebakaran jenggot, terburu-buru menyeringai menunjukkan ketajaman taji-taring mereka, emosional, tidak profesional, ceroboh, sembarangan dihadapkan pada hembusan angin perubahan yang dimunculkan oleh anak-anak muda, oleh anak-anak kampus, oleh anak-anak jaman. Pasti seperti lagu lama yang telah sekian puluh tahun ke belakang selalu dinyanyikan oleh para penguasa, termasuk penguasa kampus, “Sudahlah mahasiswa itu tugasnya belajar, belajar yang baiklah, tak usah neko-neko. Kalau neko-neko jadi engga lulus-lulus.”
Di segala bidang dan sektor perilaku premanisme itu bisa ditemukan di republik tercinta ini. Akarnya sama, kebodohan, tidak adanya profesionalisme, dan rendahnya produktivitas. Contoh kejadian besar adalah perilaku politik yang masih lazim di republik ini. Kenapa demikian? Coba lihat, saat sang presiden mau meninggalkan negara menuju Mesir, beliau secara informal berpamitan pada markas besar TNI, di Cilangkap. Apa yang dibicarakan? Sekedar pamitankah? Jika dilihat dari dekat, di republik ini perilaku politik para elit politik dan masa pendukungnya tidak jauh berbeda dari para preman. Begitu juga para penguasa dan pihak-pihak yang dianggap bisa memberikan perlindungan kepadanya. Secara formal, di atas kertas, dunia politik, penyelenggaraan pemerintahan sudah terlihat sedikit mulai semakin teratur. Namun realitas formal dan realitas informal masih belum simetris. Artinya, kekuatan politik formal masih menjadi basa-basi dari kekuatan politik informal. Jelasnya demikian, kekuatan riil di republik ini adalah tentara, penguasa dan orang kaya. Dan apa yang disebut supremasi hukum sering kali terombang-ambing di antara supremasi kekuatan-kekuatan itu. Jarang terjadi supremasi kekuatan-kekuatan itu terbentur supremasi hukum. Lebih sering terjadi adalah supremasi hukum terbentur-bentur supremasi kekuatan-kekuatan itu.
Kekuatan politik riil itu kental bermain di dalam setiap arena. Dua aturan yang mereka ikuti –premanisme dan militerisme– adalah isme-isme besar yang merembesi bentuk ikatan-ikatan sosial formal maupun informal dari organisasi masa dan juga partai politik, bahkan yang bersifat keagamaan sekali pun –yang membela agama, membela Tuhan– kepemudaan, olahraga sampai gerombolan jalanan (gang). Rembesan premanisme dan militerisme itu menjelma menjadi sub-sub isme di antara bentuk-bentuk ikatan sosial itu. Premanisme dan militerisme yang demikian itu muncul karena defisit profesionalisme, defisit produktivitas. Militer profesional tidak akan membuahkan premanisme dan militerisme di luar lingkaran profesinya. Militer profesional tidak akan membuahkan anggapan bahwa mereka adalah warga negara kelas satu –dan warga negara yang lain dianggap berkelas kambing–, atau warga negara bertaring-taji-paling tajam, sehingga segala atribut yang berhubungan dengan militer memiliki khasiat di luar lingkaran profesi itu. Ini terlihat pada fenomena backing-mem-backing yang terjadi pada level preman kampung sampai level preman nasional.
Anatomi Preman Kampung
Jika dilakukan pembedahan dan dilihat lebih dekat akar-akar premanisme pada level kampung dan nasional adalah sama, yakni kebodohan dan oleh karena itu pengangguran, masalah ekonomi, defisit profesionalisme, defisit produktivitas, backing-mem-backing oleh militer atau bahkan pejabat polisi sendiri dan INI IRONI, orang kaya, atau pejabat yang merasa menjadi penguasa. Hampir di setiap kampung terutama di wilayah perkotaan masalah premanisme terjadi di seputar ruas-ruas jalan yang menjadi lahan berpenghasilan, baik dari parkir, bisnis keamanan pertokoan, tempat-tempat hiburan, diskotik, karaoke atau pelacuran, dan semacamnya. Jagat premanisme tak jauh beda dengan semesta rimba raya. Mereka yang bertaring-taji lebih tajam memakan daging mangsa yang bertaring-taji kurang tajam, mereka yang tak bertaring bertaji cukup memakan mangsa tumbuhan. Tak heran jika ada beberapa orang petentang-petenteng di jalanan, atau di kandang sendiri –maksudnya di kampung sendiri– bisa ditebak di belakang mereka ada orang bertaring, orang kaya, pejabat yang merasa menjadi penguasa, militer atau pejabat polisi, kapten, jenderal, kopral, mayor, sersan. Atribut yang sering mereka pakai dengan bangga sering kali adalah atribut-atribut militer. Dan, hanya ada dua aturan bagi para preman yang berperilaku petentang-petenteng percaya diri itu.
Peraturan pertama: Preman itu tidak pernah salah.
Peraturan kedua: Jika terbukti preman bersalah, lihat peraturan pertama.
Memperhatikan peraturan pertama, tak susahlah dipahami bahwa apa yang tipikal menjadi perilaku preman adalah mau jungkir-balik, mau mabuk, mau malak, mau maling, mau memperkosa, mau menipu, bahkan mau sembahyang sholat-ngaji sambil mabuk dan minum, mau bertato sekaligus berkopiah-bersorban, mau sambil mabuk berkopiah-bersorban meneriakkan takbir-tahmid di jalanan saat berkampanye mendukung partai politik yang berafiliasi keagamaan tertentu, mau melindungi anak-anak kos yang gemar kelonan, berrendesvous sex bebas di kamar-kamar kos, mau apa saja seenak pantat mereka, mereka tidak pernah salah. Seperti seloroh dungu mereka yang sering terdengar, “Orang mabuk bebas-merdeka.”
Kemerdekaan mereka dari jerat hukum masih begitu terbukti di mana pun tempat di lorong-lorong kampung, terutama di wilayah perkotaan. Kemerdekaan mereka dari jerat hukum ini dipertegas oleh fenomena backing-membacking oleh para anggota militer, bahkan polisi dan sekali lagi ini IRONI, orang kaya, dan pejabat yang merasa menjadi penguasa.
Karena backing-mem-backing itulah jika sang preman berurusan dengan polisi, sering lolos jeratan hukum. Ada yang mem-backing di belakangnya. Sering dan banyaknya kejadian preman lolos jeratan hukum menegaskan bahwa para pemegang otoritas kamtibmas terkesan letoi, impoten, alih-alih garang dihadapkan pada model preman ber-backing ini. Kejadian itu juga menegaskan bahwa para pemegang otoritas kamtibmas terkesan mandul dan tidak produktif di dalam menjalankan profesi penegakan hukum mereka. Defisit profesionalisme dan produktivitas itu akhirnya memberikan sumbangan berarti pada pembuktian kebenaran peraturan kedua di kalangan para preman, yakni “Jika terbukti preman bersalah, lihat peraturan pertama.”
Lekatnya isme yang namanya militer –maksudnya militerisme– menurunkan kelaziman penggunaan idiom-idiom militer di samping pada saat yang bersamaan juga idiom-idiom kekuasaan, seperti sebutan yang mereka gunakan untuk pimpinan preman di wilayah, ruas jalan atau kampung tertentu: “Jenderale Samirono”, “Yang pegang daerah sini”, Brigade, Laskar, Kesatuan, Korp, dsb. Campur-baur premanisme, defisit profesionalisme, defisit produktivitas, penyalahgunaan kekuasaan, pengangguran, kemiskinan ini menjadi lahan subur bisnis-bisnis dari yang sekedar miring—maksudnya sekedar urusan mo limo—sampai bisnis ilegal berbagai penyalahgunaan obat dan narkotika-psikotropika, persekongkolan pencurian kendaraan bermotor dan bisa jadi juga senjata api.
Premanisme di Kampung Samirono
Wajah premanisme juga terlihat dengan mudah dan jelas di Kampung Samirono, di sebelah selatan UNY, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Cobalah Saudara tinggal beberapa hari di kampung itu dan sedikit berperilaku fleksibel, ya luwes mabuk, ya luwes pakai kopiah-sorban tenteng sajadah, sedikit fasih melafal bahasa Arab agar akrab dan berkelas di antara preman-preman santri kampung itu saat bergaul di masjid. Sebutan preman-santri kiranya tepat untuk mereka dan karena itu preman model ini bisa dikategorikan sebagai preman model “semangka”, maksudnya, bagian luar hijau, bagian dalam merah. Atau Saudara cukup makan di sebuah Resto yang baru saja selesai dibangun dan dioperasikan di Jl. Colombo, No. 9A dan berdiri sejenak mengamati mereka yang sedang menjalankan profesi penjaga parkir. Sebaiknya Saudara datang agak malam, seputar pukul 9 malam, dan setelah selesai makan di situ, amati perilaku mereka, sebelum Saudara pergi. Mereka, para pemuda kampung lugu, setengah preman, preman dan super preman—ukurannya apa? Tato, mabuk, keberanian malak, keberanian nakut-nakuti orang –tentu bagi yang bisa ditakuti oleh preman kampung–, berbagi jadwal parkir di ruas jalan itu dan terakhir di depan sebuah Resto itu.
Mereka yang petentang-petenteng di ruas jalan itu pun bisa dirunut siapa yang ada di belakang mereka. Kabar burung terdengar, ada beberapa pejabat militer asal kampung itu yang nongkrong di Cilangkap atau sekedar orang yang bersaudara dengan pejabat tinggi militer atau sekedar teman pejabat militer itu dan kasiat para pejabat militer itu sangat ampuh bagi para preman itu. Para pejabat militer ini cukup memberi mereka alasan untuk leluasa petentang-petenteng di jalanan dan di kampungnya sendiri. Kabar burung juga mengatakan ada pejabat polisi yang berpangkat lumayan tinggi–kapten, jenderal barangkali– yang berasal dari kampung situ. Kabar burung itu rupanya bukan isapan jempol. Saat ada konflik antar gang –gentho-gentho-preman-pemuda setengah preman kampung– gang tetangga kampung sebelah ternyata miris hanya dengan melihat MOBIL DINAS PEJABAT POLISI berpangkat tinggi itu diparkir di garasi cucian mobil tempat para preman itu mangkal. Wah yang ini terjadi layaknya filem-filem mafiosto Italiano. Mobil dinas pejabat polisi itu terlihat khas seperti pada nomor plat mobilnya, warnanya. Cukup menyeramkan untuk menakut-nakuti orang–tentu saja orang yang bisa ditakut-takuti, yang pada kejadian konflik antar gang dengan preman kampung tetangga cara itu sungguh efektif-efisien. Preman kampung sebelah yang hanya dibacking oleh pengusaha kaya dengan kenalan orang-orang berpengaruh di dunia politik dan organisasi masa, gemetar-gentar dan mundur teratur. Namun begitu, aksi unjuk gigi, menyeringai ekspos taring-taji-tajam itu bisa jadi hanya berarti tidak lebih dari sekedar scarecrow atau MEMEDI SAWAH, hantu sawah untuk nakut-nakuti burung pemakan padi bagi orang yang tidak takut.
Persisnya begini, seorang pemuda yang suka sekali memakai seragam sekolah yang mirip-mirip seragam militer dan berpotongan rambut plontos-cepak khas militer melibatkan diri atau diminta terlibat di dalam penyelesaian masalah pencurian sejumlah uang di sebuah rumah kos. Pemuda itu adalah kerabat keluarga kaya di kampung Samirono dan sepertinya berkuasa dan punya kedekatan dengan para pejabat polisi atau militer dan karena itulah keterlibatannya dipercaya berkhasiat dan manjur di dalam segala urusan. Para pihak yang terlibat di dalam masalah itu, pihak yang kehilangan uang bersama para pendukungnya termasuk pemuda bergaya militer itu dan pihak yang dituduh mencuri uang itu berkesulitan menyelesaikan masalah itu. Si tertuduh mengelak telah mencuri uang itu, sementara pihak yang kehilangan uang beserta para pendukungnya memiliki dugaan kuat bahwa dialah yang mencuri. Pihak yang kehilangan uang bersama pemuda bergaya militer itu punya ide datang ke seorang kiai-dukun-orang tua-orang pintar di daerah Bantul. Kiai-dukun-orang pintar-orang tua itu terkenal bisa menunjukkan gambar wajah pencuri dengan menggunakan media air di gelas atau piring saat orang minta petunjuk, penerangan, tentang siapa yang sesungguhnya telah mencuri barang miliknya saat seseorang menjadi korban pencurian. Pemuda bergaya militer itu bersama pihak yang kehilangan uang semakin yakin bahwa si tertuduhlah yang telah mencuri uang itu, setelah datang ke kiai-dukun-orang tua-orang pintar itu dan setelah melihat gambar wajah pencuri lewat media air itu. Mereka bergegas pulang dan menemui si tertuduh dan meminta mengakui saja pencurian uang yang telah ia lakukan. Si tertuduh bersikeras tidak mengakuinya dan dengan gaya sangar-gasak-hajar, pemuda bergaya militer itu menghajar si tertuduh.
Berawal dari peristiwa penganiayaan itulah konflik antar gang terjadi. Si tertuduh dan teraniaya meminta bantuan-dukungan kliknya, yaitu orang-orang di tempat kerjanya dan juga juragannya yang adalah pengusaha yang cukup kaya dan berpengaruh di dunia politik, persisnya partai tertentu. Merasa memiliki backing yang cukup kuat, si tertuduh itu bermaksud memperkarakan peristiwa penganiayaan berlatar belakang tuduhan pencurian dan setelah si penganiaya mendapatkan keyakinan karena telah melihat wajah pencuri di dalam media air di tempat mbah dukun-kiai-orang pintar-orang tua di Bantul itu. Merespons maksud si tertuduh itu, pihak penganiaya mengundangnya untuk menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan. Entah bagaimana persisnya yang terjadi, kabar burung terdengar bahwa ia diundang ke sebuah tempat di situ telah diparkir mobil dinas polisi berpangkat tinggi, yang terlihat dari plat nomor dan warna khasnya. Setelah pertemuan itu, tidak terdengar kelanjutan peristiwa pencurian dan penganiayaan tersangka itu. Seorang yang ikut hadir di tempat negosiasi itu –“penyelesaian secara kekeluargaan itu”– bertutur dengan ikut bangga, “Sampean mau terus memperkarakan penganiayaan itu dan berhadapan dengan pemilik mobil dinas itu atau sampean anggap selesai sampai di sini?” Itulah babak terakhir yang terdengar dari peristiwa itu.
Lengkap kiranya alasan bagi para preman kampung itu untuk petentang-petenteng di jalanan sekitar kampung mereka karena tempat mereka parkir nyambi mabuk-mabukan, Joglo Resto, itu adalah tempat usaha orang kaya, yang juga barangkali dianggap berkuasa karena ia adalah anggota pejabat Badan Perwakilan Daerah Propinsi, BPD atau apalah. Siapa pun dia, pejabat atau bukan, yang jelas ia punya kasiat yang sama seperti para pejabat militer atau polisi karena ia adalah orang kaya. Dan kabar burung juga terdengar sang polisi yang konon berpangkat cukup tinggi itu punya hubungan keluarga dengan beliau yang terhormat sang pejabat anggota Badan Perwakilan Daerah itu. Lengkap sudah alasan bagi para preman kampung itu untuk leluasa petentang-petenteng, sok punya taring-taji-tajam mengerikan, karena di belakang mereka adalah orang-orang yang dianggap bertaring. Sekali buka mulut, menyeringai sedikit melotot orang bisa pingsan.
Belum lama terjadi peristiwa pemukulan terhadap seorang polisi yang sedang lewat oleh salah seorang preman yang nongkrong parkir, mabuk, cari gara-gara di depan Joglo Resto di Jl. Colombo itu. Sungguh ini pantas diungkapkan bukan semata-mata untuk memprovokasi polisi, memanas-manasi polisi. Cobalah Saudara mampir di kios lapak-lapak di sebelah barat persis lokasi parkir mereka, persisnya depan Joglo Resto, beberapa langkah ke barat dan bertanya benarkah beberapa hari lalu terjadi pemukulan anggota polisi di situ. Entah apa perkara hingga si polisi yang jelas berpangkat rendah itu dipukul preman. Si polisi mendekat dengan percaya diri karena mungkin tidak bersalah–dan bagaimana pun ia adalah polisi– dan segera dikerumuni preman-preman mabuk dan tampaknya berakhir damai. Barangkali juga andai si polisi itu memperkarakan pemukulan itu, belum sampai tuntas perkara PINGSANLAH dia karena mengetahui di belakang para preman kampung itu ada orang-orang bertaring-taji tajam, berkasiat membacking preman kampung. Barangkali polisi malang itu akan gemetar gentar hanya dengan melihat MOBIL DINAS PEJABAT TINGGI POLISI di parkir di situ dan akhirnya mundur teratur, takut tergusur, takut periuk-belanganya terguling.
Perilaku petentang-petenteng para preman itu juga diamini oleh mereka yang dekat dengan para preman kampung itu, seperti para pedagang kaki lima, warung tenda di ruas jalan Colombo, dekat-dekat pangkalan parkir preman itu. Karena mengamini perilaku preman petentang-petenteng itu, mereka juga tertular petentang-petenteng bahkan mabuk dan mengumpat berjamaah. Tidaklah sulit kiranya memasuki kalangan mereka. Cukup datangi markas mereka, dengan berjalan sedikit ke arah selatan memasuki kampung itu, ke arah masjid Inayah, ke arah jalan Solo. Di situ akan Saudara temukan warung jamu oplosan-miras sekaligus tempat mereka berjamaah mabuk. Sedikit luweslah dengan ikut mabuk di situ dan dengan mudah Saudara akan dibabtis menjadi jemaat pengajian el-Majnun itu, demikian sepertinya pas untuk nama gerombolan pemabuk itu. Kebetulan di sebelah utara tempat itu baru selesai dibangun masjid baru megah bernilai multimilion, bernama Manhajul Hidayah, biar sama bergengsi dan terkesan sejalan-paralel tempat mabuk itu pas kiranya disebut demikian, el-Majnun. Kelekatan, kepaduan, ke-klopan mereka yang mengamini, berjamaah mengikuti perilaku petentang-petenteng preman kampung itu beralasan karena ada hubungan mutual, semacam simbiosis mutualisma. Sang jenderal preman kampung itu, yang konon juga punya hubungan keluarga dengan sang Kaya-Pejabat-Berkuasa kampung itu, mendapatkan atau persisnya meminta upeti dari juragan pedagang warung-warung tenda itu dengan imbalan janji –barangkali juga bukti–keamanan selama tinggal dan dagang di ruas jalan Colombo itu. Dan begitulah lazim terjadi, kalau upeti tidak didapat, para preman itulah yang justru membuat situasi tidak aman. Karena kelekatan, kepaduan, ke-klopan yang sama, pernah suatu ketika mereka-mereka itu berjamaah mabuk di dalam kampung. Tentu mereka berjamaah mabuk dengan perasaan bebas merdeka, “Ini kan kapungku dewek, kampungku sendiri, dan lagi di depan rumahku sendiri”. Tentu karena terganggu, jika ada yang berani menegur teriak-teriakan keras mabuk mereka yang bukan pada saat dan tempatnya, malam hari saat semua orang istirahat-tidur apa yang terjadi adalah dengan gagah berani salah seorang pemabuk itu menggandeng penuh wibawa lengan si penegur dan berkata, ….. Alih-alih ia yang menegur kegiatan mabuk dan teriak-teriak itu, salah seorang yang adalah anggota jemaat mabuk malam itu, yang konon juga orang asli Samirono, tapi lama tinggal di kampung lain saja didamprat dan hendak dihajar hanya gara-gara pergi tanpa pamitan dari kerumunan pemabuk itu, para preman migran yang ikut membeli kekuasaan preman di kampung itu, anak buah pedagang warung tenda bersama preman setempat yang nebeng memarkiri warung tenda di Jl. Colombo.
Preman-Santri: Dari Merah Menuju Hijau
Istilah itu tepat sekali untuk menunjukkan “kebingungan”, disorientasi. Berawal dari merahnya kampung Samirono saat masih berjaya karena afiliasi pada partai politik tertentu sekian lama, dari pemilu satu ke pemilu yang lain, dan gara-gara tidak mendapatkan jatah parkir di ruas jalan tertentu yang lazim dikelola partai itu pada level grass-root masyarakat miskin kota, mayoritas kampung itu hijrah dan membelokkan afiliasi politik mereka ke partai keagamaan tertentu dan karena itu dengan serta-merta –mak bedunduk, sekonyong-konyong, mendadak–hijau royo-royolah kampung itu. Perubahan mendadak seperti itu tidak menjamin perubahan total sampai ke dalam. Urusan perilaku, urusan sikap, urusan kebiasaan, lebih dalam lagi urusan aqidah, iman, adalah bagian dalam yang tidak bisa dengan mendadak berubah pula. Meskipun karena hijrah, karena pembelokan afiliasi politik itu para preman kampung itu telah merubah penampilan merah mereka menjadi hijau royo-royo, bagian dalam mereka tak banyak berubah. Gaya, kebiasaan dan sikap mereka kurang-lebih sama seperti saat masih merah, ya mabuk, ya petentang-petenteng, ya sok kuasa, sok menjadi penguasa rimba raya —di kandang sendiri tentunya, yang khas preman kampung. Sedikit perubahan barangkali bisa di amati pada nama gerombolan preman itu. Dahulu mereka menggunakan nama BRISED yang berarti Brigade ISLAM Samirono Edan dengan perasaan bangga besar hati, sangar-gasak, menyeramkan–mengikuti kekagolan perasaan para pengikut-pendukung partai yang pernah dikuyo-kuyo penguasa. Sebuah kesan kepribadian yang terseret-seret oleh berjayanya partai tempat mereka berafiliasi waktu itu. Setelah hijrah afiliasi politik, mereka masih menggunakan nama yang sama, BRISED, dengan rasa bangga, besar hati, sangar-gasak, menyeramkan yang sama pula. Namun kali ini arti nama itu mereka ubah menjadi Brigade Samirono Senang Damai. Sebuah nama yang terdengar lebih sejuk seperti warna hijau royo-royo yang sering kali menyejukkan mata.
Namun lagi-lagi, perubahan mendadak tidak menjamin perubahan itu terjadi total. Bahkan lebih mudah terjadi adalah bahwa perubahan itu hanya terlihat pada atribut-atribut luar saja, seperti kopiah, sorban, sajadah, bahkan ada yang pelihara jenggot, dan kalau pun tampak bersentuhan dengan aqidah, dunia batin pada teriakan-teriakan, yel-yel mereka saat konvoi di jalanan, itu hanya sebatas teriakan takbir-tahmid yang masih terdengar parau, kurang fasih karena berteriak sambil mabuk persis saat mereka masih merah dulu. Teriakan dan yel-yel mereka yang lain sama sekali tidak berubah.
Manhajul Hidayah: Sebuah Masjid Penegas Warna Hijau
“Esuk dele, sore tempe.” Begitu kata pepatah Jawa. Orang mudah berubah. Dahulu gerombolan preman itu enggan berdekat-dekatan dengan masjid, orang-orang masjid. Bahkan beberapa di antara mereka adalah Kristen. Dan terlihat jelas ke-Kristenan mereka hanya berfungsi sebagai penegasan negasi-penidakan, asal tidak Islam, asal tidak hijau, asal bukan masjid, asal bukan orang-orang masjid, asal bukan orang-orang partai hijau. Mereka membuat markas sendiri, tempat nongkrong, mabuk merencanakan konvoi, terutama pada even-even pengerahan masa menjelang pemilu, atau sekedar konvoi berangkat-pulang nonton pertandingan bola, atau juga tempat koordinasi pembagian lahan parkir, dan mabuk dulu sebelum berangkat parkir.
Tersebutlah sebuah kisah. Seorang pejabat pemerintah di salah satu departemen yang kaya raya asal kampung itu memasuki masa pensiun. Memasuki hari tua sebagai Muslim lebih afdol kiranya dengan menambahkan satu huruf “H” di depan namanya barangkali di antara titel-titel yang lain, dengan melakukan perjalanan umroh ke tanah suci. Lebih afdol lagi, tambahan huruf “H” di depan nama itu dipertunjukkan dengan bersedekah, mewakafkan sepotong kecil hartanya, untuk fasilitas umat di sekitarnya. Beliau membangun sebuah masjid benilai multimillion dan kabar burung terdengar masjid itu diwakafkan untuk fasilitas ibadah umat di sekitarnya. Gayung bersambut, para preman yang sudah menghijau itu, dan juga banyak dari para orang tua preman itu yang sejak dekade 60-an memang merah, ikut menghijau pula. Para ibu dari yang berusia paruh baya hingga yang mulai menua, mulai bersemangat belajar membaca al-Qur’an, mulai merubah kostum tradisional Jawa mereka dengan kostum Islami–jika bukan ke-arab-araban. Memang masih banyak yang pakai kebaya dan pakaian Jawa, tetapi mereka sudah terlihat memakai jilbab praktis, maksudnya tinggal pakai layaknya topi. Di awal Ramadhan, beberapa di antara mereka, yang adalah bapak-bapak, mulai memberanikan diri membaca al-Qur’an dengan disiarkan menggunakan loudspeaker masjid itu. Terdengar tergagap-gagap, dan masih bernuansa merah dekade 60-an. Terdengar suara baca al-Qur’an itu seperti teriakan, “Saudara-saudara, lihatlah aku dan anak turunku sudah hijau sekarang.” Sebuah teriakan yang agak terlambat, karena dunia sekarang sudah penuh dengan warna-warna, ya merah, ya kuning, ya hijau, ya biru, ya putih. Artinya, warna hijau itu bisa jadi tidak lagi istimewa. Biasa saja.
Para preman-santri mulai rajin ke masjid, meskipun pertimbangan utama mereka tampak sekedar ekspos ke-santrian mereka dan meskipun masih bertato dan mabuk. Mengapa demikian? Karena mereka ke masjid sore hari saja, atau Jumat saja, yang adalah waktu-waktu efektif untuk tonjolkan hidung, maksudnya presentasi sebagai santri. Setelah itu, seperti biasa mereka ke jalan. Di bulan Ramadhan saat yang paling efektif tonjolkan hidung adalah saat buka puasa bersama. Barangkali juga berbuka puasa dengan minuman menyehatkan jamu oplosan yang dijual di tempat Jemaat el Majnun.
Jika Saudara mengamati papan nama Masjid itu, tak ada yang istimewa, tertera nama “Manhajul Hidayah”, barangkali maksudnya upaya seorang haji untuk membukakan hidayah umat di sekitarnya. Sebuah maksud mulia. Terasa miring saat Saudara mengetahui bagaimana papan nama itu dibuat. Beberapa orang mendapatkan jumlah uang yang cukup dari sang haji untuk mempersiapkan papan nama itu. Cukup beli cat, cukup untuk beli rokok, dan yang jelas cukup untuk beli minuman menyehatkan –maksudnya minuman memabukkan, miras. Khas kerja preman-santri, kerja bikin papan nama masjid dan mabuk.
Sedikit Titipan dari Yogya,
Ruas Jalan Colombo, Kampung Samirono, Catur Tungal, Depok, Sleman, Yogyakarta:
HAYOOO PAK POLISI…. LEBIH GARANG GASAK PREMAN…. !!!
TUNJUKKAN … BAHWA PEJABAT TINGGI MILITER-POLISI (Jenderal-Kopral) dan PETINGGI PEMERINTAH …. TIDAK SELAYAKNYA MENJADI ALASAN (BACKING) BAGI PARA PREMAN KAMPUNG PETENTANG-PETENTENG, MERDEKA MABUK DI RUANG PUBLIK.
CATAT!
MARKAS OPERASI PREMAN KAMPUNG ADA DI JL. COLOMBO,
termasuk DEPAN JOGLO RESTO
RUAS JL. COLOMBO, SEBELAH SELATAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
MMARKAS INDUK, WARUNG MIRAS-JAMU OPLOSAN DI SEBELAH SELATAN MASJID MANHAJUL HIDAYAH.
AYOOOLAH PAK POLISI JANGAN LOYO…., JANGAN LETOI-IMPOTEN….!!!
WUJUDKAN TATANAN HIDUP TERTIB HUKUM….!!!
TEGAKKAN PROFESIONALISME ….!!!
ANDA DITUNGGU MASYARAKAT…!
GARANG….LEBIH GARANGLAH … GASAK PREMAN…!!!
BRISED: BRIGADE ISLAM SAMIRONO SENANG DAMAI
Damai dari Hong Kong?!
Beberapa waktu lalu terdengar berita tentang terbunuhnya beberapa mahasiswa di Mataram oleh beberapa preman yang disewa pihak kampus untuk mengamankan kampus. Mengapa itu terjadi? Bahkan seharusnya tidak muncul pertanyaan seperti itu, karena semua orang secara diam-diam pasti sudah terbiasa maklum. Di mana pun tempat di republik tercinta ini, perilaku orang, siapa pun itu, yang merasa terancam posisinya kurang-lebih sama. Pada kasus di Mataram itu, penguasa kampus barangkali terancam oleh perilaku para mahasiswa yang suka sekali memunculkan gejolak di kampus dengan demo-demo yang sejak pergantian era memasuki era reformasi menjadi sesuatu yang semakin lazim, people power dan semacamnya. Jika kita lihat dari dekat, para penguasa kampus itu menyewa preman di samping juga menggaji para petugas keamanan kampus seperti satpam dan semacamnya, karena mereka jelas tidak bisa mempercayakan keamanan kampus seratus persen kepada para satpam. Barangkali para satpam bisa dipercaya mengambil porsi pengamanan kampus tertentu, sementara porsi lain dipertimbangkan oleh para pejabat kampus itu harus ditangani oleh orang lain yang siapa pun itu lebih dipercaya oleh mereka untuk memberi mereka rasa aman. Kampus pada kejadian itu menunjukkan dua kepentingan yang berlawanan, penguasa kampus dan para mahasiswa.
Akar permasalahan premanisme jika kita mau telanjang dan jujur melihat kenyataan adalah kebodohan, rendahnya kualitas sumber daya manusia, rendahnya profesionalisme jika bukan tidak adanya profesionalisme sama sekali pada sebagian besar masyarakat Indonesia, dan akhirnya rendahnya produktivitas. Di segala bidang dan sektor kita bisa lihat fenomena kebodohan, rendahnya kualitas sumber daya manusia dan tidak adanya profesionalisme dan rendahnya produktivitas semacam itu. Akibatnya, di segala bidang dan sektor kita juga bisa temukan perilaku premanisme. Pembunuhan mahasiswa yang dilakukan oleh para preman yang disewa pihak kampus di Mataram kemarin menunjukkan tidak profesionalnya para petugas keamanan kampus hingga tidak bisa dipercaya oleh juragan yang menggaji mereka, para pejabat kampus. Para pejabat kampus itu juga menunjukkan ketidakprofesionalan mereka di dalam mengurus kampus. Pada kejadian itu juga bisa terlihat masih begitu kentaranya pendekatan kekuasaan oleh para penguasa kampus. Kebodohan merekalah yang tentu saja menjadi penyebab mengapa mereka tidak bisa menggunakan pendekatan persuasif dan lebih beradab dan dengan mudah merasa terancam oleh para mahasiswa yang sebelumnya berhasil memaksa turun jabatan penguasa kampus sebelumnya karena alasan seputar KKN. Pada sisi yang lain yang lebih umum, para penguasa kampus itu sedang menunjukkan perilaku kedodoran, blingsatan, mudah kebakaran jenggot, terburu-buru menyeringai menunjukkan ketajaman taji-taring mereka, emosional, tidak profesional, ceroboh, sembarangan dihadapkan pada hembusan angin perubahan yang dimunculkan oleh anak-anak muda, oleh anak-anak kampus, oleh anak-anak jaman. Pasti seperti lagu lama yang telah sekian puluh tahun ke belakang selalu dinyanyikan oleh para penguasa, termasuk penguasa kampus, “Sudahlah mahasiswa itu tugasnya belajar, belajar yang baiklah, tak usah neko-neko. Kalau neko-neko jadi engga lulus-lulus.”
Di segala bidang dan sektor perilaku premanisme itu bisa ditemukan di republik tercinta ini. Akarnya sama, kebodohan, tidak adanya profesionalisme, dan rendahnya produktivitas. Contoh kejadian besar adalah perilaku politik yang masih lazim di republik ini. Kenapa demikian? Coba lihat, saat sang presiden mau meninggalkan negara menuju Mesir, beliau secara informal berpamitan pada markas besar TNI, di Cilangkap. Apa yang dibicarakan? Sekedar pamitankah? Jika dilihat dari dekat, di republik ini perilaku politik para elit politik dan masa pendukungnya tidak jauh berbeda dari para preman. Begitu juga para penguasa dan pihak-pihak yang dianggap bisa memberikan perlindungan kepadanya. Secara formal, di atas kertas, dunia politik, penyelenggaraan pemerintahan sudah terlihat sedikit mulai semakin teratur. Namun realitas formal dan realitas informal masih belum simetris. Artinya, kekuatan politik formal masih menjadi basa-basi dari kekuatan politik informal. Jelasnya demikian, kekuatan riil di republik ini adalah tentara, penguasa dan orang kaya. Dan apa yang disebut supremasi hukum sering kali terombang-ambing di antara supremasi kekuatan-kekuatan itu. Jarang terjadi supremasi kekuatan-kekuatan itu terbentur supremasi hukum. Lebih sering terjadi adalah supremasi hukum terbentur-bentur supremasi kekuatan-kekuatan itu.
Kekuatan politik riil itu kental bermain di dalam setiap arena. Dua aturan yang mereka ikuti –premanisme dan militerisme– adalah isme-isme besar yang merembesi bentuk ikatan-ikatan sosial formal maupun informal dari organisasi masa dan juga partai politik, bahkan yang bersifat keagamaan sekali pun –yang membela agama, membela Tuhan– kepemudaan, olahraga sampai gerombolan jalanan (gang). Rembesan premanisme dan militerisme itu menjelma menjadi sub-sub isme di antara bentuk-bentuk ikatan sosial itu. Premanisme dan militerisme yang demikian itu muncul karena defisit profesionalisme, defisit produktivitas. Militer profesional tidak akan membuahkan premanisme dan militerisme di luar lingkaran profesinya. Militer profesional tidak akan membuahkan anggapan bahwa mereka adalah warga negara kelas satu –dan warga negara yang lain dianggap berkelas kambing–, atau warga negara bertaring-taji-paling tajam, sehingga segala atribut yang berhubungan dengan militer memiliki khasiat di luar lingkaran profesi itu. Ini terlihat pada fenomena backing-mem-backing yang terjadi pada level preman kampung sampai level preman nasional.
Anatomi Preman Kampung
Jika dilakukan pembedahan dan dilihat lebih dekat akar-akar premanisme pada level kampung dan nasional adalah sama, yakni kebodohan dan oleh karena itu pengangguran, masalah ekonomi, defisit profesionalisme, defisit produktivitas, backing-mem-backing oleh militer atau bahkan pejabat polisi sendiri dan INI IRONI, orang kaya, atau pejabat yang merasa menjadi penguasa. Hampir di setiap kampung terutama di wilayah perkotaan masalah premanisme terjadi di seputar ruas-ruas jalan yang menjadi lahan berpenghasilan, baik dari parkir, bisnis keamanan pertokoan, tempat-tempat hiburan, diskotik, karaoke atau pelacuran, dan semacamnya. Jagat premanisme tak jauh beda dengan semesta rimba raya. Mereka yang bertaring-taji lebih tajam memakan daging mangsa yang bertaring-taji kurang tajam, mereka yang tak bertaring bertaji cukup memakan mangsa tumbuhan. Tak heran jika ada beberapa orang petentang-petenteng di jalanan, atau di kandang sendiri –maksudnya di kampung sendiri– bisa ditebak di belakang mereka ada orang bertaring, orang kaya, pejabat yang merasa menjadi penguasa, militer atau pejabat polisi, kapten, jenderal, kopral, mayor, sersan. Atribut yang sering mereka pakai dengan bangga sering kali adalah atribut-atribut militer. Dan, hanya ada dua aturan bagi para preman yang berperilaku petentang-petenteng percaya diri itu.
Peraturan pertama: Preman itu tidak pernah salah.
Peraturan kedua: Jika terbukti preman bersalah, lihat peraturan pertama.
Memperhatikan peraturan pertama, tak susahlah dipahami bahwa apa yang tipikal menjadi perilaku preman adalah mau jungkir-balik, mau mabuk, mau malak, mau maling, mau memperkosa, mau menipu, bahkan mau sembahyang sholat-ngaji sambil mabuk dan minum, mau bertato sekaligus berkopiah-bersorban, mau sambil mabuk berkopiah-bersorban meneriakkan takbir-tahmid di jalanan saat berkampanye mendukung partai politik yang berafiliasi keagamaan tertentu, mau melindungi anak-anak kos yang gemar kelonan, berrendesvous sex bebas di kamar-kamar kos, mau apa saja seenak pantat mereka, mereka tidak pernah salah. Seperti seloroh dungu mereka yang sering terdengar, “Orang mabuk bebas-merdeka.”
Kemerdekaan mereka dari jerat hukum masih begitu terbukti di mana pun tempat di lorong-lorong kampung, terutama di wilayah perkotaan. Kemerdekaan mereka dari jerat hukum ini dipertegas oleh fenomena backing-membacking oleh para anggota militer, bahkan polisi dan sekali lagi ini IRONI, orang kaya, dan pejabat yang merasa menjadi penguasa.
Karena backing-mem-backing itulah jika sang preman berurusan dengan polisi, sering lolos jeratan hukum. Ada yang mem-backing di belakangnya. Sering dan banyaknya kejadian preman lolos jeratan hukum menegaskan bahwa para pemegang otoritas kamtibmas terkesan letoi, impoten, alih-alih garang dihadapkan pada model preman ber-backing ini. Kejadian itu juga menegaskan bahwa para pemegang otoritas kamtibmas terkesan mandul dan tidak produktif di dalam menjalankan profesi penegakan hukum mereka. Defisit profesionalisme dan produktivitas itu akhirnya memberikan sumbangan berarti pada pembuktian kebenaran peraturan kedua di kalangan para preman, yakni “Jika terbukti preman bersalah, lihat peraturan pertama.”
Lekatnya isme yang namanya militer –maksudnya militerisme– menurunkan kelaziman penggunaan idiom-idiom militer di samping pada saat yang bersamaan juga idiom-idiom kekuasaan, seperti sebutan yang mereka gunakan untuk pimpinan preman di wilayah, ruas jalan atau kampung tertentu: “Jenderale Samirono”, “Yang pegang daerah sini”, Brigade, Laskar, Kesatuan, Korp, dsb. Campur-baur premanisme, defisit profesionalisme, defisit produktivitas, penyalahgunaan kekuasaan, pengangguran, kemiskinan ini menjadi lahan subur bisnis-bisnis dari yang sekedar miring—maksudnya sekedar urusan mo limo—sampai bisnis ilegal berbagai penyalahgunaan obat dan narkotika-psikotropika, persekongkolan pencurian kendaraan bermotor dan bisa jadi juga senjata api.
Premanisme di Kampung Samirono
Wajah premanisme juga terlihat dengan mudah dan jelas di Kampung Samirono, di sebelah selatan UNY, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. Cobalah Saudara tinggal beberapa hari di kampung itu dan sedikit berperilaku fleksibel, ya luwes mabuk, ya luwes pakai kopiah-sorban tenteng sajadah, sedikit fasih melafal bahasa Arab agar akrab dan berkelas di antara preman-preman santri kampung itu saat bergaul di masjid. Sebutan preman-santri kiranya tepat untuk mereka dan karena itu preman model ini bisa dikategorikan sebagai preman model “semangka”, maksudnya, bagian luar hijau, bagian dalam merah. Atau Saudara cukup makan di sebuah Resto yang baru saja selesai dibangun dan dioperasikan di Jl. Colombo, No. 9A dan berdiri sejenak mengamati mereka yang sedang menjalankan profesi penjaga parkir. Sebaiknya Saudara datang agak malam, seputar pukul 9 malam, dan setelah selesai makan di situ, amati perilaku mereka, sebelum Saudara pergi. Mereka, para pemuda kampung lugu, setengah preman, preman dan super preman—ukurannya apa? Tato, mabuk, keberanian malak, keberanian nakut-nakuti orang –tentu bagi yang bisa ditakuti oleh preman kampung–, berbagi jadwal parkir di ruas jalan itu dan terakhir di depan sebuah Resto itu.
Mereka yang petentang-petenteng di ruas jalan itu pun bisa dirunut siapa yang ada di belakang mereka. Kabar burung terdengar, ada beberapa pejabat militer asal kampung itu yang nongkrong di Cilangkap atau sekedar orang yang bersaudara dengan pejabat tinggi militer atau sekedar teman pejabat militer itu dan kasiat para pejabat militer itu sangat ampuh bagi para preman itu. Para pejabat militer ini cukup memberi mereka alasan untuk leluasa petentang-petenteng di jalanan dan di kampungnya sendiri. Kabar burung juga mengatakan ada pejabat polisi yang berpangkat lumayan tinggi–kapten, jenderal barangkali– yang berasal dari kampung situ. Kabar burung itu rupanya bukan isapan jempol. Saat ada konflik antar gang –gentho-gentho-preman-pemuda setengah preman kampung– gang tetangga kampung sebelah ternyata miris hanya dengan melihat MOBIL DINAS PEJABAT POLISI berpangkat tinggi itu diparkir di garasi cucian mobil tempat para preman itu mangkal. Wah yang ini terjadi layaknya filem-filem mafiosto Italiano. Mobil dinas pejabat polisi itu terlihat khas seperti pada nomor plat mobilnya, warnanya. Cukup menyeramkan untuk menakut-nakuti orang–tentu saja orang yang bisa ditakut-takuti, yang pada kejadian konflik antar gang dengan preman kampung tetangga cara itu sungguh efektif-efisien. Preman kampung sebelah yang hanya dibacking oleh pengusaha kaya dengan kenalan orang-orang berpengaruh di dunia politik dan organisasi masa, gemetar-gentar dan mundur teratur. Namun begitu, aksi unjuk gigi, menyeringai ekspos taring-taji-tajam itu bisa jadi hanya berarti tidak lebih dari sekedar scarecrow atau MEMEDI SAWAH, hantu sawah untuk nakut-nakuti burung pemakan padi bagi orang yang tidak takut.
Persisnya begini, seorang pemuda yang suka sekali memakai seragam sekolah yang mirip-mirip seragam militer dan berpotongan rambut plontos-cepak khas militer melibatkan diri atau diminta terlibat di dalam penyelesaian masalah pencurian sejumlah uang di sebuah rumah kos. Pemuda itu adalah kerabat keluarga kaya di kampung Samirono dan sepertinya berkuasa dan punya kedekatan dengan para pejabat polisi atau militer dan karena itulah keterlibatannya dipercaya berkhasiat dan manjur di dalam segala urusan. Para pihak yang terlibat di dalam masalah itu, pihak yang kehilangan uang bersama para pendukungnya termasuk pemuda bergaya militer itu dan pihak yang dituduh mencuri uang itu berkesulitan menyelesaikan masalah itu. Si tertuduh mengelak telah mencuri uang itu, sementara pihak yang kehilangan uang beserta para pendukungnya memiliki dugaan kuat bahwa dialah yang mencuri. Pihak yang kehilangan uang bersama pemuda bergaya militer itu punya ide datang ke seorang kiai-dukun-orang tua-orang pintar di daerah Bantul. Kiai-dukun-orang pintar-orang tua itu terkenal bisa menunjukkan gambar wajah pencuri dengan menggunakan media air di gelas atau piring saat orang minta petunjuk, penerangan, tentang siapa yang sesungguhnya telah mencuri barang miliknya saat seseorang menjadi korban pencurian. Pemuda bergaya militer itu bersama pihak yang kehilangan uang semakin yakin bahwa si tertuduhlah yang telah mencuri uang itu, setelah datang ke kiai-dukun-orang tua-orang pintar itu dan setelah melihat gambar wajah pencuri lewat media air itu. Mereka bergegas pulang dan menemui si tertuduh dan meminta mengakui saja pencurian uang yang telah ia lakukan. Si tertuduh bersikeras tidak mengakuinya dan dengan gaya sangar-gasak-hajar, pemuda bergaya militer itu menghajar si tertuduh.
Berawal dari peristiwa penganiayaan itulah konflik antar gang terjadi. Si tertuduh dan teraniaya meminta bantuan-dukungan kliknya, yaitu orang-orang di tempat kerjanya dan juga juragannya yang adalah pengusaha yang cukup kaya dan berpengaruh di dunia politik, persisnya partai tertentu. Merasa memiliki backing yang cukup kuat, si tertuduh itu bermaksud memperkarakan peristiwa penganiayaan berlatar belakang tuduhan pencurian dan setelah si penganiaya mendapatkan keyakinan karena telah melihat wajah pencuri di dalam media air di tempat mbah dukun-kiai-orang pintar-orang tua di Bantul itu. Merespons maksud si tertuduh itu, pihak penganiaya mengundangnya untuk menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan. Entah bagaimana persisnya yang terjadi, kabar burung terdengar bahwa ia diundang ke sebuah tempat di situ telah diparkir mobil dinas polisi berpangkat tinggi, yang terlihat dari plat nomor dan warna khasnya. Setelah pertemuan itu, tidak terdengar kelanjutan peristiwa pencurian dan penganiayaan tersangka itu. Seorang yang ikut hadir di tempat negosiasi itu –“penyelesaian secara kekeluargaan itu”– bertutur dengan ikut bangga, “Sampean mau terus memperkarakan penganiayaan itu dan berhadapan dengan pemilik mobil dinas itu atau sampean anggap selesai sampai di sini?” Itulah babak terakhir yang terdengar dari peristiwa itu.
Lengkap kiranya alasan bagi para preman kampung itu untuk petentang-petenteng di jalanan sekitar kampung mereka karena tempat mereka parkir nyambi mabuk-mabukan, Joglo Resto, itu adalah tempat usaha orang kaya, yang juga barangkali dianggap berkuasa karena ia adalah anggota pejabat Badan Perwakilan Daerah Propinsi, BPD atau apalah. Siapa pun dia, pejabat atau bukan, yang jelas ia punya kasiat yang sama seperti para pejabat militer atau polisi karena ia adalah orang kaya. Dan kabar burung juga terdengar sang polisi yang konon berpangkat cukup tinggi itu punya hubungan keluarga dengan beliau yang terhormat sang pejabat anggota Badan Perwakilan Daerah itu. Lengkap sudah alasan bagi para preman kampung itu untuk leluasa petentang-petenteng, sok punya taring-taji-tajam mengerikan, karena di belakang mereka adalah orang-orang yang dianggap bertaring. Sekali buka mulut, menyeringai sedikit melotot orang bisa pingsan.
Belum lama terjadi peristiwa pemukulan terhadap seorang polisi yang sedang lewat oleh salah seorang preman yang nongkrong parkir, mabuk, cari gara-gara di depan Joglo Resto di Jl. Colombo itu. Sungguh ini pantas diungkapkan bukan semata-mata untuk memprovokasi polisi, memanas-manasi polisi. Cobalah Saudara mampir di kios lapak-lapak di sebelah barat persis lokasi parkir mereka, persisnya depan Joglo Resto, beberapa langkah ke barat dan bertanya benarkah beberapa hari lalu terjadi pemukulan anggota polisi di situ. Entah apa perkara hingga si polisi yang jelas berpangkat rendah itu dipukul preman. Si polisi mendekat dengan percaya diri karena mungkin tidak bersalah–dan bagaimana pun ia adalah polisi– dan segera dikerumuni preman-preman mabuk dan tampaknya berakhir damai. Barangkali juga andai si polisi itu memperkarakan pemukulan itu, belum sampai tuntas perkara PINGSANLAH dia karena mengetahui di belakang para preman kampung itu ada orang-orang bertaring-taji tajam, berkasiat membacking preman kampung. Barangkali polisi malang itu akan gemetar gentar hanya dengan melihat MOBIL DINAS PEJABAT TINGGI POLISI di parkir di situ dan akhirnya mundur teratur, takut tergusur, takut periuk-belanganya terguling.
Perilaku petentang-petenteng para preman itu juga diamini oleh mereka yang dekat dengan para preman kampung itu, seperti para pedagang kaki lima, warung tenda di ruas jalan Colombo, dekat-dekat pangkalan parkir preman itu. Karena mengamini perilaku preman petentang-petenteng itu, mereka juga tertular petentang-petenteng bahkan mabuk dan mengumpat berjamaah. Tidaklah sulit kiranya memasuki kalangan mereka. Cukup datangi markas mereka, dengan berjalan sedikit ke arah selatan memasuki kampung itu, ke arah masjid Inayah, ke arah jalan Solo. Di situ akan Saudara temukan warung jamu oplosan-miras sekaligus tempat mereka berjamaah mabuk. Sedikit luweslah dengan ikut mabuk di situ dan dengan mudah Saudara akan dibabtis menjadi jemaat pengajian el-Majnun itu, demikian sepertinya pas untuk nama gerombolan pemabuk itu. Kebetulan di sebelah utara tempat itu baru selesai dibangun masjid baru megah bernilai multimilion, bernama Manhajul Hidayah, biar sama bergengsi dan terkesan sejalan-paralel tempat mabuk itu pas kiranya disebut demikian, el-Majnun. Kelekatan, kepaduan, ke-klopan mereka yang mengamini, berjamaah mengikuti perilaku petentang-petenteng preman kampung itu beralasan karena ada hubungan mutual, semacam simbiosis mutualisma. Sang jenderal preman kampung itu, yang konon juga punya hubungan keluarga dengan sang Kaya-Pejabat-Berkuasa kampung itu, mendapatkan atau persisnya meminta upeti dari juragan pedagang warung-warung tenda itu dengan imbalan janji –barangkali juga bukti–keamanan selama tinggal dan dagang di ruas jalan Colombo itu. Dan begitulah lazim terjadi, kalau upeti tidak didapat, para preman itulah yang justru membuat situasi tidak aman. Karena kelekatan, kepaduan, ke-klopan yang sama, pernah suatu ketika mereka-mereka itu berjamaah mabuk di dalam kampung. Tentu mereka berjamaah mabuk dengan perasaan bebas merdeka, “Ini kan kapungku dewek, kampungku sendiri, dan lagi di depan rumahku sendiri”. Tentu karena terganggu, jika ada yang berani menegur teriak-teriakan keras mabuk mereka yang bukan pada saat dan tempatnya, malam hari saat semua orang istirahat-tidur apa yang terjadi adalah dengan gagah berani salah seorang pemabuk itu menggandeng penuh wibawa lengan si penegur dan berkata, ….. Alih-alih ia yang menegur kegiatan mabuk dan teriak-teriak itu, salah seorang yang adalah anggota jemaat mabuk malam itu, yang konon juga orang asli Samirono, tapi lama tinggal di kampung lain saja didamprat dan hendak dihajar hanya gara-gara pergi tanpa pamitan dari kerumunan pemabuk itu, para preman migran yang ikut membeli kekuasaan preman di kampung itu, anak buah pedagang warung tenda bersama preman setempat yang nebeng memarkiri warung tenda di Jl. Colombo.
Preman-Santri: Dari Merah Menuju Hijau
Istilah itu tepat sekali untuk menunjukkan “kebingungan”, disorientasi. Berawal dari merahnya kampung Samirono saat masih berjaya karena afiliasi pada partai politik tertentu sekian lama, dari pemilu satu ke pemilu yang lain, dan gara-gara tidak mendapatkan jatah parkir di ruas jalan tertentu yang lazim dikelola partai itu pada level grass-root masyarakat miskin kota, mayoritas kampung itu hijrah dan membelokkan afiliasi politik mereka ke partai keagamaan tertentu dan karena itu dengan serta-merta –mak bedunduk, sekonyong-konyong, mendadak–hijau royo-royolah kampung itu. Perubahan mendadak seperti itu tidak menjamin perubahan total sampai ke dalam. Urusan perilaku, urusan sikap, urusan kebiasaan, lebih dalam lagi urusan aqidah, iman, adalah bagian dalam yang tidak bisa dengan mendadak berubah pula. Meskipun karena hijrah, karena pembelokan afiliasi politik itu para preman kampung itu telah merubah penampilan merah mereka menjadi hijau royo-royo, bagian dalam mereka tak banyak berubah. Gaya, kebiasaan dan sikap mereka kurang-lebih sama seperti saat masih merah, ya mabuk, ya petentang-petenteng, ya sok kuasa, sok menjadi penguasa rimba raya —di kandang sendiri tentunya, yang khas preman kampung. Sedikit perubahan barangkali bisa di amati pada nama gerombolan preman itu. Dahulu mereka menggunakan nama BRISED yang berarti Brigade ISLAM Samirono Edan dengan perasaan bangga besar hati, sangar-gasak, menyeramkan–mengikuti kekagolan perasaan para pengikut-pendukung partai yang pernah dikuyo-kuyo penguasa. Sebuah kesan kepribadian yang terseret-seret oleh berjayanya partai tempat mereka berafiliasi waktu itu. Setelah hijrah afiliasi politik, mereka masih menggunakan nama yang sama, BRISED, dengan rasa bangga, besar hati, sangar-gasak, menyeramkan yang sama pula. Namun kali ini arti nama itu mereka ubah menjadi Brigade Samirono Senang Damai. Sebuah nama yang terdengar lebih sejuk seperti warna hijau royo-royo yang sering kali menyejukkan mata.
Namun lagi-lagi, perubahan mendadak tidak menjamin perubahan itu terjadi total. Bahkan lebih mudah terjadi adalah bahwa perubahan itu hanya terlihat pada atribut-atribut luar saja, seperti kopiah, sorban, sajadah, bahkan ada yang pelihara jenggot, dan kalau pun tampak bersentuhan dengan aqidah, dunia batin pada teriakan-teriakan, yel-yel mereka saat konvoi di jalanan, itu hanya sebatas teriakan takbir-tahmid yang masih terdengar parau, kurang fasih karena berteriak sambil mabuk persis saat mereka masih merah dulu. Teriakan dan yel-yel mereka yang lain sama sekali tidak berubah.
Manhajul Hidayah: Sebuah Masjid Penegas Warna Hijau
“Esuk dele, sore tempe.” Begitu kata pepatah Jawa. Orang mudah berubah. Dahulu gerombolan preman itu enggan berdekat-dekatan dengan masjid, orang-orang masjid. Bahkan beberapa di antara mereka adalah Kristen. Dan terlihat jelas ke-Kristenan mereka hanya berfungsi sebagai penegasan negasi-penidakan, asal tidak Islam, asal tidak hijau, asal bukan masjid, asal bukan orang-orang masjid, asal bukan orang-orang partai hijau. Mereka membuat markas sendiri, tempat nongkrong, mabuk merencanakan konvoi, terutama pada even-even pengerahan masa menjelang pemilu, atau sekedar konvoi berangkat-pulang nonton pertandingan bola, atau juga tempat koordinasi pembagian lahan parkir, dan mabuk dulu sebelum berangkat parkir.
Tersebutlah sebuah kisah. Seorang pejabat pemerintah di salah satu departemen yang kaya raya asal kampung itu memasuki masa pensiun. Memasuki hari tua sebagai Muslim lebih afdol kiranya dengan menambahkan satu huruf “H” di depan namanya barangkali di antara titel-titel yang lain, dengan melakukan perjalanan umroh ke tanah suci. Lebih afdol lagi, tambahan huruf “H” di depan nama itu dipertunjukkan dengan bersedekah, mewakafkan sepotong kecil hartanya, untuk fasilitas umat di sekitarnya. Beliau membangun sebuah masjid benilai multimillion dan kabar burung terdengar masjid itu diwakafkan untuk fasilitas ibadah umat di sekitarnya. Gayung bersambut, para preman yang sudah menghijau itu, dan juga banyak dari para orang tua preman itu yang sejak dekade 60-an memang merah, ikut menghijau pula. Para ibu dari yang berusia paruh baya hingga yang mulai menua, mulai bersemangat belajar membaca al-Qur’an, mulai merubah kostum tradisional Jawa mereka dengan kostum Islami–jika bukan ke-arab-araban. Memang masih banyak yang pakai kebaya dan pakaian Jawa, tetapi mereka sudah terlihat memakai jilbab praktis, maksudnya tinggal pakai layaknya topi. Di awal Ramadhan, beberapa di antara mereka, yang adalah bapak-bapak, mulai memberanikan diri membaca al-Qur’an dengan disiarkan menggunakan loudspeaker masjid itu. Terdengar tergagap-gagap, dan masih bernuansa merah dekade 60-an. Terdengar suara baca al-Qur’an itu seperti teriakan, “Saudara-saudara, lihatlah aku dan anak turunku sudah hijau sekarang.” Sebuah teriakan yang agak terlambat, karena dunia sekarang sudah penuh dengan warna-warna, ya merah, ya kuning, ya hijau, ya biru, ya putih. Artinya, warna hijau itu bisa jadi tidak lagi istimewa. Biasa saja.
Para preman-santri mulai rajin ke masjid, meskipun pertimbangan utama mereka tampak sekedar ekspos ke-santrian mereka dan meskipun masih bertato dan mabuk. Mengapa demikian? Karena mereka ke masjid sore hari saja, atau Jumat saja, yang adalah waktu-waktu efektif untuk tonjolkan hidung, maksudnya presentasi sebagai santri. Setelah itu, seperti biasa mereka ke jalan. Di bulan Ramadhan saat yang paling efektif tonjolkan hidung adalah saat buka puasa bersama. Barangkali juga berbuka puasa dengan minuman menyehatkan jamu oplosan yang dijual di tempat Jemaat el Majnun.
Jika Saudara mengamati papan nama Masjid itu, tak ada yang istimewa, tertera nama “Manhajul Hidayah”, barangkali maksudnya upaya seorang haji untuk membukakan hidayah umat di sekitarnya. Sebuah maksud mulia. Terasa miring saat Saudara mengetahui bagaimana papan nama itu dibuat. Beberapa orang mendapatkan jumlah uang yang cukup dari sang haji untuk mempersiapkan papan nama itu. Cukup beli cat, cukup untuk beli rokok, dan yang jelas cukup untuk beli minuman menyehatkan –maksudnya minuman memabukkan, miras. Khas kerja preman-santri, kerja bikin papan nama masjid dan mabuk.
Sedikit Titipan dari Yogya,
Ruas Jalan Colombo, Kampung Samirono, Catur Tungal, Depok, Sleman, Yogyakarta:
HAYOOO PAK POLISI…. LEBIH GARANG GASAK PREMAN…. !!!
TUNJUKKAN … BAHWA PEJABAT TINGGI MILITER-POLISI (Jenderal-Kopral) dan PETINGGI PEMERINTAH …. TIDAK SELAYAKNYA MENJADI ALASAN (BACKING) BAGI PARA PREMAN KAMPUNG PETENTANG-PETENTENG, MERDEKA MABUK DI RUANG PUBLIK.
CATAT!
MARKAS OPERASI PREMAN KAMPUNG ADA DI JL. COLOMBO,
termasuk DEPAN JOGLO RESTO
RUAS JL. COLOMBO, SEBELAH SELATAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
MMARKAS INDUK, WARUNG MIRAS-JAMU OPLOSAN DI SEBELAH SELATAN MASJID MANHAJUL HIDAYAH.
AYOOOLAH PAK POLISI JANGAN LOYO…., JANGAN LETOI-IMPOTEN….!!!
WUJUDKAN TATANAN HIDUP TERTIB HUKUM….!!!
TEGAKKAN PROFESIONALISME ….!!!
ANDA DITUNGGU MASYARAKAT…!
GARANG….LEBIH GARANGLAH … GASAK PREMAN…!!!
@Jami’atul Mustakbirin fil Samirono:
Terima kasih komentarnya.
Markas Brised sich di dekat kost saya dulu hehehe
Lebih tepatnya markas Brised adalah Samirono CT VI (aduch lupa nomornya
)
Manhajul Hidayah di belakang Joglo resto ya
Yogyakarta, 24 Juli 2006
Rumah Kos
Salah Seorang Pen ginterogasi Urusan Sex
R.T. 5, R.W. 2,
Samirono CT VI, No. 339, Catur Tungal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Ngayogyakarta Hadining Rat
Hal : Masukan tentang Perilaku Sex Anak–anak
Kos di Kampung Samirono
Bapak Kepala Desa Catur Tunggal yang terhormat,
Saya menulis kepada Bapak dan/atau Ibu yang terhormat memperhatikan bahwa setiap warga berhak menyampaikan pendapat (uneg-uneg) secara lisan atau tertulis dan setiap warga memiliki kedudukan yang sama di dalam hukum dan pemerintahan (Amanat konstitusi).
Dua jenis kezaliman adalah:
1) membiarkan kezaliman berlaku atas diri dan 2) kezaliman oleh orang lain atas diri.
Tak layak siapa pun mendapatkan perlakuan zalim.
Saya berharap Bapak dan/atau Ibu yang terhormat mau memberikan kepedulian atas persolaan situasi kemasyarakatan yang saya tulis di bawah ini; kepedulian sebagai pejabat publik dan/atau pihak-pihak yang memang sepantasnya peduli pada persoalan situasi kemasyarakatan itu dan berkoordinasi dengan para pihak terkait, pejabat publik desa (Ketua RT, Ketua RW, Kepala Dukuh, Kepala Desa), kecamatan, terutama otoritas KAMTIBMAS untuk menindaklanjuti permasalahan kemasyarakatan itu; paling tidak secara informal, pesan moral melalui pengajian majelis ta’lim, dan semacamnya, menyampaikan maksud dari apa yang saya tulis itu.
Sebenarnya tulisan di bawah ingin saya rencana kirim kepada para pihak berikut:
1.Kapolsek Depokk, Sleman,
2.Kepala Desa Catur Tunggal, Depok, Sleman
3.Ketua PKK Desa Catur Tunggal, Depok, Sleman,
4.Pimpinan Majelis Ta’lim, pengajian ibu-ibu, dan semacamnya yang peduli pada masalah moral, ADAB,
5.Pinak-pihak lain yang bisa memberikan kepedulian atas permasalahan kemasyarakatan seperti saya tulis di bawah.
Saya bisa bayangkan betapa BLINGSATAN para pihak terkait pada tingkat desa, dukuh, RW, dan RT, seandainya Bapak dan Ibu terhormat mau mengirim kembali apa yang saya tulis ini langsung kepada mereka (Kepala Desa, Dukuh, RW, RT).
Mereka pasti akan BLINGSATAN merasa kedodoran, saat mendapatkan surat dari atasan yang peduli, memperhatikan iklim birokrasi yang masih kuat berbau FEUDAL, sendiko dawuh, tumungkul-tunduk patuh-takut pada atasan—biasanya sambil menjilat hingga siapa pun yang disebut atasan sering kali menderita penyakit “pantat basah”–, sementara merasa rendah jika harus menerima masukan dari bawah, apalagi hanya dari seorang warga miskin, orang kos, tuna wisma, tidak penting.
Cara ini pasti akan EFEKTIF-EFISIEN!
Dua tiga hari catatan berikut saya dahulukan sebagai ilustrasi kejadian.
Catatan:
Terbaru: 12 Desember 2006, pukul 11.30. Di lorong barat blok ruman kos no. 339 terlihat sambil lewat wanita muda usia mahasiswi tiduran mepet tembok bersama pasangan laki-lakinya, yang juga usia mahasiswa. Apakah mereka sedang belajar bersama untuk menghadapi ujian. Lalu, apa yang mereka pelajari sambil tiduran tanpa terlibat buku ada di dekat mereka, tanpa ada lampu menyala saat suasana mendung siang itu tidak memungkinkan orang enak membaca buku di kamar dan belajar? Barangkali mereka sedang belajar bagaimana membuka kancing baju pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Barangkali juga mereka sedang belajar membuka reslitting celana. Barangkali laki-laki usia mahasiswa itu sedang belajar anatomi tubuh wanita, dari mulai puting, payu dara, sampek pantat, labia minora, labia mayora, etc. etc.
Terakhir kali, Minggu 16 Juli 2006, sekitar pukul 05.00 sore, secara sambil‑lalu saya lewat lingkungan kos Bu Noyo-Fulan, memperhatikan perempuan usia mahasiswi, keluar dari kamar kos putra, yang tampaknya –demikian kecurigaan saya–telah lama beraktivitas tertentu, yang jelas KECIL KEMUNGKINAN BELAJAR BERSAMA. Saat itu suasana lorong itu SEPI, tidak tampak di dalam kamar itu ada lampu terang menyala tanda belajar, pintu juga baru dibuka saat si perempuan (mahasiswi) itu keluar, persis saat saya secara kebetulan lewat di depan pintu itu. Pemilik rumah seperti biasa pergi pengajian ibu-ibu. IRONI, Bu Fulan semakin rajin meninggalkan rumah untuk PENGAJIAN, dan sekarang sudah tampak semakin islami dengan berkerudung-jilbab, sementara rumahnya menjadi „ARENA BELAJAR BERSAMA“ , tanpa lampu belajar menyala, sore hari saat suasana lorong sepi, pintu ditutup rapat, jendela dibuka sedikit.
Senin 17 Juli 2006, pukul 03.15 sore kembali saya lewat lorong itu dan saya perhatikan INDIKASI YANG LEBIH MENYOLOK MATA, pintu jendela kamar itu hanya terbuka sedikit, bahkan hampir tertutup, tak ada lampu menyala tanda belajar. Ada indikasi perempuan di dalam kamar, tentu bersama pasangan laki-lakinya—entah itu si pemilik kamar atau bukan–sepertinya kamar itu memang salah satu fasilitas bersama, —karena memang ada kamar-kamar lain di sayap timur rumah kos itu, bersebelahan dan belakang warung burjo (bubur kacang hijau) yang berfungsi sebagai tempat “ber-rendezvous”, KELONAN para penghuni kos sayap timur–, dua atau tiga laki-laki mahasiswa yang memiliki perilaku sex di kamar kos yang serupa, bekerja sama di dalam usaha menggunakan kamar itu untuk kegiatan, yang apa pun itu, jelas tidak seperti situasi dan kegiatan saat saya diinterogasi dulu. Terlihat jelas mereka didukung oleh semangat ESPRIT DE CORPS para penghuni kamar kiri-kanan kamar itu. TIDAK SEPERTI SITUASI DAN KEG IATAN saat saya DIINTEROGASI dulu. Saat itu PINTU dan JENDELA kamar, saya BUKA LEBAR-LEBAR, LAM PU 2 X 40 WATT SAYA HIDUPKAN SEMUA, dan siapa pun yang lewat di depan kamar saya akan dengan jelas melihat apa yang saya lakukan bersama adik perempuan saya. SATU HAL YANG JELAS, kalau pun itu bukan adik perempuan saya, tidak mungkin saya BERSENGGAMA di KAMAR KOS dengan pintu dan jendela terbuka lebar dan lampu menyala cukup terang, 2 x 80 watt.
Begitu saya sampai di kamar tempat tinggal saya, dua kali saya mengirim sms kepada salah seorang pemuda yang dulu menginterogasi saya, dan juga kepada Bapak Ketua RT yang baru. Berikut bunyi sms itu:
1)„Kamar Bu Noyo-Fulan, belakang Ibu Dadap KELONAN! Mr. X“
2)„Pukul 3.15 Kamar Bu Noyo-Fulan, belakang Ibu Dadap KELONAN! Mr. X!
Tak ada respons dari Pak Ketua RT yang baru. Ada respons dari salah satu pemuda yang menginterogasi saya dulu. Berikut responsnya,
“Ok dab ak dah blng Noyo biar dicek. ak lg kerja lom plng.”
Tak tahu apa yang terjadi setelah itu, karena saya harus menyelesaikan pekerjaan saya sore itu. Tak berapa lama, kurang-lebih 10 menit kemudian saya lewat lorong itu lagi. Suasana sudah berbeda 180º. Pintu tertutup rapat, jendela terbuka sedikit, seperti semula, seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya. Tak ada tanda-tanda ada orang di dalam. Halus-mulus persekongkolan anak-anak kos itu. Persekongkolan yang tentu saja juga melibatkan tetangga kiri-kanan kamar itu. Lalu si Ibu Dadap penghuni sebelah kamar itu beraksi duduk di pojok, tikungan lorong itu, seolah mengawasi lorong itu agar jangan terjadi aktivitas tidak semestinya. Persis seperti adegan di filem-filem, polisi selalu datang terlambat, datang setelah kejadian selesai. Basa-basi, tuntutan tugas.
Lagi, Selasa 18 Juli 2006, pukul 04.10 sore Saya mengirim sms kepada salah seorang pemuda yang dulu menginterogasi saya, dan Bapak Ketua RT. Berikut sms itu:
“HOT NEWS SORE: Selasa 18 Juli, pukul 4.10 sore. Indikasi KELONAN di kamar selatan WC Kos Bu Noyo-Fulan. Sumber: Mr. X “
Respons:
„Nomere mas Suto 0858681XXXXX tp mas Suto br ada raker 3 hr di sekolah smp mlm“ dari nomor 0815787XXXXX (nomor yang saya simpan dan saya kenali nomor mas Suto, Ketua RT)
Respons diulang:
“Sms aj di nomere mas Suto” dari nomor yang sama: 0815787XXXXX.
(Artinya, sms saya dipingpong. Artinya lagi, urusan yang saya sampaikan adalah urusan “aib” tidak penting, tabu dibicarakan. Artinya lagi, yang menyampaikan sms itu, saya, tidak penting.)
IRONI, mereka yang KELONAN, ya KELONAN. Yang ke Mesjid, rajin sholat-ngaji, ya ke mesjid sholatngaji. Terasa benar prinsip yang pernah saya dengar soal cara hidup sebagian masyarakat, prinsip yang diucapkan dalam bahasa Arab-Jawa : “Nafsi-nafsi”. Urusan pribadilah, yang kelonan ya kelonan sana. Aku yang mau sholat-ngaji, ya sholat ngaji. Masing-masing mendapatkan apa yang ingin di dapatkan. Soal dosa-pahala? Biar Tuhanlah yang menentukan. Benar atau sesat pikirkah itu? Satu lagi IRON I, penghuni deret ujung selatan rentetan kamar kos itu yang adalah salah seorang putra pemilik kos dan sudah berkeluarga, beranak dua, semakin rajin mendengarkan ceramah Zainudin MZ, sementara hanya berselang satu kamar sering terjadi “rendezvous”, KELONAN aman-nyaman-sejahtera.
Sebenarnya tak mau ambil pusing saya soal seperti itu. Satu hal yang susah saya lupakan adalah peristiwa INTEROGASI atas diri saya dulu.
Bloko-suto, wudo-nglegeno kulo rumaos kedumuk irung kulo. Mboten menopo, menawi leres irung kulo meniko gupak angus. Kulo rilo-legowo, ndhodho salah soho lepat kulo. Ananging sak sampunipun celak lan sampun kadhung kedumuk irung kulo, kok jebule salah pandulu. Mboten kebukten bilih irung kulo gupak angus.
Mbok bilih prayogi, sok sinteno kemawon ingkang badhe ndumuk irungipun tiyang sanes, reresik bokongipun piyambak rumiyin, menawi mbucal nggih anggenipun cawik ingkang resik. Supados sak wayah-wayah ndumuk irungipun lian, mboten keporo malah mambet – nuwun sewu— „tai“.
Warga yang menuntut warga lain berperilaku BERMORAL sesuai ukuran moral warga yang meng-INTEROGASI saya, mustinya juga menggunakan standar moral yang sama PERTAMA-TAMA DAN TERUTAMA untuk diri mereka sendiri. Bukan, sampean harus gitu, kalau saya ya suka-suka saya dong (stereotyping, standar ganda, mban cinde-mban ciladan, malah keporo saget adigangadigung adi guno, adi kuoso, sopo siro-sopo ingsun).
Orang Jawa kehilangan kejawaannya, lupa akan kebenaran yang telah teruji waktu: “Suro Diro Jayaning Rat, Lebur Dening Pangastuti.”
Hari ini, Rabu 19 Juli 2006, pemilik kos tempat sejak dulu sering terjadi aktivitas seks bebas di kamar-kamar kos itu saya perhatikan mulai sedikit “membersihkan pantatnya”, “reresik bokong”. Saya tahu perilaku saya sedikit mengawasi, memperhatikan secara serampangan, tempat kos itu mengundang kebencian para penghuni kos itu. Kebencian itu ya menjadi sesuatu yang nalar saja, logis saja, bisa diterima sebagai sesuatu yang lumrah saja. Mengapa? Perilaku, aktivitas mereka sedikit terusik, setelah sekian lama mentradisi, dari tahun ke tahun tak ada yang usil, kurang kerjaan, mencampuri urusan mereka. Sejak lama, dari tahun ke tahun, dari generasi penghuni kos satu ke generasi penghuni kos yang lain, perilaku seperti itu aman-aman saja, tidak terusik dan sekarang ada yang usil, kurang kerjaan, mencampuri urusan orang, dan itu adalah saya.
Karena terkenal permisifnya rumah kos itu, ada penghuni lumayan baru yang menurut hemat saya sengaja mencari tempat kos permisif-longgar-cuek-asal-bayar seperti itu, setelah di tempat lain selalu bermasalah dengan perilaku hidup mereka. Satu ibu, satu anak perempuan usia kuliahan. Dulu si anak perempuan itu sering pulangpergi dan tinggal-tidur sekamar di kamar si ibu itu bersama seorang laki-laki usia kuliahan juga. Laki-laki itu saya kira kakak kandungnya. Belakangan baru saya tahu bahwa pasangan itu adalah pacaran, sering tidur sekamar di kamar si ibu itu, tentu saja setelah si ibu pergi ke lain tempat, entah di mana, atau mungkin tidur bertiga. Si ibu itu sendiri — siapa pun orangnya juga akan merasa janggal-aneh–, punya suami terpisah jauh, hidup kos bersama anak perempuannya, dan jarang ditemui suaminya. Sepengetahuan saya, belum tentu 3 bulan sekali suaminya datang, bahkan mungkin 6 bulan sekali. Sekarang, setelah ada orang usil, kurang kerjaan, mencampuri urusan orang lain, si ibu itu tinggal bersama anak laki-laki usia kuliahan juga, yang saya dengar-dengar anak lakilakinya. Dan lebih belakangan, hingga kini terlihat suaminya “diparkir menungguinya” –barangkali hingga suasana kondusif lagi, sampai tak ada lagi orang yang peduli perilaku aneh-aneh di tempat kos. Pasti si ibu itu pikir ini lebih tidak mengundang perhatian.
Sore ini, seperti biasa saya berjalan lewat di lorong itu menuju kios usaha teman saya, persis di sebelah warung burjo (bubur kacang hijau) tempat nongkrong para penghuni kos itu. Setelah selesai urusan saya di kios usaha itu, saya keluar dan mendengar sindiran,
“Tapi kowe rak ra ngerti sik kancingan-kancingan.” (“You kan engga tahu mereka yang berduaan “belajar bersama” pintu dikunci rapat-rapat. Aman-aman saja!)
Kemungkinan besar sasaran tembak sindiran itu adalah saya. Lumrah saja. Dia yang mengucapkan kata-kata itu, adalah salah satu penghuni kamar itu, yang teman sekamarnya pernah saya pergoki secara tak sengaja sedang “ber-rendezvous”, KELONAN, –indikasi pintu-jendela tertutup, alas kaki perempuan yang adalah perempuan tetangga kos tingkat atas, milik Ibu dan Bapak Haji. Perempuan itu adalah perempuan yang sama, yang dua atau tiga hari sebelumnya sedang keluar dari kamar yang sama, pas secara tak sengaja saya lewat lorong itu, depan kamar itu. Perempuan itu, malah sedikit sinis, berlagak menantang tatapan mata saya. Rodo ngece! Di dalam hati, saya berkata, “Aku tak berurusan denganmu wahai saudara mahasiswi yang terhormat. Silahkan mau jungkir-balik, mau nungging sesuka saudara. Aku hanya ingin meyakinkan diriku tentang “belepotan kotor bokong” si pemilik rumah yang anaknya MENGINTEROGASI saya urusan kecurigaan berlebihan tentang perilaku sex saya dan tak terbukti .”
Hari ini, Rabu 19 Juli, pemilik rumah itu saya perhatikan mulai sedikit “membersihkan pantatnya”, kalau bukan sekedar basa-basi, karena seperti kejadian-kejadian sebelumnya, setelah orang-orang melupakan kejadian di tempat kos itu, mulailah lagi aktivitas sex serupa. Barangkali sial bagi mereka para penghuni kos itu, karena saat ini ada orang yang usil, mencampuri urusan mereka.
Begini, saat saya kirim sms kepada pemuda dan Bapak Ketua RT yang terhormat, Selasa 18 Juli, rupanya ada tindak-lanjut. Berikut sms itu:
“HOT NEWS SORE: Selasa 18 Juli, pukul 4.10 sore. Indikasi KELONAN di kamar selatan WC Kos Bu Noyo-Fulan. Sumber: Mr. X“
Rupanya penghuni kamar kos itu sudah pindah. Mungkin setelah mengecek kebenaran sms saya itu dan memergoki kegiatan sex di kamar itu, mereka disuruh pindah. Atau bagaimana sebenarnya saya tak tahu pasti. Bisa jadi juga hanya untuk mengelabuhi saya yang usil turut campur urusan mereka. Maksudnya, untuk sementara kamar itu dihuni oleh teman mereka yang lain dan pemilik kamar, ya si pelaku aktivitas sex di kamar itu pulang kampung liburan, berhubung saya kira saat ini masih masa liburan kuliah.
Jelas, salah seorang yang melempar sindiran kepada saya tadi adalah penghuni kos yang merasa berjaya, karena sms-sms saya yang melaporkan aktivitas sex mereka tidak terbukti, setelah si pemilik rumah mengecek kebenarannya. Artinya, sebelum pemilik rumah tiba di kamar itu, mereka sudah berhasil mengakhiri kegiatan mereka hingga seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sungguh lihai mereka bermain kucing-kucingan, dan tentu saja ini berkat dukungan tetangga kos kiri-kanan dengan semangat ESPRIT DE CORPS di antara mereka. Ia, dan mereka di kamar-kamar sayap timur rumah kos itu, termasuk anak-anak pengelola warung burjo itu, merasa berjaya karena luput dari cross-check pemilik rumah dan tidak pernah tertangkap basah dan disuruh pindah. Mereka berjaya masih tetap aman-nyaman-sejahtera tak terusik, hanya untuk sementara waktu harus sedikit alim, sampai orang-orang melupakan peristiwa itu.
Saya percaya, setelah banyak orang melupakan kejadian di kamar kos sebelah selatan WC yang harus pindah karena kepergok beraktivitas sex di kamarnya akibat laporan sms saya, mereka akan memulai lagi perilaku sex mereka, persis seperti peristiwa-peristiwa sebelumnya.
Sungguh sial bagi mereka, ada orang “cacat” seperti saya karena tidak mudah melupakan kejadian yang bersenggolan dengan kepentingannya. Dan setelah nanti orang-orang lupa akan kejadian itu, jelas karena “kecacatan” saya itu, saya akan masih jelas mengingat kejadian itu, persis seperti saya masih bisa mengingat jelas kejadian-kejadian sebelumnya. Perbedaannya, dulu saya tak ambil pusing, tak peduli.
Sungguh kepedulian saya, kecelakaan-kesialan bagi mereka yang aman-nyaman-sejahtera berperilaku seks bebas di kos itu.
Sepindah malih, mbok bilih prayogi, sok sinteno kemawon ingkang badhe ndumuk irungipun tiyang sanes, reresik bokongipun piyambak rumiyin, menawi mbucal nggih anggenipun cawik ingkang resik. Supados sak wayah-wayah ndumuk irungipun lian, mboten keporo malah mambet –nuwun sewu— „tai“.
Sabtu, 22 Juli.
>>> Atau bagaimana sebenarnya saya tak tahu pasti. Bisa jadi juga hanya untuk mengelabuhi saya yang usil turut campur urusan mereka. Maksudnya, untuk sementara kamar itu dihuni oleh teman mereka yang lain dan pemilik kamar, ya si pelaku aktivitas sex di kamar itu pulang kampung liburan, berhubung saya kira saat ini masih masa liburan kuliah. <<<
Sudah terlanjur GR (gede rasa) sms saya ditindak-lanjuti. Eee… Jebulnya benarlah kiranya apa saya duga. Mereka hanya berakting. Malam sebelumnya, Selasa 18 Juli, mereka tampak angkat-angkat kasur. Saya kira ada yang pindah karena kepergok KELONAN di kamar. Eeee alah tak sampai seminggu, kembali seperti semula. Seharusnya saya bilang, “PEDULI SETAN !!!”. Tapi ya itu tadi, barangkali “cacat ingatan saya itu” – susah melupakan kejadian yang telah lalu, interogasi atas diri saya–, membuat saya usil, campur-tangan urusan o rang.
Sepindah malih, mbok bilih prayogi, sok sinteno kemawon ingkang badhe ndumuk irungipun tiyang sanes, reresik bokongipun piyambak rumiyin, menawi mbucal nggih anggenipun cawik ingkang resik. Supados sak wayah-wayah ndumuk irungipun lian, mboten keporo malah mambet –nuwun sewu— „tai“.
Ananging, wongsal-wangsul, lagi-lagi “SIAPAKAH SAYA?” Orang kos, miskin, tuna wisma, tidak penting.
Itulah sepotong ilustrasi.
Bapak Kepala Desa Four-in-One Yang Terhormat,
Tolong dengar saya ya Pak dan Bu pejabat yang terhormat. Sebelumnya, 15 tahun saya hidup numpang di kampung orang, saya tahu diri dan karena itu saya tidak pernah peduli. Saya benar-benar tidak pernah mau peduli pada cara hidup, cara berperilaku orang-orang di sekitar saya. Apakah mereka BERMORAL atau tidak, saya tidak pernah peduli. Saya merasa tak punya urusan dengan mereka.
Tentang situasi rumah kos dan perilaku para penghuninya, saya juga tidak pernah ambil pusing. Saya dengar dan melihat kejadian-kejadian di seputar tempat tinggal saya, 15 tahun lebih saya tidak PERNAH PEDULI. Saya dengar, si Tukang Dagang Angkring-Poci, Topik Hidayat (samaran) yang tinggal kos tak jauh dari tempat kos saya, ia bercerita bahwa selama ia tinggal di kamar kosnya ia menjadi penyaksi PERSENGGAMAAN, perilaku seks bebas, di sebelah kamarnya yang dilakukan oleh para penghuni kos tetangga kamarnya yang hanya bersekat papan tripleks. Saya dengar ia bercerita tentang keasyikan saat dia mengintip kegiatan mesum itu lewat lubang yang sengaja ia buat pada papan tripleks penyekat itu. Saya dengar dan saya TIDAK PERNAH AMBIL PUSING. Saya tidak PERNAH PEDULI.
Satu hal pantas disebut di sini bahwa ihwal kesaksian si tukang dagang angkring itu telah di-cross check oleh pegawai polisi reserse dari polda DIY. Si Topik tidak berkenan karena saya tunjuk hidung tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Pasalnya, dia sangat ketakutan berhadapan dengan para pemuda kampung Samirono yang besar kemungkinan justru akan menghajar dia sebagai orang yang mencemarkan nama baik kampung.
Demikianlah cara bagaimana para pemuda kampung itu mengubur bau busuk kampungnya dengan aksi bungkam mulut si Topik. “Hajar dia jika macem-macem!”
Itulah sedikit praktek PENGUBURAN yang berlangsung di tingkat kampung, tentu saja di tengah-tengah kelaziman praktek PENGUBURAN-PENGUBURAN BESAR yang lazim berlangsung di masyarakat HIPOKRIT TAK TERTOLONG.
Atas nama ketenangan, keamanan, BUNGKAM MULUT, KUBUR MEREKA YANG TIDAK KOOPERTIF.
Sudah agak jauh di waktu yang lalu, saya juga menyaksikan perilaku beberapa penghuni kos yang tidak wajar, paling tidak menurut ukuran kewajaran rata-rata orang. Perempuan muda, usia kuliahan, semester dua atau tiga, tinggal kos di rumah kos yang sebagian besar penghuninya para mahasiswa, para laki-laki. Tetapi dari perilakunya, jelas dia bukan mahasiswi. Pergi waktu Asar, sekitar pukul 04.30 atau 05.00 sore, dijemput teman laki-lakinya, layaknya anak-anak kuliahan yang berboncengan pergi ke kampus. Lalu pulang, datang ke kos itu lagi di pagi hari, sekitar pukul 08.00 pagi, dan sepertinya dia tinggal di kos itu cuma untuk tidur di siang hari, untuk seperti biasanya pergi di malam hari. Jelas mereka tidak sedang berboncengan hendak pergi ke kampus kuliah. Mengapa? Rutin, selama saya perhatikan secara serampangan selama ia tinggal di kos itu, kegiatan seperti itu dilakukan selama si perempuan muda itu tinggal di tempat kos itu. Singkatnya, perilaku perempuan muda itu menunjukkan tanda-tanda ketidakberesan. Paling tidak menurut ukuran rata-rata orang.
Kuat kecurigaan saya, dia, perempuan muda, usia mahasiswi itu, adalah praktisi pelacuran berkedok mahasiswi. Dan, jika kita mau telanjang tanpa basa-basi melihat kenyataan, tak sulit menemukan lusinan perempuanperempuan muda usia kuliah yang MELACURKAN DIRI di KOTA PELAJAR ini. Baik mereka yang benar-benar mahasiswi atau yang seperti perempuan muda yang kos di dekat tempat tinggal saya itu. Jelas, ia bukan mahasiswi namun berpenampilan layaknya mahasiswi, dan tak pernah bermake-up tebal-menor layaknya pelacur di Sarkem. Namun memperhatikan perilaku hidupnya, janggal, aneh, pergi dari kos sore, pulang ke kos pagi, siang tidur di kos, sore berangkat lagi. Sekali lagi, saya TIDAK PERNAH AMBIL PUSING. Saya TIDAK PERNAH PEDULI. Apakah tempat kos laki-laki di sebelah saya itu dihuni juga oleh pelacur-mahasiswi –demikian saja singkat saya sebut pelacur berkedok mahasiswi–, dihuni oleh pelacur benar-benar atau dihuni oleh siapa pun, saya tidak pernah ambil pusing. Dan mereka mau jungkir-balik, mau nungging, mau apa sesuka hati mereka, saya juga TAK AKAN AMBIL PUSING. Tak peduli!
Dahulu pun, saat saya merasa aneh dan janggal menyaksikan kejadian di tempat kos yang sama, saya TIDAK PEDULI. Perempuan muda, Ria Enes (nama samaran) tidur di kamar kos mahasiswa sampai pagi. Lantaran dia adalah salah satu dari anggota keluarga, satu ibu dan tiga anak perempuan, dua di antaranya masih usia SD, yang juga kos tak jauh dari situ, dan sudah jam 09.00 pagi belum pulang sejak kepergiannya kemarin sore, dicarilah oleh adiknya yang disuruh ibunya mencari si kakak itu. Dasar anak kecil usia SD, dengan lugu dia menggedorgedor kamar kos laki-laki tempat ia tidur bertiga semalam. Dua orang mahasiswa dan satu orang perempuan muda. Serentak menjadi perhatian beberapa orang, saat benar anak kecil itu, adik si Ria Enes, menemukan kakaknya di kamar itu. Keburu malu karena banyak orang tahu kejadian itu, si perempuan muda itu menjadi aktris dadakan. Ia mengeluh pusing dan mual-mual. Dia cerita sejak kemarin sore dia “masuk angin” di tempat kos mahasiswa itu dan apa yang ia lakukan bersama mahasiswa-mahasiswa itu semalam hanyalah “kerokan” bertiga di kamar itu.
Terpaksa sepakat barangkali karena ikut malu menanggung aib kelonan bertiga, satu perempuan dua laki-laki, beberapa orang yang hadir pada kejadian itu menggotong perempuan itu, yang mengeluh tidak bisa bangkit dari tempat tidur, setelah menutupinya dengan selimut. Salah seorang ibu bahkan bercerita dengan berapi-api tentang kejanggalan bercak-bercak merah di leher dan dada perempuan itu. Apakah itu tanda-tanda wajar orang masuk angin atau habis “kerokan”? Waktu itu, tetangga kos sebelah kamar saya, diminta tolong membawa perempuan itu ke rumah sakit, dengan mobil bututnya. Biar butut, lumayanlah untuk dengan cepat membawanya pergi tanpa mengundang perhatian lebih banyak lagi orang. Ke rumah sakit? Masuk angin parah hingga tak kuat bangkit? Hingga harus digotong? Hingga harus di bawa ke rumah sakit pakai mobil? Coba Bapak dan Ibu Pejabat pikir. (Si dokter di rumah sakit pasti bingung tak menemukan satu pun tanda penyakit tertentu dan mustinya memeriksa organ vitalnya, memeriksa vaginanya, adakah berkas sperma tertinggal di sana.) Menurut ukuran kewajaran rata-rata orang. Wajarkah kejadian itu? Bisa dipercayakah adegan “masuk angin” dan “kerokan” semalaman di kamar kos mahasiswa itu yang diperankan oleh perempuan muda tetangga kos saya itu?
Perlu Bapak dan Ibu Pejabat yang terhormat tahu kiranya, saya BENAR-BENAR TIDAK PEDULI saat itu. Saya benar-benar TIDAK AMBIL PUSING! Saya benar-benar tidak peduli akan semua itu.
Akan halnya kejadian serupa yang sampai sekarang masih berlangsung di rumah kos yang sama. Aktivitas seks kecil-kecilan, atau barangkali juga aktivitas sex besar, kelonan sembunyi-sembunyi, cari kesempatan sepi MASIH BERLANGSUNG. Meskipun secara serampangan mengamati, lumayan pahamlah saya bagaimana triktrik dan strategi para penghuni kos yang sebagian besar mahasiswa itu. Pertama, si mahasiswi datang ke kamar kos mahasiswa secara wajar bersama teman perempuan atau teman laki-lakinya. Tidak lama setelah memungkinkan, salah satu dari mereka pergi memberi kesempatan temannya untuk berduaan di kamar. Pada tahap ini, pintu dan jendela masih terlihat terbuka. Sebentar kemudian, pintu dan jendela ditutup sedikit demi sedikit, sampai akhirnya jika suasana di luar benar-benar kondusif, pintu dan jendela ditutup rapat-rapat. Tercapailah cita-cita mereka. Mereka kelonan, beraktivitas sex dengan bebas dan sepertinya lumayan nyaman. Berdua di kamar kos, laki-laki dan perempuan, pintu-jendela tertutup rapat. Tak seorang pun mengusik mereka. ALIH-ALIH ORANG LAIN, si PEMILIK RUMAH KOS saja tak peduli. Mungkinkah hanya sekedar masuk angin dan kerokan seperti peristiwa serupa dulu? Sampai sore, saat mereka sudah selesai melakukan halhal yang mereka inginkan, temannya datang lagi menjemput layaknya pulang dari belajar bersama atau urusan kampus, pulang mengunjungi teman. Mungkin setelah di-SMS atau di miskol. Benar-benar terrencana. PERSEKONGKOLAN lumayan CERDAS di dalam usaha memenuhi kebutuhan untuk melakukan hal-hal yang diinginkan (kelonan) oleh para MAHASISWI-PARA MAHASISWA TERHORMAT, PARA PEMUDA HARAPAN BANGSA, yang namun begitu tentu saja DUIT MEREKA PAS-PASAN. Yang berduit tentu lebih halus, cerdas, dan canggih lagi. Susah diamati. Dan mungkin lebih terkesan berradab.
Aktivitas sex semacam itu LAZIM DILAKUKAN JUSTRU DI SIANG HARI di tempat-tempat kos yang masih berupa rumah-rumah kampung biasa. Pasti mereka tahu kalau malam rentan terhadap pandangan orang sekitar, jaga imej, selain ada peraturan jam belajar masyarakat.
Sungguh usaha mesum mereka terbantu oleh semacam ESPRIT DE CORPS di antara sesama anak kos. ESPRIT DE CORPS yang saya maksud adalah semangat untuk melindungi sesama anak kos. Saya pribadi memiliki pengalaman langsung soal itu. Saat itu, saya menyewa satu kamar kos untuk satu minggu di Malang, yang juga kota pelajar, dalam rangka tes kerja salah satu stasiun TV. Sungguh terrasa ESPRIT DE CORPS di antara mereka. Kompleks kos-kosan laki-laki itu cukup luas, hanya ada satu gerbang besar, dan satu pintu kecil di belakang, berpagar tembok tinggi, tak jauh dari STIE Kuceswara. Ada puluhan mahasiswa dan beberapa pekerja. Setiap sore, pulanglah beberapa penghuni kos bersama teman perempuannya. Sampai malam mereka belajar bersama atau urusan kampuslah hingga harus lembur di kos. Demikian dulu saya pikir. Setelah dua-tiga hari pahamlah saya perilaku mereka. Sungguh layaknya rumah bordil. Para penghuni kos yang lain tak hanya PERMISIF, CUEK, BAHKAN MEREKA MEMFASILITASI, MELINDUNGI, MENGAMANKAN PERILAKU SEMACAM ITU. Karena di lain waktu, mereka juga melakukan hal yang sama dan dilindungi, ifasilitasi, diamankan oleh teman-teman yang lain.
Karena pemilik kos adalah seorang Ibu Haji, ia selalu meminta orang untuk merondai kos-kosannya pada jam-jam tertentu. Setali tiga uang, basa-basi. Si tukang jaga, pengawas kos-kosan itu juga sekongkol. „Sana lewat pintu belakang! Jam segini Ibu duduk-duduk di depan“, demikian kata si pengawas kos-kosan itu. Ia sedang memfasilitasi kepergian dengan aman pasangan mahasiswa-mahasiswi itu.
Tak jauh beda apa yang terjadi di Yogya, bahkan saya pernah berkunjung ke Asrama Putra sebuah perguruan tinggi terkenal di Yogya. ESPRIT DE CORPS di dalam usaha mesum di antara para penghuni asrama itu sungguh terrasa. Mereka sangat hati-hati terhadap orang baru dan hanya memberi kesempatan menunggu di ruang tamu, meskipun saya adalah teman dekat salah satu penghuni asrama itu. Tak boleh banyak tahu, kecuali bisa „SAMA-SAMA TAHU!!!“
Apakah produk dari perilaku semacam itu? Kita bisa hitung rata-rata kelahiran bayi tidak diharapkan per tahun, atau bahkan per triwulan atau per bulan di Yogya. Pembuangan janin-orok-bayi yang sudah mati atau masih hidup di sembarang tempat. Itu produk kasar yang teramati. Yang lebih sulit diamati adalah praktik aborsi tersembunyi. PEDULI SETAN !!! Sekali lagi PEDULI SETAN !!!
Sudahlah, masih banyak hal bisa saya katakan, soal perilaku sex bebas di Yogya. Saya benar-benar tak mau peduli, sampai akhirnya saya sendiri DICURIGAI BERLEBIHAN dan DIINTEROGASI oleh pemuda kampung terkait perilaku sex bebas di tempat kos. Sejak itu saya JADI PEDULI. Saya JADI AMBIL PUSING.
Sejak saat itu saya ingin MEMBUKAKAN MATA MEREKA dan ingin mengatakan
“Sapu-bersihkan tempat Anda sendiri, sebelum menyapu-bersihkan tempat orang lain !!!”
Saya BUKAN orang yang SOK MORALIS, atau berperilaku memperhatikan moral, urusan baik-buruk. Saya kurang tertarik NGECEH-NGECEH PIKIR dan TENAGA –buang-buang pikir dan tenaga–urusan MORAL ORANG LAIN. Saya lebih tertarik tentang mana perilaku yang benar dan mana perilaku yang salah menurut aturan, hukum yang berlaku.
Saya tertarik merembug masalah benar-salah menurut aturan-hukum yang berlaku itu pun sejauh bersenggolan dengan urusan saya. Artinya, saya tak mau peduli urusan: orang mau benar, orang mau salah, sejauh tak bersenggolan dengan saya. Dan untuk itu saya sudah menulis masukan dan usulan peraturan penghuni kos buat Bapak Ketua RT setempat.
Persisnya begini. Kurang lebih enam bulan lalu, saya diinterogasi oleh dua orang yang mewakili pemuda RT 5000, RW 2000 dukuh Kasano Basamo, kelurahan Four-in-One, kecamatan Dopek, kabupaten Slamen. Pasalnya, saya sedang berada di kamar kos berdua dengan seorang perempuan sampai kurang-lebih jam 11 malam.
Perempuan itu adalah adik kandung saya, bukti legal-formal berupa KTP sudah saya bawa ke Pak RT dan saya serahkan untuk dipegang Pak RT selama adik kandung saya itu menginap di kamar kos saya. Namun Pak RT menyerahkan kembali KTP adik saya itu karena ia bilang ia percaya sama saya. Barangkali maksudnya mereka percaya, saya tidak bohong.
Hari itu, adik saya sampai di Yogya dari Madiun sekitar pukul 09:00 malam. Setelah saya jemput dia di Janti, saya ajak makan di warung dan sampai di kos saya suruh mandi dan istirahat sebentar. Baru setelah itu saya ajak bicara, rembugan masalah yang ia bawa kepada saya. Dia datang kepada saya membawa masalah keluarga. Persisnya masalah orang miskin yang terjerat utang. Waktu itu pintu dan jendela kamar saya buka lebar-lebar.
Lebih dari jam 11 malam, dua pemuda datang menginterogasi saya. Besar dugaan saya bahwa latar belakang tindakan mereka adalah kecurigaan bahwa saya berpraktik kumpul kebo atau paling tidak melanggar jam belajar masyarakat. Interogasi itu berlangsung singkat, karena mereka akhirnya percaya bahwa perempuan itu adik kandung saya dan TOH saya juga sudah datang ke Pak RT yang terhormat. TOH JUGA, saat adik kandung saya menginap di kamar kos saya, saya rela tidur di kios teman saya.
Beralasan kiranya saya menganggap interogasi itu sebagai ancaman kekerasan. Mengapa? Di belakang kedua orang pemuda itu, di tempat lain sudah siap sekian banyak orang jika memang tertangkap basah kumpul kebo dengan cepat mereka datang dan ramai-ramai menghajar pelaku kumpul kebo itu. Bukankah peristiwa demikian itu lazim terjadi di mana pun tempat? Dan menurut saya kurang beradab.
Terus terang susah bagi saya melupakan kejadian itu. Semakin susah karena saya masih belum punya pilihan lain, selain tetap kos di Kasano Basamo dan sering memperhatikan perilaku anak-anak kos di depan-belakang, di kirikanan tempat kos saya. Mereka LELUASA berperilaku sexual di kamar kos, TAN PA DIINTEROGASI seperti saya. Indikasi perilaku seksual di kamar kos yang dengan mudah sering saya perhatikan adalah: pintu dan jendela tertutup atau dibuka sedikit dengan sepatu atau alas kaki perempuan di luar pada jam-jam sepi aktivitas kos, pukul 9 sampai 11 pagi saat semua ke kampus, pemilik kos sibuk kerja, atau habis tengah hari pukul 2.30 sore sampai pukul 04.00 atau 05.00 sore. Itu baru yang teramati dengan mudah di kos-kosan rumah-rumah kampung, belum yang sedikit mewah dan tertutup atau tingkat yang lebih tinggi dari jangkauan mata orang yang lalu-lalang lewat.
Kecewa dan jengkel rasanya diperlakukan DISKRIMINATIF dan DICURIGAI BERLEBIHAN dan TIDAK TERBUKTI. Sementara mereka yang jelas-jelas dengan mudah bisa dipergoki beraktivitas seksual di kos-kosan depan-belakang, kiri-kanan tempat kos saya, di mana salah satu kompleks kos-kosan itu adalah milik salah seorang yang menginterogasi saya, tetap bebas-bebas dan aman-aman saja. TIDAK TERUSIK oleh PARA PEMUDA TERHORMAT, bahkan tuan rumah itu sendiri.
Sampai terpikir oleh saya untuk sewa handy cam, merekam atau paling tidak memotret lingkungan kos sekitar saya untuk saya sertakan pada tulisan ini, potret atau rekaman langsung saat saya setiap hari lewat di komples kos-kosan itu dan menyaksikan indikasi-indikasi perilaku sexual di kamar kos yang AMAN-AMAN SAJA, BEBAS-BEBAS SAJA, TANPA DIUSIK. Semakin jengkel rasanya, seolah situasi demikian menunjukkan kepada saya
“Loh aku kan orang asli dukuh Kasano Basamo, terserah aku dong. Sampean mau apa? Anak-anak kos-kosanku mau jungkir-balik, mau kelonan, mau kumpul kebo, Sampean mau apa!”
Seolah demikian saat mengamati situasi kos-kosan di sekitar saya, tentu saja MENGINGAT peristiwa interogasi salah sasaran pada saya dulu.
Saya tulis semua ini dan saya sampaikan lewat saluran komunikasi ini dengan maksud untuk memberi
MASUKAN kepada Bapak dan Ibu pejabat publik, KHUSUSNYA KEPADA OTORITAS KAMTIBMAS dan BAG IAN KEMASYARAKATAN pemerintah setempat. Sekaligus melalui tulisan ini saya sangat berharap:
ADA INISIATIF DARI KEPOLISIAN SETEM PAT BERKOORDINASI DENGAN SATPOL PAMONG PRAJA DAN PEMUDA SETEM PAT MENGADAKAN RAZIA, PENGGEREBEGAN, RUMAH-RUMAH KOS DI DUKUH KASANO BASAMO, KELURAHAN FOUR-IN-ONE, KECAMATAN DOPEK, KABUPATEN SLAM EN. SEBUAH INISIATIF RAZIA YANG LEBIH TERARAH DAN TIDAK DISKRIMINATIF. DAN MENURUT HEMAT SAYA LEBIH BERADAB.
Razia seperti itu sebaiknya dilakukan pada jam-jam sepi aktivitas rumah kos, yaitu jam 09.00 pagi sampai 11 siang atau jam 02.30 sampai jam 05.30 sore. Razia pada MALAM HARI justru TIDAK EFEKTIF menurut hemat saya! Sebaiknya juga dilakukan dengan berpakaian preman, menyamar sebagai anak-anak kos atau anak-anak kuliahan.
ADA USAHA UNTUK MELIBATKAN IBU-IBU RUMAH TANGGA, IBU-IBU PKK DALAM USAHA MENGAWASI PERILAKU ANAK-ANAK KOS YANG MENCARI KESEMPATAN PADA JAM-JAM SEPI (JAM 09.00 sampai 11.30 atau JAM 02.30 sampai 05.30) DI KOS UNTUK BERPERILAKU SEKS BEBAS.
Usaha melibatkan ibu-ibu PKK, yang sekaligus di dalam keseharian adalah ibu rumah tangga, untuk aktif mengawasi perilaku anak-anak kos menurut hemat saya memberi satu lagi manfaat selain KUMPULKUMPUL NGRUMPI ARISAN PANCI dan semacamnya, cara ber-PKK gaya lama.
Ada usaha melibatkan MAJELIS TA’LIM dan PENGAJIAN IBU-IBU KAMPUNG untuk MENDORONG MEREKA MELAKUKAN PENGAWASAN PERILAKU ANAK-ANAK KOS.
Usaha semacam ini lebih mengena, karena Masjid dan lembaga-lembaga keagamaan yang lain saya kira adalah pihak yang bersentuhan langsung dengan urusan MORAL! Dengan begitu, semakin banyaknya jumlah masjid di Kasano Basamo –termasuk yang terbaru Masjid Manhajum Madlorod—tidak hanya berfungsi sebagai tempat sholat atau mendekatkan diri pada Tuhan, tetapi juga berfungsi sebagai sarana nyata perbaikan MORAL KEMASYARAKATAN, terutama di masyarakat sekitarnya. Tidak hanya semakin rajin pengajian di masjid, semakin marak juga praktik hidup mesum di sekitar. Maksudnya, kehadiran masjid bisa mengurangi praktik mesum di masyarakat sekitarnya, dan bukan menjadi pelengkap. Maksudnya, ya mesum, –membiarkan kemesuman–, ya ke mesjid, ya pengajian, ya mabuk.
Bersama ini juga saya sampaikan surat yang dulu saya rencana sampaikan kepada Pak RT setempat yang terhormat, namun urung. Surat itu berisi usulan saya tentang peraturan untuk penghuni kos, peraturan yang lebih lugas-tegas-jelas dan tidak basa basi.
Semoga bermanfaat.
Hormat saya,
Mr. X
Tembusan:
1.Kapolsek Depok Barat
2.Ketua PKK Desa Catur Tunggal
3.Kepala Dukuh Samirono
4.Pimpinan Majelis Ta’lim Masjid Al-Amin, Al-Iman, dan Manhajul
Blok rumah no. 339 masuk zona mesum karena situasi blok-blok rumah kos (pondokan) itu sangat kondusif untuk sex bebas di kamar kos.
Lorong Barat terhalang tembok Rumah kos Srikandi yang tinggi menjulang, sehingga kamar-kamar kos di sayap barat menjadi terhalang dari pandangan umum.
Karena itu, mereka para mahasiswa harapan bangsa itu leluasa kelonan, sex bebas di kamar-kamar sayap barat itu.
Sayap timur blok rumah itu, persisnya di lorong tengah, tertutup dua pintu, sangat kondusif untuk perilaku sex bebas yang sama.
Blok Kos Putri Srikandi, tampak tidak kurang kondusif untuk perilaku sex bebas. Rumah kos putri itu bertingkat dan ini memungkinkan aktivitas sex bebas tak terlihat oleh orang dari bawah.
Masih banyak tipologi rumah kos sex bebas di Yogyakarta, kota pelajar, kota berbudaya adi luhung, berbudi pekerti halus.
Yogyakarta, 25 Juni 2005
Mr. X
Warga R.T. 05, R.W. 02,
Samirono, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta;
Nomor KTP xxxxxx;
Nomor KK xxxx
Bapak Ketua RT 5000
Kasano Basamo Four-in-One VI, No. 33333, Four-in-One, Dopek, Slamen, Daerah Istimewa Yogyakarta
Dengan hormat,
Memperhatikan bahwa:
1.Kita hidup di dalam sebuah negara yang diatur oleh hukum, peraturan dan undang-undang (Rechtstaat), bukan negara yang semata-mata diatur oleh kekuasaan (Machtstaat).
2.Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di dalam hukum dan pemerintahan.
Mengingat peristiwa yang terjadi pada diri saya beberapa waktu yang lalu, saya diinterogasi oleh Saudara X dan Saudara Y tentang siapakah perempuan yang bersama saya di kamar kos saya pada sekitar jam 11 malam waktu itu. Karena sebelum peristiwa itu saya sudah melapor ke Bapak Ketua RT, saya kira Bapak sudah tahu dengan jelas duduk perkaranya.
Bagi saya peristiwa itu bisa saya pahami sebagai indikasi pentingnya mengatur perilaku sexual penghuni kamar kos; yakni, segala perilaku yang melibatkan hasrat sex baik laki-laki dengan perempuan, laki-laki dengan laki-laki (homoseks), mapun perempuan dengan perempuan (lesbian). Selama ini yang barangkali –karena saya tidak tahu pasti—dijadikan rujukan untuk menginterogasi keberadaan laki-laki-perempuan di kamar kos setelah lewat jam tertentu adalah Peraturan Kampung tentang JAM BELAJAR MASYARAKAT. Menurut pertimbangan saya, penggunaan peraturan semacam itu TERKESAN MALU-MALU, TIDAK LUGAS, TEGAS DAN JELAS.
Dan lagi, jika peraturan tentang jam belajar masyarakat itulah yang memang dijadikan rujukan untuk mengatur perilaku sexual seperti tersebut di atas, timbul INKONSISTENSI WAKTU KEABSAHAN PERATURAN TERSEBUT. Maksudnya, kalau SIANG perilaku sexual di kos TIDAK DIURUS, sementara hanya malam saja yang diurus. Itu pun setelah lewat jam tertentu. Ini terjadi karena orang biasanya beranggapan bahwa belajar itu kan malam hari, siang kan tidak. Siang belajar di kampus. Jadi, aktivitas sexual di siang hari di kamar kos luput dari perhatian di samping memang kalau siang tidak ada ronda. Dan tepat saya kira jika peraturan dibuat berlaku untuk semua orang sehingga tidak terjadi INKONSISTENSI SUBJEK PERATURAN. Maksudnya, jika orang asli Kasano Basamo atau siapa pun yang dekat dengan orang asli Kasano Basamo TAK DIURUS, sementara orang seperti saya, pendatang, kos, saja yang diurus.
Mempertimbangkan perilaku sexual penghuni kos yang DI MANA PUN TEMPAT DI YOGYAKARTA BELUM DISIKAPI DENGAN LUGAS, TEGAS DAN JELAS, dengan surat ini saya mengusulkan rancangan peraturan untuk penghuni kamar kos sebagai berikut:
Peraturan Bagi Penyewa Kamar Kos:
1.Kamar kos adalah untuk belajar, istirahat, dan menerima tamu.
2.Dilarang menggunakan kamar kos untuk aktivitas sexual (melakukan hubungan sex dan melakukan segala tindakan yang melibatkan hasrat sex).
3.Jika terbukti melakukan aktivitas seperti tersebut pada peraturan nomor 2, penyewa kamar kos siap menerima sangsi dari otoritas setempat (Tuan Rumah, Ketua RT, Ketua RW, Kepala Dukuh, Kepala Desa, dst.).
4.Memperhatikan peraturan nomor 3, jika sedang menerima tamu di kamar kos, pintu, jendela dan horden harus dibuka sehingga tidak memungkinkan dilakukannya aktivitas sexual seperti tersebut pada peraturan nomor 2.
5.Tamu yang menginap di kamar kos harus melapor kepada otoritas setempat, paling tidak kepada Tuan Rumah dan Ketua RT.
Semoga apa yang saya sampaikan ini bermanfaat untuk penyelenggaraan hidup bermasyarakat yang tertib dan be ra dab.
Terima kasih!
Hormat saya,
Mr. X
euh…spam…
hancur scrolll ku!!

*kabur*
itung² olahraga jari
njrit panjang
@ Jami’atul Mustakbirin fil Samirono,
Yang anda perbuatkan ini sangat memalukan. Sia-sia saja untuk anda dan untuk kita semua.
Mohon jangan diulangi lagi.
Terima kasih
Dogma-dogma Islam sudah tidak berlaku lagi. Kita, orang Nusantara, tidak bisa menuruti perlakuan-perlakuan orang Arab waktu jaman Jahiliyah. Apalagi menuruti perlakuan-perlakuan yang sekarang tidak manusiawi dengan kedok Islam.
Contoh dogma-dogma Islam yang keliru:
Soal poligami:
Umat muslim bilang wanita lebih banyak dari pada laki-laki. Hal ini sangat keliru. Di Cina, dengan politik anak tunggal, orang Cina memilih anak laki-laki, hamilan anak perempuan biasanya digugurkan. Akibatnya, saat ini cowok lebih banyak daripada cewek. Jadi Al-Qur’an tidak berlaku di Cina. Jadi “wahyu” Tuhan yang di Al-Qur’an itu hanya berlaku di Arab saja. Dinisi kebenaran wahyu bisa dipertanyakan.
Soal halal-haram makanan:
Umat muslim mengharamkan daging babi. Hal ini sangat keliru. Baru-baru ini telah ditemukan bahwa jantung dan paru-paru babi lebih mendekati jantung dan paru-paru manusia. Jantung atau paru-paru manusia yang sakit bisa diganti/dicangkok dengan jantung atau paru-paru babi. Ini adalah solusi yang ideal karena kelangkaan donor. Berarti Al-Qur’an tidak berlaku lagi disini. Terus bagaimana dengan “wahyu” Tuhan. Disini kebenaran wahyu lagi bisa dipertanyakan.
Soal ke-najis-an binatang anjing:
Anjing adalah najis buat umat muslim. Hal ini sangat keliru karena anjing saat ini sangat membantu manusia, seperti: pelacakan narkoba dipakai oleh polisi duana, membantu menyelamatkan orang-orang yang masih hidup yang tertimbun oleh runtuhan bangunan akibat gempa bumi, menyelamatkan pendaki gunung yang ditimbun oleh longsoran salju, pemandu para tuna netra, membantu peternak domba untuk mengembala ratusan domba di gunung-gunung, membantu menemukan pelaku kejahatan kriminal, menyelamatkan pemilik anjing yang sendirian yang korban kecelakan di rumahnya sendiri (anjing terus-terusan menggonggong sehingga tetangga datang untuk menyelamatkan pemilik anjing tersebut), dan banyak lagi. Disini, Al-Qur’an sama sekali tidak berlaku. Terus bagaimana dengan “wahyu” Tuhan yang ada di Al-Qur’an. Disini kebenaran wahyu lagi bisa dipertanyakan.
Dan banyak lagi dogma-dogma Islam lainnya yang sangat keliru.
Sebagai kesimpulan, kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
- Melihat dogma-dogma Islam sudah tidak berlaku lagi, apakah Islam agama universal?
- Haruskan kita, orang Nusantara, meniru perlakuan-perlakuan orang Arab waktu jaman Jahiliyah?
- Haruskah kita, orang Nusantara, menuruti perlakuan-perlakuan yang tidak manusiawi sekarang dengan kedok Islam?
zzzzzzzzzzzzzzzzz
@ hatinurani21
1. Jangan menyamakan dogma dengan wahyu!
Coba anda pampangkan bukti wahyu yang menyatakan wanita lebih banyak dari laki-laki? itu akan terjadi kapan? tahun berapa?
Lalu benarkah bila yang dimaksud dengan jumlah penduduk wanita dunia meningkat artinya di masing-masing negara meningkat?
2. Mohon dibedakan antara definisi memakan daging babi dengan mentransplantasikan organ babi! Dari segi kelaziman maka yang pertama bersifat sukarela dan yang kedua bersifat emergency or gawat darurat, dalam islam diperbolehkan bila statusnya gawat darurat! anda benar-benar menggeneralisasikan ini!
3. Soal kenajisan anjing! Anda benar-benar dibutakan! Anda tahu nggak bahwa menyucikan najis anjing cukup dengan mencucinya dengan air 7 kali dan ditambah tanah! Lalu apakah hal ini mengharamkan untuk orang islam “bergaul” dengan anjing? Imam Abu Hanifah sendiri berpendapat dengan dalil bahwa yang najis hanyalah air liur anjing dan itu yang wajib dibersihkan najisnya! Dan dalam dunia kedokteran terbukti bahwasanya air liur/saliva anjing banyak mengandung virus, salah satunya famili Arboviridae dan yang paling terkenal adalah Virus Rabies!
Terbukti bahwasanya Rasulullah sangat sayang kepada umatnya dengan menyuruh kita berhati-hati terhadap anjing, tetapi tidak menjadikan halangan untuk bekerjasama dengannya bila itu benar-benar dibutuhkan.
Lalu, anda ingin mengatakan islam tidak universal! bercermin dulu dong!
ANDALAH YANG TIDAK MENGERTI
aduh2,,udah mulai keluar jalur niii….
ko malah memojokkan agama??