“…Apalagi jika dikontekkan dengan berbagai undang=-undang atau perda di tanah air…..akan banyak kita temukan paradok semacam itu….saya tunggu tulisan berikutnya…berkait dengan paradok russel dan kontek undang-undang di negeri ini…”
Komentar di atas adalah komentar Mas Tajib pada tulisanku terdahulu.
Beberapa waktu yang lalu aku menulis tentang paradox russell. Sekarang aku juga mau nulis tentang paradox Russell lagi (paradox yang lain kapan-kapan ya…), tapi sebelum menulis tentang paradox lagi aku mau minta maaf sama Mas Tajib karena aku tidak bisa memenuhi permintaannya untuk menulis paradox Russell yang dikaitkan dengan peraturan dan perundang-undangan di negara kita ini. Aku ini benar-benar tidak paham mengenai perda maupun undang-undang di negara kita. Daripada aku nulis tapi salah, bisa-bisa aku nanti diseret ke penjara dengan tuduhan subversif atau pencemaran nama baik (orde sekarang masih pakai cara-cara kayak gitu apa tidak ya?).
Aku mau nulis paradox Russell tapi tak kaitkan dengan Tuhan (secara umum, tanpa memandang agama dan keyakinan).
Aku punya pertanyaan :
“Mampukah Tuhan menciptakan sebuah batu sedemikian sehingga Dia sendiri tidak bisa mengangkatnya?”
Cukup sederhana kan pertanyaanku itu? Sekarang ayo kita jawab pertanyaan tadi!
Ada dua kemungkinan jawaban dari pertanyaan tersebut, yaitu:
1. Ya…Tuhan mampu menciptakan batu itu.
Kalau jawaban kita Tuhan mampu menciptakan batu itu yang jadi masalah adalah ketika batu itu sudah jadi dan Tuhan tidak mampu mengangkat batu itu. Tuhan
kan Maha segalanya termasuk juga Maha Mampu, jadi aneh kalau Tuhan mampu menciptakan batu tapi tidak mampu mengangkat batu (yang notabene adalah ciptaan-Nya sendiri).
2. Tuhan tidak mampu menciptakan batu itu.
Ini akan lebih aneh lagi jika kita jawab Tuhan tidak mampu menciptakan batu itu. Lha kalau menciptakan batu itu saja Tuhan sudah tidak mampu apalagi untuk mengangkatnya. Jadi jika kita pilih jawaban yang kedua ini, terlihat bahwa Tuhan memiliki dua ketidakmampuan (menciptakan batu dan mengangkat batu).
Atau ada yang punya jawaban lain?
Maaf jika ada yang tersinggung dengan tulisanku ini (siapa tahu ada yang beranggapan kalau aku telah melakukan tindakan pencemaran nama baik terhadap Tuhan) karena aku hanya mencoba bercerita tentang paradox Russell. Kalau kita cermati cerita tentang Tuhan tadi, sebenarnya itu semakin menunjukkan kelemahan dan keterbatasan kita sebagai makhluk Tuhan…yaitu keterbatasan dalam berpikir.
PESAN PENTING MANUSIA BIASA:
Maksud saya memunculkan tentang paradox tersebut bukanlah untuk “bermain-main” dengan Tuhan…saya sangat sadar siapa dan apa saya ini, saya hanyalah makhluk yang diciptakan oleh sang khalik…
Mungkin salah satu tujuan saya nulis tentang paradox itu adalah untuk mengingatkan akan keterbatasan kita saya sebagai makhluk Tuhan…
Sebenarnya ada alasan lain kenapa saya menulis tentang hal itu…
Sebenarnya paradox selalu mengarahkan pada KONTRADIKSI atau istilah gampangnya pernyataan yang memuat hal-hal yang saling bertolak belakang…
Nah…kontradiksi itulah yang sebenarnya menjadi alasan saya yang lain.
KONTRADIKSI=BERTOLAK BELAKANG
MUNAFIK=BERTOLAK BELAKANG
Jadi KONTRADIKSI=MUNAFIK
Saya senang dan hampir selalu memakai kata “orang yang KONTRADIKTIF” sebagai pengganti kata “MUNAFIQIN”.
Jadi selain untuk mengingatkan akan keterbatasan kita sebagai makhluk, saya juga berharap tulisan ini mampu mengajak dan menyadarkan kita saya sendiri untuk belajar tidak menjadi makhluk yang MUNAFIK…
Berkaca pada pertanyaan tentang Tuhan tsb kita sudah menyadari dan mengalami kalau ternyata kita bisa dibuat begitu bingung oleh paradoks (yang pada intinya adalah tentang kontradiksi). Jadi pemahaman tentang paradoks dan kontradiksi harapannya bisa memberikan pemahaman betapa rumitnya sesuatu yang kontradiksi (baca: munafik dan kebohongan). Memang BENAR kalau ada yang berkilah bahwa ada juga KEBOHONGAN UNTUK KEBAIKAN. Jadi saya tidak akan mempermasalahkan kebohongan untuk kebaikan, saya definisikan kebohongan di sini adalah kebohongan untuk selain kebaikan.


itu diluar nalar kita sebagai manusia..(ketoke)
nek iso mikir koyo ngono, dudu menungso jenenge..
Sepakat Nung…
Tapi omong-omong pertanyaan tentang Tuhan tadi saru apa tidak ya?
Paradox tuh seperti makanan khas betawi itu yah
Sesaaaaat sat sat sat!!!!!
Btw, Tulisan yang bagus, hihi.
*panggil abdullah*
Tulisanku sesat ya? Yo bén…(biarin)hehehehe

Aku cuma teringat omongan santaiku dulu kala…obrolan singkat tentang Tuhan.
Eh gak tahunya ternyata pertanyaan tentang Tuhan di atas juga sering dijadikan obrolan orang lain…aku benar2 gak tahu kalo ada orang lain yang tanya tentang itu ..
Pertanyaan itu membedakan pengklasifikasian kemampuan Tuhan : mencipta batu dan mengangkat batu.
Jika Tuhan mencipta berarti Tuhan itu Maha Kuasa, karena Dia berkuasa atas ciptaanNya. Jika Dia tidak berkuasa atas ciptaanNya maka otomatis premis Tuhan Maha Kuasa akan gugur.
Apakah Paradox yang seperti itu berlaku bagi Tuhan ?
Anda tidak perlu mempersulit diri anda sendiri dengan mencoba masuk alam pikiran Russel. Seandainya anda pake logika anda sendiri, pertanyaan itu tidak akan muncul. Kalo Tuhan menciptakan batu, tapi suatu saat dia tidak bisa mengangkatnya kembali, dia bukan tuhan,..tapi dia adalah (anda sendiri) sebagai manusia yang sering tidak bertanggungjawab terhadap suatu ciptaannya.
selama kita berpikir tentang “ajaran”Nya UNTUK dan yang berkaitan dengan manusia, aku yakin masih bisa ditemukan jawabannya. Tapi kalau kita berpikir tentang hakekat Tuhan itu sendiri, menurutku, otak kita nggak bakal pernah nyampai
@ all:
seperti yang saya tuliskan di akhir posting-an saya:
Jadi itu seharusnya semakin menegaskan dan menguatkan kalau kita ini memang benar-benar hanya makhluk yang serba terbatas…
RYAN GOBLOK!!!
BACA YANG BENER!!
ITU NAMANYA PARADOKS!!
GOBLOK!!
Maaf perlu saya sensor atau tidak ya komentar di atas???Saya bingung…
maap, tadi iblis sedang menguasai saya…
aku lebih suka tanggapan fertobhades…cara penyampaiannya (tersirat maupun tersurat bagus)
@ Anung:
Sabar lé sabar…orang sabar (katanya) disayang Tuhan.
@ Fertobhades:
Sekali lagi itulah keterbatasan kita dalam berpikir…
ikut urun rembug ya mas..
dari sebuah literatur..
“Paradoks adalah kita tahu dua hal yang berlawanan bergerak serentak, tetapi barangkali puncak-puncak paradoks adalah kita tahu apa yang tidak mungkin kita untuk mengetahuinya.”
silahkan RYAN memahaminya sendiri..
btw om wadehel mau manggil abdullah?lagi di masjid tuh om, tadi sempet liat…eh mungkin bentar lagi ke WC…
kayaknya udah ada satu tuh, namanya RYAN, yang kayaknya temen satu gank deh..wekeke…
Terbatas dalam berpikir bukan berarti berhenti untuk berpikir, kan ?
Tapi saya lebih senang bertanya daripada menjawab. Karena berpikir dimulai dari sepenggal pertanyaan. Dan tambahan bagi saya pribadi selain bertanya adalah dengan “meragukan”. Saya meragukan segala sesuatu sampai saya tidak mampu (menyerah) terhadap keraguan itu. Itulah (mungkin) batas kemampuan saya.
@ Antobilang:

Hehehe…masak sich Ryan teman satu gank-nya Abdullah”?
Siapa tahu yang Wadehel panggil itu Abdullah tukang siomay, wadehel mau ntraktir kita kali ya…
@ Fertobhades:
Yup…justru kita harus bisa berusaha untuk senantiasa mengikis dan mengurangi keterbatasan kita dalam berpikir.
Ragu memang awal suatu pemikiran asal ada follow up atas keraguan itu, tapi kalau terlalu sering ragu-ragu itu malahan bikin repot hehehe
abdullah barusan dari bilik saya lho,
tumben ninggalin ampas yg ada hubungan ama postingan..hehehe.
HAHAHA..TERNYATA ANDA PALING GOBLOK TOO..MENANGGAPI POSTINGAN KAYAK GITU, UDAH LEMAS. HAHAHA..MEMANG BENAR TU..ANDA MENYEBUTKAN ANDA SENDIRI
@Ryan:
Siapa yang Anda maksud goblok?Saya?hahaha…kalau itu mah sudah saya akui di postingan saya yang lalu tentang pengakuan saya sebagai manusia (biasa) hehehe jadi penggoblokan Anda tidak berpengaruh…
BTW Anda yang (kelihatannya)pejuang pembela kebenaran kok kata-katanya begitu bagus (sopan) ya? Kalau kata-kata saya kasar mah pantas saja…tapi kalau kata-kata seorang pembela kebenaran bisa seperti itu kok?????
Hehehe salut…salut…
Itu tu..Si Anung. Kayaknya udah mati rasa. Hahaha….Orang yang nulis aja ngak pusing. Kok malah dia yang belepotan..Kayaknya iblis masih setia menemaninya.
@ryan
heh..apa panggil2..
sekarang sapa yg goblog!! saya! emang bener, kalkulus dapet D, tapi setidaknya saya tau apa itu paradoks..
anda itu udah sok pembela-kebenaran-yg -pasti-masuk-surga kok bisa emosi gitu ya..
saya mah, maklum aja emosian, masa puber nih..mau??
Ada tu..sama tikus di WC aja cari teman pubernya. Hahaha
@ryan
tuh..anda yg sewot..
sapa yg gampang emosi sekarang
lagipula lebih cocok buat abdullah tuh komennya..
hehehe
ryan ini cukup pengecut untuk menampilkan URLnya,sehingga kita tidak serta merta memformat otak kita bahwa ryan jenis manusia seperti apa?
seandainya dimunculkan URL, seenggaknya kita bisa lihat kamu tuh siapa, tulisan2mu gimana…
berani gak munculin URL nya mas?
*ini ga nantang lho, wong saya ceking gini..*
saya beking antobilang dari belakang saja..
*saya lebih ceking*
#anung
lah kok malah sampeyan dadi beking toh..
sampeyan maju aja, aku yang ndorong dari belakang
*mental indonesia banget dah*
nanti kalau sampeyan kenapa2 biar ada yang ngurus dan ngabari keluarga sampeyan gitu..
betewe, maaf ya mas deKing, aku nyampah bolak-balik disini…
cuma pengen tau aja sih sapa tuh ryan?
@antobilang
hahaha…disini mau buang kotoran juga gap apapa kok bung..wekekekek
hah, saya yg didepan? ogah ah, saya kan pemalu..
@Antobilang:
Jangan suudzon terus, nanti sama beliau2 dikutuk masuk neraka lho
Kita positif thinking aja (kata beliau2 suudzon itu tidak baik). Mungkin Mas Ryan tidak punya blog karena kesibukan beliau jadi mohon dimaklumi saja. Mas Ryan bukan pengecut kok (ya Mas Ryan??) cuma kalau dilihat sekilas kayaknya orangnya kok rada2 sinis dan kata2nya rada kasar (tapi ini mungkin karena lagi khilaf ya Mas Ryan?, aslinya kan baik).
@Anung:
Kamu sama Anto yang di barisan depan ya, aku mau kipas2 saja di belakang.
wah mantabh ik. komennye deKing yg no.27. saluuuttt… wes, pasti Tuhan udah ngakplink-in tanah di sorga buat sampeyan. kekeke…
“Mampukah Tuhan menciptakan sebuah batu sedemikian sehingga Dia sendiri tidak bisa mengangkatnya?”
jawaban saya kira-kira sama kaya fertobadhes.
jawaban saya: Ya, Tuhan tidak mampu, dan tidak mahakuasa.
tapi, ini jawaban saya sebagai manusia yg otak/pikirannya terbatas bangeth. hanya pikiran manusia. Dan tentu saja, saya tidak mau menempatkan Tuhan saya hanya di sebatas otak/pikiran saya yang (cuma) manusia.
::Kumala
Ah mbak bisa saja (katanya “30″ makanya saya panggil mbak saja hehehe), itu kan pendapat mbak…kalau pendapat “beliau2″ (Abdullah dkk) pasti lain dech apalagi kalau baca postingan saya di atas dijamin beliau2 itu langsung menyatakan saya aliran sesat dan memberi kapling neraka untuk saya karena saya telah bermain2 dengan (kata) Tuhan
Jawaban atas pertanyaan saya gini:
Tuhan mampu menciptakan batu dan Tuhan juga mampu untuk tidak mampu mengangkatnya …Lho kok malah membingungkan
*garuk-garuk kepala*
Jawaban atas pertanyaan saya gini:
Tuhan mampu menciptakan batu dan Tuhan juga mampu untuk tidak mampu mengangkatnya …Lho kok malah membingungkan
*garuk-garuk kepala*
Comment by de King | February 12, 2007
==================
ho oh iqh.. membingungkan.. **ikut2 garuk2 ‘pala**
masalahnya, klo saya jawab: “Tuhan mampu & maha kuasa”, temen2 atheist saya yg realistik & gak gak demen goib2an, suka minta pembuktian iqh..
Permisi mas deking, ikut nimbrung nambah bahan ini *mengapa mereka memplesetkan Tuhan?? ya mas.
Tenang aja kok, kapling neraka bukan hak manusia. Hanya kematian yang “sebentar lagi” yang menjawab itu semua.. Tapi haruskah kita terlambat untuk memahami mana yang benar dan mana yang salah. Padahal udah ada petunjuk dari Allah, sayang khan??
huaduh mumet aku…
saya tambahkan,
jika A benar dan B salah, maka C salah.
logika informatikaku dapet A lho. Asli A. Nilai A-ku satu2nya di semester 1, hehehehe
Salam kenal,
Menurut hemat saya, sebelumnya harus didefinisikan bahwa “Tuhan” itu mempunyai sifat omnipotent (maha kuasa) atau tidak; ini adalah kunci pemahamannya.
Coba dibagi sbb:
Untuk no. 1,
Tuhan bisa [menciptakan batu yang (tidak bisa dia angkat)]
Berarti, Tuhan tidak bisa mengangkat batu ciptaannya sendiri; ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh Tuhan.
Untuk no. 2,
Tuhan tidak bisa [menciptakan batu yang (tidak bisa dia angkat)]
Berarti Tuhan hanya bisa menciptakan batu yang bisa dia angkat; sejauh ini tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan Tuhan.
Kalau kita menganggap omnipotensi (kemahakuasaan) sebagai sifat inheren dari Tuhan, maka sudah jelas Tuhan tidak bisa menciptakan batu yang tidak bisa dia angkat. Ini karena Tuhan “harus selalu bisa” melakukan apapun.
Kalau “Tuhan bisa berbuat X” dinyatakan dengan “P”, maka
Tuhan tidak bisa [menciptakan batu yang (tidak bisa dia angkat)]
= ~[~P]
= P
=> Tuhan bisa melakukan tindakan X
di mana X = tindakan apa saja (bebas)
—-
Jika kita memandang omnipotensi sebagai sifat inheren dalam diri Tuhan, maka jawabannya (2);
tetapi jika kita tidak memandang Tuhan sebagai “Maha Kuasa”, maka (1) bisa berlaku.
Kembali ke definisi… jika Tuhan Maha Kuasa, maka saya kira (2) adalah jawaban yang benar.
Sekadar pemikiran, mohon diluruskan kalau ada yang salah.
Btw, ini kan seperti membayangkan “Penulis Novel” dan “Dunia Ciptaannya”. Bisakah penulis novel membuat sebuah batu di dunia novel-nya, dan tidak bisa dia angkat??
Domain-nya beda (antara penulis novel di dunia nyata dan batu di dunia khayalannya), tapi pada dasarnya batu itu pasti terangkat kalau si penulis novel mau mengangkatnya
.
@Ichsan Mufti:
Maaf sebenarnya tulisan saya di atas bukan bermaksud ikut2an mempermainkan Tuhan. Saya hanya menuliskan contoh lain tentang Paradox Russell…
@Halludba:
Mumet?Itu tandanya Mas Halludba berpikir, coba kalau tidak berpikir alias cuek saja pasti dijamin tidak mumet
Terus berpikir dan berpikirlah…
@Joe:
Iya aku percaya nék nilaimu kuwi bener2 A hehehe…
@Sora9an:
Terima kasih Mas Sora9an…
Penjelasan Anda selalu keren…
Anda selalu menjadi ujung tombak…terima kasih
Itulah maksud saya…”Dunia ciptaan” itu selalu bukan apa-apa jika dibandingkan dengan “Sang Pencipta-nya” …bahkan hanya untuk sekedar membayangkan “Sang Pencipta”..
Jadi marilah wahai para manusia…kita sadari keterbatasan kita…kita sadari Keagungan Tuhan…tapi jangan hanya sebatas sadar…berikanlah wujud nyata sang kesadaran itu
@Sora9an:
Thanx penjelasan dan tambahan pengetahuan yang Mas Sora9an berikan…
Penjelasan tersebut masih bukan paradox yang masih saya (sendiri) bingungkan…(seperti kata yang saya pertebal dan coret di atas)
Tapi penjelasan Mas Sora9an sangat bagus…terima kasih atas tambahan pengetahuannya..
Tapi Pak, bukankah “tidak tidak bisa” berarti “bisa”?
Jika Tuhan harus pasti bisa melakukan apapun, pasti Dia tidak bisa memiliki sesuatu yang tidak bisa Dia lakukan?
Kecuali jika Dia menghendaki diri-Nya untuk “tidak bisa”, atau “tidak mau” melakukannya. Jadi, semuanya kembali pada kehendak Tuhan.
Kira2 demikian kalau menurut saya. Mohon umpan baliknya kalau ada yg salah dlm penalarannya.
Ikut nimbrung boleh kan??? tapi url ndak punya je, jd ya nggak bisa nyantumin.
banyak lho pertanyaan maupun pernyataan yg bersifat paradok spt diatas, misale pertanyaan yg dilontarkan Josh Bush sehabis peristiwa WTC ttg perang global melawan teroris: I ask to the world, we declare war against terrorism, so, are you with us or with the terrorist??
Paradoks kalo menurut pelajaran bhs indonesia jaman smp dulu, ibarat buah simalakama, dimakan ayah mati tidak dimakan ibu yang mati.
@Sora9an:
Penalaran mas sangat bagus dan sangat tepat tapi menurut saya penjelasan tentang negasi dari negasi itu bukan yg saya tanyakan. Penjelasan mas, seperti yg saya kutip di atas ada kata “tidak” sedangkan pertanyyaan yg ada adalah tanpa kata “tidak”…seperti quote di atas yg saya coret kata “tidak”nya
BTW jangan panggil Pak…aku masih di bwh 25tahun lho
@Mas Agus:
Benar mas paradox gampangnya itu buah simalakama..
Intinya paradox mengarah pada suatu kontradiksi, oleh karena itu salah satu maksud penulisan saya di atas adalah untuk menunjukkan betapa memusingkannya suatu kontradiksi sehingga semoga kita juga bisa menyadari betapa ruwetnya hidup dengan kemunafikan dan kebohongan karena menurut saya kebohongan=kemunafikan=kontradiksi
Special buat mas sora9an…
Maaf saya melakukan kesalahan pencoretan alias strike pd komentar saya di atas.
Maksud saya mencoret kata “tidak” itu bukan untuk menyalahkan negasi dari negasi tapi sebenarnya maksdu pencoretan kata “tidak” tsb adalah karena pertanyaan yg muncul pd postingan saya di atas adalah tan pa kata tidak.
Pernyataan mas:
Pertanyaan saya:
Waduh, jadi panjang
. Maaf nih, tapi saya juga penasaran (soalnya saya juga tahu paradoks ini baru2 ini).
Jadi, kalau saya lihat, pertanyaan dari Mas DeKing adalah
Bisa diterjemahkan sebagai:
“Bisakah Tuhan menciptakan batu yang tidak bisa Dia angkat?”
(mohon diluruskan kalau salah tangkap/salah tafsir)
Menurut hemat saya, analogi yang mungkin adalah seperti tokoh penulis novel yang sebelumnya. “Bisakah penulis novel menciptakan batu yang tidak bisa dia angkat di dunianya sendiri?”
Pada dasarnya, kalau si penulis novel berkehendak untuk mengangkatnya, maka batu itu pasti terangkat. Tapi, jika dia tidak menghendaki, maka batu itu akan tetap diam. Sampai di sini, yang membatasi mampu/tidaknya penulis mengangkat batu adalah kehendaknya sendiri.
Tapi, tidak ada yang benar-benar membatasi kemampuannya di sini, selain kehendaknya sendiri. Kalau dia betul2 menginginkannya, maka batu itu bisa jadi ‘tidak bisa diangkat’. Tetapi, jika si penulis menginginkan batu itu bisa terangkat kembali, maka dia pasti bisa melakukannya lagi.
Paradoks ini menunjukkan bahwa pengarang mempunyai kekuasaan untuk sekaligus bisa dan tidak bisa mengangkat batu, tergantung dari kemauannya sendiri. Sejauh yang saya lihat, “pencipta” selalu punya kekuasaan mutlak atas ciptaannya sendiri. Penulis novel, kalau dia mau, bisa menciptakan batu yang tidak bisa dia angkat — tapi, kalau dia mau, dia bisa menggugurkan konsep tersebut dan mengangkat batu tersebut.
Lha, dia kan yang menguasai dunianya sendiri; sudah pasti bisa menggugurkan ketentuan apapun yang dia buat sebelumnya. Bukan begitu?
Kembali ke masalah “Tuhan dan Batu”, saya rasa bisa dibandingkan dengan analogi di atas. Jika Tuhan menginginkan, Dia bisa untuk tidak bisa mengangkat batu tersebut. Tetapi, jika Dia kemudian menginginkan untuk bisa mengangkat batu yang tadi, maka Tuhan bisa menggugurkan konsep yang pertama.
Bukankah Tuhan menguasai dunia-Nya sendiri? Oleh karena itu, Dia bisa dan berhak melakukan apapun sekehendaknya — termasuk untuk tidak bisa mengangkat batu — tetapi, jika Dia berkehendak untuk “bisa mengangkat batu”, maka Dia bisa mengubah “aturan” bahwa batu ciptaan-Nya tidak bisa diangkat.
Jadi, saya kira semuanya tergantung pada kehendak Tuhan. Seperti halnya Tuhan membebaskan manusia untuk memilih jalan yang benar. Dia bisa saja membuat semua manusia menjadi beriman, tetapi Dia sengaja tidak menggunakan kekuasaan-Nya untuk membuat hal itu terjadi.
Demikian pula dengan batu, Tuhan bisa untuk tidak bisa mengangkatnya dengan cara sengaja untuk tidak menggunakan kekuasaannya untuk mengangkat batu tersebut.
…eh, udah kepanjangan
. Mohon maaf kalau saya jadi terlalu panjang & rumit begini, tapi saya hanya berusaha menjabarkan apa yang ada di pikiran saya. Terima kasih sebelumnya
.
Maaf, salah ketik!! Di bagian awal, saya lupa menambahkan strike, jadi harusnya:
Bisa diterjemahkan sebagai…
Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
@Sora9an:
Terima kasih, selalu asyik membaca analisis Mas sora9an.
Iya, setiap makhluk tidak akan bisa menguasai segala sesuatu hal di luar dimensi dimana dia diciptakan.Dimensi yang lebih kecil selalu hanya akan menjadi bagian dari dimensi yang lebih besar.
Suatu titik tidak akan bisa memuat suatu garis, tetapi suatu garis selalu memuat titik.
Suatu garis tidak akan bisa memuat suatu bidang, tetapi suatu bidang selalu memuat garis.
Suatu bidang tidak akan bisa memuat suatu ruang, tetapi suatu ruang selalu memuat bidang.
Jadi suatu titik hanya akan menjadi bagian dari suatu garis, bidang, ruang dan semua imensi-dimensi di atasnya.
Begitu juga kita sebagai manusia, kita tidak akan bisa menjangkau hal-hal di luar dimensi dimana kita diciptakan. Apalagi menjangkau “dimensi” Tuhan (saya sebut dimensi Tuhan adalah dimensi tak hingga), untuk menjangkau dimensi tak hingga dikurangi satu kita juga tidak akan mampu.
Iya, betul. Kita tidak bisa mengerti dengan pasti esensi dari Yang Maha Kuasa; kita cuma bisa mendekatinya saja dengan akal (dan belum tentu benar). Sebab mustahil kita mendekati-Nya dengan terminologi keduniaan, karena Dia sendiri tidak bisa disetarakan dengan ciptaan-Nya yg manapun.
Btw, makasih Mas; diskusinya mencerahkan lho.